Sejarah Raja FoE Mbura di Thie Mau Pulau Rote

Para Manek dari Rote Ndao
Para Manek dari Rote Ndao

Editor: Negeri Paus Media

NegeriPaus - Salah satu raja di Rote adalah FoE Mbura. Ia merupakan seorang Raja atau Manek di Nusak Thie yang saat ini kita kenal dengan nama Kecamatan Rote Barat Daya. Pemerintahannya dimulai pada abad ke 17 Masehi dengan mengadakan hubungan dagang dan menjalin persahabatan dengan Portugal dan Belanda.
Dengan melihat kecerdasan dan kepandaian orang Portugal dan Belanda maka Manek FoE Mbura muda dengan tekad yang kuat menimbah ilmu ke Matabi. Matabi sendiri adalah nama Betawi dalam ejaan bahasa Rote.

Raja Foe Mbura juga mengajak setidaknya tiga orang temannya yang merupakan Manek dari wilayah lain di Rote. Ketiga orang itu dapat diketahui merupakan TouF Dengga Lilo dari Nusak Baa, Ndara Naong dari Nusak Lelain, dan Ndi’i Hua dari Nusak Lole.
Mereka bertiga sepakat bekerjasama untuk membuat sebuah perahu besar yang nantinya akan digunakan untuk berlayar ke Matabi dan setelah selesai membuatnya perahu tersebut diberi nama "Sangga Ndolu" yang artinya "Mencari Ilmu".
Menurut beberapa catatan sejarah bahwa mereka bertiga berlayar ke Matabi dan tiba di Betawi yang kemudian menemui pemerintah Belanda untuk menyampaikan maksud dan tujuan mereka ke Betawi atau Matabi.

Akhirnya mereka diterima oleh pemerintah Belanda dan mereka mengikuti sekolah setidaknya selama 7 tahun lamanya. Mereka kemudian diajarkan menulis, membaca, berhitung, ilmu politik, dan agama (agama Kristen) serta lainnya. 

Mereka semua kemudian dibaptis menjadi orang kristen dan di beri nama baru. FoE Mbura diberi nama Benyamin Messakh dan Ndi’i Hu’a diberi nama Zacharias, sedangkan Ndara Naong tidak diketahui nama baptis Kristen.

Raja Benyamin Mesakh setelah kembali dari Betawi, Ia mendirikan Sekola Dasar yang menjadi sekolah pertama dan Satu Gereja di wilayah Fiulain di Thie yang menjadi jemaat Kristen pertama di Pulau Rote, sekarang masuk wilayah Kecamatan Rote Barat Daya.

Diceritakan bahwa setelah puluhan tahun kemudian, Rote mengirim banyak pendeta dan guru-guru ke Pulau Timor, Alor, Sabu, dan Sumba untuk membuka sekolah dan menginjili masyarakat di pulau-pulau itu. Itulah sebabnya sebagian pulau Timor, Sumba, dan Alor menjadi daerah Kristen Protestan hingga hari ini. 

Perjuangan FoE mBura dan kawan-kawan untuk membebaskan orang-orang Rote kala itu dari belenggu kebodohan sangat diberikan apresiasi setinggi-tingginya. Sebab semangat yang besar itu berbuah hasil yang mengagumkan yang dapat kita lihat sampai saat ini. Bagaimana mereka bergelut dengan ombak dan bahkan mungkin badai yang bisa saja membalikan perahu mereka hanya untuk mau merubah Nusa Rote.

Oleh karena itu untuk menghormati pendahulu itu, harapan besar ada pada generasi muda saat ini agar giat dalam mencari ilmu dan pantang menyerah.
Untuk itu, kita patut menundukkan kepala sambil mengenang mereka dan merenungkan cita-cita luhur mereka dengan tekad bulat membangun negeri ini dengan penuh rasa tanggung jawab. (Cah)

Pemerintahan Raja Baololong Kaay 1840-1875 di Kerajaan Bunga Bali-Alor

Editor: NPMedia

Regent-raja Alor, Oemar Watang Nampira, bersama istri, Rubaedah sekitar tahun 1920-an.
Regent-raja Alor, Oemar Watang Nampira, bersama istri, Rubaedah sekitar tahun 1920-an.


Salah satu raja yang pernah memimpin kerajaan Bunga Bali si Alor adalah Raja Balolong Kaay.

Masa pemerintahan Baololong Kaay terhitung lama, sebab ia memerintah dari tahun 1840 sampai 1875 berarti kira-kira 35 tahun.

Raja Baololong sendiri pada awal masa kepemimpinan itu mempunyai tugas yang berat karena Ia harus mampu menyatukan semua masyarakat dari setiap kampung agar bisa membentuk satu kesatuan kekuatan.

Hal ini pun telah tergambar dalam syair adat yakni Adang bang airnu (10 kampung Adang), Ail bang tow (3 kampung Islam), Pull bang itito (7 kampung Pura).

