| Para Manek dari Rote Ndao |
Sejarah Raja FoE Mbura di Thie Mau Pulau Rote
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Pemerintahan Raja Baololong Kaay 1840-1875 di Kerajaan Bunga Bali-Alor
Editor: NPMedia
| Regent-raja Alor, Oemar Watang Nampira, bersama istri, Rubaedah sekitar tahun 1920-an. |
Salah satu raja yang pernah memimpin kerajaan Bunga Bali si Alor adalah Raja Balolong Kaay.
Masa pemerintahan Baololong Kaay terhitung lama, sebab ia memerintah dari tahun 1840 sampai 1875 berarti kira-kira 35 tahun.
Raja Baololong sendiri pada awal masa kepemimpinan itu mempunyai tugas yang berat karena Ia harus mampu menyatukan semua masyarakat dari setiap kampung agar bisa membentuk satu kesatuan kekuatan.
Hal ini pun telah tergambar dalam syair adat yakni Adang bang airnu (10 kampung Adang), Ail bang tow (3 kampung Islam), Pull bang itito (7 kampung Pura).
Lalu apa saja sepuluh kampung dalam syair adat itu?
Sepuluh kampung itu adalah Kabola, Lawahing, Alila, Adang, Oa Mate, Bangpalola, Pitung Bang, Afengmale, Aimoli, dan Anlawining.
Lalu ail bang tow atau tiga kampung Islam yakni Alor Besar, Alor Kecil, dan Dulolong.
Sedangkan tujuh kampung Pura meliputi Lamarahing, Tuabang, Timuabang, Dadibira, Melangwala, Reta, dan Puriabang.
Menurut penuturan sejarah bahwa wilayah kekuasaan kerajaan Bunga Bali saat itu meliputi wilayah Barat Laut sekarang menjadi Kecamatan Alor Barat Laut, Kecamatan Kabola, dan Kecamatan Pulau Pura.
Pusat pemerintahan Kerajaan Bunga Bali saat itu adalah di Alor Besar dengan didirikannya keraton atau dalam bahasa lokal disebut Uma Pusung Rebong.
Secara politik, Raja Baololong Kaay sudah menjalankan komunikasi dengan baik. Hal ini ditandai dengan adanya Taru Amang. Taru Amang berhak mengangkat dan melantik raja apabila seorang raja dari Galiyau Watang Lema wafat. Sehingga dapat dikatakan bahwa Taru Amang mempunyai fungsi serupa MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat).
Kekuasaan majelis itu dipegang oleh Raja Kolana.
Raja Baololong Kaay pun menjalin hubungan baik dengan domain disekitarnya yakni Pandai, Baranusa, Balagar, dan Kui karena leluhur mereka Mau Wolang dari Majapahit (Gomang, 2007).
***
Membangun hubungan dengan kerja sama adalah salah satu bentuk politik yang luar biasa.
Benar saja Raja Baololong membentuk aliansi Galiyau Watang Lema dimana adanya hukum Bela Baja dengan orang Kalikur (Kedang). Uniknya hukum bela baja ini membebaskan masyarakat dari Galiyau Watang Lema untuk mengamabil apa saja dari Kedang; termasuk mempersunting seorang gadis.
Mereka juga boleh mengambil barang tanpa harus sepengetahuan pemilik.
Tentunya aliansi Galiyau Watang Lema ini bukan satu-satunya, sebab di Flores Timur juga mempunyai aliansi kerajaan yang sangat kuat yaitu Solor Watan Lema.
Kerajaan Solor Watan Lema ini meliputi Adonara, Solor, dan Lembata.
Dan Raja Baololong Kaay mempunyai hubungan kerja sama yang baik dengan Kerajaan Solor Watan Lema.
