Cerita Loke Nggerang, Gendang Dari Kulit Manusia di Manggarai versi Todo
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Mengenal Kampung Adat Namata-Sabu Raijua, NTT
![]() |
| Gambar Kampung Adat Namata |
Kampung Adat Namata, sebuah area yang terdapat batu magalitik yang konon memiliki kekuatan gaib.
Bagi orang Sabu, kampung sakral dan kramat ini adalah tempat pemujaan terhadap leluhur, orang yang telah meninggal dan ritual adat lainnya.
Kampung adat Namata merupakan salah satu kampung adat dan megalitik di Wilayah Habba. Lokasi kampung ini terletak di Desa Raeloro, kec- Sabu Barat, Kab- Sabu Raijua, NTT.
Untuk bisa sampai ke Kampung Namata dengan cepat dan lebih praktis biasa digunakan kendaraan roda dua. Tapi juga bisa menggunakan kendaraan roda empat.
Namun, masyarakat sekitar juga menggunakan Kuda sebagai alat transportasi.
Wisatawan juga bisa menikmati perjalanan menggunakan kuda untuk sampai ke kampung ini.
![]() |
| Gambar Istimewah |
Kampung ini juga merupakan bukti sejarah peradaban kepercayaan atau agama suku yakni Jingitiu yang memuja dewa-dewa. Oleh karena itu Sabu Raijua disebut negerinya para dewa.
Keindahan dari susunan batu megalitik dan rumah adat sabu merupakan sajian yang sulit di dapatkan ditempat lain.
Batu- batu megalitik itu dipercaya masyarakat Sekitar sebagai tempat berdiamnya para leluhur atau pemangku adat dan sampai sekarang batu-batu tersebut digunakan sebagai media tempat melakukan ritual atau pemujaan kepada leluhur atau dewa-dewa yang mereka percaya.
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Mengenal Senjata Tradisional Papua Salah Satunya "PISAU BELATI" Khas Papua
![]() |
| Gambar Istimewah |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Kisah Si Pahit Lidah Mengutuk Gerombolan Badak Menjadi Batu
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Legenda Asal Usul Desa Sumber Kabupaten Rembang
| Gambar Istimewah |
Desa Sumber merupakan salah satu desa Kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang. Asal mula Desa Sumber konon berawal dari adanya seseorang bernama Ki Bronto yang datang ke suatu daerah hutan yang konon menjadi cikal bakal Desa Sumber. Suatu hari Ki Bronto sedang berjalan di kawasan hutan tersebut. Ki Bronto berjalan dihutan tersebut yang menjadi cikal bakal kawasan Desa Sumber sekarang. Hutannya masih rindang dan lebat lengkap dengan ekosistemnya yang masih alami belum terdapat campur tangan manusia karena belum ada kehidupan manusia di hutan tersebut.
Ki Bronto berjalan dan terus berjalan hingga di tengah perjalanannya, Ia melihat sebuah pohon beringin yang sangat lebat dan besar. Dilihatnya pohon tersebut dengan seksama. Ia tertarik dengan pohon tersebut karena Ia belum pernah melihat pohon beringin sebegitu besarnya seperti pohon beringin yang Ia lihat di depannya langsung. Tidak sadar Ia terkagum melihat lebat dan besarnya pohon tersebut sambil berjalan. Selangkah demi selangkah Ia maju dan terus maju mengarah mendekati pohon tersebut. Tiba-tiba Ia merasa ada yang basah dikakinya. Hal tersebut membuat Ki Bronto tersadar.
Dilihatnya apa yang Ia injak. Ternyata Ki Bronto menginjak genangan air. Diamatinya genangan air tersebut dengan seksama. Ternyata genangan air tersebut berasal dari dalam akar pohon beringin besar dan lebat yang Ia kagumi itu. Tak disangkanya Ia menemukan sumber mata air di tengah hutan tersebut. Mata air tersebut sangat jernih airnya. Air dari mata air tersebut terus menerus keluar dari dalam akar pohon beringin besar tanpa berhenti. Airnya sangat jernih dan sangat segar karena benar-benar alami dari alam.
