Mengenal Kota Niniwe Dalam Alkitab

Kota Niniwe
Pertobatan Orang-orang Niniwe: Sumber: wiki


Negeri Paus -- Pertama-tama kita mengidentifikasi kota Niniwe dari kitab Kejadian 10:9-11 yang tertulis demikian;

"10:9 ia seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN, sebab itu dikatakan orang: "Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan TUHAN." 

10:10 Mula-mula kerajaannya terdiri dari Babel, Erekh, dan Akad, semuanya di tanah Sinear. 

10:11 Dari negeri itu ia pergi ke Asyur, lalu mendirikan Niniwe, Rehobot-Ir, Kalah"

Niniwe didirikan oleh Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa di hadapan Tuhan. Ham menggolongkannya pada kota-kota besar kerajaannya. 

Sekitar abad ke-16, kota Niniwe ada ditangan mangsa Hur namun pada pertengahan abad ke-14 Niniwe berada ditangan bangsa Syur.

Secara politis Niniwe baru memperoleh arti yang penting pada zaman Raja Sanherib (abad 8), yang suka membuat kota Niniwe menjadi tempat kediamannya seperti dalam Kitab 2 Raja-raja 19: 36 "Sebab itu berangkatlah Sanherib, raja Asyur, dan pulang, lalu tinggallah ia di Niniwe." dan diperbesarnya dengan bangunan-bangunan yang indah.

Yunus pernah berkotbah di Kota Niniwe yang mengagumkan besarnya itu (Yun 3:1-4:11) dan penduduk kota itupun bertobat. 

Pertobatan mereka diangkat oleh Yesus sebagai contoh sekaligus peringatan bari para pendengar-Nya (Luk 11:29-32). [Sumber: Herbert Haang. Kamus Alkitab. Ende Nusa Indah, 1989, hlm. 305-306].

Apa yang Terjadi pada 5 Februari 1597 di Nagaski?

Paulus Miki


Negeri Paus -- Pada tanggal 5 Februari 1597 telah terjadi hukuman mati dengan disalib atas 26 martir Nagasaki, Jepang. 

Pelaksana hukuman mati dilakukan oleh Terazawa Hazaburo atas perintah Toyotomi Hideyoshi, yang lebih dikenal dengan nama Taikosama, seorang penguasa Jepang yang tinggal di Benteng Osaka.

Paulus Miki ada pada urutan ke-6 dari 26 orang uang harus menjalani penyaliban. 

Menjelang kematiannya Paulus Miki berseru, "Agama Kristen mengajarkan agar kita mengampuni musuh-musuh kita dan semua orang yang bersalah kepada kita. Oleh karena itu, saya hendak mengatakan bahwa saya mengampuni Taikosama. Saya mendambakan semua orang Jepang menjadi Kristen." 

Kemudian Paulus Miki mengarahkan jiwanya ke surga dan berkata, "Tuhan ke dalam tangan-Mu aku menyerahkan jiwaku. Datanglah menyambutku, ya para kudus Allah..."

Mereka dibeatifikasi pada tahun 1627, dan dikanonisasi oleh Paus Pius IX pada 8 Juni 1862. Peringatannya dirayakan setiap tanggal 6 Februari. (Sumber: Ruah.2015. Sabda Allah yang Menyegarkan Jiwa.


Santo Tomas dari Aquinas - Santo Santa Katholik

St. Thomas dari Aquinas
St. Thomas dari Aquinas

Tomas dari Aquinas

Santo Tomas lahir di Roccasecca dekat Napoli, Italia, pada tanggal 28 Januari 1225. Santo Tomas berasal dari kelaurga bangsawan Aquinas. 

Pada usia 20 tahun (1245), ia masuk Ordo pengkotbah yang kemudian dikenal dengan nama Ordo Dominikan. 

Ia adalah seorang yang sangat cerdas namun tetap rendah hari karena ia sadar bahwa pikirannya yang cemerlang itu adalah karunia dari Tuhan. 

Karena itu, kerinduannya adalah mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan dan gereja dengan segenap hatinya.

Tomas banyak menulis demikian indah tentang Tuhan dan tentang iman yang berasal dari cintanya yang amat mendalam kepada Tuhan.

Thomas dari Aquinas meninggal pada 7 Maret 1274, dalam suatu perjalanan untuk menghadiri Konsili Lyon (Mei-Juli 1274). Pada 18 Juli 1323 ia dinyatakan kudus oleh Paus Yohanes XXII di Avignon, Perancis dan tahun 1567 Paus Pius V memberinya gelar Pujangga Gereja. 

Peringatannya dirayakan setiap tanggal 28 Januari. 


(Sumber: Ruah. 2015. Sabda Allah Menyegarkan Jiwa. Hal. 110.)

Morfologi Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur

Ile Mandiri
Gambar Ile Mandiri, Foto Diambil tahun 2014


Secara morfologi, Ile Mandiri merupakan bekas gunung api berbentuk kerucut. Ile Mandiri berada disebelah Timur Pulau Flores dengan dinding yang terjal pada bagian atas dan semakin melandai kearah kaki gunung.

Kemiringan dinding lereng Ile Mandiri berkisar antara 80 derajat hingga 70 derajat bahkan ada lereng yang hampir tegak, sedangkan untuk sepanjang pantai di kaki Ile Mandiri kemiringannya kurang dari 5 derajat. 

Ile Mandiri sendiri mempunyai tinggi kurang lebih 1.501 m yang merupakan gunung api strato dan sudah tidak aktif lagi. Material pembentukan Ile Mandiri terdiri dari perselingan lapisan batuan lava dan breksi volkanik mulai dari bagian puncak, daerah tubuhnya, hingga bagian kaki gunung. Pengamatan yang dilakukan Lassa 2009 dengan helikopter menunjukan puncak gunung tidak menunjukan adanya danau atau kawah. Perselingan lapisan batuan lava dan breksi volkanik tersebut menunjukan sudut kemiringan 3 derajat  hingga 5 derajat. 

Jarak lurus rata-rata dari puncak gunung ke garis pantai lebih kurang 4 km. Di bagian selatan, barat dan utara terdapat dataran sempit dengan lebar 300400 m, sedangkan dibagian timur lebarnya lebih kurang 1 km.27 

Menurut pengamatan Lassa (2009), pola penyaluran air dikomplek Ile Mandiri, berbentuk radial dengan puncaknya sebagai pusat. Alur-alur lembahnya yang kering dan hanya berair pada waktu musim hujan mempunyai dinding lembah yang curam dan dalam. Kp. Oka bagian lereng yang terjal muncul mata air yang kemudian mengalir ke suatu sungai yang terdapat dibagian timur lereng G. Mandiri. 

