PENANGANAN PASCA PANEN BUAH PISANG

 ”PEMACU KEMATANGAN BUAH PISANG”

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

     Pisang merupakan salah satu komoditi hortikultura yang disukai oleh penduduk Indonesia, hampir di semua daerah memiliki tanaman pisang dengan spesifikasi tersendiri. Produksi pisang di Indonesia terus mengalami kenaikan dari tahun 1995-2010, dimana mencapai puncak pada tahun 2009 sebanyak 6,3 juta ton/tahun (BPS, 2010 cit. Murtadha et al.,2012) dan volume ekspor pisang dari tahun 1996-2003 terus berkurang dikarenakan kebutuhan dalam negeri yang terus meningkat.

    Pisang biasanya dipanen sebelum matang dengan tingkat kematangan tertentu dan berbagai pertimbangan pemasaran. Pemanenan buah yang akan dipasarkan dengan jarak jauh umumnya pada tingkat kematangan 75-80% dengan ciri-ciri sudut -sudut pada pisang masih tampak jelas, sedangkan untuk pemasaran jarak dekat dipanen dengan tingkat kematangan 85-90% dengan ciri-ciri sudut buah berkembang penuh walaupun sudut buah masih tampak nyata (Pantastico, 1993). Buah pisang yang dipanen pada tingkat kematangan 75-90% biasanya diberikan  bahan pemacu pematangan agar buah pisang dapat dipasarkan dengan tingkat kematangan penuh sehingga harga jual pisang menjadi tinggi. Berdasarkan penelitian, pematangan buah pisang dengan menggunakan kalsium karbida sebanyak 1 gram hanya menempuh waktu lima hari untuk matang. Penggunaan dengan dosis 2 gram dapat mematangkan pisang selama 4 hari. Penggunaan satu buah apel utuh dapat mematangkan pisang selama tiga hari. Pisang tanpa agen pematangan buah dapat matang selama 10 hari (Singalet al.,2012). Proses pematangan pada pisang juga dapat menggunakan daun Gliricidia sp. sebanyak 5 % berat buah untuk meningkatkan kecepatan pematangan pada buah pisang(Acedo and Bautista,1993 cit. Thompson).

2. Tujuan

Untuk melihat pengaruh pematangan buah menggunakan bahan karbit.

METODE PELAKSANAAN

1.  Waktu dan Tempat

Praktikum Pematangan Buah dilaksanakan pada tanggal 15 juni  2018 pada pukul 13.30 di Laboratorium Pasca Panen, Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

2. Alat dan Bahan

Alat:

  • Wadah / baki

Bahan:

  • Aqudes
  • Buah pisang yang sudah matang
  • Karbit
  • Kantong plastik
  • Tissue

3. Prosedur Kerja

  • Siapkan alat dan bahan yang digunakan.
  • Siapkan pisang yang sudah matang sebanyak 8 buah/perlakuan
  • Sebelum diberi perlakuan dua buah pisang dijadikan sebagai korban awal untuk mengamati tingkat kekerasan, warna buah, tekstur buah.
  • Masukkan buah pisang dalam plastic bersamaan dengan aquades. Dalam aquades tersebut telah ada karbit yang dibungkus dengan tissue dan disiram menggunakan air sedikit.
  •   Lakukan pengamatan selama 1 minggu dan lihat perubahan warna yang terjadi.
4. Data Pengamatan


Perlakuan

Tingkat kekerasan

Warna buah

Tekstur buah

Control

Tidak keras/sudah lembek

Hijau-kunung

Halus

Penggunaan karbit

Tidak keras/sudah lembek

Hijau -kuning

Halus




PEMBAHASAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan Proses Pematangan Buah PisangSelama pematangan buah mengalami beberapa perubahan nyata terhadap warna kulit, tekstur, dan bau yang menunjukkan terjadi perubahan dalam susunannya. kematangan buah pisang adalah warna kulit buah mengalami perubahan dari warna hijau kemudian mulai menguning dan mulai meningkatkan etilen. Perubahan nyata adalah perubahan kadar air, laju respirasi, keasaman, karbohidrat, pektin, protopektin,dan tanin.