Lalu apa saja sepuluh kampung dalam syair adat itu?

Sepuluh kampung itu adalah Kabola, Lawahing, Alila, Adang, Oa Mate, Bangpalola, Pitung Bang, Afengmale, Aimoli, dan Anlawining.

Lalu ail bang tow atau tiga kampung Islam yakni Alor Besar, Alor Kecil, dan Dulolong. 

Sedangkan tujuh kampung Pura meliputi Lamarahing, Tuabang, Timuabang, Dadibira, Melangwala, Reta, dan Puriabang.

Menurut penuturan sejarah bahwa wilayah kekuasaan kerajaan Bunga Bali saat itu meliputi wilayah Barat Laut sekarang menjadi Kecamatan Alor Barat Laut, Kecamatan Kabola, dan Kecamatan Pulau Pura.

Pusat pemerintahan Kerajaan Bunga Bali saat itu adalah di Alor Besar dengan didirikannya keraton atau dalam bahasa lokal disebut Uma Pusung Rebong.

Secara politik, Raja Baololong Kaay sudah menjalankan komunikasi dengan baik. Hal ini ditandai dengan adanya Taru Amang. Taru Amang berhak mengangkat dan melantik raja apabila seorang raja dari Galiyau Watang Lema wafat. Sehingga dapat dikatakan bahwa Taru Amang mempunyai fungsi serupa MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat).

Kekuasaan majelis itu dipegang oleh Raja Kolana. 

Raja Baololong Kaay pun menjalin hubungan baik dengan domain disekitarnya yakni Pandai, Baranusa, Balagar, dan Kui karena leluhur mereka Mau Wolang dari Majapahit (Gomang, 2007).

***

Membangun hubungan dengan kerja sama adalah salah satu bentuk politik yang luar biasa.

Benar saja Raja Baololong  membentuk aliansi Galiyau Watang Lema dimana adanya hukum Bela Baja dengan orang Kalikur (Kedang). Uniknya hukum bela baja ini membebaskan masyarakat dari Galiyau Watang Lema untuk mengamabil apa saja dari Kedang; termasuk mempersunting seorang gadis.

Mereka juga boleh mengambil barang tanpa harus sepengetahuan pemilik. 

Tentunya aliansi Galiyau Watang Lema ini bukan satu-satunya, sebab di Flores Timur juga mempunyai aliansi kerajaan yang sangat kuat yaitu Solor Watan Lema.

Kerajaan Solor Watan Lema ini meliputi Adonara, Solor, dan Lembata.

Dan Raja Baololong Kaay mempunyai hubungan kerja sama yang baik dengan Kerajaan Solor Watan Lema.

Politik Raja Baololong Kaay sungguh luar biasa sebab Ia mempunyai peran penting sebagai mediator dalam Perjanjian Lisbon di Sagu (Solor). (Cah)


Profil Singkat Bernadus Meroekh 1915

Bernadus Meroekh
Gambar ini Hanya Pemanis


Bernadus Meroekh dilahirkan pada tanggal 15 Juni 1915 di Nggauk-Thie, Rote Barat Daya. Ia berasal dari kalangan keluarga Protestan suku Rote.

Pendidikan Dasar diperoleh di Rote dan tamat tahun 1926. Tahun 1926 melanjutkan pada pendidikan guru sekolah di Kalabah Alor, sampai tahun 1929.

Karier pekerjaan pertama dari B. Meroekh sebagai guru bantu di Peito Alor dari tanggal 1 Januari 1930 sampai 30 Juni 1930. Pada tanggal 1 Juli 1930 dipindahkan sebagai guru bantu di Kolana Alor sampai tanggal 15 September 1931.

Dari Alor, B. Meroekh dipindahkan sebagai guru bantu di Baun, Amarasi, Kabupaten Kupang dari tahun 1931 - 1933. Pada tahun 1934, B. Meroekh menjadi Kepala Sekolah dan guru Jemaat di Baun, Amasari sampai tahun 1945. Sebagai kepala Sekolah, Meroekh mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus tertulis bahasa Belanda di Bandung pada tahun 1936-1939 dan pada tahun 1942 - 1948 mengikuti Sekolah Theologia di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Sesudah menyelesaikan tugas belajar di Sekolah Theologia di Soe dari tahun 1946-1948 , ia diangkat sebagai pendeta di Camplong, Kecematan Fatuleu sampai tahun 1951.

Pada tahun 1952, B. Meroekh dipindahkan ke Kupang dan menjabat Sekretaris Majelis Sinode Gereja Masehi Injili Timor (GMIT). Sejak tahun 1953 Pendeta B. Meroekh menjadi pendeta Jemaat Oeba sampai sekarang. Di samping itu pada tahun 1953 menjabat pula sebagai sekretaris Majelis Klasis Kupang. Tahun 1970 - 1972 menjadi bendahara Majelis Sinode GMIT di Kupang. Tahun 1974 menjadi Ketua klasis kota Kupang dan anggota MJH. GMIT. 

