Di Tanah Lembata, Mereka Sering Melihat Kejadian Alam Yang Dasyat

Kejadian Alam di Lembata Bukan Hal Baru Sebelumnya Misionaris Dominikan Pernah Menyaksikannya
Pantai Lamalera 1986

Sejarah Katholik Lembata (Para Martir)

Edittor: Silverius

Berbagai literatur tentang karya Misi oleh para biarawan biarawati di wilayah Flores selalu menuliskan tentang misi di tanah Solor, misi di tanah Timor, misi di tanah Flores, dan misi di tanah Solor dan Timor. Sedangkan untuk misi Lembata atau Lomblen itu tidak ada. Namun untuk wilayah Lomblen sendiri dalam karya misi masih menggunakan nama Kepulauan Solor atau Solor Archipel. Menurut catatan Pater Alex pulau-pulau Solor atau de Solor eilanden yakni pulau Solor, Adonara dan Lomblen. 

Dahulu di Lembata, secara pemerintahan memiliki seorang pembantu Bupati Flores Timur untuk Lembata yang berkedudukan di Ibu Kota Kabupaten sekarang yaitu Lewoleba. Namun untuk saat ini secara administratif, pulau Lembata telah mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Pembentukan Lembata sebagai kabupaten definitif, berdasarkan Undan Undang RI Nomor 52 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata. Tepatnya, Lembata menjadi sebuah Kabupaten pada tanggal 12 Oktober 1999.

Karya misi di Nusa Tenggara Timur, khususnya "misi Solor" di Kepualauan Solor atau Solor Archipel dimulai sejak zaman Portugis yang menyebut karya pater-pater Dominikan. Pater Dominikan ini mendirikan misi pertama kali sekitar pertengahan abad ke - 16 di pulau Solor. 

Jadi, menurut catatan sejarah pulau Solor yang pertama kali menerima agama Katholik ketika Portugis datang pada tahun 1556 di Kampung Lohayong, kira-kira terletak di pantai utara pulau Solor.

Lohayong merupakan tempat strategis untuk penambatan kapal dagang kayu cendana yang mengangkut dagangan antara Timor dan Tiongkok. Sehingga 5 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1561, Pater Antonio da Cruz, Pater Simao das Chagas, dan Bruder Alexio menetap di Solor. Peristiwa lainnya dapat kita ketahui adalah pada tahun 1566, dimana ada pembangunan benteng di Lohayong kemudian pada tahun 1613 jatuh ke tangan Kompeni Belanda.

Namun karya besar misi oleh para biarawan, sebelum kita bercerita mengenai karya misi kepulauan Solor itu dapat kita ketahui melalui karya Pater Antonio Taveira OP yang mempermandikan 5000 orang di Timor pada tahun 1556.  Namun karena dokumen-dokumen gereja itu telah tiada, maka tidak jelaslah kelanjutan dari permandian yang dilakukan oleh Pater Antonio tersebut.

Dalam catatan lain, tidak juga disebutkan dengan jelas hanya di sebutkan salah satu pulau di dekat pulau Solor, namun diduga kuat bahwa itu adalah pulau Flores, telah dipermandikan 200 orang oleh seorang saudagar.

Terlepas dari pulau Flores dan Timor, ada juga Pulau lainnya yaitu Rote dan Sabu yang merupakan karya misi seorang imam Yesuit. Namun imam ini harus angkat kaki karena kedatangan misionaris Dominikan.

Sampai disini Pulau Lembata tidak pernah disebutkan dalam dokumen apapun, sehingga apa yang terjadi sepanjang tahun yang panjang itu kita tidak tau.

Pater Alex dalam bukunya seratus tahun gereja katholik Lembata menjelaskan bahwa tidaklah mungkin para misionaris melewatkan Lembata begitu saja. Ketika melihat cara misionaris bekerja yang melintasi Pulau Lembata ketika hendak ke Rote, Sabu, Flores, Adonara, Solor, dan Timor.

Pater Luiz d'Andrada penah mengirim 7 misionaris pada tahun 1627 untuk sabu dan Lamalera, akan tetapi sekali lagi tidak ada dokumen mengenai hal ini, tentang apa yang mereka kerjakan.

Pater Bernadus Bode SVD (1920)
Pater Bernadus Bode SVD (1920)

Pater Bernadus Bode SVD (1920), yang kemudian menjadi pastor pertama di Pulau Lembata pernah menuliskan bahwa; pater Dominikan tidak pernah menjalankan misi di Pulau Lembata karen takut akan cerita kanibalisme. Selain itu lebih jauh pater Bernadus Bode SVD menjelaskan bahwa "di tanah Lembata, mereka sering melihat kejadian alam yang dasyat ditepi pulau Lembata juga letusan gunung berapi." Mereka sering melihat lukisan letusan gunung berapi di antara Solor dan Adonara ketika Laksamana Schouten dengan armadanya berlayar diantara pulau-pulai di Lembata pernah di lukiskan dalam bentuk lukisan.

Karya misi di Lembata telah di Materai dengan darah para martir yang menerima penyiksaan dan pembunuhan kemartiran demi tegaknya iman akan Yesus Kristus.

Ada salah satu dokumen yakni dokumen Acta Martyrum dari Misi Solor  dari tahun 1629 yang tersimpan di arsip Kongregasi Propaganda Fide di Roma yang menyebutkan nama Lamalera dan Lomblem. Dokumen itu oleh Pater Kleintjes SY diterjemahkanlah dokumen itu dalam bahasa Belanda, dan kini dapat dibaca dalam karangan Pater Yosep Ettel SVD. Karangan itu diberi judul "Blutzeugen aus der Solor-Mission von 1552-1621". Isi karangan tersebut sama halnya dengan catatan Dr. R.H. Barnes yang berjudul "A wahling village in eastern Indonesia" hanya terdapat perbedaan yakni dalam Acta Martyrium disebut dua Imam.

--->  Menurut buku Pater Alex SVD, ada  martir yang bernama Pater Agustinho da Magdalena OP. Dia berasal dari Savoye.  Pater Agustinho da Magdalena OP sangat dibenci oleh orang-orang Katholik yang telah murtad menjadi Islam di daerah sekitar Solor. Sehingga dalam pelayanan Pater Agustinho da Magdalena OP,  telah diincar oleh mereka yang murtad itu. 

Diceritakan bahwa pada suatu waktu Pater Agustinho da Magdalena OP bepergian ke suatu daerah yang mana ia harus menyebrangi selat. Sehingga Pater Agustinho da Magdalena OP menaiki sebuah perahu kecil. 

Akan tetapi orang-orang murtad itu terus mengintai Pater Agustinho da Magdalena OP kemudian mengejar dan menangkap dan membawahnya kedaratan tempat mereka menambatkan perahu. 

Mereka menggunakan tali, mengikat Pater Agustinho da Magdalena OP di tanah setelah itu mereka menarik sebuah perahu diatas tubuhnya berulang-ulang kali sampai tubuh Pater Agustinho da Magdalena OP terkoyak.

--->  Dari sumber yang sama, adapun martir lain yakni seorang Pater kelahiran Malaka bernama Pater Joao Baotista da Fortolezza OP yang menjadi pastor di Paga dan Pater Simao da Madre de Deos dari Cochin, yang merupakan pastor di Sikka.

Menurut Acta Martyrum, Pater Joao Baotista da Fortolezza OP dan Pater Simao da Madre de Deos dari Cochin melakukan perjalanke Pulau Ende dengan menggunakan kora-kora bersama beberapa pembantu untuk memberikan pertolongan kepada konfrater mereka Pater Gaspar de Espiritu Santo. 

Namun ketika itu cuaca buruk menghantam perjalanan mereka dan memaksa mereka menepi sehingga terdampar di suatu pulau. Dalam catatan Acta ini menuliskan bahwa "penduduk pulau itu bersikap ramah terhadap kami dan bersedia menerima iman katholik". 