Politik Raja Baololong Kaay sungguh luar biasa sebab Ia mempunyai peran penting sebagai mediator dalam Perjanjian Lisbon di Sagu (Solor). (Cah)
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Profil Singkat Bernadus Meroekh 1915
| Gambar ini Hanya Pemanis |
Bernadus Meroekh dilahirkan pada tanggal 15 Juni 1915 di Nggauk-Thie, Rote Barat Daya. Ia berasal dari kalangan keluarga Protestan suku Rote.
Pendidikan Dasar diperoleh di Rote dan tamat tahun 1926. Tahun 1926 melanjutkan pada pendidikan guru sekolah di Kalabah Alor, sampai tahun 1929.
Karier pekerjaan pertama dari B. Meroekh sebagai guru bantu di Peito Alor dari tanggal 1 Januari 1930 sampai 30 Juni 1930. Pada tanggal 1 Juli 1930 dipindahkan sebagai guru bantu di Kolana Alor sampai tanggal 15 September 1931.
Dari Alor, B. Meroekh dipindahkan sebagai guru bantu di Baun, Amarasi, Kabupaten Kupang dari tahun 1931 - 1933. Pada tahun 1934, B. Meroekh menjadi Kepala Sekolah dan guru Jemaat di Baun, Amasari sampai tahun 1945. Sebagai kepala Sekolah, Meroekh mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus tertulis bahasa Belanda di Bandung pada tahun 1936-1939 dan pada tahun 1942 - 1948 mengikuti Sekolah Theologia di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sesudah menyelesaikan tugas belajar di Sekolah Theologia di Soe dari tahun 1946-1948 , ia diangkat sebagai pendeta di Camplong, Kecematan Fatuleu sampai tahun 1951.
Pada tahun 1952, B. Meroekh dipindahkan ke Kupang dan menjabat Sekretaris Majelis Sinode Gereja Masehi Injili Timor (GMIT). Sejak tahun 1953 Pendeta B. Meroekh menjadi pendeta Jemaat Oeba sampai sekarang. Di samping itu pada tahun 1953 menjabat pula sebagai sekretaris Majelis Klasis Kupang. Tahun 1970 - 1972 menjadi bendahara Majelis Sinode GMIT di Kupang. Tahun 1974 menjadi Ketua klasis kota Kupang dan anggota MJH. GMIT.
Pada tahun 1975, pendeta B. Meroekh diangkat menjadi wakil ketua Sinode GMIT di Kupang yang kemudian pada tahun yang sama menjadi acting Ketua Sinode GMIT.
Pada tahun 1976 ia menjabat pejabat khusus Pcncatatan Sipil Perkawinan Kristen di Kupang. Di samping jabatan pendeta, jabatan-jabatan lain yang dipegang pendeta B. Meroekh pada tahun 1978 menjadi bendahara Yayasan Dana Pensiun GMIT.
Pada tahun 1971 - 1975 menjadi pendeta Honorer Angkatan Darat, Korem 161 Kupang dan sejak 1967 - 1982 juga menjabat sebagai pemimpin PAK GMIT 221 Kupang. Di samping sebagai pendeta dari uraian di atas nampak bahwa kegiatan pendeta B. Meroekh cukup banyak terutama dalam kaitan dengan organisasi dan kegiatan keagamaan.
Oleh karena itu kegiatan sosial pendeta B. Meroekh tidak terlepas dari tugasnya sebagai pendeta clan pemimpin organisasi dalam lingkungan Sinode GMIT yang sudah nampak dalam jabatan-jabatan yang dipegangnya.
Namun di samping kegiatan di lingkungan umat/jemaat di Kota Kupang, sebagai pendeta dan ketua organisasi, terdapat pula kegiatan-kegiatan keluar.
Di antaranya pada tahun 1968 di Jakarta mengikuti sidang Diakonia DGI dalam kedudukan sebagai ketua komisi Diakonia. Pada tahun 1972 mengikuti konsultasi sosial di Surabaya dalam kedudukannya sebagai ketua PAK GMIT.