Menjadi Lunaknya Kulit Buah Dan Daging Buah dalam Proses pematangan pada buah pisang ditanda dengan lunaknya daging buah. Hal ini disebabkan oleh perombakan protopektin yang tak larut menjadi praktin yang larut.Zat – zat itu merupakan derivat dari asam poligalakturonat dan terdapt dalam bentuk protopektin, pektin, asam – asam pektinat dan asam – asam pektat ( Kerteaz, 1951 ). Pada waktu buah menjadi matang, kandungan pektat dan pektinat yang larut meningkat, sedangkan jumlah zat pektat seluruhnya menurun. Kecenderungan ini terdapat juga dalam buah pisang. Dalam perubahan pektin tersebut ketegaran buah tersebut berkurang, sehingga buah menjadi lunak.Hidrolisa Amilum sempurna oleh asam atau enzim spesifik terhadap polisakarida menghasilkan monosakarida atau senyawa turunannya.Mukerjee dan Frased ( 1972 ) melaporkan adanya kenaikan sukrosa, glukosa dan fruktosa sedikit selama berlangsungnya pematangan.

            Dari data tersebut ternyata selama proses pematangan buah pisang, terjadi kenaikan kadar gula dan penurunan kadar tepung. Keadaan ini berlangsung pada buah umumnya.

      Warna kematangan buah yang pertama adalah hilangnya warna hijau. Menguningnya buah pisang terjadi karena hilangnya klorofil tanpa atau hanya sedikit pembentukan zat karotenoid secara murni.Beberapa penulis melaporkan bahwa enzim klorofilase yang bertanggung jawab atas terjadinya penguraian klorofil.Kegiatan hidrolitik klorofilase yang memcah klorofil menjadi bagian fitol dan inti porfirin. Klorofil, terutama dalam suasana asam dapat pula keheningan ion Mg++ yang ada pada pusat gugus porfirinnya dan berubah menjadi feofitin, barulah terjadi perubahan warna. Tetapi bukan hilangnya warna tersebut.

     Pematangan biasanya meningkatkan jumlah gula-gula sederhana yang member rasa manis, penurunan asam-asam organik dan senyawa-senyawa fenolik yang mengurangi rasa sepet dan asam, dan kenaikan zat-zat atsiri yang member flavor yang khas pada.Perubahan asam-asam lemak selama pematangan buah pisang telah diteliti oleh Ueda dkk pada tahun 1970. Hasilnya menunjukkan bahwa buah itu mengandung asam-asam asetat, propionate, isobutirat, dan isivalerat baik dalam bentuk yang bebas maupun terikat. Kandungan asam – asam isobutirat, butirat dan isovalerat yang bebas meningkat dengan cepat dan waktu penongkatan itu bersamaan dengan timbulnya aroma buah.

Fungsi Bahan Pemacu Pematangan Etilen merupakan zat yang tidak berwarna,agak berbau,dan mudah terdeteksi pada konsentrasi rendah,dan tidak beracun selama memiliki kepekatan 0,1 %.Ethrel merupakan suatu zat yang mengandung bahan aktif 2chloro ethyl phosphonic acid yang dapat menghasilkan etilen secara langsung pada jaringan tanaman.Etilen yang timbul dapat mempercepat kematangan buah.

     Pada umumnya masyarakat menggunakan cara pemeraman dengan menggunakan karbit. Karbit atau kalsium karbida adalah senyawa kimia yang mempunyai rumus kimia CaC2 bila diberi air akan bereaksi menghasilkan C2H2(gas asetilen) dan Ca(OH)2. Gas asetilen inilah yang mempunyai peranan dalam pemeraman buah.Cara atau  teknik pemeraman yang tidak tepat dapat menurunkan mutu buah pisang.Sebaliknya, jika proses pemeraman berjalan baik maka akan  menghasilkan buah yang seragam kematangannya, dengan rasa yang manis dan mengeluarkan aroma yang harum.