Nama pulau itu adalah Lomblen dan tempat terdampar itu adalah Lamalera. Ketika mendengar bahwa kedua pater ini ada di Lamalera, maka dengan segera orang yang murtad di Lamakera dan ikut juga orang-orang Kafir membawa dengan segalah kekuatan bala tentaranya dengan perahu-perahu mereka ke Lamalera. Sampai di Lamalera, mereka menuntut orang Lamalera menyerahkan kedua Pater itu dengan memberikan janji-janji. 

Namun, orang Lamalera tidak mau menyerahkan kedua pater itu. Ketika orang Lamakera mendengar bahwa raja Lamalera sedang berlayar bebepergian dengan tiga buah perahu untuk berbelanja, mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu untuk menyerang kemudian menangkap Raja Lamalera. 

Dalam kejadian itu setidaknya mereka menyandra 90 orang.  Seluruh penduduk Lamalera datang berkumpul untuk menyaksikan orang-orang yang disandra itu. 

Ketika melihat kesedihan oleh ibu-ibu dan anak-anak karena suami mereka disandra, maka mereka pun memutuskan untuk menyerahkan kedua Imam itu. Lalu dengan berlinang air mata kedua pater itu berdoa dan mendengarkan pengakuan masing-masing. 

Keduanya saling menguatkan dan meneguhkan hati akan karya Tuhan yang Maha Kuasa. Keduanya turun dari tempat penginapan dan duduk diatas dua buah batu di tengah lapangan desa. 

Datanglah orang Murtad itu lalu mengikat tangan mereka di punggung. Setelah waktu malam, mereka mengantar kedua pater itu ke pantai. Sekali lagi, mereka saling menghibur satu dengan yang lain, menyerahkan diri kepada Kristus Yesus, kepada Santa Perawan Maria. 

Senin 18 Januari, penduduk Lamalera menyerahkan kedua imam itu dengan menggantikannya dengan sandera itu. 

Setelah mendapatkan kedua imam itu, mereka melucuti pakaian kedua imam itu dan membuka tali pengikat mereka. Setelah itu kedua pater itu diberikan kedua dayung dan mereka bertolak ke Lamakera. 

Setelah dua hari di Lamakera, mereka membawa kedunya ke pantai Lamakera, dan memukul kedalam kepala kedua pater itu dengan paku serta memotong tangan dan kepala mereka. 

Tubuh kedua imam itu dipotong-potong dan kemudian diarak keliling kampung mereka dan kampung tetangga sambil bersorak dan mengadakan musik.  Dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia (Kawali Jakarta, Ende-Flores 1974, jilid I hal. 386), cerita mengenai kedua pater ini sama. 

Namun di ceritakan, bahwa kedua imam ini hendak ke Larantuka untuk menghadap kepada pembesar mereka, namun karena topan maka mereka terdampar di Lamalera. 

Ada juga literatur lain mengatakan bahwa peristiwa pembunuhan itu disaksikan oleh dua orang, masing-masing bernama Thomas Dayman, pengawal benteng Solor dan Yan d'Ornay. Thomas Dayman pada akhirnya menjadi katholik karena mengikuti Portugis, sedangkan d'Ornay karena jasanya maka keturunannya menduduki peran penting dalam sejarah Larantuka.

Siapakah martir-martir lainnya?

Dalam karangan Pater Yos Ettel SVD memberikan keterangan bahwa pada tahun 1552 sampai 1621 ada banyak misionaris ordo santo Dominikus yang dibunuh di Solor. Berikut daftarnya dikutip dari catatannya:

  1. Tahun 1565 P. Antonio Pestana dibunuh oleh prampok-perampok Jawa di Pelabuhan Solor - Lamakera
  2. Tahun 1581, P. Simao das Montanhas dibunuh oleh orang-orang Islam di Adonara-Lamahala
  3. Tahun 1598 P. Francisco Calassa, kala bertugas di Lewonama-Larantuka dibunuh oleh orang-orang di parokinya
  4. Tahun 1598 P. Joao Travasso dibunuh di Palue oleh para pemberontak yang dipimpin oleh Don Djogo
  5. Tahun 1598 Br. Melkhior, Penjaga pintu biara dalam benteng Solor
  6. Tahun 1601 P. Alvara, Ketika sedang melakukan pelayaran dari Paga ke Jopu, ia diserang oleh perampok-perampok (Ende) dan di buang ke laut. Ada juga yang mengatakan bahwa pater dibunuh oleh orang kristiani yang murtad di Paga.
  7. Tahu 1618 sampai 1621 P. Augustinho da Magdalena, pastor di Mulivato-Larantuka. P. Joao Baotista, pastor di Paga, P. Simao da Madre de Deos Pastor di Sikka; ketiganya dibunuh di Lamakera.
  8. Tahun 1601/1602 P. Jeronimo Mascarenhas, Pastor di Lena, di Pantai selatan Flores Tengah, dibunuh oleh pengawal panglima ekspedisi sultan Makasar. 
Juga di kabarkan bahwa pada tahun 1598 ada dua orang anak yang berumur 14 dan 15 tahun di Solor, dibunuh karen tidak mau murtad. Dan pada tahun 1614 di pulau ende ada tiga orang laki-laki dibunuh. 

Sekian kisah singkat perjalanan misionaris di Lembata.

NB: Pustaka: 

Pater Alex Beding SVD. 1986. Seratus Tahun Gereja Katolik Lembata. Larantuka.

Pater Hoeberechts SY dan Pater Bern. Bode SVD. Catatan Buku Harian Lamalera.

Pengendalian Nezera Viridula (L.) var. smaragdina (F.)

Nezera Viridula (L.) var. Smaragdina (F.)

Edittor: Negeri Paus


Serangga Nezera Viridula dalam bahasa daerah Ile Ape disebut Merhung merupakan kutu busuk hijau, kepik daun, atau lebing. Serangga ini hidup dengan baik pada tanaman inang. Tanaman inang yang merupakan tempat hidup kesukaan Nezera Viridula adalah kacang tanah, cabe, tebu, buncis, jagung, kapas, tomat, kentang, rami, dan padi.

Nympha dan deasa serangga ini menghisap daun dengan mulutnya sehingga dapat membuat pertumbuhan tanaman terhambat. Bagian daun yang dihisap adalah klorofil daun. Ini dapat menghambat proses fotosintesis pada tanaman. Nezera Viridula secara umum dapat mengeluarkan racun liur. Racun liur Nezera Viridula dapat menyebabkan tanaman mudah layu dan kemudian akan mati.

Gambar: Nezera Viridula (L.) var. smaragdina (F.)
Gambar: Nezera Viridula (L.) var. smaragdina (F.)


Siklus Hidup Nezera Viridula

Nympha : Biasanya nympha ada yang berwarna hijau, dengan mata hitam dan memiliki antena yang berwarna hijau pucat atau coklat. Rata-rata panjang nympha sebesar 9,009 milimeter dan mempunyai lebar 6,86 mm. Mengalami lima kali instar, sedangkan untuk lama nympha sendiri 15 sampai 29 hari khusus untuk jantan, dan untuk betina 15 sampai 30 hari.

Telur: Telur Nezera Viridula berbentuk silinder, bulat pada bagian posteriornya, warna kream dan kemudian berwarna kuning kemerahan setelah 2 sampai 3 hari. Rata-rata panjangnya 1,062 milimeter, berdiameter 0,767 milimeter. Kebiasaan serangga ini meletakan telur secara berkelompok dengan jumlah telur rata-rata perkumpul 10 sampai 90 butir. Sedangkan untuk masa inkubasi betina selama 4 sampai 6 hari dan 4 sampai 5 hari untuk jantan.

Dewasa: Berbentuk oval memanjang dan berwarna hijau cerah dengan kaki melebar keluar. Pada bagian basal kepala dijumpai dua titik. Sedangkan rata-rata yang betina berukuran panjang mencapai 1,46 sentimeter dan lebar 0,732 sentimeter. Mampu bertelur 300 sampai 1100 butir. Dewasa jantan berukuran lebih kecil, panjang berkisar 1,21 sentimeter dan lebar 0,635 sentimeter. Total perkembangan dari telur sampai dewasa 23 sampai 24 hari dan  untuk betina selama 15 sampai 33 hari.