Pada tahun 1975, pendeta B. Meroekh diangkat menjadi wakil ketua Sinode GMIT di Kupang yang kemudian pada tahun yang sama menjadi acting Ketua Sinode GMIT.

Pada tahun 1976 ia menjabat pejabat khusus Pcncatatan Sipil Perkawinan Kristen di Kupang. Di samping jabatan pendeta, jabatan-jabatan lain yang dipegang pendeta B. Meroekh pada tahun 1978 menjadi bendahara Yayasan Dana Pensiun GMIT. 

Pada tahun 1971 - 1975 menjadi pendeta Honorer Angkatan Darat, Korem 161 Kupang dan sejak 1967 - 1982 juga menjabat sebagai pemimpin PAK GMIT 221 Kupang. Di samping sebagai pendeta dari uraian di atas nampak bahwa kegiatan pendeta B. Meroekh cukup banyak terutama dalam kaitan dengan organisasi dan kegiatan keagamaan.

Oleh karena itu kegiatan sosial pendeta B. Meroekh tidak terlepas dari tugasnya sebagai pendeta clan pemimpin organisasi dalam lingkungan Sinode GMIT yang sudah nampak dalam jabatan-jabatan yang dipegangnya. 

Namun di samping kegiatan di lingkungan umat/jemaat di Kota Kupang, sebagai pendeta dan ketua organisasi, terdapat pula kegiatan-kegiatan keluar. 

Di antaranya pada tahun 1968 di Jakarta mengikuti sidang Diakonia DGI dalam kedudukan sebagai ketua komisi Diakonia. Pada tahun 1972 mengikuti konsultasi sosial di Surabaya dalam kedudukannya sebagai ketua PAK GMIT. 

Dalam kedudukan yang sama berturut-turut mengikuti inservice training di Lawang, Jawa Timur, tahun 1974, di Diana Pura Bali, tahun 1976, di Jembrana '. Bali tahun 1978. Pada tahun 1974 pendeta B. Meroekh mengikuti pekabaran Injili sedunia di Swiss dan di Singapura pada tahun 1978 .


Sumber: Oleh Sonny Pellokila (Facebook)

Sejarah Desa Bungamuda Ile Ape Tahun Sejak 1910

Sejarah Desa Bungamuda

Seremoni Adat
Sermonial adat di namang Napaulun


Pada tahun 1910an datang sekelompok orang dari Mawa yang berasal dari kampung adat Napaulun ke Rian Bunga. 

Wilayah Rian Bunga sendiri saat itu masih berbentuk hutan dan terdapat pohon-pohon besar dalam bahasa lokal disebut Wukak, Puho, Tenebang, Ledo, Bunturak, Lekedaray, dan Kukun serta semak belukar lainnya. 

Wilayah Rian Bunga sendiri berada disebelah Barat Mawa.

Awal kedatangan dapat diketahui bahwa adanya perbedaan pendapat antara Kepala Kampung Mawa yang saat itu dipimpin oleh Kotak Bodo dengan Butu Sodi. 

Butu Sodi kemudian membawa sebagian besar orang-orang keluar dari Napasabok ke Rian Bunga yang sekarang dikenal dengan nama Bungamuda dan menjadi Kepala Kampung pertama pada tahun 1919. 

Sejarah kepemimpinan Desa Bungamuda dari masa ke masa dapat diketahui sebagai berikut:


NO

NAMA KEPALA DESA/KAMPUNG

PERIODE

KETERANGAN

1

Butu Sodi

1919-1939

Kepala Kampung

2

Sedeng Sodi

1939-1955

Kepala Kampung

3

Pius Payong Manuk

1955-1970

Kepala Kampung

4

Yosep Keluli

1970

Pejabat Panitia Penjaringan Kepala Desa

4

Petrus Kerikit

1970-1980

Kepala Desa

6

Longginus Gilo

1980-2001

Kepala Desa

8

Frans Beda Kolimaking

2001-2002

Kepala Desa

9

Yulius Koda

2002-2004

Kepala Desa

10

Pius Tena

2004-2009

Kepala Desa

11

Flafianus Gawi Making

2009-2012

Kepala Desa

12

Bernadus Parlete Lagamaking

2012-2014

Kepala Desa

13

Ismail Ola Ruing, S.Sos

2014-2015

Kepala Desa

14

Bernadus Parlete Lagamaking

2015-2021

Kepala Desa

15

Albertus Sili Nihamaking

2021 Sampai Sekarang

Kepala Desa

 

Saat ini kepala desa definitif dijabat oleh Albertus Sili Nihamaking dan akan menjalankan roda pemerintahan selama periode 2021 sampai 2027.


Batas Wilayah Desa Bungamuda

Batas wilayah Desa Bungamuda pada bagian Utara dengan Laut Flores, bagian Selatan dengan Gunung Ile Ape, bagian Timur dengan Desa Napasabok, dan bagian Barat dengan Desa Lamawara. 