Dalam kedudukan yang sama berturut-turut mengikuti inservice training di Lawang, Jawa Timur, tahun 1974, di Diana Pura Bali, tahun 1976, di Jembrana '. Bali tahun 1978. Pada tahun 1974 pendeta B. Meroekh mengikuti pekabaran Injili sedunia di Swiss dan di Singapura pada tahun 1978 .
Sumber: Oleh Sonny Pellokila (Facebook)
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Sejarah Desa Bungamuda Ile Ape Tahun Sejak 1910
Sejarah Desa Bungamuda
|
NO |
NAMA
KEPALA DESA/KAMPUNG |
PERIODE |
KETERANGAN |
|
1 |
Butu Sodi |
1919-1939 |
Kepala
Kampung |
|
2 |
Sedeng Sodi |
1939-1955 |
Kepala
Kampung |
|
3 |
Pius Payong
Manuk |
1955-1970 |
Kepala
Kampung |
|
4 |
Yosep Keluli |
1970 |
Pejabat
Panitia Penjaringan Kepala Desa |
|
4 |
Petrus Kerikit |
1970-1980 |
Kepala
Desa |
|
6 |
Longginus Gilo |
1980-2001 |
Kepala Desa |
|
8 |
Frans Beda
Kolimaking |
2001-2002 |
Kepala Desa |
|
9 |
Yulius Koda |
2002-2004 |
Kepala Desa |
|
10 |
Pius Tena |
2004-2009 |
Kepala Desa |
|
11 |
Flafianus Gawi
Making |
2009-2012 |
Kepala Desa |
|
12 |
Bernadus
Parlete Lagamaking |
2012-2014 |
Kepala Desa |
|
13 |
Ismail Ola
Ruing, S.Sos |
2014-2015 |
Kepala Desa |
|
14 |
Bernadus
Parlete Lagamaking |
2015-2021 |
Kepala Desa |
|
15 |
Albertus Sili
Nihamaking |
2021
Sampai Sekarang |
Kepala Desa |
Saat ini kepala desa definitif dijabat oleh Albertus Sili Nihamaking dan akan menjalankan roda pemerintahan selama periode 2021 sampai 2027.
Batas Wilayah Desa Bungamuda
Batas wilayah Desa Bungamuda pada bagian Utara dengan Laut Flores, bagian Selatan dengan Gunung Ile Ape, bagian Timur dengan Desa Napasabok, dan bagian Barat dengan Desa Lamawara.
Orbitasi Desa Bungamuda
Orbitasi atau jarak Desa Bungamuda dari pusat-pusat pemerintahan dapat diketahui sebagai berikut:
·
Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan : 9,7 km
·
Jarak dari Pusat Pemerintahan Kabupaten : 24 km
·
Jarak dari Pusat Pemerintahan Propinsi : 251 km
· Jarak dari Pusat Pemerintahan Pusat : 2.595 km
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Tradisi Menarik Batu Kubur di Tanah Marapu (Sumba)
| Tradisi menarik batu kubur di Sumba |
Negeri Paus --- Tradisi unik yang masih dilakukan oleh orang-orang di Pulau Sumba adalah Tingu Watu Hodi.
Tingu Watu Hodi merupakan suatu tradisi masyarakat adat Sumba untuk menarik batu kubur.
Batu Kubur yang di tarik itu akan digunakan sebagai tempat untuk menyemayamkan orang yang meninggal.
Masyarakat adat setempat mempercayai bahwa Tingu Watu Hodi ini sebagai suatu tradisi dalam mempererat hubungan sosial sesama masyarakat, menjaga semangat kerja sama, dan mempererat hubungan dengan kekuatan yang tidak terlihat.
Tradisi yang syarat makna ini, terselip suatu pesan dalam status sosial pengguna batu kubur itu.
Jadi jika batu kubur yang memiliki "Tanduk Batu Kubur" atau bahasa lokal "Kadu Watu" berarti batu kubur ini pemiliknya datang dari keluarga Bangsawan atau Raja.
Ada juga salah satu model batu kubur yang dipandang paling bergengsi adalah "Watu Pangu Ledu". Batu ini mempunyai model layaknya batu kubur bertingkat tampak sebagai rumah pelindung batu kubur bagian bawahnya.