Pengendalian dengan Musuh Alami

Pengendalian hama Nezera Viridula  adalah dengan:

Hymenoptera
1. Ooencytrus malayensis pada stadia Telur
2. Telenomus sp. pada stadia Telur

Berikut gambar Hymenoptera
Hymenoptera, pengendalian Hymenoptera
Hymenoptera

Pengendalian Secara Kimia

Pengendalian Nezera Viridula adalah dengan formulasi pestisida Larvin 75 WP;Nuvacorn 20 SCW; Lebaycid 550 EC; Surecide 25 EC dan lainnya.

Referensi:
Sudarmo, S. 1987. Pengendalian Hama Penyakit. Kanisius. Yogyakarta

Suatu Seni yang Terpinggirkan: Hewa Kian

Seni Merajut Daun Lontar

Edittor: Silverius


Salah satu kebiasaan dalam kehidupan sosial masyarakat adat Nobolekan atau saat ini secara administratif pemerintahan dikenal dengan Desa Bungamuda adalah Hewa Kian. Kebiasaa ini sudah ada  dan melegenda sejak zaman nenek moyang orang Nobolekan. Akan Tetapi pada kesempatan ini, penulis mengganti  nama Desa Bungamuda agar mudah untuk diingat. 

Ditengah Kemajuan teknologi seperti saat ini, ketika orang berbicara mengenai Hewa Kian, kegiatan ini bukan sesuatu yang baru bagi kita yang sudah mengetahuinya. Juga Hewa Kian tidak punya daya tarik kuat dan bisa di sertakan dalam festival seni seperti kegiatan yang lainnya untuk diketahui oleh orang luar. Hanya saja penulis merasa sangat perlu untuk menulis ini karena beberapa alasan pendukung yaitu; pertama, Hewa Kian sebagai suatu seni dalam menata dan merajut serta menganyam daun lontar yang sudah hampir dilupakan oleh generasi muda. kedua, sebagai bahan referensi jika ada yang membutuhkan pengkajian ilmiah, ketiga, agar supaya suatu seni ini terdokumentasi rapih dan dapat dibaca oleh semua orang.

*********

Kegiatan seni ini dimulai dari dua kata dalam bahasa Lamaholot yaitu Hewa Kian. Hewa artinya merajut/menjahit, Kian artinya daun lontar kering. Penulis mencoba menjelaskan sedikit mengenai Hewa Kian itu sendiri. Hewa Kian dalam bahasa Lamaholot dialek Ile Ape merupakan suatu kegiatan menyusun dan menjahit satu per satu helai daun lontar yang telah dipisahkan helai per helai pada sebilah bambu yang telah diraut hingga membentuk suatu kesatuan yang panjang.

Kegiatan Hewa Kian yang unik ini penulis angkat lantaran alat yang digunakan untuk melakukan kegiatan Hewa Kian ini tanpa bantuan alat-alat moderen. Namun pada persiapan alat dan bahan dibutuhkan alat moderen ini. Namun, pada umumnya mereka hanya menggunakan alat yang dibuat sendiri dari bahan-bahan alami. Alat dan bahan yang digunakan tersebut adalah dapat di uraikan sebagai berikut:

Hewa Kian dalam Kebiasan Masyarakat Bungamuda
Hewa Kian dalam Kebiasan Masyarakat Bungamuda


Alat yang digunakan dalam proses Hewa Kian adalah:

Penasing

Penasing merupakan alat yang terbuat dari bilah bambu yang diraut sedemikian rupa hingga menghasilkan kedua bagian yang runcing dan tajam. Fungsinya memudahkan dalam menusuk daun lontar kering yang agak keras itu sampai berlubang sehingga nuk bisa masuk. Ketika proses menjahit helaian perlu diperhatikan kerapian agar tidak mudah terlepas. Bagian penting dari penasing ini adalah lubang pada bagian tengah yang berfungsi seperti lubang jarum tempat memasukan benang. Namun benang yang digunkan untuk kegiatan hewa kian ini adalah helaian lontar.

Bahan Yang Digunakan dalam proses Hewa Kian adalah:

Nuk

Nuk ini merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam proses Hewa Kian yang berfungsi sebagai benang yaitu merajut helaian Kian atau daun lontar ini agar menjadi satu kesatuan yang panjang. Nuk ini dimasukan ke dalam lubang penasing tetapi tidak seluruhnya, namun hanya sebagian sedikit saja. Proses pembuatan Nuk sendiri berbeda dengan Kian. Untuk membuat Nuk, seseorang harus memanjat pohon lontar untuk mengambil pucuk lontar. Nuk diambil dari daun lontar yang terdapat pada bagian pucuk lontar namun perlu dipilih yang agak hijau dan bukan berwarna putih. Warna Putih juga sangat direkomendasikan, namun mempertimbangkan fungsi lain dari bagian daun itu adalah ragheng yaitu bagian daun lain yang digunakan sebagai tali pengikat.
Kemudian Nuk di rajut dengan teknik tertentu dengan mengukur lebar lubang penasing. 

Kian

Kian adalah helaian daun lontar tua atau agak muda yang sudah mengering. Biasanya daun-daun itu sudah terpisah artinya telah jatuh terpisah dari pohon tuak itu sendiri. Dimana diambil dan di robek agar terpisah satu persatu lalu di lipat dan dibiarkan satu hari agar bisa terlipat.

Meda

Meda merupakan helaian bambu yang di raut dengan panjang berfariasi. Ukuran lebar meda antara 1,5 samapi 2,5 cm dengan panjang anata 2 meter, namun ada juga menggunakan meda sampai 3 meter tergantung kebutuhan.

Hewa Kian dalam Kebiasan Masyarakat Bungamuda
Setelah Proses Rajutan Selesai: Menjadi Kian



Fungsi Kian

Kian berfungsi sebagai pengganti seng atau genteng dalam pembuatan atap rumah-rumah serta pondok-pondok untuk saat ini. Selain itu ada juga kebiasaan dalam pemugaran kembali rumah adat, kian digunakan untuk atap rumah adat yang diwajibkan saat ini.

Sekian gambaran mengenai Hewa Kian, Suatu Seni yang hampir dilupakan.


Mitologi Awalolong: Kisah Anjing dan Tenggelamnya Awalolong

Kisah Anjing yang Bisa Berbicara

Edittor: Silverius



Pembaca yang budiman!
Masih segar dalam ingatan ketika awal saya masuk Sekolah Dasar Katholik tahun 1999, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi belum terlihat seperti sekarang ini. Demikian sumber penerangan saat itu adalah pelita dari kaleng susu Indomilk yang lubangi bagian atasnya lalu dipasang pipa. Pada Lubang Pipa itu dimasukan benang kapas hasil pintalan ibu-ibu desa dan diisi minyak tanah dalam kaleng tersebut. Saat itu orang tua saya (terutama ibu) hampir setiap malam dalam sunyi nyanyian jangkrik, selalu saja menyisihkan waktu luang untuk Tutu Nuan (Artinya dalam Bahasa Indonesia: mendongeng).

Sejarah Tenggelamnya Awalolong; Foto: Istimewa
Sejarah Tenggelamnya Awalolong; Foto: Istimewa

Tentang dongeng-dongeng itu, salah satunya adalah mitologi pulau Awalolong. Salah satu pulau yang tenggelam di Pulau Lembata yang katanya akan dibangun hotel apung. Segalah pra sarana telah disiapkan namun apalah daya, duit memang menggiurkan dan bisa membius setiap nurani hingga tidak terlaksana sampai saat ini. Begitu juga di ikuti dengan protes keras oleh masyarakat. Namun, lupakan saja polemik itu dan mari kita mendongeng tentang Awalolong.

Saat ini teknologi informasi berkembang sangat pesat dan pengalaman mendongeng bagi anak-anak saat ini mulai jarang ditemukan. Anak-anak yang masih berusia dini telah dikenalkan dengan teknologi canggih yang dapat digunakan untuk mengakses berbagai hal di seluruh dunia dengan sangat mudah. Hal ini menyebabkan kegiatan mendongeng dongeng tidak lagi menarik bagi anak-anak. Hal ini didukung dengan kesibukan orang tua yang meningkat di tengah pandemi dan belajar online sehingga kesempatan untuk berkumpul dengan anak-anak mulai berkurang. Semua ini tidak disadari telah mengubah perilaku anak-anak di dalam kesehariannya dan kedepan nya dalam kehidupan sosial.