Orbitasi Desa Bungamuda

Orbitasi atau jarak Desa Bungamuda dari pusat-pusat pemerintahan dapat diketahui sebagai berikut:

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan         : 9,7 km

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Kabupaten          : 24 km

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Propinsi              : 251 km

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Pusat                  : 2.595 km

Tradisi Menarik Batu Kubur di Tanah Marapu (Sumba)

Tradisi menarik batu kubur di Sumba
Tradisi menarik batu kubur di Sumba

Negeri Paus --- Tradisi unik yang masih dilakukan oleh orang-orang di Pulau Sumba adalah Tingu Watu Hodi.

Tingu Watu Hodi merupakan suatu tradisi masyarakat adat Sumba untuk menarik batu kubur.

Batu Kubur yang di tarik itu akan digunakan sebagai tempat untuk menyemayamkan orang yang meninggal.

Masyarakat adat setempat mempercayai bahwa Tingu Watu Hodi ini sebagai suatu tradisi dalam mempererat hubungan sosial sesama masyarakat, menjaga semangat kerja sama, dan mempererat hubungan dengan kekuatan yang tidak terlihat.

Tradisi yang syarat makna ini, terselip suatu pesan dalam status sosial pengguna batu kubur itu. 

Jadi jika batu kubur yang memiliki "Tanduk Batu Kubur" atau bahasa lokal "Kadu Watu"  berarti batu kubur ini  pemiliknya datang dari keluarga Bangsawan atau Raja.

Ada juga salah satu model batu kubur yang dipandang paling bergengsi adalah "Watu Pangu Ledu". Batu ini mempunyai model layaknya batu kubur bertingkat tampak sebagai rumah pelindung batu kubur bagian bawahnya. 

Batu kubur sendiri mempunyai jenis dan model khusus bagi penggunanya, karena status sosialnya.

Jenis batu kubur yang digunakan adalah batu kapur. Batu kapur ini menurut beberapa sumber mengatakan bahwa bisa diperoleh di Waemadaka, Kecamatan Wanukaka, Sumba Barat.

Selain itu batu kubur jenis batu kapur ini juga bisa diperoleh di Tirimbang, dan Tana Rara, Kabupaten Sumba Timur.

Pengangkutan sendiri pada zaman dahulu apa bila dipesan dari Tirimbang maka menggunakan bantuan perahu.

Untuk satu batu kubur sendiri dapat dibarter dengan Kerbau bahkan katanya sampai ratusan ekor. 

Tradisi menarik batu kubur di tanah Marapu ini memang sangat luar biasa menurut penulis.

Penulis sendiri karena bukan berasal dari Sumba sehingga agak sulit memahami bahasa daerah yang digunakan dalam persiapan sebelum melakukan kegiatan penarikan. Akan tetapi penulis mencoba untuk merunutkan satu per satu bahan-bahan itu dalam bahasa daerah setempat.

Biasanya bahan yang digunakan untuk menarik batu kubur itu adalah Tena, Tua Kaba; Katuku Tena; Rango, Kotera, dan Rame.

Tena; alat yang di atasnya akan diletakan batu berfungsi seperti perahu.

Tena Baumane (laki-laki); bagian gagang, tempat tumpuan dan arah Tena akan ditarik. 

Tena Bouwine (perempuan); bagian dasar dari Tena itu, tempat diletakan batu. 

Tua Kaba (Tuba); tali yang dipakai sebagai penarik batu dari Tena.

Kutuku Tena; baut yang mengikat cabang tena bagian bawah, tempat diletakkan batu.

Rango, Kotera dan Rame adalah potongan kayu bulat , kira-kira 20 cm diameternya, berfungsi seperti ban untuk tena.

Setiap kali batu ditarik maka, Tena dengan muatan batu itu seakan bergerak diatas kayu itu.

Dalam proses penarikan sendiri ada seorang pemandu menyanyikan syair demikian;

Pemandu: "Galo...........ooo..........ooo.........oo

Masyarakat: "We...e.....eeee......eeee.....e...e

Pemandu: " Wara yo..... yowege....

Masyarakat: " Yoooooooooooooo we.... eeeeeee

Saat Yoooooo Weeeee diucapkan, serentak para penarik menghentakan tali dan menarik batu kubur.

Juga ada mantra lain yang diucapkan oleh tetua adat untuk mengundang para leluhur untuk datang membantu pekerjaan berat itu. Dan juga tarian Tari Nego Lara diiringi gong gendang terus dimainkan untuk membakar semangat khalayak itu.

Pesan yang penulis dapat adalah pada dasarnya masyarakat Sumba memiliki pandangan bahwa seorang manusia tetap diberi martabat yang sama luhur saat masih hidup ataupun saat meninggal. Menguburkan manusia pada batu adalah satu bentuk penghargaan dan tempat yang layak terhadap manusia walaupun sudah meninggal.