Mata air ini diturap oleh penduduk untuk keperluan air minum, namun kini telah hancur oleh runtuhan batu pada waktu terjadi bencana. Pada lembah-lembah alur-alur tersebut, terdapat 5 -6 jeram atau undak-undak yang tingginya berkisar antara 5 – 20 meter. Pada alur lembah terlihat sering terjadi runtuhan batu dan breksi lapuk dan bertumpuk pada dasar lembah pada bagian undak-undak tersebut. 


Sumber:  Lassa. 2009. Bencana Yang Terlupakan? Mengingat Kembali Bencana Larantuka dan Lembata 1979-2009 (The Forgotten Disasters? Remembering The Larantuka and Lembata Disaster 1979-2009). Jurnal NTT Studies. hal. 159-184

Melihat Kembali Iklan Jadul tahun 1900-an

Negeri Paus - Memasuki era digital yang perkembangannya semakin pesat, kita telah disuguhkan dengan berbagai macam iklan diberbagai media.

Dulu iklan hanya bisa dilihat di Televisi, dan dapat di baca di koran, buletin, dan media cetak lainnya.

Akan tetapi dengan kemajuan teknologi inilah saat ini kita menyaksikan iklan dimana saja dan kapan saja jika kita mengakses Internet. 

Ketika mengakses ke media sosial kita disuguhkan dengan pop up iklan dari berbagai platform iklan layanan.

Beberapa yang populer dan sering digunakan antara lain Adsense, Adstera, MGID, Pop Ads, AdMob, dan sebagainya.

Dan dulu, jika orang memasang iklan di majalah maka perusahaan majalah itu yang akan menerima bayaran dari pengiklan. 

Juga untuk membuat suatu media misalnya kita harus mengurus berbagai macam administrasi. 

Untuk sekarang sangat dibuka ruang seluas-luasnya untuk kita berekspresi di internet. 

Banyak penyedia layanan hosting yang membuka kesempatan untuk pengembang Blog, dan Website untuk memperoleh penghasilan dari situ.
Halaman lain 1 2 3

Peninggalan Kerajaan Islam Ende Masjid Ar-Rabithah


Masjid Ar-Rabithah (Masjid Kerajaan Ende) Sumber: Dokumentasi Murtadho, foto 27 April 2015
Masjid Ar-Rabithah (Masjid Kerajaan Ende) Sumber: Dokumentasi Murtadho, foto 27 April 2015

Peninggalan Kerajaan Silam Ende Masjid Ar-Rabithah

Masjid Ar-Rabithah merupakan salah satu peninggalan kerajaan Islam di Ende yang masih tersisa hingga saat ini. Untuk saat ini belum ditemukan data atau catatan mengenai tahun pembangunan Masjid Ar-Rabithah. Jika kita membaca sejarah penyebaran agama Islam di tanah Jawa, dan beberapa daerah lain di Indonesia, biasanya para penyebar agama Islam, para Syeh, dan Guru-guru agama Islam pertama kali membangun Masjid. 


Banyak dari orang-orang tempatan juga masih belum tau apakah Masjid Ar-Rabithah ini dibangun saat kepemimpinan Jari Jawa atau tidak. Kami pun tidak mendapatkan informasi apa-apa mengenai siapa yang membangun Masjid Ar-Rabithah ini. Kalau melihat cara penyebaran agama di Jawa dan beberapa daerah lainnya di Indonesia, maka kita dapat berpendapat jika Masjid Ar-Rabithah dibangun oleh salah satu dari beberapa raja-raja Ende.

Baca Juga: Jari Jawa Putra Penguasa Palembang Menjadi Raja Islam Ende-Flores


Oleh penduduk Masjid Ar-Rabithah diyakini sebagai masjid yang tertua di Ende daratan. Andai pernyataan ini benar, maka setelah hadirnya masjid yang pertama di Pulau Ende (1631), maka ada besar kemungkinan masjid ar Rabithah hadir setelah itu. Mungkin dalam bentuk Mushola atau masjid sederhana di masa lampau. Masjid ini berlokasi di Jalan Mesjid di Kampung Ambu Tonda, Kota Raja, Ende  (Murtadho, 2015).


Masjid ini berukuran 27 m x 26 m, terdiri bagian dalam seluas 15 m x 15 m dan serambi sebelah kanan dan kiri dari ruang dalam masing-masing dengan lebar 6 m. 

Artikel Terkait: Silsilah Raja-raja Ende


Artikel Selanjutnya: Sultan Syahbudin bin Salman al-Faris-Penyebaran Islam di Solor sampai Ke Kupang

Halaman lain 1 2 3

Mengenal Ahli Kerbau Pertama di Indonesia dari Alor

Sumber: Koran Kompas Terbitan 1978
Sumber: Koran Kompas Terbitan 1978




Negeri Paus - Negara Indonesia patut berbangga dimasa lalu karena pernah mempunyai seorang bahkan mungkin satu-satunya ahli kerbau. Dia adalah M.R. Toeliehere yang mendedikasikan dirinya pada dunia peternakan setelah menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor dan melanjutkan program Magister di Amerika Serikat serta program doktor di Jerman. 

M.R. Toeliehere dalam disertasinya mengangkat judul "Kontribusi untuk Biologi dan Patologi Reproduksi Pada Kerbau Lumpur Betina di Indonesia". Menurut dia kerbau adalah sumber daya penting yang dimiliki berjuta-juta rakyat petani peternak Indonesia, tetapi penelitian ke arah peningkatan pemanfaatan dan produksinya tidak dilakukan. 

M.R. Toeliehere dibantu oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sehingga penelitian mengenai kerbau di beberapa daerah seperti Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur (Sumba) dapat diselesaikan dengan baik.  Penelitian ini dilakukan dari tahun 1972 sampai 1976 dan dari penelitian inilah diangkat sebagai bahan disertasi dibawah bimbingan Prof. Dr. H. Flacher di Universitas Justus Liebig, Jerman. M.R. Toeliehere menyelesaikan program doktor di Jerman itu pada tanggal 10 Desember 1977 dengan predikat cumlaude.

Sebelumnya mari kita mengenal siapa M.R. Toeliehere?

M.R. Toeliehere lahir pada tanggal 24 Maret 1936 di Desa Lumarahing, Pulau Pura, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Ia merupakan putra ke-8 dari Ayah Romelus R. Toelihere seorang guru Sekolah Dasar yang berasal dari Kisar, Maluku Tenggara. M.R. Toeliehere menyelesaikan sekolah menegah pertama di Kupang, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menegah Atas di Makasar pada tahun 1954.