************************************


Kisah Awalolong itu dimulai dari sini --->

Alkisah pada jaman dulu di sebuah wilayah di Pulau Awalolong hiduplah sekelompok manusia dengan sangat harmoni. Para penduduk dalam keseharian aktivitasnya hanya bertani dan berkebun serta ada juga sebagai nelayan. Walaupun demikian para penduduk pulau Awalolong tidak pernah kekurangan. Mereka saling bergantung satu dengan yang lain. Juga di pulau itu hiduplah seorang perempuan tua, tidak menikah dan tinggal seorang diri di gubuk tua. Gubuk itu atau dalam bahasa daerah Ile Ape (Oring). Jadi oring ini sebagai tempat tinggal yang nyaman bersama seekor anjing peliharaan nya.

Singkat cerita, sudah menjadi tradisi di pulau itu dimana selalu diadakan syukuran ketika musim panen baru. Syukuran itu lazimnya dilakukan dengan melakukan tarian tandak atau sole oha dan hamang.  Dan tibalah saatnya mereka untuk berpesta atas hasil panen yang melimpah. Di tengah pesta sole oha dan hamang itu, nenek tua ini pulang ke Oring dan mendapatkan anjingnya yang sedang tidur dekat di tungku api. Maka dengan keras nenek itu berkata kepada anjingnya itu, katanya "(dalam dialek Ile Ape:"Ata perae di mura ramhena ro puken aku ti mo turu tepi, pana rae nai ti mang sole mong ata wekae perae pe)" dalam Bahasa Indonesia ("orang ada berpesta dan bersenang-sengang di sana terus kenapa engkau tidur saja disini, bangun dari sini dan pergilah ke sana untuk berpesta bersama mereka").

Akhirnya anjingnya pun bangun dan mengambil kain dengan mulutnya lalu memakainya di atas kepala. Kemudian anjing itu berlari ke tengah-tengah lingkaran orang-orang yang sedang berpesta itu dan mulai menyanyi. Syair yang dinyanyikan oleh anjing itu adalah; dalam dialek Ile Ape ("mope rae pe hauko, mo pe lau pe di daiko. Mo pe teti lodoko, mo pelali gereko") dalam bahasa Indonesia "Engkau di sana yang di depan saya datanglah, yang di belakang saya kemarilah. Di atas turunlah, dan dibawah naiklah".


Maka saat itu juga terjadilah gempa bumi yang dasyat, dan turunlah hujan serta semakin tinggi permukaan air laut dan menenggelamkan pulau Awalolong. Nenek tua pemilik anjing itu berubah menjadi teripang dan mendiami dasar laut Awalolong.

Pulau Awalolong Yang Tenggelam
Pulau Siput ini Merupakan Pulau Awalolong Yang Tenggelam

Berdasarkan penuturan sejarah lisan, ada beberapa orang yang selamat dan berhasil membentuk suku-suku besar di Lembata dan sekitarnya. Suku-suku itu adalah Paokuma di Kampung adat Napaulun,  Kampung Tuak Wutun, Kampung Ile Ape, Kampung Tokojaeng dan beberapa kampung sekitaran Kec. Ile Ape Timur, juga sebagian suku Paokuma yang ada di Omesuri dan Buyasuri atau Kedang. Selain itu ada sebagian yang berlari ke Bungalawan dengan nama sukunya adalah Lewokuma atau Kuma. Dilihat dari tampilan rumah adatnya ada kesamaan yaitu rumah adat dengan lima tombak bagian atapnya menandakan posisi kekuasaan dalam struktur adat selain itu dari nama orang-orang itu ada kesamaan seperti Kuma, Baman, Boli, dan sebagainya. Tentunya ini berdasarkan pengetahuan penulis saja. Akan tetapi jika terdapat kekeliruan terhadap klaim asal usul suku Lewokuma ini maka mohon untuk di koreksi. 

Sekian kisah mitologi Awalolong ini untuk kita ketahui. Selamat Membaca!

Biochar Sebagai Media Perbaikan Tanah

Biochar Arang Sekam


Biochar atau arang merupakan pembenah tanah alami berbahan baku hasil pembakaran tidak sempurna (pirolisis) dari residu atau limbah pertanian yang sulit didekomposisi, seperti kayu-kayuan, kakao, dan lain-lain. Pembakaran tidak sempurna dilakukan dengan menggunakan alat pembakaran atau pirolisator suhu sekitar 2500C - 3500C, selama 2-3,5 jam, sehingga diperoleh arang yang mengandung karbon tinggi dan dapat diaplikasikan sebagai pembenah tanah.

Biochar Sebagai Media Perbaikan Tanah
Sumber: Wikipedia


Pemilihan bahan baku pembenah tanah dari bahan yang sulit didekomposisi agar bisa bertahan lama di dalam tanah. Di Indonesia potensi penggunaan biochar cukup besar, mengingat bahan baku seperti residu kayu, tempurung kelapa, dan sekam padi cukup tersedia, pada setiap proses penggilingan gabah akan menghasilkan 16,3 - 28% sekam. Sumber bahan baku biochar terbaik adalah limbah organik khususnya limbah pertanian.

Pembuatan biochar melalui pembuatan tidak sempurna (pirolisis):

Pembuatan arang / biochar dapat dilakukan dengan menggunakan dua model pirolisator sederhana yaitu:

  1. berbentuk vertikal, terbuat dari drum yang diberi lubang - lubang untuk mengatur panas dan pembakaran, dilengkapi dengan pengontrol suhu (termometer) dan tekanan udara. Alat ini lebih mudah dan mudah dibuat namun dengan kapasitas yang sangat terbatas, dan
  2. berbentuk horizontal, alat ini lebih mudah digunakan, kapasitas lebih besar, namun untuk pembuatannya membutuhkan biaya lebih besar.
Proses pembuatan biochar / arang dimulai dengan memasukkan limbah pertanian (sekam padi, kulit buah kakao dll) ke dalam pirolisator yang terlebih dahulu dipasang rongga-rongga yang dimasukkan kayu bakar atau bahan lainnya, lalu dibakar untuk membara.

Rongga-rongga yang dibuat agar proses konstruksi dapat diselesaikan. Suhu dikontrol melalui termometer yang dipasang dibagian ujung dan tengah alat. Kapan suhu telah mencapai lebih dari 2000C, pirolisator ditutup. Jika secepatnya mulai keluar dari cerobong, artinya perlu sudah berjalan dengan baik. Setelah 2-3,5 jam dan sudah tidak perlu lagi mengeluarkan segera, arang dikeluarkan dan langsung disemprot agar udara tidak menjadi abu atau tidak dilakukan pembakaran sempurna. Selanjutnya arang dijemur, digiling, dan siap untuk diaplikasikan ke lahan pertanian.

Manfaat penggunaan biochar di lahan kering antara lain:

  1. Meningkatkan pH tanah dan KTK tanah
  2. Meningkatkan kemampuan tanah merentensi udara dan hara
  3. Meningkatkan kandungan C-total tanah (karbonsink)
Dibandingkan dengan bahan pembenah tanah yang lain, biochar memiliki keunggulan-keunggulan antara lain:

  1. Dapat mengurangi laju emisi CO2
  2. Bentuknya yang stabil (sulit di dekomposisi) di dalam tanah, biochar mampu bertahan di dalam tanah untuk waktu yang lama (> 400 tahun) dan bekerja sebagai konservasi karbon.
  3. Dapat membentuk habitat yang baik untuk mikroorganisme.
Cara Penggunaan biochar:
  1. Penggunaan di lapangan: dapat diberikan dengan cara disebar secara lengkap atau pada larikan (jalur tanaman). Bila diberikan dengan cara disebar, maka biochar dibenamkan bersamaan dengan persiapan tanah terakhir. Bila diberikan pada larikan / jalur tanaman, biochar ditutup dengan tanah sebelum dilakukan penanaman.
  2. Dosis penggunaan per musim pada tanah 2,5 Ton/Ha
Sumber:Telegram; Tani Organik Terpadu

Mitologi Ile Ape: Menjelaskan Siapa Orang Ile Ape

Siapa Orang Ile Ape?