Riwayat Oga Ngole Raja Kerajaan Nage (Boawae)

Saudara Laki laki Raja Boawae Dengan Pakaian Adat/Pesta .-, Tahun : 1915 - 1940, sumber : Museum Nasional Kebudayaan Dunia

Saudara Laki laki Raja Boawae Dengan Pakaian Adat/Pesta .-, Tahun : 1915 - 1940, sumber : Museum Nasional Kebudayaan Dunia


Negeri Paus -- Raja Oga Ngole adalah salah satu raja Kerajaan Nage yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Hindia-Belanda di Indonesia. 

Wilayah Nusa Tenggara Timur sendiri khususnya wilayah Kerajaan Nage, Oga Ngole sangat dikenal sebagai raja yang sangat terbuka menerima orang asing. 

Sehingga dengan sikap yang mulia itu, Katolik dapat berkembang dengan baik di daerah Boawae. 

Oga Ngole merupakan keturunan bangsawan yang sangat terkenal di wilayah Nage. Ayah Oga Ngole berasal dari suku Deu yaitu Dapa Gu dan ibunya juga merupakan keturunan bangsawan dari Ebu Sekke Liu yaitu Ine ngole Mola. 

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Oga Ngole merupakan bangsawan Suku Deu. 

Oga Ngole diriwayatkan sebagai seorang yang sangat lihai berburu di hutan sehingga tidak mengherankan untuk segalah taktik gerilyanya ia dapat memerangi Belanda. 


Pada tahun 1916 sampai dengan 1917 menjadi bukti seorang Roga Ngole melakukan perlawanan kepada Belanda namun pada akhirnya Kerajaan Nage dapat ditaklukan Belanda.

Kerajaan Nage sendiri sebelumnya merupakan kerajaan dengan konsep pembagian wilayah tanah sehingga di Flores sendiri terdiri dari 27 bagian. 

Konsep wilayah tanah tersebut dikenal dalam bahasa Belanda dengan nama Zelfbestuur Landschap. 

Sehingga pada tahun 1917 Kerajaan Nage terkenal sebagai kerajaan yang berbentuk Zelfbestuur Landschap. Kerajaan Nage sendiri mendapat legalitas dari pemerintah Hindia-Belanda pada 28 November 1917 yang tertuang dalam dokumen Korte Verklaring, No.57. 

Korte Verklaring yang sah diabaikan dan akhirnya dengan keputusan 3 Agustus 1918 No.5477/15  diberlakukan, maka Oga Ngole mulai menjalani tugas kepemimpinannya di Nage sesuai dengan kebijakan Belanda. 

Selama 10 tahun Oga Ngole menjalankan pemerintahannya pada Kerajaan Nage dan akhirnya pada tanggal 28 Oktober 1928 di Rumah Sakit Ende Sang Raja kembali ke pangkuan yang Kuasa karena mengalami sakit, digantikan dengan anaknya Yosef Djuwa Dobe Ngole (Rema dkk, 2020).

Oga Ngole sendiri memiliki tiga orang saudari yaitu Ine Awi Ngole, Ine To Ngole, dan Ine Doa Ngole.

Sedangkan untuk tahun kelahiran Oga Ngole sendiri tidak dapat dipastikan karena tidak ada catatan mengenai itu.


Namun dapat diketahui bahwa ia mempunyai sebelas orang anak dari lima orang istri.
Anak-anak Oga Ngole sendiri terdiri dari Ame Teda Sada, Ame Gogo, Ine Dede Meze, Ine Buju Idi, Bapak Yosef Djuwa Dobe Ngole, Ine Ngoe Meze, Ine Nuba Ede, Ajo Bupu, Kornelis Kota Kile, Hendrikus Watu Mite, dan Anastasia Ia Mite.

Dalam pemerintahan Oga Ngole, pendidikan dan agama Katolik sudah diterima dengan baik oleh Raja Oga Ngole, sehingga sudah ada rakyat yang sekolah dan dipermandikan. (Cah/)

Masuknya Agama Katolik di Boawae

Gereja Paroki Boawae:
Gereja Paroki Boawae: (Gambar Hanya Pemanis)

Negeri Paus - Sejarah panjang perjalanan misionaris Dominikan dalam menyebarkan agama Katolik telah terdokumentasi secara baik pada berbagai catatan sejarah baik di Flores (Sikka dan Larantuka) maupun di Timor. 

Kedua wilayah ini merupakan awal mula basis penyebaran Agama Katolik oleh para Pater Dominikan. 

Para pater Dominikan dikemudian hari harus angkat kaki dari kedua wilayah ini dan digantikan dengan serikat Jesuit. 

Sama halnya dengan Dominikan, Ordo Jesuit pun meninggalkan karya besar di Timor, Sabu, Sumba, Rote, Flores dan wilayah Nusa Tenggara Timur lainnya. 