M.R. Toeliehere melanjutkan kuliah jenjang Strata Satu di Universitas Indonesia (Bogor) di Fakultas Kedokteran Hewan, dan menyelesaikan studinya itu pada tanggal 24 September 1962. Kemudian ia melanjutkan studi Magister  ke Amerika Serikat tepatnya di University of Kentucky di Lexington, Kentucky dan menyelesaikannya pada tanggal 10 Mei 1965. Setelah itu mulai bulan Juni 1972 sampai Oktober 1973 ia mendapat kesempatan untuk belajar ke Jerman Barat sehingga bisa menyelesaikan program Doktornya di sana. (Cah/) 

Sumber: Koran Kompas Terbitan 1978





Tahun 1883 Masa Heijmering di Kupang

Gereja MaranatHa Oebufu. Foto: 5 Oktober 2014
Gereja MaranatHa Oebufu. Foto: 5 Oktober 2014



Negeri Paus -  Periode dua orang penginjil datang ke Kupang telah memberikan perubahan besar bagi kehidupan jemaat di Timor Barat (Kupang). 

Mereka adalah Le Bruijn dan Terlinden yang meninggal karena sakit, namun karya besar dan benih-benih Iman Kristen yang ditanamkan telah tumbuh subur di Timor Barat (Kupang). 

Setelah meninggalnya Terlinden maka dikirimkan Heijmering ke Kupang untuk menggantikan posisinya. Di ceritakan bahwa, Heijmering sebenarnya sedang mengunjungi Kupang dan setelah selesai kunjungan itu ia tengah menunggu jadwal kapal ke Surabaya namun karena kekosongan misionaris maka segera Jemaat Kupang menahan dia.


Setelah menahan Heijmering, jemaat itu meminta kepada NZG agar Heijmering sekiranya dapat menggantikan posisi untuk melayani jemaat Kupang. NZG pun mengizinkan Heijmering untuk melayani jemaat Kupang dan mulai bekerja pada tahun 1833. 

Pola pelayanan yang diterapkan Heijmering sama dengan Terlinden yakni mengunjungi jemaat di rumah-rumah baik Kristen maupun Non Kristen, melakukan ibadah perjamuan kudus, membaptis, dialog pastoral, memimpin kebaktian, katekisasi, dan kegiatan pelayanan lainnya.


Pola ini terbilang berhasil namun tetap saja ada masyarakat yang tetap menjalankan kepercayaan leluhur, sehingga Heijmering melakukan suatu strategi dengan mendahulukan pendidikan bagi masyarakat, sebab menurut Heijmering pendidikan mempunyai fungsi sebagai penghubung antara kekristenan dan masyarakat lokal.  

Dari sinilah mutu pendidikan harus mendapat perhatian yang ekstra. Maka pada tahun 1834, Heijmering bersama dengan Jemaat Kupang menghidupkan kembali Lembaga Bantuan Pekabaran Injil yang sebelumnya dibentuk Le Bruijn pada tahun 1829 yang vakum itu. Pembentukan kembali lembaga ini mempunyai peran penting dalam dunia pendidikan. Kemajuan itu ditandai dengan didirikannya empat sekolah baru pada tahun 1836 dan 1837. Sekolah-sekolah itu sebagai berikut:

  1. Di Pariti pada bulan Agustus 1836 didirikan sebuah sekolah dengan Petrus Dirk Pello sebagai guru disitu.
  2. Di Oesao pada bulan November 1836 didirikan sebuah sekolah dengan dua belas murid pertama namun, setelah satu bulan murid menjadi bertambah enam puluh orang.
  3. Di Oesapa pada bulan Desember 1836 didirikan sebuah sekolah dengan Yohanes Coenrard sebagai guru disitu.
  4. Di Olio pada bulan Februari 1837 didirikan sebuah sekolah.

Pekerjaan NZG pun menjadi meningkat, sebab sekolah-sekolah baru dan murid-muridnya semakin bertambah. Sehingga Johan Fiedler di tugaskan untuk membantu Heijmering di Kupang. Di tuturkan bahwa keduanya tidak membangun komunikasi yang baik sehingga saling menuding satu sama lain sampai terjadi perselisihan antara mereka. 

Perselisihan itu tidak lain adalah mengenai pengelolaan dana NZG. Sehingga Fiedler mengundurkan diri dari tugasnya di Kupang. 

Namun ada juga buah pekerjaan Fiedler selama beberapa bulan di Timor Barat (Kupang) ini yakni  merintis pendirian sekolah di Oebufu yang kemudian berkembang menjadi jemaat yang kini dikenal dengan nama GMIT Maranatha Oebufu. (Cah/)

12 Desember 1829 Coenrard Terlinden ke Kupang

Pemandangan Laut Kota Kupang, 1952. Sumber ANRI
Pemandangan Laut Kota Kupang, 1952. Sumber ANRI


Negeri Paus - Setelah Le Bruijn meninggal dunia, Nederlandsch Zendeling Genootschap mengutus Coenrard Terlinden ke Kupang. Karena di Kupang telah ada jemaat yang ada di beberapa wilayah dan telah didirikan sekolah Belanda dan sekolah Melayu oleh Le Bruijn. Nederlandsch Zendeling Genootschap mengutus Coenrard Terlinden ke Kupang itu setelah tujuh bulan meninggalnya Le Bruijn dan Terlinden sendiri tiba di Kupang pada tanggal 12 Desember 1829. 

Sesampainya di Kupang Terlinden kemudian melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah dan kepada jemaat-jemaat yang ada. Terlinden dikenal sebagai seorang pietis dan sangat mengedepankan prinsip-prinsip pietisme dalam setiap tempat diaman saja berada. Hal ini terbukti ketika Terlinden memecat Yosep Hutueli seorang guru yang mengajar di Sekolah Melayu di Oesapa karena melakukan perbuatan amoral.

Kebijakan Terlinden memecat guru ini mengakibatkan tempat itu harus ditutup. Ketekunan dalam melakukan pelayanan dan memberitakan Injil serta rajin mengunjungi penduduk, baik penduduk yang beragama kristen maupun non-kristen,  membuahkan hasil dengan bertambahnya jumlah orang Kristen. 

Seperti halnya Le Bruijn, Terlinden juga terus melakukan pelayanan kepada jemaat di Kupang, Babau, dan Oesapa sampai tahun 1833. Dan pada akhirnya ia kemudian jatuh sakit dan meninggal dunia.


Beberapa catatan menjelaskan bahwa pada tahun 1831, sebuah sekolah-sekolah yang dikhususkan untuk melatih orang-orang lokal menjadi guru dibuka di Kupang. Pembukaan sekolah ini diharapkan akan semakin memberikan dampak positif terhadap perkembangan Gereja Protestan sehingga NZG menyambut baik hal ini. NZG berpendapat bahwa dengan adanya sekolah, maka beni kekristenan dapat tumbuh subur di ladang penginjilan ini. Mengingat kebutuhan akan guru-guru lokal untuk bisa mengajar di wilayah ini memang sangat mendesak saat itu.


