Cerita Loke Nggerang, Gendang Dari Kulit Manusia di Manggarai versi Todo

Gambar: Gendang Nggerang di Manggarai, Sumber: FB Jiwa Nusantara

|Negeri Paus| - Pada zaman dahulu di suatu kampung kecil yakni di Ndoso, hiduplah seorang gadis yang berparas sangat cantik dan jelita. Gadis itu bernama Nggérang atau orang-orang biasa memanggil "Molas   Wéla   Loé".
Kecantika Nggérang sangat   memikat, sehingga banyak pemuda yang jatuh cinta pada dirinya. Diketahui bahwa Nggérang merupakan keturunan orang  India.  
Sebelum Nggérang dilahirkan, kedua  orang  tuanya berdomisili di Bima.   
Saat   itu   semua   upéti   atau   pajak   dari Nuca   Lale (Manggar[a]i) harus dibawa ke Bima.

Suatu hari ada seorang petugas membawakan upéti dari Nuca Lale (Manggarai) ke Bima. Petugas itu adalah Kraéng Parera  dari Adak Todo dan ditemani oleh seorang dari Bajo  yang  tak  diketauhi namanya. 
Dikisahkan bahwa di  Bima  mereka  bertemu  dengan istri  orang  India yang  tengah  hamil  muda.

Suaminya  sedang  berada  di  India untuk  menjenguk orang tuanya.
Si perempuan  yang  tengah  hamil  tersebut  pun jatuh   cinta  pada Kraéng Parera dan   ingin menjadi   istri dari Kraéng Parera dari Adak Todo.
Perempuan yang telah bersuami tersebut ikut ke Nuca Lale ketika kedua petugas (pembawa upéti dari Nuca Lale) tersebut pulang. Mereka bertiga sama-sama dari Bima hingga tiba di Bajo. Dalam perjalanan hingga berada di Bajo ibu Nggérang terlihat sangat bahagia. Selama  berada  di  Bajo Kraéng Parera  tidak  tenang  karena  takut  si perempuan hamil  tersebut  mengikutinya  ke  Todo.

Konon  waktu  itu  ia  telah beristri   dan   memiliki   anak.   Lalu   ia memutuskan   pulang   ke   Todo   tanpa sepengetahuan perempuan  tersebut. Ia  berpesan  kepada  petugas  upéti  Bajo, “Jangan  kasih  tahu perempuan  tersebut  bahwa  dirinya  telah pulang  ke Todo.”  Sehingga ada istilah kunci bajo, péti Todo.

Setelah  beberapa lama, si  perempuan  yang  tengah  hamil tersebut berusaha  mencari  keberadaan Kraéng Parera. Ia  mengembara  melewati daerah Pacar (Nama Sebuah daerah di Manggarai). Setibanya di Pacar, orang-orang sedang  mengadakan ritus adat Barong  Waé  Pénti. Dengan  kehadiran  siperempuan yang  amat  cantik  ketika ritus  adat  tersebut  berlangsung,  wargapun  percaya  bahwa  ritus  mereka diterima oleh para leluhur mereka.

Lalu Ibu hamil tersebut terus pergi hingga kampung Ndoso dan menetap di sana. Beberapa  lama kemudian ia pun  melahirkan seorang anak perempuan yang  diberi nama Nggérang. Anak  perempuan  tersebut  seharusnya dibunuh karena sebelum sang suami berangkat ke India telah berpesan bahwa “Jika kamu  melahirkan  seorang  anak  laki-laki  maka  anak  itu  dipelihara,  tetapi  jika anak yang engkau lahirkan adalah perempuan maka harus dibunuh.

” Konon waktu  itu, adat  orang  India  tidak  menginginkan  anak  perempuan, namun, pesan  sang  suami  tidak  diindahkan  oleh  sang  istrinya.  Sang  istri  merasa tidak tega   membunuh   anak   kandungnya   sendiri. Ia   sangat   menyayangi   bayi perempuanya itu. Setelah bayi perempuan itu dilahirkan istri orang India tersebut meminta   kepada   seseorang   perempuan   janda   tua   untuk   mengasuhnya   dan mereka tinggal  di  kebun.