Batu kubur sendiri mempunyai jenis dan model khusus bagi penggunanya, karena status sosialnya.
Jenis batu kubur yang digunakan adalah batu kapur. Batu kapur ini menurut beberapa sumber mengatakan bahwa bisa diperoleh di Waemadaka, Kecamatan Wanukaka, Sumba Barat.
Selain itu batu kubur jenis batu kapur ini juga bisa diperoleh di Tirimbang, dan Tana Rara, Kabupaten Sumba Timur.
Pengangkutan sendiri pada zaman dahulu apa bila dipesan dari Tirimbang maka menggunakan bantuan perahu.
Untuk satu batu kubur sendiri dapat dibarter dengan Kerbau bahkan katanya sampai ratusan ekor.
Tradisi menarik batu kubur di tanah Marapu ini memang sangat luar biasa menurut penulis.
Penulis sendiri karena bukan berasal dari Sumba sehingga agak sulit memahami bahasa daerah yang digunakan dalam persiapan sebelum melakukan kegiatan penarikan. Akan tetapi penulis mencoba untuk merunutkan satu per satu bahan-bahan itu dalam bahasa daerah setempat.
Biasanya bahan yang digunakan untuk menarik batu kubur itu adalah Tena, Tua Kaba; Katuku Tena; Rango, Kotera, dan Rame.
Tena; alat yang di atasnya akan diletakan batu berfungsi seperti perahu.
Tena Baumane (laki-laki); bagian gagang, tempat tumpuan dan arah Tena akan ditarik.
Tena Bouwine (perempuan); bagian dasar dari Tena itu, tempat diletakan batu.
Tua Kaba (Tuba); tali yang dipakai sebagai penarik batu dari Tena.
Kutuku Tena; baut yang mengikat cabang tena bagian bawah, tempat diletakkan batu.
Rango, Kotera dan Rame adalah potongan kayu bulat , kira-kira 20 cm diameternya, berfungsi seperti ban untuk tena.
Setiap kali batu ditarik maka, Tena dengan muatan batu itu seakan bergerak diatas kayu itu.
Dalam proses penarikan sendiri ada seorang pemandu menyanyikan syair demikian;
Pemandu: "Galo...........ooo..........ooo.........oo
Masyarakat: "We...e.....eeee......eeee.....e...e
Pemandu: " Wara yo..... yowege....
Masyarakat: " Yoooooooooooooo we.... eeeeeee
Saat Yoooooo Weeeee diucapkan, serentak para penarik menghentakan tali dan menarik batu kubur.
Juga ada mantra lain yang diucapkan oleh tetua adat untuk mengundang para leluhur untuk datang membantu pekerjaan berat itu. Dan juga tarian Tari Nego Lara diiringi gong gendang terus dimainkan untuk membakar semangat khalayak itu.
Pesan yang penulis dapat adalah pada dasarnya masyarakat Sumba memiliki pandangan bahwa seorang manusia tetap diberi martabat yang sama luhur saat masih hidup ataupun saat meninggal. Menguburkan manusia pada batu adalah satu bentuk penghargaan dan tempat yang layak terhadap manusia walaupun sudah meninggal.
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Riwayat Oga Ngole Raja Kerajaan Nage (Boawae)
| Saudara Laki laki Raja Boawae Dengan Pakaian Adat/Pesta .-, Tahun : 1915 - 1940, sumber : Museum Nasional Kebudayaan Dunia |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Masuknya Agama Katolik di Boawae
| Gereja Paroki Boawae: (Gambar Hanya Pemanis) |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Kerajaan Nage Tahun 1918-1928 di Kecamatan Boawae
| Gambar Ini Hanya Sebagai Pemanis. Sumber: Facebook |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Sejarah kerajaan Tanete Barru atau Negeri Pancana di Sulawesi Selatan
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Iang Gogo dan Agama Islam di Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