Namun sangat disayangkan bahwa usia sekolah ini hanya mencapai satu tahun.
Sehingga pada tahun 1832 sekolah yang sudah dibangun itu harus ditutup karena D. Douwes yang menjabat sebagai guru sakit dan harus kembali ke Batavia untuk menjalani pengobatan. 

Sedangkan Terlinden sendiri tidak bisa menggantikan posisi Douwes sebagai guru, karena ia juga sudah sangat disibukkan dengan berbagai pekerjaannya dan pelayanan di wilayah penginjilan yang jemaatnya semakin bertambah.

Silsilah Raja-Raja di Kerajaan Ende

Rumah adat Ende Lio
Rumah adat Ende Lio


Negeri Paus – Kerajaan Ende merupakan salah satu kerajaan yang menentang penjajahan Portugis di wilayahnya. Pasalnya penjajahan Portugis dianggap menyesengsarakan masyarakat Ende. Dari sinilah muncul pemberontakan kepada pihak asing itu yang dipimpin oleh Raja Ende.

Berikut ini silsilah raja-raja Ende yang kami himpun. Menurut Murtadlo (2015) garis silsilah raja-raja Ende adalah sebagai berikut :

 

 

Jari Jawa

 

Jua (Sarjua)

 

Rhema

 

Mbake Pare

 

Langi

 

Matoro

 

Inderadewa

 

Aroeboesman

 

Pua Noteh

 

Pua Menoh

 

Hasan Aroeboesman

Sekian silsilah raja-raja Ende.

Kerajaan Terong

TARI BEKU DARI DESA TERONG KEC. ADONARA TIMUR KAB. FLORES TIMUR PROP. NUSA TENGGARA TIMUR
TARI BEKU DARI DESA TERONG KEC. ADONARA TIMUR KAB. FLORES TIMUR PROP. NUSA TENGGARA TIMUR

Negeri Paus - Kerajaan Terong berada di Pulau Adonara. Terong berdampingan dengan Kerajaan Lamahala yang kini dapat kita temukan Desa Lamahala Jaya. 

Di pulau Adonara, ada terbagi dalam 4 daerah kekuasaan yaitu Kerajaan Larantuka, Kerajaan Adonara, Kerajaan Lamahala, dan Kerajaan terong.

Kesan Islam  tradisional mewarnai karakter masyarakat dan kepemimpinan sosial di Terong. 

Hagerdal menyebutkan beberapa nama yang pernah menjadi raja di Terong antara lain dimulai oleh Labe Tawake (1927) hingga Kapitan Pura (1921-1929).

Hal ini ditandai dengan ritual-ritual keagamaan yang cenderung masih mempertahankan nilai-nilai tradisi dan pengakuan adanya karomah wali. 

Saat ini secara administratif Terong merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Adonara Timur, kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Desa ini merupakan satu dari 21 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Adonara Timur. Desa ini memiliki kodepos 86261.

Hari Ibu


Mengendus Jejak Kerajaan Lamahala (Solor Watan Lema)

Desa Lamahala Jaya
Desa Lamahala Jaya


Negeri Paus - Kerajaan Lamahala merupakan suatu kerajaan yang secara geografis peling terkecil diantara empat kerajaan Solor Watan Lema. Wilayah kerajaan Lamahala hanya seluas Desa dan kini berkembang menjadi wilayah pemerintaha Desa Lamahala Jaya. Lokasi Lamahala sendiri berada bagian Selatan Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Menurut beberapa catatan bahwa Kerajaan Lamahala memang lebih dahulu dari Kerajaan Islam Terong. 

Menurut penelitian Murtadlo tahun 2015, kecenderungan warga Lamahala ini cenderung spontan  dan dalam beragama relatif puritan. Warga Lamahala sendiri mempunyai yang semangat tinggi dalam membela agama. Organisasi-organisasi keagamaan yang cenderung rasional dan puritan tumbuh subur di Lamahala seperti Muhammadiyah dan juga organisasi partai Politik seperti Partai Keadilan sejahtera (PKS). 

Dikutip dari Facebook: Boli Anca Malakalu menuliskan bahwa Kerajaan Lamahala merupakan Bela Tello (Tiga Suku Raja) *Suku Selolong, Suku Malakalu, Suku Atapukan*

Ketiga suku ini yang kemudian dipercayakan sebagai Suku Raja di Kerajaan Lamahala yang dikenal dengan sebutan Bela Tello (Tiga Suku Raja).
Karena dalam pemerintahan ada tiga suku pemegang peranan maka kekuasaan raja dibagi menjadi tiga urusan yakni :
  • Suku Selolong sebagai Raja Urusan Pemerintahan.
  • Suku Malakalu sebagai Raja Urusan Pertahanan Keamanan, dan
  • Suku Atapukan sebagai Raja Urusan Adat.

Sumber: 

Kerajaan Lamakera (Solor Watan Lema)

 
Lamakera
Lamakera



Kerajaan Lamakera sendiri berada di pulau Solor tepatnya terdapat di sebelah Timur dari arah Kerajaan Lohayong. Kerajaan Lohayong sendiri terdapat sebuah Benteng yang menjadi perebutan antara Portugis dan Belanda serta Persekutuan Kerajaan Solor Watan Lema. Karena itu Kerajaan Lamakera dan Kerajaan Lohayong merupakan dua kerajaan Islam yang terbesar di pulau Solor.

Selain itu Lamakera juga menjadi tempat pertama yang disinggahi oleh Kaicili Pertawi yang kemudian menjadi Sultan Menanga. Sultan Menanga ini kemudian menyiarkan agama Islam di sekitar Pulau Solor. Menanga sendiri, berlokasi diantara perbatasan Lamakera dan Lohayong. 

Jika anda ke Lamakera dari Larantuka, waktu yang anda butuhkan untuk menepuh perjalanan ini kurang lebih tiga jam mengingat Letak Lamakera yang paling ujung timur Solor.

Untuk penyebrangan dari Larantuka ke Lamakera sendiri anda harus menaiki Kapal Motor Perahu yang berangkat satu kali sehari. Ada juga dua Kapal Motor Perahu lainnya yang menuju Solor, namun berlabuh di dermaga lain. Ketika anda turun di dermaga lainyya itu maka anda harus menggunkan jasa Ojek ke Lamakera dengan waktu tempuh 1 jam. 


Lamakera merupakan tempat dengan perkembangan pendidikan dan kebudayaan yang paling dinamis diantara kerajaan-kerajaan Solor Watan Lema lainnya. Menurut Murtadlo (2015), "gerakan pendidikan Islam yang berpengaruh di NTT lahir dari Lamakera ini dipelopori oleh Abdul Syukur (Putra raja Lamakera, Ibrahim Dasi). Selain itu, saat ini di Lamakera dibangun masjid terbesar dan termegah di NTT."