Edittor: Silverius


Sebagai orang Ile Ape, tentunya pertanyaan semacam ini sangat membutuhkan suatu jawaban. Bagaimana tidak, banyak cerita legenda dan kisah-kisah mitologi Ile Ape sudah banyak di lupakan oleh generasi milenial saat ini. Banyak kisah-kisah mitologi Ile Ape hanya tinggal cerita karna  perkembangan teknologi, maka sinetron TV, Vlog di Youtube, Facebook, Chat Whatsapp dan sebagainya telah menggantikan posisi dongeng sebelum tidur saat ini. 

Mitologi Ile Ape: Menjelaskan Siapa Orang Ile Ape
Ritual Tula Uran Apun di Puncak Gunung Ile Ape oleh Masyarakat Adat Napaulun: Foto diambil dari FB Bungamuda Capitall B

Saya mengajak kita sejenak melihat kembali zaman 20 tahun yang lalu dimana saat sebelum tidur orang tua selalu mendongeng cerita mitologi Ile Ape, dan kisah-kisah nenek moyang dalam berburu di hutan. Namun kini hal semacam ini tidak lagi dilakukan oleh orang-orang tua zaman sekarang. Memang ini semua karena perkembangan teknologi dan lunturnya budaya lokal kita. 

Anak-anak tidak pernah diajarkan dan di ceritakan kisah-kisah mitologi Ile Ape sehingga akhirnya tumbuh menjadi manusia yang miskin akan nilai budaya lokal Ile Ape. Pelajaran muatan lokal disekolah-sekolah hanya sebatas bercerita mengenai budaya yang ada diseluruh Indonesia dan tidak spesifik pada budaya lokal Ile Ape. Budaya lokal Ile Ape sendiri juga diajarkan hanya sebatas melakukan tari-tarian atau masak masakan lokal sebagai salah satu syarat dalam ujian mata pelajaran muatan lokal.

Maka disaat orang luar menceritakan mitologi yang hampir sama persis dengan mitologi Ile Ape, kita mulai mencari cela untuk mengklaim balik bahwa orang luar telah mengambil kisah mitologi Ile Ape. Fenomena semacam ini telah banyak saya jumpai di sudut-sudut warung kopi. Inilah yang saya sebut dengan "miskin budaya". Berbeda dengan tergerusnya budaya, kenapa? Karena saya melihat milenial Ile Ape sendiri memang tumbuh dengan budaya luar artinya tidak mengenal budaya Ile Ape. Oleh karena itu miskin budaya merupakan kalimat yang pas untuk mengatakan fenomena ini. Miskin budaya merupakan alarm yang secepatnya disadari agar seruan untuk mengenal budaya Ile Ape sendiri bisa memberikan efek kepada milenial Ile Ape untuk tumbuh menjadi manusia Ile Ape yang sesungguhnya. Sedangkan tergerusnya budaya dalam pengertian saya adalah milenial atau orang-orang Ile Ape sendiri yang sudah mengenal budaya namun karena perkembangan zaman, nilai itu kemudian luntur dan perlahan tidak membekas pada dirinya. Saya tidak mempunyai metodologi ilmiah untuk mengatakan ini, namun saya memberikan argumen ini berdasarkan apa yang saya amati dalam kehidupan sosial orang Ile Ape. 

Gambaran diatas mendorong saya untuk menulis Mitologi Ile Ape untuk bisa diketahui oleh orang-orang Ile Ape itu sendiri dan sasaran saya adalah kepada milenial Ile Ape yang belum tau mitologi orang Ile Ape. Mitologi ini saya gambarkan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya sebagai orang Ile Ape serta bersumber dari orang-orang disekitar kehidupan sosial saya yakni Nobolekan.

************

Kisah mitologi Ile Ape sendiri dimulai dari sini. 

Pada zaman dahulu saat langit dan bumi diciptakan, hiduplah seorang wanita di puncak gunung Ile Ape seorang diri. Wanita itu bernama "Peni Utan Lolon" , menurut penuturan bahwa tidak diketahui dari mana persis asalnya. Namun orang-orang mengatakan kalau ia memang ada bersamaan dengan diciptakannya alam ini. Wanita ini menjalani hidup kesehariannya dengan memakan binatang-binatang liar seperti Tokek, Cicak, Ular, Burung, dan sebagainya yang bisa ia dapatkan serta hasil hutan Ile Ape.

Baca Juga: Selamat Datang di Kampung Adat Tradisional Napaulun

Lalu pada suatu hari ada seorang laki-laki yang sedang melaut. Tepatnya di pantai Tuak Wutun, banyak yang beranggapan bahwa lelaki itu dari pulau Adonara tepatnya dari gunung Boleng, namun ada yang juga mengatakan bahwa tidak di ketahui asalnya. Dalam aktivitas melaut nya itu dia melihat asap api yang mengepul di puncak gunung Ile Ape. Lelaki itu bernama "Pehan Koli Wuan"  atau ada yang menyebutnya "Boli Basa Lekan" ada juga menyebut sebagai "Boli Bang Gala". Karena rasa penasaran akan kepulan asap api itu, dia kemudian mempersiapkan bekal perjalanannya dan berangkat ke puncak Ile Ape. 

Sepanjang perjalanan itu ia dipenuhi dengan rasa penasaran hingga sampai saatnya ia bertemu dengan "Peni Utan Lolon". Keduanya dipenuhi rasa kaget karena ia tidak menyangka bertemu dengan seorang yang satu berbadan penuh bulu dan yang satu tidak. Badan yang penuh bulu itu hanya terlihat mata, telapak kaki dan tangan, serta mulut. Rupa wanita ini seperti seekor orang utan. Karena rasa penasaran yang di miliki oleh "Boli Bang Gala", maka ia memutuskan untuk tinggal malam ini di puncak Ile Ape. Saat malam tiba, Peni Utan Lolon dan Boli Bang Gala saling bertukar makan. Boli Bang Gala menyajikan ikan dan segalah hasil laut yang sudah dimasaknya, sedangkan Peni Utan Lolon menyajikan makanan hasil hutan buruannya seperti Tokek, Cicak dan sebagainya itu. Setelah selesai makan, Peni Utan Lolon melihat Boli Bang Gala meminum minuman yang tidak lazim baginya yaitu tuak atau Aren atau Nira. 

Siapa Orang Ile Ape
Ritual Tula Uran Apun di Puncak Gunung Ile Ape oleh Masyarakat Adat Napaulun: Foto diambil dari FB Bungamuda Capitall B

Setelah itu Peni Utan Lolon meminumnya dan hasilnya ia mabuk dan tertidur tidak sadarkan diri. Kesempatan ini diambil oleh Boli Bang Gala. Ia mencukur habis bulu-bulunya dan kaget bukan kepalang kalau dihadapannya tadi adalah seorang wanita. Kemudian singkat cerita, mereka menikah dan lahirlah orang-orang suku asli dari Ile Ape seperti Ladopurab dan masih banyak lagi. 

Cerita pun berakhir disini.


Ladopurab Nobolekan mengklaim jika mereka berasal dari dalam gunung Ile Ape. Maka besar kemungkinan mereka merupakan salah satu turunan kedua manusia pertama ini. 

Selain itu banyak juga suku-suku dibeberapa kampung besar yaitu Lewohala, Lamagute, Tokojaeng, Lamawolo, Napaulun, Lewotolok. Selain itu, ada juga puluhan suku yang menurut ceritanya berasal dari Seram-Ambon menyebut sukunya Nihamaking. 

Suku Lagamaking dari Lewotolok merupakan salah satu keturunan asli Ladopurab Lewotolok yang juga berasal dari Metong. Selain itu masih banyak jejak sejarah yang harus di ungkap oleh orang-orang Ile Ape sendiri sebagai budaya yang mahal harganya. 