PENUTUP

1. Kesimpulan

Cara menginduksi kematangan buah dapat menggunakan bahan alami seperti daun Glyricideae daun pisang,buah apel. Bahan sintetik yang dapat digunakan sebagai pemacu pematangan meliputi karbit dan ethrel. Bahan tersebut disertakan dalam proses penyimpanan buah. Proses perlakuan diterapkan berdasarkan sifat dari bahan dan cara perlakuan terhadap komoditas.



Semoga Bermanfaat







PENANGANAN PASCA PANEN “EDIBLE COATING”

PENANGANAN PASCA PANEN “EDIBLE COATING”

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Senyawa lipid yang banyak digunakan adalah monogliseril, wax alami, dan surfaktan. Materi yang paling efektif adalah parafin dan beeswax. Fungsi primer film lipid adalah menghalangi transpor uap air karena sifat polarnya yang rendah. Lapisan lipid bersifat hidrofobik. Permeabilitas uap air kan menurun ketika konsentrasi fase hidrofobik meningkat. Lipid-based film sering digunakan pada struktur matrik polimer untuk memberikan kekuatan mekanik. Film yang dibuat dari lipid akan memiliki sifat tebal tapi mudah rapuh. Mampu mencegah kehilangan air, mengurangi tergerusnya permukaan selama penanganan bahan serta mengendalikan pencoklatan pada kulit buah apel. Pada pisang, memberikan kesan mengkilap pada buah serta menurunkan timbulnya bintik pelayuan yang terkait dengan penurunan aktivitas enzim polifenol oksidase. Pada buah tomat, coating tersebut ternyata juga dapat mempertahankan kandungan asam askorbat. Kombinasi antara hidrokoloid dan dan lipid berfungsi untuk meningkatkan sifat-sifat mekanik tertentu dari edible film tergantung fungsi spesifik yang diinginkan. Film komposit ini diaplikasikan dalam bentuk emulsi, suspensi, dispersi, atau dalam bentuk multilayer film. Metode aplikasi akan mempengaruhi kemampuan penghalang dari film yang dihasilkan.

Edible coating sebagai pengemas masa depan (future packaging). Banyak penelitian edible coating terbaru yang memberi harapan akan pengemas pangan yang memberi nilai lebih dan ramah lingkungan. Nilai lebih tersebut antara lain edible coating dapat berperan sebagai agen reduksi mikrobia, antioksidan, dan zat gizi. Edible coating banyak diteliti untuk menjadi pengemas bagi buah dan sayur. Dewasa ini masyarakat ingin mengkonsunsumsi makanan yang bergizi dan cepat saji, begitu pula dengan buah. 

1.2  Tujuan

Untuk mengetahui manfaat dari edible coating.


METODE KERJA

2.1 Waktu dan Tempat

      Praktikum Edible Coating pada Buah Tomat  dilaksanakan pada tanggal 15 juni  2018 pada pukul 13.30 di Laboratorium Pasca Panen, Politeknik Pertanian Negeri Kupang.

2.2 Alat dan Bahan

Alat

Bahan

Nampan/baki

Buah tomat

Kuas

Tepung tapioca

Sendok

Air

 

Kantong plastic

 

Tepung terigu

 

Tissue

2.3 Prosedur Kerja

  • Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
  • Ambilah buah  tomat sesuai yang tersedia, bersihkanlah apabila kotor menggunakan tissue.
  • Olesi buah menggunakan pasta edible coating.
  • Letakkan pada nampan, lakukan pengamatan selama 1 minngu.
  • Simpan dan amati perubahanya setiap hari seperti: perubahan warna.

2.4 Data Pengamatan

Perlakuan

Perubahan yang diamati

Control

Rusak

Menggunakan pasta tepung tapioca

Masih segar

Menggunakan pasta tepung terigu

Masih segar tapi sudah  mulai berkerut


PEMBAHASAN

            Kitosan merupakan salah satu jenis polisakarida turunan kitin mempunyai sifat dapat membentuk film yang kuat, elastis, fleksibel dan sulit dirobek sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengemas (Butler et al. 1996). Jenis kemasan yang banyak dibuat dari kitosan adalah jenis edible film atau coating. Sifatnya yang edible (dapat dimakan) merupakan keunggulan kitosan sehingga dapat digolongkan ke dalam bahan kemasan yang ramah lingkungan. Sifat lain dari kitosan sebagai bahan edible coatingadalah kitosan merupakan barrier yang baik bagi gas dan uap air karena struktur matriksnya. Sifat barrier kitosan ini lebih baik dari pada polimer berbasis makhluk hidup (biobased polymer) lainnya. 