Nama  kebun  tersebut  adalah Tobok  Watu  Sora yang berada  di wilayah  Ndoso.  Agar tidak  diketahui  sang  suami,  perempuan  tersebut (Ibunya Nggérang)  memotong  seekor  Anjing  lalu  dikuburkan  sebagai  bukti bahwa  dirinya telah  menuruti  pesan  lelaki  India  tersebut jika melahirkan seorang anak perempuan maka dia harus dibunuh. 

Ketika  pulang  dari  India,  sang  suami  datang  mencari  istrinya  ke Nuca Lale ketika   dirinya   tahu   bahwa   istrinya   telah   ke   Nuca   Lale.
Ia sangat menghawatirkan keadaan istrinya yang tengah hamil. Ketika orang India itu tiba di  Ndoso, bertanyalah  pada  istrinya  apakah  anak  yang  dilahirkanya  seorang perempuan  atau  lelaki.

Istrinya  berkata  telah  melahirkan  anak  perempuan  dan membunuhnya. Ibunda Nggérang pun memperlihatkan   kubur   anjing   yang terletak  di  depan  pintu  pondok  (sekang)  untuk meyakinkan  suaminya.
Sang suami punpercaya. Waktu  terus  berlalu, Nggérang pun  bertumbuh  menjadi  seorang  gadis yang  sangat  cantik.  Kecantikanya  mampu  memikat  hati  Raja  Todo  dan Bima.
 
Kedua Adak(raja)  ingin  memperistri Molas  Wéla Loé itu. Nggérang digelari sebagai  gadis  rebutan  para  Raja  pada  masa itu.  
Oleh  karena  itu,  Raja  Todo mengambil  keputusan  untuk  membunuh  si Nggérang.  Hal  tersebut  merupakan cara  Raja  Todo  untuk  mencegah  timbulnya konflik  atau  kecemburuan  antara dirinya dengan Raja Bima. 

Raja Todo pun menyuruh  anak  buahnya  (Dalu Lelak)  untuk  membunuh Nggérang yang  ada  diNdoso.  Ia  berpesan  pada bawahannya bahwa “Apabila gadis tersebut telah dibunuh maka  kulit  perutnya harus   dibawah   kesini   (Todo),   kulit   tersebut   akan   dijadikan gendang.
” Mendengar keputusan sang Raja, keluarga Nggérang hanya diam dan tidak dapat berbuat apa [pun]. Nggérang sendiripun hanya pasrah karena takut orang tuanya akan dibunuh oleh raja tersebut.
Setelah  dibunuh,  kulit  gadis  tersebut  disayat  dan  dibawa  ke  Todo.  Kulit itu dibuat  gendang  sesuai  dengan  perintah  sang  Raja  Todo.  
Gendang  tersebut hingga sekarang  tersimpan  di rumah  adat  kampung  Todo  dan  dipercayakan sebagai induk dari segala gendang di Manggarai.

Setelah peristiwa pembunuhan Nggérang masyarakat  Ndoso  dan  Todo  bermusuhan  sampai  dengan  generasi selanjutnya bahwa   apabila   orang   Todo   menginjakan   kaki   di   Ndoso   akan mengalami permasalahan  serta  akan  terjadi  musibah  (watu  rutuk  ulu  lalang dara). (*)

Artikel    ini menggunakan  versi  Todo  yang  berada  di  wilayah  Manggarai, yang dirujuk dari berbagai sumber.

Sumber: 

ARTIKEL; 2020. HUMANIORA DAN ERA DISRUPSIE-PROSIDING SEMINAR NASIONAL PEKAN CHAIRIL ANWAR Kerja Sama FIB Universitas Jember, HISKI Jember, dan ATL Jember. CERITA LOKE NGGERANG SEBAGAI REPRESENTASISEJARAH POLITIK DI FLORES BARATNUSA TENGGARA TIMUR Ans Prawati Yuliantari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng.

https://www.jurnalflores.co.id/travel/pr-7765773505/loke-nggerang-adalah-sebuah-gendang-yang-terbuat-dari-kulit-manusia-di-manggarai-ntt

https://www.nusantara62.com/ragam/pr-3715585353/cerita-rakyat-ntt-legenda-nunduk-loke-nggerang-kisah-pilu-dari-tanah-manggarai

Mengenal Kampung Adat Namata-Sabu Raijua, NTT

Kampung adat Namata
Gambar Kampung Adat Namata


|Negeri Paus|-Sebuah situs megalitik dengan warisan budaya yang menarik. Sabu Raijua punya destinasi wisata tradisional yang masih sangat kental dengan nuansa adat dan ritual budaya asli.