Demikian uraian singkat untuk menjawab Siapa Orang Ile Ape. Jika melihat sejarah mitologi Ile Ape ini, maka kita adalah bagian dari perjalanan Ile Ape oleh nenek moyang kita hingga saat ini. Dan saya mengajak mari melestarikan kisah-kisah mitologi Ile Ape agar tidak lapuk di makan zaman. *NP

Artikel Lain: Mitologi Awalolong: Kisah Anjing dan Tenggelamnya Awalolong

Jalan Cerita Film Panthom Of The Opera

Edittor: NegeriP

Drama misteri percintaan yang berlatar tahun 1864 layaknya sebuah kisah flashback tentang sesuatu yang misterius. Hal itu tampak dalam permulaan yang digambarkan dalam film (2004).

Di depan sebuah gedung tinggi nan megah namun terbengkalai, berhentilah sebuah kereta kuda. Pintu kereta dibuka, lalu menapaklah sebelah kaki terbungkus sepatu hitam mengkilat ke tanah. Kaki yang pasti milik seorang tua kaya yang sudah lemah. Tubuh lunglai pria tua itu didudukkan ke kursi roda, lalu sepasang pelayan berseragam mendorong kursi roda itu ke dalam gedung yang terbengkalai itu. 

Film The phantom of the opera
The phantom of the opera

Dalam nuansa hitam putih yang suram, satu-satunya tanda bahwa gedung itu masih berfungsi adalah spanduk besar yang menyatakan bahwa sebuah pelelangan tengah berlangsung di sana.

Di dalam gedung, si pria tua di kursi roda menangkap pandangan mata seorang wanita tua berbusana hitam lengkap dengan topi dan cadarnya, khas busana wanita di tahun 1919, tahun yang digambarkan saat pelelangan itu berlangsung. Keduanya pasti pernah saling mengenal, dan pelelangan itu nampaknya memiliki makna tersendiri bagi mereka. 

Kotak musik dengan boneka monyet yang bisa memainkan simbal nampaknya amat berkesan bagi sang pria--yang ternyata dipanggil Vicomte de Chagny, karena begitu memenangkan lelang, ia langsung memandangi kotak musik itu dengan seksama bak sebuah harta yang tak ternilai. Saat si pria hendak pergi, ternyata si kurator mengumumkan bahwa setelah ini mereka akan melelang lampu kristal yang dahulu pernah memancarkan cahayanya nan gemerlap ketika tergantung di tengah sebuah gedung Opera pada masa kejayaannya. Sebelum munculnya Phantom of the Opera...

Gedung yang terbengkalai itu memang dulunya Paris Opera House, dan dengan dibukanya tabir dan dinaikkannya lampu kristal diiringi musik yang dramatis, maka scene pun tiba-tiba berpindah dari kesuraman di tahun 1919 menuju ke gemerlapnya masa lampau--masa kejayaan Gedung Opera itu pada tahun 1870-an. Maka kisah The Phantom of The Opera yang sesungguhnya pun dimulai di titik ini. Sungguh sebuah pembukaan yang manis dalam film musikal adaptasi yang diambil dari kisah karya Gaston Leroux ini. Meski penonton yang belum membaca bukunya, pasti akan bertanya-tanya siapa sebenarnya pria tua dan wanita tua di adegan pembuka itu.

Selanjutnya, hal-hal aneh hadir mengiringi petualangan Chistine dan Roul yang ternyata telah saling mengenal sejak kecil. Mereka dikejar-kejar teror Hantu Opera yang tidak rela Chistine jatuh ke pelukan laki-laki lain. Kisah percintaan segitiga antara Christine dengan Viscount Raoul de Chagny dan Hantu Opera (Erik) menjadi fokus utama dalam kelanjutan ceritanya.

The Phantom Of The Opera benar-benar kisah yang menggugah. Kita akan dibawa dalam pesona opera dan kesenian tingkat tinggi, pada syair-syair anggun dari petikan drama yang digelar, dan pada eksotisme dan kemisteriusan gedung opera dengan lorong-lorong gelapnya. Kita juga akan diajak melihat bagaimana cinta dapat menyentuh, lalu mengubah sebuah kehidupan.

Bagaimana cinta mampu menjadi benci karena ketiadaannya, namun cinta juga mampu mengasihani dan rela berkorban saat ia terpenuhi. Yang paling membuat kisah ini menarik adalah karena kisah yang serupa dongeng ini benar-benar nyata! Paling tidak, Gaston Leroux telah melakukan pekerjaan yang patut diacungi jempol untuk menyingkapkan kebenaran sejarah sekaligus menyajikan sebuah hiburan yang indah, mengharukan dan menginspirasi...

Gading Gajah Dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Nobolekan

Belis Gading Gajah Dalam Tradisi Perkawinan Orang Nobolekan

Edittor: Silverius


Pengantar

Tradisi memberikan belis gading gajah dalam perkawinan orang Nobolekan merupakan warisan budaya nenek moyang mereka secara turun temurun. Warisan budaya ini masih lestari hingga saat ini. Namun bukan hanya orang Nobolekan yang ada di Lembata, namun ada beberapa wilayah dalam gugusan kepulauan Solor yakni Adonara, Solor, dan Larantuka menggunakan belis gading gajah dalam tradisi perkawinan. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang Nobolekan mempunyai kesamaan tradisi belis gading gajah dalam upacara perkawinan dengan beberapa wilayah gugusan kepualauan solor tersebut.

Bagaimana tidak, secara bahasa, orang Nobolekan juga menggunakan bahasa Lamaholot yaitu bahasa yang digunakan oleh Orang Adonara, Solor, dan Larantuka dalam berkomunikasi sehari-hari. Oleh karena itu orang-orang menyebut orang Nobolekan sebagai orang Lamaholot.

Tradisi belis gading gajah dalam perkawinan orang Nobolekan itu tidak terlepas dari rangkaian upacara yang panjang dan penuh makna. Upacara itu tentunya melibatkan banyak orang dengan tingkatan kedudukan dalam upacara perkawinan orang Nobolekan.

Selain upcara perkawinan dalam keseharian orang Nobolekan juga mempunyai keunikan yaitu ada banyak makna dalam kebiasaan menyadap nira oleh orang Nobolekan.

Upacara Pemberian Belis Gading Gajah dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Nobolekan
Upacara Pemberian Belis Gading Gajah dalam Tradisi Perkawinan Masyarakat Nobolekan

Secara garis besar pemberian belis gading gajah harus di ketahui oleh orang yang memberikan gading gajah sebagai belis itu kepada si penerima yang akan memberikan lagi kepada pihak perempuan. Oleh karena itu, gading gajah dalam tradisi perkawinan orang Nobolekan bukan hanya menyangkut pelunasan belis semata, tetapi harga diri seorang perempuan dan ujian kesungguhan seorang laki-laki Nobolekan.

Nilai Belis Gading Gajah dari Sisi Ekonomi

Saat ini tidak dapat kita ingkari bahwa suatu benda yang langkah dijadikan simbol tradisi oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun tidak mempunyai nilai jual secara ekonomis. Namun sebaliknya akan semakin mahal benda itu dalam kedudukannya sebagai simbol maskawin.

Saat ini, masyarakat Nobolekan secara aturan adat mempunyai patokan ukuran standar tertentu yang telah disepakati. Khususnya untuk masyarakat Ile Ape yang ada di Kabupaten Lembata pada dasarnya mempunyai standar ukuran belis gading gajah yang sama. 

Standar ukuran belis gading gajah itu dalam bahasa masyarakat Nobolekan disebut "Bala Wathe Telhon" kurang lebih jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti "Gading Ukuran Tiga Sarung". Gading ukuran tiga sarung ini jika diuangkan berkisar antara 120 rupiah sapai 150 juta rupiah. Namun, ada beberapa orang yang memberikan informasi bahwa apabila ukurannya lima sarung maka diuangkan bahkan lebih dari 150 juta rupiah dan bisa menyentuh kisaran 250 juta rupiah.