Sekian kisah singkat tentang Lamakera.

Syeh Imam Patiduri-Toko Islam di Solor

Makam Imam Patiduri (Pengembang IslamAbad 13 di Solor
Makam Imam Patiduri (Pengembang Islam Abad 13 di Solor)/Sumber: Murtadlo (2015).


Jika anda membaca artikel sebelumnya maka anda akan menemukan suatu kisah yaitu sultan Menanga yang dengan keberaniannya mengusir Portugis dari Solor terutama wilayah Lohayong. Dia adalah Kaicili Pertawi yang ceritanya melegenda sampai saat ini. Namun beberapa literatur mengatakan bahwa sebelumnya sudah ada Imam Patiduri. 

Mengenai masuknya Islam di Nusa Tenggara Timur sendiri menurut Murtadlo 2015, mengungkapkan bahwa diawali dengan kehadiran Syahbuddin bin Salman Al Farisi (Sultan Menanga) yang sudah datang pada tahun 1613. 

Namun penjelasan ini tidak kita terima begitu saja pasalnya ada argumen lain yang mengatakan bahwa Syahbudin sesungguhnya berasal dari Palembang. Apa hubungannya? Karena nama "Menanga" diduga merupakan kata yang diambil dari kata "Menangi" sebuah nama wilayah di pusat kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Kemudian untuk membedakannya maka dilakukan penyebutan berbeda untuk wilayah di Solor dengan kata "Menanga".

Ada keyakinan oleh orang Menanga sendiri bahwa kehadiran Islam di Solor sendiri dilakukan oleh Sayyid Rifaduddin Al Fatih atau lebih dikenal dengan nama Jou Imam Patiduri pada tahun 1300-an. Karena sampai saat ini ada anak cucu keturunan Imam Patiduri di Menanga dan adanya makam Imam Patiduri. Letak makam ini berada pada bagian atas benteng Sultan Menanga. Ia diperkirakan datang dari Hadramaut ke wilayah ini pada tahun 1300-an. 


Namun, jika anda membaca catatan sejarah katolik ada tiga orang Misionaris yang datang dari Malaka ke Solor pada tahun 1561 sudah ada penduduk yang beragama Islam. Juga bukti lain adanya pembunuhan pastor oleh orang-orang yang murtad saat itu. Keterangan ini akan sangat berbeda jika masuknya Islam ke Solor ditarik dari kehadiran Sultan Menanga yang baru hadir di daerah ini pada tahun 1598. Maka Portugis sudah mendirikan Benteng Lohayong pada tahun 1566 sebelum Islam datang. Menurut Murtadlo 2015, makam imam Patiduri membuktikan bahwa Islam telah datang ke Solor sebelum kedatangan Portugis dan Belanda.

Imam Patiduri sendiri diperkirakan tinggal dan menyebarkan Islam di Watampao di pulau Solor dan sekitarnya serta memimpin perlawanan terhadap kehadiran Portugis. Akan tetapi ketika ada bencana banjir besar, sehingga tempat itu hanyut kelaut. Imam Patiduri sendiri konon hanyut juga ke laut dan ditemukan tengah terapung diatas barang-barang di laut dan diselamatkan oleh nelayan ke Menanga.


Sekian kisah singkat mengenai Imam Patiduri.

Murtadlo. 2015. Situs Menanga Solor Flores Timur:  Jejak Islam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemenag. 

Kisah Reint Le Bruijn 1820 - Perkembangan Iman Kristen Protestan di Kupang

Sekelompok pria Timor di teras gedung kamp Cina di Timor Barat. Sumber: FB Grup NTT dalam Sejarah
Sekelompok pria Timor di teras gedung kamp Cina di Timor Barat. Sumber: FB: Karl F. Z. Mekeng; Grup FB; NTT dalam Sejarah

Di Kota Rotterdam, Belanda didirikan sebuah badan misi  pada tahun 1798 dengan tujuan adalah untuk memerintahkan Injil dan menanamkan agama Kristen yang benar ke dalam hati manusia ke seluruh dunia. Misi itu diberi nama Nederlandsch  Zendeling  Genootschap (NZG).


Khususnya diwilayah Nusa Tenggara Timur sendiri NGZ mulai menjalankan kegiatan misi pada tahun 1820 dengan mengirimkan Reint Le Bruijn ke Timor Barat (Kupang). Sesampainya di Timor Barat ini Reint Le Bruijn melihat betapa jemaat ditinggalkan begitu saja tanpa ada pelayanan sakramen, pendidikan sekolah minggu, kebaktian yang berkesinambungan. Dan jemaat pun hidup tanpa ada Alkitab Perjanjian Baru yang utuh. Selain itu diperparah dengan kondisi bangunan gereja yang runtuh sejak beberapa tahun yang lalu yakni pada tahun 1795. Kondisi yang sangat memprihatinkan di Timor Barat ini menjadi catatan penting untuk perubahan dan pemberdayaan agar perkembangan jemaat Kristen di wilayah ini dapat terorganisir dan terdidik dengan baik mengingat beberapa catatan terakhir kunjungan pendeta di wilayah ini pada tahun 1802. Kita bisa membayangkan betapa jemaat di Kupang tidak ada pelayanan selama delapan belas tahun.


Maka Le Bruijn pun bersurat kepada NZG pada tanggal 31 Juli 1820, dengan mencatut poin-poin yang menjelaskan suatu upaya perubahan dengan berdiskusi dan mendengarkan jemaat. Dari kegiatan sederhana ini diharapkan agar jemaat bisa aktif kembali dalam kegiatan gereja dan keagamaan lainnya.

Jadi setelah tibanya Le Bruijn dan mulai melakukan kegiatan dengan jemaat, kondisi jemaat juga semakin membaik. Maka selanjutnya Le Bruijn mulai melakukan perencanaan pendirian jemaat dan sekolah di Babau yakni 20 Km ke arah Timur Kupang. Kemajuan ini ditandai juga dengan didirikannya gedung kebaktian Jemaat Kupang. Selanjutnya pada tahun 1822 didirikan sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa Pengantar ini berarti sekolah ini adalah sekolah Belanda dan dan sekolah Melayu, sekolah yang menggunakan bahsa Melayu sebagai bahasa pengantar dengan Le Bruijn sebagai guru di kedua sekolah ini. Kemudian dua tahun kemudian tepatnya tahun 1824 Lukas Pattinasarani di tempatkan di sekolah Melayu sebagai guru menggantikan Le Bruijn.


Dengan adanya sekolah ini, maka dianggap baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan, kesejahteraan guru, dan lainnya. Oleh karena itu maka didirikan suatu lembaga untuk itu dan sekaligus mendukung NGZ di Keresidenan Timor. Lembaga itu adalah Lembaga Bantuan Pekabaran Injil yang dipimpin Jacobus A. Hazaart sebagai ketua dan J. M. Tielman sebagai sekretaris.