Kampung Adat Namata, sebuah area yang terdapat batu magalitik yang konon memiliki kekuatan gaib.

Bagi orang Sabu, kampung sakral dan kramat ini adalah tempat pemujaan terhadap leluhur, orang yang telah meninggal dan ritual adat lainnya. 

Kampung adat Namata merupakan salah satu kampung adat dan megalitik di Wilayah Habba. Lokasi kampung ini terletak di Desa Raeloro, kec- Sabu Barat, Kab- Sabu Raijua, NTT. 

Untuk bisa sampai ke Kampung Namata dengan cepat dan lebih praktis biasa digunakan kendaraan roda dua. Tapi juga bisa menggunakan kendaraan roda empat.

Namun, masyarakat sekitar juga menggunakan Kuda sebagai alat transportasi.

Wisatawan juga bisa menikmati perjalanan menggunakan kuda untuk sampai ke kampung ini.

Gambar Istimewah
Gambar Istimewah 

Kampung ini juga merupakan bukti sejarah peradaban kepercayaan atau agama suku yakni Jingitiu yang memuja dewa-dewa. Oleh karena itu Sabu Raijua disebut negerinya para dewa.

Dikampung ini wisatawan bisa menikmati suasana alam yang masih asri dan perkampungan yang masih memegang teguh adat dan tradisi nenek moyang.
Karena di tempat ini terdapat batu-batu megalitik yang sangat sakral maka wisatawan yang berkunjung tidak di perbolehkan untuk menyentuh batu itu dengan sembarangan atau tanpa ijin karena bisa menimbulkan penyakit atau hal buruk akan menimpa si penyentuh pada saat menggalkan kampung ini.

Keindahan dari susunan batu megalitik dan rumah adat sabu merupakan sajian yang sulit di dapatkan ditempat lain.

Batu- batu megalitik itu dipercaya masyarakat Sekitar sebagai tempat berdiamnya para leluhur atau pemangku adat dan sampai sekarang batu-batu tersebut digunakan sebagai media tempat melakukan ritual atau pemujaan kepada leluhur atau dewa-dewa yang mereka percaya. 

Tempat ini sangat direkomendasikan sebagai tempat destinasi wisata yang bagus untuk dikunjungi karna, akan sangat memberikan pengalaman yang berbeda dari biasanya ketika berkunjung ke tempat ini.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Mengenal Senjata Tradisional Papua Salah Satunya "PISAU BELATI" Khas Papua

Gambar Istimewah
Gambar Istimewah 


Walaupun terbuat dari tulang burung kasuari, senjata ini cukup tajam dan bisa mematikan musuh atau targetnya. Selain menggunakan tulang, bulu burung ini juga dimanfaatkan dan dipasang pada gagang pisau belatinya.

Posisinya boleh berada di bahagian hujung gagang, tetapi ada pula yang dipasang di bagian samping. Untuk membuatnya semakin unik, pada gagangnya diberi anyaman kulit kayu yang sebelumnya telah dicat warna putih.

Keunikan lain dari pisau belati ini ialah adanya kerang sebagai hiasan senjata. Kerang tersebut terletak di bagian gagang senjatanya yang dipasang bersamaan bulu burung kasuari.
Pisau papua
Gambar Pisau Asli Papua


Namun, untuk saat ini pisau belati sering dikenakan sebagai pelengkap pakaian adat lelaki khas Papua. Cara memakainya adalah dengan dililitkan di sisi pinggang lelakinya.