Namun, tujuan utamanya bukan untuk diperdagangkan namun hanya sebagai maskawin.

Makna Belis Gading Gajah

Sampai saat ini, orang Nobolekan masih menjalankan tradisi memberikan belis gading gajah kepada pihak perempuan karna merupakan bentuk penghargaan terhadap perempuan. Dalam bentuk penghargaan itu tersirat makna ungkapan "terima kasih" terhadap orang tua mempelai perempuan dimana mereka telah dengan susah payah melahirkan, mengasuh, dan membesarkannya.

Selain itu, seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa pemberian belis gading gajah oleh laki-laki Nobolekan juga merupakan cara untuk meyakinkan orang tua mempelai perempuan, bahwa mempelai laki-laki benar-benar serius untuk menjadikan anaknya sebagai istrinya. Kenapa bisa begitu? Karena  karena pengorbanan mempelai laki-laki dalam mendapatkan gading gajah itu tidak mudah.

Selain itu, karena sulitnya mendapatkan gading gajah maka, laki-laki yang menjadi mempelai suami mempelai perempuan itu, dengan meyakinkan orang tua mempelai perempuan bahwa perempuan tidak bisa dipermainkan sesuka hatinya. Namun harus menghormati selayaknya ia menghormati orang ibunya.

Kesimpulan

Saat ini masyarakat Nobolekan masih mempertahankan belis gading gajah dalam tradisi perkawinan. Selain itu, gading gajah sebagai belis merupakan simbol penghormatan bagi seorang perempuan dan menggambarkan keseriusan seorang laki-laki.


Semoga Bermanfaat.

Nira Extract and Its Meaning in the Habits of Nobolekan People

Nira Extract and Its Meaning in the Habits of Nobolekan People

Editor: Silverius 

Introduction

Nira or in the habits of the Nobolekan people commonly called "Tuak", apparently contains many meanings behind the way of extract. A million meanings are also implied in every media used in Nira's wireextract.

Here I will use the term "Tuak" as a familiar name for the Nobolekan indigenous people.
 
Bungamuda Village Natural Scenery
Bungamuda Village Natural Scenery

The Nobolekan indigenous people have had a hereditary habit of extract tuak.
No wonder about 20 years ago, we can still see some adult men extract sap into the middle of the forest under the slopes of Mount Ile Ape.

For example, in several forest locations which are known by the Nobolekan community as forest areas "Hapeng Kore", "Bejawa", "Leway", "Hukum Bala", and the closest forest areas are "Kukun Oenen" and "Hurungen" where this area is located. , we can still see some Tuak trees that were tapped by the ancestors of the Nobolekan people still standing tall and strong.

We can see the former place to put our feet on the trunk of a tuak tree when climbing in the Nobolekan language called "Tenangin" or bamboo twigs tied to a palm tree. In addition, there are still many forest areas that we can find where the sap-extract area is located.


Brief About Nobolekan


Nobolekan is one of the traditional villages that is still one with the Napasabok indigenous people. These two villages are administratively separated from the government, but still come from the main traditional village, namely Napaulun.
Over time, Nobolekan was government known as Bungamuda Village. Here I will use the name Nobolekan instead of the name Bungamuda Village.
Why is the name of this village so important? Because not only can it be called Bungamuda or Napaulun or also Nobolekan, but it has nicknames and deep meanings. The nicknames and meanings are found in all the villages in the administrative area of ​​​​Ile Ape and Ile Ape Timur sub-districts.

But I will not discuss them one by one.

Nobolekan which is currently known as Bungamuda Village has a nickname in the lamaholot malay, namely "Bunga Baran Tawa, Muda Nulan Gere", Napasabok Village is called "Lewo Ulun Napa Sabok, Tana Weran Doro Aran", Lewotolok Village is called "Lewo Tolok Lama diken, Tana Diken Tena Lema", or the traditional village of Bungamuda and Napaulun, Napaulun, also has the nickname "Lewo Ulun Lela Koli, Tana Weran Nara Wayong".

These villages are located within the administrative area of ​​Lembata Regency, East Nusa Tenggara Province, Indonesia.
 

Habits of Nobolekan People Extract Nira


In their daily life, some residents do have a livelihood as tappers for sap, in addition to farming, fishing, and laborers.
However, extract nira, the Nobolekans have a deep meaning. There are important parts of the extract process that are very interesting.

Alright, I'll try to describe one by one even though it's incomplete.

Image of Cuba in Nobolekan Lamaholot Language. Cuba that has been bugged by Niranya.
Image of Cuba in Nobolekan Lamaholot Language. Cuba that has been bugged by Niranya.

I used to be a nira tapper and some time ago I was still doing this activity after 10 years I was out for school. To make it easier I will discuss it part by part.


Part 1

The preparation of this tool does not require special requirements, but when preparing it you must pay attention so that the knife used is not used as a kitchen knife.


After finishing preparing the tool, you have to hit the male fruit of this tuak tree with a special technique and with hard wood so that it feels a little soft on the beaten part, its function is to lure the sap water to drip and be tapped. This piece of wood used by the Napaulun people is referred to as "temotal".

Part 2

At this stage you have to prepare a special knife that is held on a wooden stick until it is sharp. In the belief of people who tap this sap, if you use a stone, the sap will decrease by itself.


This is not a myth, I have experienced this kind of problem myself. Scientifically it does need to be studied, however, the belief system is hereditary, if it is violated it will result in punishment. This punishment is not direct but by reducing the tap water sap.

However, some people I met use grindstone and admit that the sap water does not decrease due to the effect of its use.
From this we can see that the tuak tree seems to know what to use to sharpen the knife even though the tree does not move from its position to your house.


Part 3

At this stage you have to prepare the sap leaves in Nobolekan terms called "Nabhu", to be used as a funnel to the top of placeholder. The process of wrapping the sliced ​​sap is called "Gabu". After the "gabu" is wrapped, it begins with the installation of an extract place made of bamboo sticks. The technique after this "gabu" is called "Hawing" and the extract place of the bamboo blade is called "Nawing".

The container is usually used from bamboo stems that are selected from bamboo that has dried and been cut away from one of the books.

According to the statements of several people who were asked, that the use was dependent and had no effect, maybe in ancient times there were no plastic bottles, it's just that using bamboo sticks in the Nobolekan traditional ceremony cannot be replaced with plastic bottles.

So that the magical value of bamboo as a place for extract gets a good place in the process of extract sap, besides that it is also a symbol of respect and a typical extract medium for the Nobolekan people.

Part 4

Nira extract is done every morning and evening. If the sap water is taken to drink then usually in the afternoon then he takes it. Because in the morning it is customary for the community to accommodate it first so that there is plenty of juice. But there are also those who take it in the morning to drink. This picking activity is called "Lekang" while the slicing activity itself is called "Perey".

This activity economically brings money but I limit to discuss this.

This part I feel is not very important for you to know, but if a Nobolekan man who, when his parents were still alive, then tapped the sap for them to drink, and those around him such as friends and others, received a symbol of respect in language terms as " Ola Kelekay", "Tuak Ikan Alawen".

He would be seen as a chivalrous and responsible man in this sense, I can't quite define well. But I can describe in Indonesian so simple.

Essence

Until now, the Nobolekan indigenous people still use Tuak as part of the symbols in traditional ceremonies. In addition, the symbol cannot be separated from the traditional life of the Nobolekan people. In addition, men who carry out this activity usually receive a symbol of respect in the Nobolekan language expression as an "Ola Perey". I use this term to represent another more appropriate customary term.

Cara Menyadap Nira dan Maknanya dalam Kebiasaan Orang Nobolekan

Menyadap Nira dan Maknanya dalam Kebiasaan Orang Nobolekan

Edittor: Negeri Paus


Pengantar

Nira atau dalam kebiasaan masyarakat Nobolekan biasa di sebut "Tuak", rupanya mengandung banyak makna dibalik cara penyadapannya. Sejuta makna itu juga tersirat pada setiap media yang digunakan dalam penyadapan Nira.

Disini saya akan menggunakan istilah "Tuak" sebagai sebutan familiar masyarakat adat Nobolekan.