Beberapa catatan menjelaskan bahwa selanjutnya pada tahun 1824 sampai 1825 sekiranya ada dua jemaat baru beserta lima sekolah di Kupang telah berhasil didirikan. Dua jemaat baru itu adalah Babau dan Oesapa. Ini merupakan pencapaian karena telah ada pada tahun itu tiga jemaat yang tersebar di wilayah ini yakni di Kupang, Babau dan Oesapa. 


Dari catatan itu diketahui bahwa sekolah Belanda di Kupang yang dipimpin oleh Le Bruijn telah memiliki 26 orang siswa, sedangkan sekolah Melayu di Kupang memiliki 78 siswa yang dipimpin oleh Lukas Pattinasarani. Ada juga sekolah untuk anak-anak budak di Kupang yang dipimpin oleh Le Bruijn dan kemudian digantikan oleh Silvianus.

Sekolah Melayu di Babau memiliki 52 siswa dan dipimpin oleh Dominggus Sahertian dan sekolah Melayu di Oesapa memiliki 33 murid dan dipimpin oleh Josep Hutueli. 


Dari usaha dan pencapaian ini maka tidak mengherankan jika jumlah jemaat di Timor Barat bertambah menjadi 600 orang. Dapat dirincikan sebagai berikut yakni dua ratus orang merupakan anggota Jemaat Babau dan sisanya merupakan anggota Jemaat Kupang dan Oesapa.


Le Bruijn sendiri terus menjalankan misi di Timor Barat hingga tahun 1829 sebelum akhirnya jatuh sakit dan meninggal dunia. Menurut catatan bahwa tujuh  bulan  kemudian  NZG  mengutus  Coenrard  Terlinden  ke  Kupang  untuk  menggantikan posisi Le Bruijn. Ia tiba di tempat ini pada 12 Desember 1829.


Sekian Kisah Le Bruijn menjalankan misi penyebaran Kristen Protestan di Kupang.


Sumber:


Jacob. 2021. GEREJA PROTESTAN DI TIMOR BARAT PADA MASA NEDERLANDSCH ZENDELING GENOOTSCHAP, 1820-1860: Suatu Kajian Mengenai Sejarah dan Bentuknya. Jurnal Theologia In Loco. Vol. 3. Hal. 19-42. 

Wahyudi dkk,.2018. Pengabdian dalam Pengasingan; Kisah Depati Amir di Kupang Pada 1851-1869. IKT

Sumber Foto: https://web.facebook.com/photo/?fbid=1074736130009371&set=g.119903876967183

Masa Awal Kompeni Korte di Kerajaan Belenwato

Istana Kerajaan Belenwato


 Eps 1.............!

Pada tahun 1703 dibuatlah perjanjian penyerahan sebagian wilayah kekuasaan Kerajaan Belenwato kepada Kompeni Korte. Penyerahan wilayah ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pihak kerajaan kepada orang asing karena kalah perang. Wilayah itu adalah Nera dengan menteri perwakilan kerajaan Belenwato adalah Bidar Koke dan Niwa dengan menteri perwakilannya adalah Bale Roju. Kedua menteri itu pun di tarik kembali ke kerajaan setelah peristiwa penyerahan itu, dengan diberikan jabatan baru yakni Bidar Koke diberikan jabatan sebagai Menteri Urusan Umum  dan Bale Roju sebagai Menteri Urusan Pemerintahan, keduanya dibawa pimpinan langsung Menteri Sekertaris Kerajaan.

 

Selang setahun kemudian tepatnya pada tahun 1704, diadakan pemilihan raja baru, karena raja sebelumnya dianggap berkhianat terhadap rakyat dengan membiarkan sebagian wilayah kerajaan jatuh ke tangan Kompeni Korte. Dari sidang oleh para menteri bersama delegasi dari setiap wilayah dicapailah suatu keputusan dengan mengangkat Riodes Berlikeh menjadi raja. Riodes Berlikeh merupakan adik kandung dari raja sebelumnya yakni Anggalan Berlikeh. Keputusan jatuh ke tangan adiknya karena Anggalan Berlikeh tidak mempunyai anak meski sudah menikah dua kali.

 

Dalam masa kepemimpinan Riodes dia banyak melakukan perlawanan kepada orang asing yang ingin merebut wilayah kerajaannya. Benar saja dalam 6 tahun kemudian ia berhasil mengambil Niwa kembali dari tangan Kompeni Korte tepatnya pada tanggal 12 Maret 1710. Perebutan wilayah ini merupakan perang di daratan pertama kali yang dipimpin oleh Panglima Kamem Juro dengan 900 orang tentara kerajaan. Penyerangan dilakukan pada malam hari ketika semua tentara Kompeni Korte sedang tertidur. Mereka berhasil menyandera setidaknya 109 orang tentara dan menjadikannya sebagai tahanan politik.

 

Dari sinilah Riodes sangat di kenali diseluruh wilayah negara Korte dan menjadi bahan pembicaraan pada rapat senat pemerintahan di Parlemen Korte. Sebab 109 tentara itu merupakan salah satu anggota tentara terbaik Korte yang ditunjuk untuk menjaga wilayah Niwa. Dengan dikuasainya Niwa maka Nera akan sangat cepat diambil mengingat akses ke Nera dijaga ketat dan tidak ada jalan lain menuju Nera selain harus melewati Niwa. Oleh karena itu tepatnya 14 Juni 1710 Niwa pun diambil kembali dari Korte dibawah pimpinan Jenderal Konien Lota. Pencapaian besar ini merupakan kerja keras juga semua tentara dan strategi kedua pembesar yakni Panglima Kamem Juro dan Jenderal Konien Lota.

 

Presiden Korte; Don Sonan pun membuat perhitungan dengan Riodes dengan mengirim 4 kapal perang yang dipersenjatai lengkap dengan terisi masing-masing 60 orang tentara. Mereka berlayar dari Korte pada 28 Juli 1716 menuju ke wilayah Belenwato dan tiba di bagian Barat di suatu pulau tanpa penghuni untuk mempersiapkan strategi dan memulihkan tenaga para tentara. Diwilayah bagian Barat Kerajaan Belenwato itu dikenal dengan nama wilayah Flaras itu sangat subur. Dari sini Laksamana pemimpin pasukan Gan va Lira mempunyai pemikiran lain. Tentunya sebagai seorang tentara perang, seharusnya berfikir bagaimana menyusun strategi untuk mengalahkan lawan namun ia berpikir untuk membangun sutau markas di wilayah ini. Wilayah Flaras Barat ini merupakan wilayah subur dan belum berpenghuni. Sehingga alangkah lebih baiknya menguasai daerah ini sebab jaraknya dari perkampungan warga terluar dari kerajaan Belenwato kira-kira 100 kilometer jauhnya.