Pisau belati selain digunakan sebagai pelengkap pakaian adat, senjata tradisional ini juga dimanfaatkan untuk berburu binatang serta berperang. (*)

Sumber: FB Grup Sejarah Papua

Kisah Si Pahit Lidah Mengutuk Gerombolan Badak Menjadi Batu

Gambar Istimewah
Gambar Istimewah 


Negeri Paus | Rhino stone (batu badak) merupakan batu peninggalan sejarah jaman megalitikum yang memiliki kisah cerita rakyat tersendiri bagi masyarakat rejang lebong khususnya Desa Lawang Agung Kecamatan SBU.

Dikisahkan bahwa si pahit lidah melewati kawasan ini dan bertemu dengan segerombolan badak sumatra, beserta anak anaknya.

Si pahit lidah bertanya arah jalan ke gerombolan badak yang menghalanginya. Karena tidak di jawab oleh Badak, Si pahit lidah marah dan berkata, "Jadilah kalian semuanya batu".

Karena kesaktianya, badak badak sumatra itu berikut anak anaknya menjadi batu seperti yang terlihat di photo di bawah ini. (Sumber lisan : Bapak Sur, kades lawang agung).

Legenda Asal Usul Desa Sumber Kabupaten Rembang

Desa Sumber
Gambar Istimewah


Desa Sumber merupakan salah satu desa Kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang. Asal mula Desa Sumber konon berawal dari adanya seseorang bernama Ki Bronto yang datang ke suatu daerah hutan yang konon menjadi cikal bakal Desa Sumber. Suatu hari Ki Bronto sedang berjalan di kawasan hutan tersebut. Ki Bronto berjalan dihutan tersebut yang menjadi cikal bakal kawasan Desa Sumber sekarang. Hutannya masih rindang dan lebat lengkap dengan ekosistemnya yang masih alami belum terdapat campur tangan manusia karena belum ada kehidupan manusia di hutan tersebut. 

Ki Bronto berjalan dan terus berjalan hingga di tengah perjalanannya, Ia melihat sebuah pohon beringin yang sangat lebat dan besar. Dilihatnya pohon tersebut dengan seksama. Ia tertarik dengan pohon tersebut karena Ia belum pernah melihat pohon beringin sebegitu besarnya seperti pohon beringin yang Ia lihat di depannya langsung. Tidak sadar Ia terkagum melihat lebat dan besarnya pohon tersebut sambil berjalan. Selangkah demi selangkah Ia maju dan terus maju mengarah mendekati pohon tersebut. Tiba-tiba Ia merasa ada yang basah dikakinya. Hal tersebut membuat Ki Bronto tersadar. 

Dilihatnya apa yang Ia injak. Ternyata Ki Bronto menginjak genangan air. Diamatinya genangan air tersebut dengan seksama. Ternyata genangan air tersebut berasal dari dalam akar pohon beringin besar dan lebat yang Ia kagumi itu. Tak disangkanya Ia menemukan sumber mata air di tengah hutan tersebut. Mata air tersebut sangat jernih airnya. Air dari mata air tersebut terus menerus keluar dari dalam akar pohon beringin besar tanpa berhenti. Airnya sangat jernih dan sangat segar karena benar-benar alami dari alam.

Menurut Ki Bronto, apa yang Ia temukan tersebut merupakan penemuan besar. Tanpa berpikir panjang, Ki Bronto membuat gubuk kecil di dekat mata air tersebut untuk Ia tinggali. Hari demi hari Ki Bronto tinggal disana. Satu demi persatu orang-orang datang untuk membuat tempat tinggal di sana. Karena tempatnya yang strategis dekat dengan sumber mata air, daerah tersebut semakin hari semakin ramai dengan orang-orang yang datang untuk membuat tempat tinggal. Semakin lama dan semakin banyaknya orang-orang yang menghuni daerah tersebut, daerah yang semulanya berupa hutan lebat tersebut berubah menjadi sebuah kawasan pemukiman yang cukup banyak penghuninya.