Kitosan juga mempunyai sifat antimikrobial danbiodegradable (Steinbüchel dan Rhee 2005 dalam Bourtoom 2008). Menurut Alamsyah (2006) dalam Suptijah et al. (2008) menyatakan bahwa penggunaan kitosan sebagai bahan pengawet dan edible coating yang efektif untuk mencegah kerusakan kualitas dan memperpanjang umur simpan produk pangan sangatlah potensial. 

Edible coating merupakan suatu lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan, dibentuk untuk melapisi makanan (coating) atau diletakkan di antara komponen makanan yang berfungsi sebagai penghalang terhadap perpindahan massa (kelembaban, oksigen, cahaya, lipid, zat terlarut), sebagai pembawa aditif, untuk meningkatkan penanganan suatu makanan dan merupakan barrier terhadap uap air dan pertukaran gas O2dan CO2 (Bourtoom 2008). 



Edible coating juga dapat mencegah kerusakan bahan akibat penanganan mekanik, membantu mempertahankan integritas structural dan mencegah hilangnya senyawa-senyawa volatile, dan sebagai carrier zat aditif seperti zat antimikrobial dan antioksidan pada bahan (Kester dan Fennema 1988). Edible coating dapat melindungi produk segar dan dapat juga memberikan efek yang sama dengan modified atmosphere storage dengan menyesuaikan komposisi gas internal. Keberhasilan edible coating untuk buah tergantung pada pemilihan film ataucoating yang memberikan komposisi gas internal yang dikehendaki sesuai untuk produk tertentu (Park 2002). Komponen edible coating terdiri dari tiga kategori yaitu hidrokoloid, lipid dan kombinasinya. Hidrokoloid terdiri atas protein, turunan selulosa, alginat, pektin, tepung (starch) dan polisakarida lainnya, sedangkan lipid terdiri dari lilin (waxs), asilgliserol dan asam lemak (Krochta dan Mulder-Johnston 1997).

            Contoh bahan-bahan edible coating untuk melapisi buah, seperti selulosa, kasein, zein, protein kedelai dan kitosan. Bahan-bahan ini dipilih karena memiliki karakteristik berupa tidak berbau, tidak berasa dan transparan. Hanya saja tidak mudah untuk mengukur sifat permeasi gas pada coating setelah diaplikasikan pada buah (Park 2002). Hidrokoloid yang digunakan untuk edible coating dapat dibedakan berdasarkan komposisi, berat molekul dan solubilitas air. Berdasarkan komposisi hidrokoloid dibagi menjadi karbohidrat dan protein. Karbohidrat terdiri dari tepung (starch), gum tumbuhan (alginat, pektin dan gum arab) dan modifikasi kimia tepung. Hidrokoloid protein terdiri dari gelatin, kasein, protein kedelai, whey protein, wheat gluten dan zein. Komponen plasticizer yang ditambahkan ke dalam edible coating berfungsi untuk mengatasi sifat rapuh lapisancoating yang disebabkan oleh kekuatan intermolekuler ekstensif. Plasticizer mengurangi kekuatan ini dan meningkatkan mobilitas dari rantai polimer, sehingga fleksibilitas dan ekstensibilitas lapisan coatings meningkat (Banker 1966).

            Edible coatings telah banyak digunakan untuk produk pangan seperti buah-buahan, sayuran, produk daging, unggas maupun seafood. Pada buah-buahan seperti apel (Wong et al. 1994) dan strawberry (Ghaout et al. 1991). Sayuran seperti tomat (Park et al. 1994), demikian juga pada udang beku, sosis dan ikan.