Memang harus diakui bahwa untuk ke wilayah Flaras bagian Barat ini tidak dapat ditembus oleh siapapun.

 

Kembali ke Laksamana Gan, setelah mendarat dan beristirahat di pulau ini selama empat hari, ia memutuskan menuliskan surat kepada Presiden Korte agar membuat suatu markas dan pusat latihan di wilayah ini agar supaya dengan mudah menguasai satu per satu wilayah itu dan mengambil hasil buminya ketimbang berperang dan mengalami kehilangan pasukan. Selain itu kita juga bisa mendatangkan para budak kita dari Korte untuk bekerja dan mengambil keuntungan yang banyak disini.

 

Surat itu pun disetujui oleh Don Sonan dan segeralah ia mengirimkan para orang-orang pintar bagian Pertanian untuk meneliti sebelumnya keadaan alam wilayah itu. Maka dengan sebuah kapal perang yang sebelumnya dipakai oleh Laksaman untuk mengantarkan surat ke Presiden itu, mereka berlayar dari pelabuhan Dimir di Korte menuju ke Floras bagian Barat yang kemudian dibuatlah pelabuhan darurat oleh Laksamana dan menamakan wilayah pelabuhan itu dengan nama Laguan Pajo.

 

Seorang pemimpin orang-orang pintar pertanian itu adalah Vandit de Casto sebagai ketua tim dan 2 orang lagi sebagai anggota yakni Lare da Cuna dan Burdo Mader. Mereka berhasil mendarat di Laguan Pajo pada tanggal 23 Februari 1717. Kemudian segeralah mereka melakukan observasi di daerah itu dan kemudian membangun markas besar dan melakukan kegiatan pertanian dengan dibantu oleh para budaknya yang di bawah oleh mereka.

 

Lima tahun setelah itu, wilayah Floras Barat itu kemudian oleh diberi nama Manggalira oleh Don Sonan sebagai suatu koloni mereka. Setelah itu mereka mulai menyusun strategi untuk melakukan penguasaan ke wilayah timur, sebab di wilayah kerajaan Belenwato banyak rempah-rempah yang sangat mahal harganya jika dijual ke wilayah Eropa.

Wilayah kerajaan Belenwato sendiri berada disebelah timur daratan Floras tepatnya di wilayah benua Asia.

 

Meskipun mereka berusaha melakukan penanaman rempah di wilayah Manggalira ini namun tetap saja kondisi lingkungan tidak mendukung sehingga hasil yang diberikan pun tidak maksimal. Selain itu, rasa rempah tidak sama dengan yang ada di Belenwato. Maka dari itu, perebutan wilayah menjadi agenda tetap selanjutnya. Dan Laksamana Lira ditarik kembali ke Korte dan kemudian digantikan dengan Laksamana Xander merangkap sebagai Perdana Menteri Koloni Asia.

 

Bagaimana dengan kepemimpinan Xander diwilayah Koloni?

 

Kita akan lanjutkan ke Episode berikutnya.


NB:

Cerita ini hanya Fiksi Belaka.

Penulis: Silverius Johanes  

Kisah Katolik di Ende 1850-an hingga 1900-an

Anak-Anak Sekolah di Ende pada 31 Agustus 1924
Anak-Anak Sekolah di Ende pada 31 Agustus 1924



Siapa saja yang menggunakan tangannya untuk menghentikan roda sejarah, jari-jemarinya akan hancur. - Lech Walesa. 

Pembaca yang budiman, telah banyak sudah yang ditulis dalam tiap lembaran halaman, maka kita saat ini hanya bisa membaca dan memahaminya sebagai suatu pengetahuan baru atas kejadian masa lalu.

Masa lalu penyebaran agama katolik di pulau Lembata, dan Larantuka telah di ceritakan banyak pada artikel-artikel sebelumnya di blog ini. Kali ini kita akan mengulas secara singkat mengenai perkembangan katolik di Ende. Suatu tempat yang menurut penulis perlu di ulas lebih jauh. 

Kisah itu dimulai dari era tahun 1850-an ketika Portugis mengakui kekalahan atas kompeni Belanda dan menyerahkan wilayah Flores. Penyerahan ke Belanda itu persis pada tahun 1859 dan setelah penyerahan ini telah meningkatlah perkembangan katolik di wilayah Ende. 
Tidak seperti sebelumnya Belanda memainkan politik adu domba sehingga menurunkan Raja Ende Pua Noteh. Namun keadaan berbalik, kali ini mereka menggunakan politik balas budi sehingga bagi misi katolik ini adalah peluang yang bagus. 

Ada data lain oleh Pater Looijmans beliau merupakan pastor di Satsi Lela sebelum tahun 1907 yang di kutip oleh Fransiskus Xaverius Sunaryo mengatakan bahwa di Ende belum ada orang katolik. Namun, jika kita melihat bahwa di saat itu Lela merupakan stasi, maka pastilah ada umat katolik. Akan tetapi data pendukung belum di temukan sehingga banyak peneliti yang menafsirkan belum ada umat di Lela. Selain itu apabila kita membaca lebih jauh maka akan sebenarnya adalah misi katolik yang didukung oleh Belanda itu belum menggarap Ende secara maksimal karena belum ada Kapel, dan rumah-rumah ibadat lainnya.

Menurut Murtadho (2015), setelah penyerahan wilayah Flores oleh Belanda pada tahun 1850-an dan beberapa periode kemudian sampai pada Pater Looijmans wilayah Ende saat itu di jabat oleh seorang Kontrolir. Kontrolir (bahasa Belanda: Controleur), adalah sebuah jabatan pemerintahan yang pernah ada di Indonesia pada zaman Hindia Belanda. Dalam penyelenggaraannya, dibentuk sebuah jabatan fungsional di antara pemerintahan Belanda dan pribumi yang hanya dapat dijabat oleh orang kulit putih, yang sifatnya nonstruktural dan berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah Belanda dengan pemerintah pribumi. Jadi  kontrolir Belanda saat itu adalah Controleur Hens. Mulai dari sinilah Nyonya Hens istri Kontrolir itu meminta Mgr Noyen untuk menyinggahi Ende dalam suatu perjalanan misinya ke Timor. Sesampainya Mgr Noyen di Ende dia melihat Ende kini berubah begitu damai dan aman sehingga cocok untuk melaksanakan misi. Maka pada tanggal 28 April 1911 Pater Looijmans mengunjungi Ende dan melihat peluang  seperti yang dilihat Mgr Pater Noyen. 