Dan sampailah pada periode masuknya Serikat Sabda Allah (SVD) di tanah FLobamora. 

Salah satu tokoh yang penting dalam penyebaran agama Katolik di FLores khususnya di Boawae adalah Mgr. Noyen SVD. 


Dari catatan sejarah dapat diketahui bahwa pada saat itu ditunjuklah Pater Piet Noyen SVD sebagai pemimpin untuk wilayah misi Indonesia Timur yakni di Pulau Timor dan Sumba.

Kisah singkat Mgr. Noyen SVD, dimulai sejak ia tiba di Batavia pada 4 Januari 1913 dan menyempatkan diri bertemu Pater Luypen SJ, Vikaris Apostolik Batavia. 

Setelah itu Pater Piet Noyen SVD kemudian berangkat dari Surabaya ke Kepulauan Timor pada 12 Januari 1913, dan tiba di Kupang pada 18 Januari. 

Lalu Pater Piet Noyen SVD melanjutkan perjalanan hingga pada tanggal 20 Januari 1913 ia tiba di Pelabuhan Atapupu, Pulau Timor dan pada saat yang sama P. Vander Putten, SY meninggalkan Timor.

Tepat pada tanggal 21 Juli 1914 Pater Jesuit ditarik satu per satu dari wilayah FLores karena digantikan oleh para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD).

Hingga saatnya pada tanggal 17 Oktober 1915, satu tahun setelah pernyataan yang ditandatangani oleh pater Engbers SJ pada 21 Juli 1914 untuk menyerahkan wilayah misi dari Jesuit ke SVD, Mgr. Noyen berlayar menggunakan kapal dari Ende menuju Aimere.

Ketika beliau tiba di Aimere, menurut catatan bahwa ada 28 anak yang sudah siap untuk dibaptis oleh para guru dari Sekolah Katolik disitu. 

Oleh karena itu Mgr. Noyen SVD, lalu berangkat menuju Boawae menyinggahi Bajawa. 

Setibanya di Boawae ia membaptis setidaknya 10 orang anak yang telah dipersiapka dan telah dilakukan pengajaran agama Katolik oleh guru-guru SRK Boawae.

Menurut daftar Buku Induk Paroki Boawae, anak-anak yang dibaptis oleh Mgr. Noyen SVD dapat kita ketahui berikut: Melkhior Baru asal Boawae, Katharina Ngoe Meze (putri Oga Ngole), Maria Margaretha Buju (putri Oga Ngole), Ignatius Tangi asal Djowolo, Anton Bata Mude, Fransiskus Muga asal Djowolo, Yakobus Dala asal Wolobidi, Yohanes Dai asal Wolobidi, Fransiskus Wae Mala asal Wolobidi, Yosef Djuwa Dobe Ngole yang dipermandikan pada tanggal 13 Agustus 1916.

Dari sinilah peletakan iman Katolik di Boawae dapat dibuktikan dengan berdirinya Paroki St. Fransiskus X. Boawae pada tahun 1915.

Kerajaan Nage Tahun 1918-1928 di Kecamatan Boawae

Kerajaan Nage
Gambar Ini Hanya Sebagai Pemanis. Sumber: Facebook


Pada masa penjajahan kolonial Belanda di Flores, kita bisa mengetahui beberapa daerah di Flores bagian Timur merupakan basis mereka. Basis mereka itu salah satunya adalah wilayah kepulaun Solor yang pada tahun 1500-an di bangun sebuah benteng di Lohayong Solor. 

Namun sebelum Belanda mengambil alih benteng Lohayong itu, benteng itu merupakan bangunan pertahanan Portugis. Portugis berhasil di pukul mundur ketika Persekutuan Kerajaan Islam Lima Pantai meliputi wilayah Adonara, Lembata, dan Solor yang dihimpun oleh Belanda untuk menyerang Benteng. 

Benteng Lohayong sendiri akhirnya jatuh ke tanggan Belanda pada 1613. Tahun itupun menjadi tahun-tahun awal kejayaan Belanda di ujung Timur Flores sedangkan untuk di Flores Barat sendiri pemerintah kolonial Belanda membentuk suatu kerajaan, namun ratusan tahun setelah kejadian itu yakni pada abad ke-18 dan 19.

Menurut pemerintah kolonial Belanda saat itu, masyarakat akan semakin mudah dikendalikan apabila terorganisir secara baik. 

Hal ini berarti harus ada struktur hidup berkelompok yang jelas. Dengan adanya struktur kelompok masyarakat yang jelas itu maka pemerintah kolonial akan lebih mudah juga mengontrol pergerakan masyarakat yang masih berpikir primitif saat itu. Kehidupan masyarakat dan pikiran yang primitif saat itu, tidak mengenal struktur hidup berkelompok yang lebih tinggi diatas  “ulu  eko”, “ili  woe”, “boa  ola”. 