PENUTUP
 

1.3.1  Kesimpulan

1.      Edible coating merupakan suatu lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan, dibentuk untuk melapisi makanan (coating) atau diletakkan di antara komponen makanan yang berfungsi sebagai penghalang terhadap perpindahan massa (kelembaban, oksigen, cahaya, lipid, zat terlarut), sebagai pembawa aditif, untuk meningkatkan penanganan suatu makanan dan merupakan barrier terhadap uap air dan pertukaran gas O2dan CO2 (Bourtoom 2008). 

2.      Proses respirasi yang melibatkan oksigen dari lingkungan akan mempercepat kematangan dan dapat menyebabkan kebusukan jika tidak dikendalikan. 


DAFTAR PUSTAKA

 

Bourtoom T. 2008. Edible films and coatings: characteristics and properties. International Food Research Journal 15(3): 237-248.

 Butler BL, Vernago PJ, Testin RF, Bunn JM, Wiles JL. 1996. Mechanical and barier properties of edible chitosan films as affected by composition and storage. Journal of Food Science Vol 61(5): 953-955.

 Krochta JM, Mulder-Johnston CD. 1997. Edible and biodegradable polymer films: challenges and opportunities. Food Technology 51(2): 61-74.

 Park HJ. 2002. Edible coatings for fruits dalam Fruit and vegetable processing, Improving quality, ed. Wim Jongen, CRC Press, Boca Raton

Suptijah P, Gushagia Y, Sukarsa DR . 2008. Kajian efek daya hambat kitosan terhadap kemunduran mutu fillet ikan patin (Pangasius hypopthalmus) pada penyimpanan suhu ruang. Buletin Teknologi Hasil Perikanan Vol. XI (2): 89-101.

Ghaout, AE, Arul J, Ponnampalam R, Boulet M. 1991. Chitosan coating effect on storability and quality of fresh strawberries. Journal Food Science Vol. 56 (6): 1618-1631.




JENIS-JENIS, MANFAAT SERTA DAMPAK DARI PENGGUNAAN PESTISIDA

 

JENIS-JENIS, MANFAAT SERTA DAMPAK DARI PENGGUNAAN PESTISIDA

PENGERTIAN PESTISIDA 

Pestisida adalah semua bahan racun yang digunakan untuk membunuh organisme hidup yang mengganggu tumbuhan, ternak dan sebagainya yang dibudidayakan manusia untuk kesejahteraan hidupnya.

Menurut PP No. 7 tahun 1973, yang dimaksud pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk : Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yang merusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian. Memberantas rerumputan atau tanaman pengganggu/gulma. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan. Memberantas atau mencegah hama-hama air.

PENGELOMPOKAN DAN JENIS PESTISIDA

a. Pengelompokan Pestisida 

Pestisida telah banyak memberikan manfaat untuk keberlangsungan dunia produksi pertanian. Banyaknya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang dapat menurunkan hasil panen, dapat diminimalisir dengan pestisida Sehingga kehilangan hasil akibat OPT tidak terlalu besar. 

Untuk mempermudah pengenalannya, pestisida oleh para ahli dikelompokkan: 

● Berdasarkan jenis sasaran, 

● Bentuk fisik, bentuk formulasi, 

● Cara kerjanya, cara masuk, golongan senyawa, dan 

● Asal bahan aktifnya.

b. Jenis-jenis Pestisida Berdasarkan Sasaran

● Akarisida, Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu.

● Bakterisida, berfungsi untuk membunuh bakteri.

● Fungsida, berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan.

● Herbisida, berfungsi untuk membunuh gulma.

● Insektisida, berfungsi untuk membunuh serangga.

● Molluskisida, berfungsi untuk membunuh siput.

● Nematisida, berfungsi untuk membunuh nematoda.

● Rodentisida, berfungsi untuk membunuh binatang pengerat.

● Termisida, berfungsi untuk membunuh rayap.

c. Jenis-jenis Pestisid Berdasarkan Bentuk Formulasi

● Butiran (G/granul) biasanya pestisida dengan formulasi bentuk ini dapat langsung diaplikasikan tanpa harus dilarutkan terlebih dahulu.