Menurut Ki Bronto, apa yang Ia temukan tersebut merupakan penemuan besar. Tanpa berpikir panjang, Ki Bronto membuat gubuk kecil di dekat mata air tersebut untuk Ia tinggali. Hari demi hari Ki Bronto tinggal disana. Satu demi persatu orang-orang datang untuk membuat tempat tinggal di sana. Karena tempatnya yang strategis dekat dengan sumber mata air, daerah tersebut semakin hari semakin ramai dengan orang-orang yang datang untuk membuat tempat tinggal. Semakin lama dan semakin banyaknya orang-orang yang menghuni daerah tersebut, daerah yang semulanya berupa hutan lebat tersebut berubah menjadi sebuah kawasan pemukiman yang cukup banyak penghuninya.
Suatu hari, Ki Bronto datang ke sumber mata air tersebut. Ia duduk di depan sumber mata air di bawah pohon beringin besar dan lebat tersebut. Di sana Ki Bronto melamun memikirkan sesuatu. Ia berpikir daerah yang dulunya Ia temukan berupa hutan lebat yang kini menjadi sebuah pemukiman tersebut belum memiliki nama. Ia memikirkan nama yang tepat untuk kawasan pemukiman tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya Ia memikirkan nama yang tepat, akhirnya Ki Bronto menemukan nama yang sangat cocok diberinya kepada kawasan pemukiman tersebut.
Setelah menemukan nama yang cocok dan merasa puas dengan nama tersebut, Ki Bronto lalu pergi untuk mengumpulkan para warga. Diajaknya para warga bermusyawarah untuk sepakat memberi nama kawasan pemukiman yang mereka tinggali sesuai dengan nama hasil pemikiran Ki Bronto. Setelah berunding, ternyata para warga setuju dengan ide Ki Bronto.
Mereka sepakat memberi nama kawasan pemukiman tersebut dan mereka memperoleh kesepakatan lain yaitu tentang adanya pengadaan tradisi “Sedekah Bumi” yang merupakan tradisi turun temurun untuk mensyukuri nikmat yang mereka peroleh dari hasil panen. Mereka mengadakan tradisi tersebut karena mereka percaya dengan adanya Dewi Sri yang dikenal dengan dewi pertanian.
Mereka percaya tanpa adanya Dewi Sri, mereka tidak akan bisa mendapatkan hasil panen yang melimpah. Oleh karena itu, mereka selalu mengadakan tradisi Sedekah Bumi setiap musim panen sebagai tanda terima kasih mereka kepada Dewi Sri. Tradisi Sedekah Bumi selalu mereka adakan di kawasan sumber mata air di bawah pohon beringin besar. Mereka percaya adanya penunggu pohon beringin besar tersebut. Sedekah Bumi mereka adakan dengan memberi persembahan atau sesajen yang mereka letakkan di sumber mata air.
Dengan memberi persembahan kepada penghuni pohon besar tersebut, mereka berdo’a dan berharap agar panen mereka melimpah setiap tahunnya dan sumber mata air tersebut tidak pernah berhenti mengalir. Sesuai dengan nama yang mereka sepakati. Mereka memberi nama desa tersebut desa “Sumber”. Nama tersebut diberi oleh Ki Bronto dan disepakati oleh para warga. Nama “Sumber” sendiri berasal dari sumber mata air yang tiada berhentinya mengalir yang disebut warga “Nyumber”.
Masa demi masa berlalu. Kawasan pemukiman yang semula hutan tersebut berubah menjadi kawasan pemukiman ramai penduduk. Desa Sumber kini menjadi Desa Kecamatan Sumber. Kecamatan Sumber yang merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Rembang yang terletak di perbatasan antara kabupaten Rembang dan Pati. Dan mengenai sumber mata air tersebut, kini berubah menjadi sebuah sumur yang dikenal dengan sebutan “Sendang”.
Dan mengenai pohon beringin besar tersebut kini hanya tinggal cerita karena pohon tersebut sudah tidak ada lagi sebab ditebang. Dan tradisi Sedekah Bumi tersebut masih diadakan. Tetapi diadakannya bukan di sumber mata air itu lagi. Tetapi diadakannya Sedekah Bumi tersebut sekarang bertempat di balai desa Sumber.