Suatu hari, Ki Bronto datang ke sumber mata air tersebut. Ia duduk di depan sumber mata air di bawah pohon beringin besar dan lebat tersebut. Di sana Ki Bronto melamun memikirkan sesuatu. Ia berpikir daerah yang dulunya Ia temukan berupa hutan lebat yang kini menjadi sebuah pemukiman tersebut belum memiliki nama. Ia memikirkan nama yang tepat untuk kawasan pemukiman tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya Ia memikirkan nama yang tepat, akhirnya Ki Bronto menemukan nama yang sangat cocok diberinya kepada kawasan pemukiman tersebut.

Setelah menemukan nama yang cocok dan merasa puas dengan nama tersebut, Ki Bronto lalu pergi untuk mengumpulkan para warga. Diajaknya para warga bermusyawarah untuk sepakat memberi nama kawasan pemukiman yang mereka tinggali sesuai dengan nama hasil pemikiran Ki Bronto. Setelah berunding, ternyata para warga setuju dengan ide Ki Bronto.

Mereka sepakat memberi nama kawasan pemukiman tersebut dan mereka memperoleh kesepakatan lain yaitu tentang adanya pengadaan tradisi “Sedekah Bumi” yang merupakan tradisi turun temurun untuk mensyukuri nikmat yang mereka peroleh dari hasil panen. Mereka mengadakan tradisi tersebut karena mereka percaya dengan adanya Dewi Sri yang dikenal dengan dewi pertanian.

Mereka percaya tanpa adanya Dewi Sri, mereka tidak akan bisa mendapatkan hasil panen yang melimpah. Oleh karena itu, mereka selalu mengadakan tradisi Sedekah Bumi setiap musim panen sebagai tanda terima kasih mereka kepada Dewi Sri. Tradisi Sedekah Bumi selalu mereka adakan di kawasan sumber mata air di bawah pohon beringin besar. Mereka percaya adanya penunggu pohon beringin besar tersebut. Sedekah Bumi mereka adakan dengan memberi persembahan atau sesajen yang mereka letakkan di sumber mata air.

Dengan memberi persembahan kepada penghuni pohon besar tersebut, mereka berdo’a dan berharap agar panen mereka melimpah setiap tahunnya dan sumber mata air tersebut tidak pernah berhenti mengalir. Sesuai dengan nama yang mereka sepakati. Mereka memberi nama desa tersebut desa “Sumber”. Nama tersebut diberi oleh Ki Bronto dan disepakati oleh para warga. Nama “Sumber” sendiri berasal dari sumber mata air yang tiada berhentinya mengalir yang disebut warga “Nyumber”.

Masa demi masa berlalu. Kawasan pemukiman yang semula hutan tersebut berubah menjadi kawasan pemukiman ramai penduduk. Desa Sumber kini menjadi Desa Kecamatan Sumber. Kecamatan Sumber yang merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Rembang yang terletak di perbatasan antara kabupaten Rembang dan Pati. Dan mengenai sumber mata air tersebut, kini berubah menjadi sebuah sumur yang dikenal dengan sebutan “Sendang”.

Dan mengenai pohon beringin besar tersebut kini hanya tinggal cerita karena pohon tersebut sudah tidak ada lagi sebab ditebang. Dan tradisi Sedekah Bumi tersebut masih diadakan. Tetapi diadakannya bukan di sumber mata air itu lagi. Tetapi diadakannya Sedekah Bumi tersebut sekarang bertempat di balai desa Sumber.

Sejarah Kampung Tanjung Batu Kecamatan Pulau Derawan Kabupaten Berau

Gambar Peta Pemukiman Kampung Tanjung Batu
Gambar Peta Pemukiman Kampung Tanjung Batu


M.Taher,MT. dengan sebutan Kepala Desa Kedelapan ( 2000 – 2007) dijabat oleh M.Taher,MT. Kesembilan (2007 – 2013) dijabat oleh Adria Noval Kesepuluh (2014 – 2019) dijabat oleh Jorjis dengan sebutan Kepala Kampung Kesebelas (2019 – sekarang) dijabat oleh Haji Darwis dengan sebutan Kepala Kampung.