●Powder (tepung) harus dilarutkan terlebih dahulu sebelum diaplikasikan. Formulasi bentuk ini diperlukan pengadukan yang terus menerus karena sifat sediaan ini dapat mengendap dan dapat terjadinya penyumbatan pada nozel.

● EC (Emulsifiable concentrates)Pestisida ini akan membentuk emulsi (seperti susu) pada larutan semprot. Larutan jadi ini tidak memerlukan pengadukan yang terus menerus.

● AS, Biasanya pestisida dengan bentuk formulasi ini adalah dari golongan herbisida. Beberapa kode formulasi lain adalah SP, L, WSC, dan lain-lain

d. Jenis-jenis Berdasarkan Cara Kerjanya

  • Kelompok IGR, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan.
  • Racun syaraf, biasanya mengganggu fungsi syaraf sehingga kematian yang cepat dapat terjadi. Umumnya insektisida yang beredar di pasaran sekarang ini pada umumnya adalah insektisida yang bekerja sebagai racun syaraf seperti golongan organofosfat, karbamat, dan piretroid.
  • Mempengaruhi fungsi enzim
  • Mempengaruhi tingkah laku,dan lain-lain.

e. Jenis-jenis Berdasarkan cara masuknya.

  • Racun kontak, artinya pestisida dalam hal ini senyawa bahan aktif masuk melalui kontak atau masuk ke tubuh serangga melalui dinding tubuh atau kutikula.
  • Racun perut, artinya senyawa bahan aktif masuk ke dalam tubuh serangga melalui proses makan  dan masuk ke tubuh melalui pencernaan.
  • Racun sistemik, senyawa bahan aktif terserap oleh tanaman lalu ditransportasikan ke seluruh jaringan tanaman.
  • Fumigan, artinya senyawa bahan aktif masuk ke dalam tubuh sasaran melalui sistem pernapasan.

f. Jenis-jenis Berdasarkan asal bahan aktifnya

  • Sintetik Anorganik : garam-garam beracun seperti arsenat, flourida, tembaga sulfat dan garam merkuri.
  • Organik Organo khlorin : DDT, SHC, endrin, dieldrin, dll.
  • Heterosiklik : Kepone, mirexOrganofosfat : klorpirifos, prefonofos, dll.
  • Arbamat : earbofuran, SPMC, dll.Dinitrofenol : Dinex, dll.

DAMPAK PENGGUNAAN PESTISIDA

 1). Dampak positif

  • Dapat diaplikasikan dengan mudah
  • Dapat diaplikasikan hampir di setiap waktu dan setiap tempat.
  • Hasilnya dapat dirasakan dalam waktu singkat
  • Dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat
  • Mudah diperoleh dan memberikan keuntungan ekonomi terutama jangka pendek.

 2). Dampak Negatif Pestisida

  • Keracunan pestisida
  • Keracunan terhadap ternak dan hewan peliharaan.
  • Keracunan pada ikan dan biota lainnya.
  • Keracunan terhadap satwa liar.
  • Keracunan terhadap makanan.
  • Kematian musuh alami organisme pengganggu
  • Kenaikan populasi pengganggu.
  • Dapat menyebabkan timbulnya resistensi
  • Residu
  • Pencemaran Lingkungan
  • Menghambat Perdagangan

CARA KERJA PESTISIDA

  • Pestisida kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena sasaran.
  • Pestisida fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas.
  • Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan keberbagai bagian tanaman melalui jaringan. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.
  • Pestisida lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida. 