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Sejarah Kampung Tanjung Batu Kecamatan Pulau Derawan Kabupaten Berau
![]() |
| Gambar Peta Pemukiman Kampung Tanjung Batu |
Sejarah Kampung Tanjung Batu baru dapat ditulis pada masa kepimpinan Hasana Imam Unsyah, berdasarkan sumber cerita tokoh masyarakat yang ada. Pada masa pemerintahan Hasana Imam Unsyah Kampung Tanjung Batu berhasil mendapatkan penghargaan sebagai juara ke – 2 di ajang perlombaan desa tingkat Kabupaten Berau. Perlombaan tersebut diikuti oleh seluruh desa di wilayah Kaimantan Timur pada tahun 1986.
Kejuaraan tersebut dikuatkan dengan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Nomor : 178 Tahun 1986 tertanggal 25 Juni 1986.
Pada masa pemerintahan M.Taher,MT. yang pertama (1994 – 1999) Kampung Tanjung Batu mengalami banyak perubahan dan kemajuan.
Hal ini ditandai dengan terpilihnya Tanjung Batu sebagai Desa Percontohan berdasarkan SK Bupati Kepala Daerah Tingkat II Berau nomor 164 tahun 1997. Selain itu, Tanjung Batu juga ditetapkan menjadi Desa Pelopor P4 pada Tahun 1997. Prestasi Tanjung Batu lainnya yang cukup membanggakan ialah masuk dalam kategori Kepala Desa Berprestasi dan Pengelola Anggaran terbaik. Bahkan menjadi juara 1 (satu) Perlombaan Desa tingkat kabupaten pada Tahun 1996.
Pada masa pemerintahan M.Taher,MT yang kedua (2000 – 2007) terjadi banyak perubahan di struktur pemerintahan yaitu pergantian aparat kampung akibat pengunduran diri dan mutasi jabatan. Akan tetapi pada masa ini pembangunan fisik di kampung mulai terlihat diantaranya pembangunan balai kampung, TPA, Posyandu, Poskamling di tiap RT dan pembebasan perluasan tanah TPU.
Namun, belum sampai berakhir masa jabatanya M.Taher, MT meninggal dunia. Untuk mengisi kekosongan diadakan pemilihan kepala kampung. Adria Noval terpilih menjadi kepala kampung 2007 – 2013 dan sukses memimpin sampai akhir masa jabatanya.
Jorjis terpilih menjadi Kepala Kampung Tanjung Batu 2014 – 2019 menggantikan Adria Noval setelah berakhir masa jabatanya. Di era kepemimpinan Jorjis inilah menjadi tonggak sejarah mulai berlakunya UU No. 6 Tahun 2016 tentang Desa. UU Desa memberikan penegasan tentang status Desa atau Kampung.
Negara mengakui keberadaan Kampung sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mulai tahun 2015 Kampung Tanjung Batu dan Kampung / Desa diseluruh Indonesia mendapatkan alokasi anggaran dari APBN yang disebut Dana Desa hingga saat ini
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Sejarah Desa Tlutup Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati Jawa Tengah
Menurut informasi dan cerita dari tokoh masyarakat dan kalangan sesepuh (orang tua), dari mulut ke mulut atau secara turun temurun yang merupakan pijakan untuk dijadikan sebagai nara sumber tentang sejarah berdirinya Desa Tlutup, telah dapat ditarik kesimpulan, bahwa Desa Tlutup dahulunya merupakan satu wilayah perdukuhan yang bernama Dukuh Malang masuk kekuasaan Desa Kadilangu.
Namun pada suatu ketika terjadilah konflik antara penduduk atau orang-orang pedukuhan Malang dengan orang-orang Kadilangu (krajan-red) yang menyebabkan para tokoh melakukan mediasi dan musyawarah dengan dukungan masyarakat di Dukuh Malang yang berkehendak untuk memisahkan diri dari wilayah Desa Kadilangu.
Saat itu Ada 3 (tiga) orang yang menjadi tokoh utama sebagai inisiator untuk segera mengakhiri konflik yang terus terjadi berkepanjangan, yaitu dengan pembentukan desa sendiri dan melepaskan diri dari kekuasaan Desa Kadilangu.