Sejarah Kampung Tanjung Batu baru dapat ditulis pada masa kepimpinan Hasana Imam Unsyah, berdasarkan sumber cerita tokoh masyarakat yang ada. Pada masa pemerintahan Hasana Imam Unsyah Kampung Tanjung Batu berhasil mendapatkan penghargaan sebagai juara ke – 2 di ajang perlombaan desa tingkat Kabupaten Berau. Perlombaan tersebut diikuti oleh seluruh desa di wilayah Kaimantan Timur pada tahun 1986.

Kejuaraan tersebut dikuatkan dengan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Nomor : 178 Tahun 1986 tertanggal 25 Juni 1986.

Pada masa pemerintahan M.Taher,MT. yang pertama (1994 – 1999) Kampung Tanjung Batu mengalami banyak perubahan dan kemajuan. 

Hal ini ditandai dengan terpilihnya Tanjung Batu sebagai Desa Percontohan berdasarkan SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Berau nomor 164 tahun 1997. Selain itu, Tanjung Batu juga ditetapkan menjadi Desa Pelopor P4 pada Tahun 1997. Prestasi Tanjung Batu lainnya yang cukup membanggakan ialah masuk dalam kategori Kepala Desa Berprestasi dan Pengelola Anggaran terbaik. Bahkan menjadi juara 1 (satu) Perlombaan Desa tingkat kabupaten pada Tahun 1996.

Pada masa pemerintahan M.Taher,MT yang kedua (2000 – 2007) terjadi banyak perubahan di struktur pemerintahan yaitu pergantian aparat kampung akibat pengunduran diri dan mutasi jabatan. Akan tetapi pada masa ini pembangunan fisik di kampung mulai terlihat diantaranya pembangunan balai kampung, TPA, Posyandu, Poskamling di tiap RT dan pembebasan perluasan tanah TPU. 

Namun, belum sampai berakhir masa jabatanya M.Taher, MT meninggal dunia. Untuk mengisi kekosongan diadakan pemilihan kepala kampung. Adria Noval terpilih menjadi kepala kampung 2007 – 2013 dan sukses memimpin sampai akhir masa jabatanya.

Jorjis terpilih menjadi Kepala Kampung Tanjung Batu 2014 – 2019 menggantikan Adria Noval setelah berakhir masa jabatanya. Di era kepemimpinan Jorjis inilah menjadi tonggak sejarah mulai berlakunya UU No. 6 Tahun 2016 tentang Desa. UU Desa memberikan penegasan tentang status Desa atau Kampung. 

Negara mengakui keberadaan Kampung sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Mulai tahun 2015 Kampung Tanjung Batu dan Kampung / Desa diseluruh Indonesia mendapatkan alokasi anggaran dari APBN yang disebut Dana Desa hingga saat ini

Sejarah Desa Tlutup Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Jawa Tengah

Gambar Desa Tlutup diambil dari camera drone
Gambar Desa Tlutup diambil dari camera drone

Menurut informasi dan cerita dari tokoh masyarakat dan kalangan sesepuh (orang tua), dari mulut ke mulut atau secara turun temurun yang merupakan pijakan untuk dijadikan sebagai nara sumber tentang sejarah berdirinya Desa Tlutup, telah dapat ditarik kesimpulan, bahwa Desa Tlutup dahulunya merupakan satu wilayah perdukuhan yang bernama Dukuh Malang masuk kekuasaan Desa Kadilangu.

Namun pada suatu ketika terjadilah konflik antara penduduk atau orang-orang pedukuhan Malang dengan orang-orang Kadilangu (krajan-red) yang menyebabkan para tokoh melakukan mediasi dan musyawarah dengan dukungan masyarakat di Dukuh Malang yang berkehendak untuk memisahkan diri dari wilayah Desa Kadilangu.

Saat itu Ada 3 (tiga) orang yang menjadi tokoh utama sebagai inisiator untuk segera mengakhiri konflik yang terus terjadi berkepanjangan, yaitu dengan pembentukan desa sendiri dan melepaskan diri dari kekuasaan Desa Kadilangu. 

Dengan tekad bulat hendak memperbaiki nasib rakyat dan terlepas dari konflik berkepanjangan, setelah menempuh diplomasi, mediasi, negosiasi, koordinasi dan konsolidasi dengan melewati proses panjang, berbelit-belit dan berliku-liku, akhirnya Dukuh Malang berhasil lepas dari Kadilangu.