Dengan demikian Kerajaan Nage atau Zelfbestuur Nage  sebagai suatu jalan keluar untuk itu. Dahulu kala Nage ditujukkan untuk orang yang bertempat tinggal di wilayah yang disebut dengan "tiga desa Nage" meliputi; Nata Nage, Nage Sapadhi dan Nage Oga.(Forth, 2010:3).

Selain itu beberapa penutur juga menjelaskan bahwa nama Nage sendiri mempunyai hubungan dengan sebuah pohon Asam (Nage, Tamarindus Indica). Tiga desa yang disebutkan di atas menggunakan simbol entik Nage karena mempunyai kesamaan yakni pelarangan bagi siapapun dalam etnik Nage untuk membakar pohon asam. 

Jika ketentuan itu dilanggar maka akan mendapat balasan dari alam (saya menggunakan istilah alam untuk menerangkan kekuatan yang tak terhingga) berupa seseorang itu menderita luka-luka pada wajahnya.


Kerajaan Nage atau Zelfbestuur Nage sendiri adalah salah satu kerajaan di Flores yang berhasil dibentuk oleh pihak Belanda untuk mengorganisir dan membentuk struktur masyarakat. 

Kerajaan ini sendiri dibentuk oleh Belanda dengan mengangkat seorang  pemimpin  lokal  yang kuat  dan  tentunya memiliki  tanah  yang  luas. Sehingga dalam hal ini kita mengenal istilah Landshcap Bestuur. 

Nah... Kerajaan Nage sendiri bisa disebut sebagai Zelfbestuur  Nage juga atas dasar sistem penguasaan tanah oleh masyarakat lokal itu dapat juga disebut Zelfbestuur Landschap. Jadi, wilayah Flores sendiri dapat dipetakan oleh Belanda menjadi 27 Landshcap Bestuur.

Kerajaan Nage atau Zelfbestuur Nage dipimpin oleh seorang raja yang disebut Zelfbestuurunder bernama Oga Ngole. Oga Ngole sendiri diangkat oleh Belanda melalui surat keputusan Korte Verklaring tanggal 28 November 1917, No. 57, dalam perjalanannya surat ini dianggap tidak terlalu penting, namun dalam menjalankan sistem pemerintahan harus ada legalitas, maka pada tanggal 18 Agustus 1918 Korte Verklaring dan Raja Oga mulai bekerja sama dalam struktur pemerintahan yang jelas.

Namun sebelum Belanda memasuki wilayah ini, sudah ada klan-klan atau woe yang sudah mengenal seorang pemimpin bagi Klan mereka yang tidak dipilih tetapi  kepemimpinannya diakui oleh anggota klannya. Pemimpin  ini  dikenal  dengan  istilah Mosa  Kisa yang dapat diartikan sebagai  seorang  yang  adil,  arif,  bijaksana  dan  mampu  memperhatikan  rakyatnya.  Sistem kepemimpinan tradisional Nage disimbolkan dengan adanya Peo, terdapat 5 suku di pusat Kerajaan Nage yang dipersatukan dalam Peo Oko Nabe Fa artinya Peo yang satu dan Nabe yang sama (Rema dkk, Jejak Sejarah Kerajaan Nage, Jurnal Sajaratun Vol.4. Hal. 52, Unflor,  2020).

Sejarah kerajaan Tanete Barru atau Negeri Pancana di Sulawesi Selatan

Sejarah kerajaan Tanete Barru


Negeri Paus -- Kabupaten Barru dahulu sebelum terbentuk adalah sebuah kerajaan kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang raja, yaitu: Kerajaan Berru (Barru), Kerajaan Tanete , Kerajaan Soppeng Riaja dan Kerajaan Mallusetasi .

Awalnya adalah kerajaan Pujananting, kerajaan Pujananting menjadi kerajaan Agang Nionjo dan kemudian kerajaan Agang Nionjo menjadi kerajaan Tanete (Barru).

Pada sekitar abad ke-17 disebut Agang Nionjo konon karena hampir strategis dan selalu dilewati orang lain, jalan ini dalam bahasa Makassar (Agang) dilewati (Nionjo).

Kerajaan Agangnionjo (Tanete) mulai berdiri disekitar abad ke-16, pada tahun 1547 Masehi, dengan rajanya yang pertama Datu Golla'E.

Kerajaan Tanete sekitar berdiri pertengahan abad ke-16 dengan Raja pertama Datu Gollae yang merupakan kemanakan dari Raja Gowa ke-10. “Sampai pada Daeng Sinjai, Raja ke tujuh, nama Kerajaan Tanete masih Kerajaan Angangnionjo” (Mattalatta, 2003: 24). 

Nanti pada Raja selanjutnya yaitu Ke Maburu Limanna, Kerajaan Angangnionjo berubah nama menjadi Kerajaan Tanete.

Dimasa pemerintahan wilayah Belanda dibentuk Pemerintahan Sipil Belanda dimana Barru, Tanete dan Soppeng Riaja dimasukkan dalam wilayah Onder Afdelling Barru yang bernaung dibawah Afdelling Parepare.