Dengan tekad bulat hendak memperbaiki nasib rakyat dan terlepas dari konflik berkepanjangan, setelah menempuh diplomasi, mediasi, negosiasi, koordinasi dan konsolidasi dengan melewati proses panjang, berbelit-belit dan berliku-liku, akhirnya Dukuh Malang berhasil lepas dari Kadilangu.
Berkat jasa 3 orang tersebut (dalam bahasa Jawa: telu) yang telah berhasil dengan gemilang mengakhiri dan menutup (di-tutup; Jawa) permasalahan/konflik dengan mendirikan dan membentuk desa baru, maka desa baru ini disebut Tlutup.
Dalam bahasa Jawa wong “telu” kasil “nutup” yang digabung menjadi “telutup” dengan menghilangkan konsonan “e” menjadi Tlutup.
Nama-nama tokoh masyarakat yang pernah memimpin/Bekel/Petinggi/ Kepala Desa di Desa Tlutup sampai saat ini antara lain :
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Dimana Suku Abui di Kabupaten Alor Nusa Tenggara Timur
![]() |
| Gambar Istimewah |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Apa Isi Surat Sultan Ternate kepada Raja Portugis Tahun 1522 M
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Apa Keunikan Elang Flores Sang Rajawali Penguasa Langit Nusantara
![]() |
| Gambar Elang Flores |
Selain terkenal dengan keindahan Gunung Rinjani-nya, Lombok juga memiliki fauna endemik yang cantik yaitu elang flores.
Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menjadi salah satu kawasan konservasi yang menjadi habitat elang flores (Nisaetus floris) yang menetas pada Juli tahun lalu ini contoh nyatanya.
Satwa endemik Indonesia ini memiliki ukuran tubuh yang cukup besar.
Penyebaran populasinya cenderung bertempat di daerah dataran rendah meliputi Pulau Lombok, Sumbawa, Pulau Satonda, Rinca dan Flores.
Ini tentu saja berhubungan dengan cara berburunya yang menerkam dengan jarak yang tidak terlalu tinggi.
Selain itu elang flores memiliki kelemahan biologis yakni hanya bisa bertelur satu butir dalam setahun. Proses penetasan dan perawatan anak elang flores sampai besar sangat sulit sehingga belum tentu berhasil menjadi elang dewasa.
![]() |
| Gambar elang flores penguasa langit nusa tenggara |
Satwa ini tergolong langka dan dilindungi Undang-Undang ya Sobat.
Oleh karena itu, perlu upaya serius untuk melestarikan burung langka ini ya Sobat Hijau. Salam lestari.
Sumber: KLHK
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Mengenal Sekolah Keuchenius Yogyakarta Zaman Para Pastor Katolik
![]() |
| Gambar: Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur |
Baik pemerintah maupun misi (Katolik) memahami bahwa sekelompok besar pendidik Pribumi perlu dilatih untuk melaksanakan pendidikan dasar bagi anak-anak Pribumi dalam skala besar. Oleh karena itu, pertumbuhan jumlah 'sekolah pelatihan' harus mendahului pertumbuhan (luwih akeh) dari Sekolah Dasar.
Pemaloengan Tjalon Guero Kristen (Pelatihan untuk calon guru Kristen) Kata pertama adalah bahasa Jawa.Bahwa pendidikan 'Barat' juga menyiratkan pengetahuan dan apresiasi terhadap masa lalu sendiri, terlihat dari foto perjalanan sekolah dari perguruan tinggi pelatihan Protestan ini.
Sekolah ini dinamai L.W.H. Keuchenius, Sekretaris Kolonial dari tahun 1888-1890. Dia mencabut larangan mensubsidi pendidikan pribumi atas dasar agama (P.Orchard, 2001).
Awalnya, sekolah yang dipimpin oleh guru misionaris Zuidema itu berlokasi di Poerworedjo. Karena alasan kesehatan, sekolah itu kini berada di Djokja (Surabaysch Handelsblad, 11 Januari 1904).
Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur dengan kendaraan bus. Jogja. Sebelum 1943 NMVW_TM-1000805.
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Daftar Nama-Nama Suku dan Kepala Suku di Kampung Adat Napaulun
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com