Berkat jasa 3 orang tersebut (dalam bahasa Jawa: telu) yang telah berhasil dengan gemilang mengakhiri dan menutup (di-tutup; Jawa) permasalahan/konflik dengan mendirikan dan membentuk desa baru, maka desa baru ini disebut Tlutup.

Dalam bahasa Jawa wong “telu” kasil “nutup” yang digabung menjadi “telutup” dengan menghilangkan konsonan “e” menjadi Tlutup.

Nama-nama tokoh masyarakat yang pernah memimpin/Bekel/Petinggi/ Kepala Desa di Desa Tlutup sampai saat ini antara lain :


1. NGO TRUNO.

2. TIRTO LEKSONO.

3. WIRO TOWO.

4. KALIYO.

5. MAKNAWI.

6. HILMANI.

7. ABDUR ROSYID.

8. RONO REBAN.

9. ZAINI ( sampai Tahun 1975 )

10. DARIS ( 1975 – 1990 )

11. SUDIRO HP. ( 1990 – 2008 )

12. MATURI ( 2008 – 2015 )

13. KUNARSO (2015 – 2021)

14. MATURI ( 2021 ~ 2027 ) 


ALAMAT KANTOR
DESA : TLUTUP
Jl. Juwana Tayu KM. 11
KECAMATAN : TRANGKIL
KABUPATEN : PATI
JAWA TENGAH
NO TELEPON : ~
KODE POS : 59153

Dimana Suku Abui di Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur

Suku Abui Alor
Gambar Istimewah 


Suku Abui (Suku Gunung), suku ini lebih menyukai disebut Abui Laku, yang berarti orang pegunungan. Mereka tinggal di sudut Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.  

Keberadaan Suku Abui dengan budayanya sangat dijaga kelestariannya oleh Pemerintah Kabupaten Alor. 

Mereka menjadi pesona wisata Budaya di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang populer dengan wisata Bahari.

Desa Takpala merupakan sebuah kampung tradisional di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lokasi kampung yang berada di atas bukit ini dihuni sekitar 13 kepala keluarga Suku Abui. 

Desa Takpala menjadi aset wisata, sebagai cagar budaya serta dilindungi dengan peraturan daerah Kabupaten Alor. 

Popularitasnya sebagai desa yang mampu menjaga adat dan tradisi, membuatnya menjadi salah satu destinasi wajib, saat berkunjung ke Alor.
 
Salah satu keunikan Suku Abui berupa pakaian tradisional yang ditenun dengan alat tradisional menggunakan tangan. 

Pakaian itu mereka gunakan untuk menyambut wisatawan yang datang ke kampung mereka, sambil menari Lego-Lego.

Suku Abui sangat ramah dan dermawan membuat siapapun yang pernah berkunjung seakan ingin kembali datang.

Suku Shui adalah salah satu suku yang ada Nusa Tenggara Timur.(*)

Apa Isi Surat Sultan Ternate kepada Raja Portugis Tahun 1522 M

Gambar Surat Sultan Ternate Kepada Raja Portugis
Gambar Surat Sultan Ternate Kepada Raja Portugis


Surat ini ditulis oleh pegawai sekretariat kesultanan, karena saat itu Sultan masih berusia 7 tahun. 

Isi surat mungkin dapat diterjemahkan seperti berikut:

Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam..

Wahai Yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun.