 Simak Video Pembelajaran Berikut Apabila Anda Kurang Mengerti:




PREPARASI LARUTAN PRAKTIKUM KIMIA

 PREPARASI LARUTAN PRAKTIKUM KIMIA

Preparasi Larutan Kimia


LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM KIMA





LOGO 



PREPARASI LARUTAN


YOHANES KAROLUS SILVERIUS
NIM: 162389909



LABORATORIUM UMUM
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI
KUPANG
2016






PREPARASI LARUTAN



1. TUJUAN PRAKTIKUM

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat mengetahui cara menyiapkan larutan kimia dengan berbagai konsentrasi

2. WAKTU DAN TEMPAT

Kegiatan praktikum kimia ini berlangsung pada:

Hari/Tanggal   : Jumat, 23 september 2016
Waktu            : 13.20-15.50 WITA
Tempat           : Laboratorium Umum

3. DASAR TEORI

Campuran zat-zat yang homogeny disebut larutan, yang memiliki komposisi merata atau serba sama diseluruh bagian volumenya. Suatu larutan mengandung satu zat terlarut atau lebih dari satu pelarut. Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah yang banyak (Achmad, 1996 : 1).

Jika dua zat yang berbeda dimasukkan dalam suatu wadah ada tiga kemungkinan, yaitu bereaksi, bercampur, dan tidak bercampur. Jika bereaksi akan menghasilkan zat baru yang sifatnya berbeda dari zat semula. Dua zat dapat bercampur bila ada interaksi antara partikelnya. Interaksi itu ditentukan oleh wujud dan sifat zatnya. Oleh sebab itu, campuran dapat dibagi atas gas – gas, gas – padat, cair – cair, cair – padat, dan padat – padat (Syukri, 1999 : 350).

Bila dua atau lebih zat yang tidak bereaksi dicampur, campuran yang terjadi ada 3 kemungkinan, yaitu campuran kasar, disperse kolid, dan larutan sejati. Dua jenis campuran yang pertama bersifat heterogen dan dapat dipisahkan seacara mekanis. Sedang larutan yang bersifat homogeny dan tidak dapat dipisahkan secara mekanis. Atas dasar ini campuran larutan didefinisikan sebagai campuran homogeny antara dua zat atau lebih. Keadaan Fisika larutan dapat berupa gas, cair, atau padat dengan perbandingan yang berubah-ubah pada jarak yang luas (Sukardjo, 1997 : 141).

Ada dua komponen yang penting dalam suatu larutan yaitu pelarut dan zat yang dilarutkan dalam pelarut tersebut. Zat yang dilarutkan itu disebut zat terlarut (solute). Larutan yang menggunakan air sebagai pelarut dinamakan larutan dalam air. Larutan yang mengandung zat terlarut dalam jumlah yang banyak dinamakan larutan pekat. Jika jumlah zat terlarut sedikit, larutan dinamakan cairan dengan cairan, padatan atau gas sebagai zat yang terlarut. Larutan dapat berupa padat dan gas, karena molekul-molekul gas berpisah jauh, molekul-molekul dalam campuran gas berbaur secara acak, semua gas adalah larutan, contoh terbaik larutan adalah udara (Karyadi, 1994 : 51)

4. ALAT DAN BAHAN

  • Alat
    1. Neraca Analitik
    2. Batang Pengaduk
    3. Corong
    4. Gelas kimia
    5. Pipet Ukur

  • Bahan
    1. NaCl
    2. Aquades

5.  PROSEDUR PERCOBAAN

  1. Berdasarkan stokiometrinya hitunglah massa (gram) NaCl yang diperlukan untuk membuat 100 mL larutan NaCl 0,3 M.
  2. Timbanglah gelas kimia yang akan digunakan untuk melarutkan NaCl, catat berat gelas kimia dan masukan NaCl  sesuai keperluan.
  3. Setelah NaCl ditimbang sesuai keperluan, pindahkan dari neraca dan larutkan dengan aquades dan diaduk sampai larut.
  4. Pindahkan larutan NaCl tersebut kedalam labu ukur 100 mL.
  5. Bilas gelas kimia dengan aquades secukupnya dan tuangkan kedalam labu ukur.
  6. Tambahkan aquades kedalam labu ukur dengan menggunakan  botol semprot sampai batas takaran, kemudian tutup dan kocok larutan tersebut.
  7. Berilah label pada labu ukur tersebut sesuai konsentrasinya lengkap dengan tanggal pembuatan larutan, nama kelompok dan nama Program Studi.

6. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisis Data

No

Nama Larutan

Massa

(Gram)

Massa Molekul Relative

(Mr)

Volume

(mL)

Molar

(M)

1

NaCl

1.755 gram

58,5 gram/mol

100 mL

0,3 M

2. Perhitungan

Hitunglah massa (gram) NaCl yang diperlukan untuk membuat 100 mL larutan NaCl 0,3 M.
Penyelesaian :
Diketahui :
M            : 0,3 M
Volume    : 100 mL atau 0,1 Liter
Mr NaCl    : 58,5 Gram/mol
Ditanya    : Massa NaCl.?
Jawab       :
M                     = Massa Zat Terlarut
                            Mr    X   Volume Larutan
0,3                   = Massa NaCl
                            58,5 gr/mol   X    0,1 Liter
Massa NaCl = M  X  BM  X Vol (L)
Massa NaCl = 0,3  X  58,5  X  0,1
Massa NaCl = 1,755 Gram
Jadi Massa NaCl yang dibutuhkan adalah 1,755 gram.

Pembahasan

Berdasarkan pada hasil percobaan dan data pada tabel hasil percobaan di atas dapat diuraikan bahwa dalam membuat suatu larutan, terlebih dahulu kita harus memperhatikan berapa hal yakni mengetahui berapa Mol zat NaCl yang akan kita gunakan untuk membuat suatu larutan dan kemudian setelah Mol zat NaCl tersebut diketahui maka selanjutnya hitunglah berapa massa NaCl yang dibutuhkan untuk membuat sebuah larutan.

Dalam percobaan ini  mol larutan NaCl diketahui yakni 0,3 M yang akan dilarutkan kedalam 100 mL  aquades dengan Massa molekul relative larutan NaCl 58,5 gram/mol. Sebelum membuat larutan terlebih dahulu menghitung massa NaCl yang dibutuhkan yakni 1,755 gram yang akan dilarutkan kedalam 100 mL air aquades.  Setelah selesai menghitung massa yang dibutuhkan, timbanglah NaCl yang di butuhkan sesuai keperluan yakni 1,755 gram pada neraca analitik dan pindahkan larutan NaCl tersebut pada gelas kimia dan larutkan dengan aquades kemudian aduk menggunakan spatula sampai larut. NaCl yang sudah terlarut  dengan Aquades kemudian dipindahkan  labu ukur 100 mL dengan bantuan corong. 

Bila perlu bilas gelas kimia yang di gunakan untuk melarutkan NaCl tersebut dengan aquades secukupnya dan tuangkan kedalam labu ukur 100mL, namun perlu diperhatikan agar tidak sampai melewati  batas yang ada pada labu ukur  100 mL. Setelah larutan tersebut dipindahkan kedalam labu ukur sampai pada batas yang di tentukan yakni 100 mL, maka labu ukur tersebut ditutup dan diberi label sesuai konsentrasi larutannya lengkap dengan tanggal pembuatan larutan yakni pada tanggal 23 september 2016, dengan nama kelompok D dan program studi Teknologi Industri Hortikultura.

7.  KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah melakukan praktikum, dapat disimpulkan bahwa :

1. Larutan adalah campuran homogen dari molekul, atom ataupun ion dari dua zat atau lebih. Cara membuat larutan yaitu mencampurkan zat pelarut dan zat terlarutnya.

2. Dalam membuat suatu larutan, yang harus diperhatikan adalah massa dan konsentrasi zat terlarut, volume zat pelarut (air).

3. Untuk mendapatkan larutan NaCl dengan konsentrasi 0,3 M dengan volume larutan 100 mL dibutuhkan massa NaCl sebesar 1,755 gram.

Saran untuk praktikum ini agar memperhatikan dan mengikuti prosedur percobaan sehingga tidak terjadi kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad. 1996. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Achmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Citra Aditya Bakti : Bandung
John dan Rachmawati. 2011. Chemistry 3A. PT. Penerbit Erlangga: Jakarta

Karyadi. 1994. Tangkas Kimia. Kartika : Surabaya
Syukri. 1999. Kimia Dasar 2. Bandung: ITB