Sebagai kepala Pemerintahan Onder Afdelling diangkat seorang kontrol Belanda yang berkedudukan di Barru, sedangkan ketiga bekas kerajaan tersebut diberi status sebagai Self Bestuur (Pemerintahan Kerajaan Sendiri) yang mempunyai hak otonom untuk menyelenggarakan pemerintahan sehari-hari baik terhadap eksekutif maupun dibidang yudikatif.

Sumber: Facebook: Fudin Al Tawaora

Iang Gogo dan Agama Islam di Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur

Al-Quran dari Kulit Kayu di Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur
Al-Quran dari Kulit Kayu di Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Beberapa literatur menyebutkan bahwa Islam adalah agama pertama yang masuk ke tanah Alor. 

Tanah yang biasa dijuluki Nusa Kenari ini pada sekitar abad ke-16 Masehi namun ada juga yang mengatakan bahwa sebelum dari itu yakni 14 Masehi, Islam mulai masuk. 

Pada masa kejayaan Kerajaan Islam di Ternate, memang ada beberapa petinggi dan rakyat biasa kerajaan yang melakukan penyebaran agama ke beberapa wilayah Nusa  Tenggara Timur.

Wilayah-wilayah itu dapat kita sebut dengan jelas, mulai dari Flores Barat hingga Alor. 

Kerajaan Islam Ternate yang nantinya melakukan penyebaran agama dan membangun kekuatan, itu karena di picu oleh masalah pembunuhan seorang raja Ternate oleh Portugis terutama dalam hal ingin membalas dendam pada Portugis. 

Ada juga Sultan Ternate yang terkenal pada masa itu yakni Sultan Babullah.


Sedangkan sejarah Agama Islam di Alor diawali dengan masuknya beberapa orang dari Ternate ke Nusa Kenari ini. 

Agama Islam sendiri masuk ke Alor dibawa oleh Iang Gogo bersama dengan lima orang saudaranya. 

Mereka masuk ke Alor melalui Tanjung Bota-Alor, yang saat ini lebih dikenal dengan nama Bota, Alila Kecamatan Alor Barat Laut. 

Di ceritakan bahwa Iang Gogo dan saudaranya kehabisan bekal perjalanan mengingat pelayaran yang cukup memakan banyak waktu hampir berbulan-bulan. 

Sehingga pada suatu waktu, Iang Golo menggunakan tongkat kesaktiannya menusuk tanah dan keluarlah air dari bekas tusukan itu. 

Menurut penuturan bahwa Iang mempunyai ilmu kanuragan dan sakti.

Air yang mengalir dari bekas tusukan Iang itu sampai saat ini dikenal dengan nama Mata Air Banda yang letaknya di pinggir pantai dan masih digunakan oleh masyarakat setempat. 

Daerah Bota merupakan salah satu wilayah di Alor yang kondisi lingkungannya gersang dan berbatu pada saat itu, namun berkat Iang air dapat mengalir dari dalam tanah yang gersang itu. 

Air itu dipergunakan oleh mereka untuk menjadi bekal perjalanan selanjutnya.

Iang dan beberapa saudaranya itu kemudian melanjutkan perjalanan mereka dan menyinggahi salah satu wilayah kecil di Alor yang sekarang dikenal dengan nama Desa Aimoli. 

Aimoli di ketahui sebagai tempat tinggalnya Raja Baololong Kesatu dan mereka (Iang dan Saudaranya) menjalin komunikasi dan hubungan baik denganya. 

Sebagai bentuk kerja sama dan membangun persaudaraan dengan Raja Baololong Kesatu, maka Iang dan saudaranya memberikan Moko (Nekara Perunggu) kepada Raja Baololong Kesatu, selanjutnya Raja juga memberikan pisau kepada Iang. 


Perlu di ketahui bahwa Moko merupakan Nekara perunggu yang biasa dipakai oleh orang-orang Vietnam dalam kebudayaan Dongson.

Selanjutnya Iang dan saudaranya melakukan perjalanan ke Pulau Pantar dan menyinggahi Balagar selanjutnya menuju ke Tuabang.

Tibalah mereka di Tuabang itu dan kemudian bersepakat untuk berpisah. Masing-masing mereka membawa serta Al-Quran dari kulit kayu dan pisau khitan sebagai bekal melakukan siar Islam. 

Ilyas Gogo menetap di Tuabang, Iang Gogo ke Alor Besar (tempat dimana Alquran Kulit Kayu disimpan dan dipelihara dengan baik hingga saat ini), Djou Gogo ke Baranusa, Boi Gogo ke Pulau Adonara (Lamahala) Flores Timur dan Kimalis Gogo ke Kui (Lerambaing) Kecamatan Alor Barat Daya.

Sumber: FB:Chaven Anwar Griang, 29 Juli 2020