Maka setelah kunjungannya pada 1911, pater Looijmans kembali ke Ende dan melaksanakan pelayanan dengan memberikan sakramen-sakramen dan mempermandikan anak-anak pada tahun 1912. Karena perkembangan iman umat begitu besar maka status Ende di naikan menjadi pusat misi Katolik di Pulau Flores pada tahun 1913. Jika di lihat lebih jauh kebelakang, maka wilayah Flores sebenarnya telah di jajaki oleh Ordo Jesuit pada tahun 1862.
Kembali lagi jika anda membaca artikel sebelumnya maka anda akan melihat perjalanan para misionaris Jesuit hingga Mgr Noyen yang di utus ke Timor dan langsung mempelajari bahsa Tetun. Dan kemudian perjalanan pergantian oleh Ordo Serikat Sabda Allah (SVD) yang mengambil alih Timor, Larantuka, dan Sika. 

Sehingga SVD berhasil mengKatolikkan hampir seluruh Pulau Flores. Pada rentang waktu 1913-1943, gerakan gereja di Flores berkembangan secara masif hingga pada tahun 1943 jumlah Umat Katolik di Flores sudah mencapai separuh lebih.

Mengutip dari Murtadho 2015, Kapten Tasuku Sato, seorang kapten Jepang yang dikirim ke Flores 1943, memberi kesaksian perkembangan Katolik di Flores yang luar biasa hanya dalam waktu 30 tahun (1913-1943) berhasil menasbihkan 400.000 orang masuk agama Katolik.
Perkembangan katolik di Ende ini dapat kita lihat relatif dominan di Ende hingga saat ini. Dari sumber yang sama mengatakan bahwa; Naiknya jumlah umat Katolik lebih banyak disebabkan adanya perpindahan agama penduduk dari keyakinan animisme ke Katolik. Peran gigih para pastor di lingkungan gereja mampu meyakinkan penganut animistik itu untuk lebih memilih Katolik daripada Islam. Hingga puncaknya Katolik menjadi agama mayoritas di pulau Flores. Pembangunan umat Katolik di Ende dan Flores melalui pendidikan, penerbitan buku seperti Nusa Indah di Ende patut menjadi cermin dalam memajukan umat beragama.

Banyaknya orang pintar dari Flores adalah produk dari pendidikan yang diselenggarakan Sekolah Katolik.

Sekian sejarah singkat perkembangan iman di Ende-Flores.

Pua Noteh Raja Ende yang Di Asingkan ke Alor dan ke Kupang

 
ENDE Tempo Doeloe 1932 Lokasi di SMEA Lama sebelum di bangun Sekolah Cina
ENDE Tempo Doeloe 1932 Lokasi di SMEA Lama sebelum di bangun Sekolah Cina

Pembaca yang budiman, tulisan berikut merupakan kisah singkat mengenai salah satu raja Ende yang pernah berkuasa pada tahun 1886 sampai 1909. Apabila anda membaca artikel sebelumnya mengenai salah satu Raja Ende yang begitu fenomenal yakni Jari Jawa, maka anda akan menemukan perjuangan Jari Jawa yang menentang Protugis di tanah Ende. Jari Jawa yang kemudian dijadikan Raja Ende itu, merupakan salah satu orang berpengaruh karena ia merupakan putra kerajaan di Palembang yang masih bersaudara dengan Raden Patah. 


Portugis yang notabene datang dari Malaka ini, kemudian hari sangat di tentang oleh orang-orang Ende. Tentu saja tidak ada hubungan dengan pembunuhan seorang misionaris katolik Tahun 1601 P. Alvara, ketika sedang melakukan pelayaran dari Paga ke Jopu. Ketika itu ia diserang oleh perampok-perampok (Ende) dan di buang ke laut. Jika anda membaca beberapa artikel lain dalam Blog ini mengenai penyebaran katholik di Lembata-Lamalera, maka anda akan menemukan catatan pembunuhan itu.


Baca Juga: Di Tanah Lembata, Mereka Sering Melihat Kejadian Alam Yang Dasyat


Kemudian pada saat Pua Noteh menjadi raja pada tahun 1886, saat itu lebih banyak aktifitas oleh Kompeni Belanda di Ende. Belanda memainkan peranan perdagangan di daerah itu setelah pendudukan Portugis, namun ceritanya berbanding terbalik dengan Kesultanan Menanga di Solor yang pimpin Oleh Kaicili Pertawi. 

Mengapa? Karena Kaicili Pertawi menjalin kerja sama dengan Belanda (V0C) untuk mengusir Portugis. Namun di Ende sendiri, kehadiran Belanda kemudian ditentang oleh kepala-kepala suku di Ende yang harus tunduk pada Belanda. Oleh karena itu meskipun Raja Pua Noteh diakui sebagai Raja Ende pada saat itu, dia tidak dengan mentah-mentah menjalin kerja sama dengan dengan Belanda. Hal ini dapat kita ketahui pada  tahun 1887 sampai 1891 Bharanuri melakukan pemberontakan kepada belanda, lalu Mari Longa juga melakukan pemberontakan dua tahun kemudian setelah Bharanuri.


Bola panas pemberontakan ini sengaja dimainkan oleh Belanda dengan sangat apik. Belanda menuduh Pua Noteh membiarkan pemberontakan oleh kedua kepala suku ini terhadap kepentingan Belanda dan mengatakan kalau dengan pemberontakan ini saja dapat dijadikan alasan untuk menangkap kedua kepala suku itu. Namun, Raja Ende ini tidak melakukan penangkapan. 


Dari pernyataan Belanda ini, membuat posisi Pua Noteh menjadi tersudutkan. Sebab rakyat menganggap Pua Noteh membela pihak Belanda. Dari sinilah kepercayaan rakyat mulai menurun akan kepemimpinan Pua Noteh. Akibatnya Pua Noteh diturunkan dari jabatanya sebagai raja dalam sidang para kepala suku, dan kemudian kerajaan dalam kendali Nou Tombu selama tiga bulan.


Dari sini kita dapat mengetahui catatan lanjutan bahwa pada tahun 1909, Pua Noteh kemudian dibuang ke Pulau Alor kemudian berpindah ke Kupang sebagai tahanan politik.


Pua Noteh pun meninggal pada tahun 1918, sembilan tahun kemudian dalam pembuangannya dan di kuburkan di Kupang tepatnya di Batu Kadera. Pua Noten ini mempunyai 3 orang anak  yakni Abu Bakar, Abdurahman, dan Abdul Madjid. Namun mereka masih kanak-kanak saat ayah mereka diturunkan, maka kepemimpinan di gantikan oleh saudara ayah mereka yakni Pua Menoh setelah tiga bulan kepemimpinan Nou Tombu. 

Sekian singkat mengenai Kerajaan Ende masa Raja Pua Noteh.