Tuan, saya memberi tahu Yang Mulia karena saya tahu itu akan membuat Anda sakit. Yang Mulia akan menyadari bahwa dua kapal dari kastil telah datang ke sini, yang tidak ada barang dan senjata apa pun, untuk membentengi pulau tidore, karena mereka mengatakan bahwa tempat itu ada di pihak mereka. semoga Yang Mulia sekarang menyebabkan negara Ternate dilindungi, karena itu adalah negara Yang Mulia. Kastilia memberi raja tidore empat puluh senjata dan enam puluh arquebus, dan berjanji kepadanya bahwa mereka akan datang tahun depan dengan dua puluh kapal. Satu kapal segera berlayar dengan berita ini, dan yang lainnya tetap tinggal di pelabuhan, mengatakan akan menunggu yang lain sampai mereka datang. Saya, Tuan tidak pernah mematuhi orang-orang ini dan tidak akan pernah mematuhi mereka, selama ada orang Portugis di bumi, tetapi akan hidup dan mati untuk pelayanan Yang Mulia. Oleh karena itu, tuan, sekali lagi saya memohon kepada Yang Mulia untuk melihat ke negara Ternate dan mempertahankannya, karena saya adalah anak laki-laki dan seorang yatim piatu, saya tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Yang Mulia, kecuali saya dan negara ini adalah milik Anda. Tuan, jika dalam surat ini harus dihitung ketidaksopanan terhadap Yang Mulia, maafkan saya karena saya laki-laki dan sekarang tidak lebih baik. (*)

Sumber: Arsip nasional Torre do tombo.

Apa Keunikan Elang Flores Sang Rajawali Penguasa Langit Nusantara

Gambar Elang flores
Gambar Elang Flores


Selain terkenal dengan keindahan Gunung Rinjani-nya, Lombok juga memiliki fauna endemik yang cantik yaitu elang flores.

Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menjadi salah satu kawasan konservasi yang menjadi habitat elang flores (Nisaetus floris) yang menetas pada Juli tahun lalu ini contoh nyatanya. 

Satwa endemik Indonesia ini memiliki ukuran tubuh yang cukup besar.

Penyebaran populasinya cenderung bertempat di daerah dataran rendah meliputi Pulau Lombok, Sumbawa, Pulau Satonda, Rinca dan Flores.

Ini tentu saja berhubungan dengan cara berburunya yang menerkam dengan jarak yang tidak terlalu tinggi.

Selain itu elang flores memiliki kelemahan biologis yakni hanya bisa bertelur satu butir dalam setahun. Proses penetasan dan perawatan anak elang flores sampai besar sangat sulit sehingga belum tentu berhasil menjadi elang dewasa.

Elang Flores
Gambar elang flores penguasa langit nusa tenggara


Satwa ini tergolong langka dan dilindungi Undang-Undang ya Sobat.

Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk melestarikan burung langka ini ya Sobat Hijau. Salam lestari.

Sumber: KLHK

Mengenal Sekolah Keuchenius Yogyakarta Zaman Para Pastor Katolik

Gambar: Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur
Gambar: Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur

Baik pemerintah maupun misi (Katolik) memahami bahwa sekelompok besar pendidik Pribumi perlu dilatih untuk melaksanakan pendidikan dasar bagi anak-anak Pribumi dalam skala besar. Oleh karena itu, pertumbuhan jumlah 'sekolah pelatihan' harus mendahului pertumbuhan (luwih akeh) dari Sekolah Dasar.

Pemaloengan Tjalon Guero Kristen (Pelatihan untuk calon guru Kristen) Kata pertama adalah bahasa Jawa.Bahwa pendidikan 'Barat' juga menyiratkan pengetahuan dan apresiasi terhadap masa lalu sendiri, terlihat dari foto perjalanan sekolah dari perguruan tinggi pelatihan Protestan ini. 

Sekolah ini dinamai L.W.H. Keuchenius, Sekretaris Kolonial dari tahun 1888-1890. Dia mencabut larangan mensubsidi pendidikan pribumi atas dasar agama (P.Orchard, 2001).

Awalnya, sekolah yang dipimpin oleh guru misionaris Zuidema itu berlokasi di Poerworedjo. Karena alasan kesehatan, sekolah itu kini berada di Djokja (Surabaysch Handelsblad, 11 Januari 1904).

Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur dengan kendaraan bus. Jogja. Sebelum 1943 NMVW_TM-1000805.


Sumber : FB Ryan D

Daftar Nama-Nama Suku dan Kepala Suku di Kampung Adat Napaulun

Suku Lagamaking
Gambar Rumah adat suku Lagamaking


Berikut disajikan nama-nama Suku di Kampung adat Napaulun, dimana beberapa diantaranya memang bukan beruin (kesulungan) namun hanya mewakili Suku itu.