Pemandangan Alam Desa Bungamuda
Pemandangan Alam Desa Bungamuda


Masyarakat adat Nobolekan sudah mempunyai kebiasaan turun menurun dalam penyadapan tuak.

Tidak heran sekitar 20 tahun yang lalu, kami masih bisa menyaksikan beberapa orang laki-laki dewasa menyadap nira sampai di tengah hutan di bawah lereng Gunung Ile Ape. 

Misalnya pada beberapa lokasi hutan yang dalam sebutan masyarakat Nobolekan dikenal dengan  nama kawasan hutan "Hapeng Kore", " Bejawa", "Leway", "Hukum Bala", dan yang paling dekat kawasan hutan "Kukun Oenen" dan "Hurungen" dimana kawasan ini, kita masih bisa melihat beberapa pohon Tuak yang pernah disadap oleh nenek moyang Orang Nobolekan masih berdiri tegak dan kokoh.

Kita bisa melihat bekas tempat untuk meletakan kaki pada badan batang pohon tuak saat memanjat dalam bahasa Nobolekan disebut "Tenangin" atau ranting bambu yang di ikat pada pohon tuak.  Selain itu, masih banyak kawasan hutan yang bisa kita jumpai dimana sebagai kawasan penyadapan nira.

Singkat Tentang Nobolekan

Nobolekan merupakan salah satu kampung adat yang masih satu dengan masyarakat adat Napasabok. Kedua desa ini terpisah secara administratif pemerintahan, namun masih berasal dari kampung adat induk yaitu Napaulun.
Seiring perjanan waktu Nobolekan secara pemerintahan dikenal dengan Desa Bungamuda. Disini saya akan menggunakan nama Nobolekan sebagai ganti dari nama Desa Bungamuda.


Kenapa nama kampung ini sangat penting? Karena bukan hanya bisa disebut Bungamuda atau Napaulun atau juga Nobolekan, namun mempunyai julukan dan makna yang mendalam. Julukan dan makna itu ada di semua kampung yang ada dalam wilayah pemerintahan kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.
Namun saya tidak akan membahasnya satu per satu.

Nobolekan yang saat ini dikenal dengan nama Desa Bungamuda mempunyai julukan dalam bahasa lamaholot yaitu "Bunga Baran Tawa, Muda Nulan Gere", Desa Napasabok disebut "Lewo Ulun Napa Sabok, Tana Weran Doro Aran", Desa Lewotolok disebut "Lewo Tolok Lama diken, Tana Diken Tena Lema", atau Kampung adat induk Bungamuda dan Napasabok yaitu Napaulun pun punya julukan "Lewo Ulun Lela Koli, Tanah Weran Nara Wayong".


Desa-desa ini berada dalam wilayah administratif Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. 


Kebiasaan Orang Nobolekan Menyadap Nira 

Dalam kehidupan sehari-hari beberapa penduduk memang mempunyai mata pencaharian sebagai penyadap nira di samping ada juga bertani, melaut, dan pekerja buruh.


Namun menyadap nira, oleh orang Nobolekan tersirat makna yang mendalam. Ada bagian-bagian penting dari proses penyadapan yang sangat menarik.
Baiklah, saya akan mencoba menggambarkan satu  per satu walaupun kurang lengkap.


Gambar Kuba dalam Bahasa Lamaholot Nobolekan. Kuba yang telah disadap Niranya.
Gambar Kuba dalam Bahasa Lamaholot Nobolekan. Kuba yang telah disadap Niranya.

Saya pernah sebagai penyadap nira dan pernah dalam beberapa waktu yang lalu saya masih lakukan kegiatan itu setelah 10 tahun saya keluar untuk sekolah. Agar lebih memudahkan saya akan membahasnya bagian per bagian.


Bagian 1
Persiapan alat ini memang tidak membutuhkan persyaratan khusus, namun ketika mempersiapkannya anda harus memperhatikan agar pisau yang digunakan tidak di pakai sebagai pisau dapur.


Setelah selesai mempersiapkan alat anda harus memukul buah jantan pohon tuak ini dengan teknik khusus serta dengan kayu keras agar sedikir terasa lembek pada bagian yang dipukul, fungsinya agar bisa memancing air nira untuk bisa menetes dan disadap. Sebatang kayu yang digunakan ini oleh orang Napaulun disebut sebagai "temotal".


Bagian 2
Pada tahap ini anda harus mempersiapkan pisau khusus yang di asa pada batang kayu sampai tajam. Dalam kepercayaan orang yang menyadap nira ini jika menggunakan batu asa maka nira akan berkurang dengan sendirinya.


Hal ini bukanlah mitos, saya pernah mengalami sendiri problem semacam ini. Secara ilmiah memang perlu pengkajian namun, sistem kepercayaan yang secara turun menurun, apa bila dilanggar akan menimbulkan hukuman. Hukuman ini bukan secara langsung namun dengan berkurangnya air sadapan nira. 

Sadap Nira pada Pagi Hari
Sadap Nira pada Pagi Hari

Namun beberapa orang yang saya temui menggunakan batu asa dan mengakui kalau air nira tidak berkurang karena pengaruh penggunaanya.
 
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa pohon tuak seakan tahu apa yang digunakan untuk mengasah pisau itu walaupun pohon itu tidak beranjak dari posisinya menuju rumah anda.

Bagian 3
Pada tahapan ini anda harus mempersiapkan daun nira dalam istilah Nobolekan disebut "Nabhu",  untuk dijadikan corong menuju mulut tempat penampung. Proses pembungkusan buah nira yang diiris itu disebut "Gabu", Setelah di gabu, mulai dengan pemasangan tempat sadap dari batang bambu. Teknik setelah gabu ini disebut "Hawing" dan tempat sadap dari bilah bambu itu disebut "Nawing".

Tempat penampung  biasanya digunakan dari batang Bambu yang dipilih dari bambu yang sudah mengering dan dipotong buang salah satu bukunya.

Menurut penuturan beberapa orang yang di tanya, bahwa penggunaan itu tergantung dan tidak memberikan efek, mungkin zaman dahulu belum ada botol plastik,  hanya saja menggunakan batang bambu dalam upacara adat Nobolekan tidak bisa digantikan dengan botol plastik.

Sehingga nilai magis dari bila bambu sebagai tempat sadap mendapat tempat yang baik dalam proses penyadapan nira, selain itu juga simbol penghormatan dan media penyadapan khas orang Nobolekan.

Bagian 4
Penyadapan Nira dilakukan setiap pagi dan sore hari. Jika air nira diambil untuk diminum maka biasanya pada sore hari barulah dia ambil. Karena pagi hari kebiasaan masyarakat menampungnya dahulu agar banyak air niranya. Tetapi ada juga yang mengambilnya pagi untuk diminum. Kegiatan pengambilan ini dinamakan "Lekang" sedangkan untuk kegiatan pengirisan sendiri disebut "Perey".


Tuak yang sudah disadap
Tuak yang sudah disadap
Kegiatan ini secara ekonomi mendatangkan uang namun saya membatasi untuk membahas ini.
Bagian ini saya merasa tidak terlalu penting untuk anda ketahui, namun  jika seorang laki-laki Nobolekan yang ketika orang tuanya masih hidup, lalu menyadap nira untuk diminum oleh mereka, dan orang disekitarnya seperti teman dan lainnya, mendapat sebuah simbol penghormatan dalam istilah bahasa sebagai "Ola Kelekay", "Tuak Ikan Alawen".
 
Dia akan dipandang sebagai lelaki kesatria dan penuh tanggung jawab dalam makna ini, saya kurang bisa mendefinisikan dengan baik. Namun saya bisa menggambarkan dalam bahasa Indonesia demikian sederhana.

Intisari

Masyarakat adat Nobolekan sapai saat ini masih menggunakan Tuak sebagai bagian dari simbol dalam upacara adat. Selain itu Simbol tersebut tidak bisa dilepas pisahkan dari kehidupan adat orang Nobolekan. Selain itu laki-laki yang melaksanakan kegiatan ini biasanya mendapat simbol penghormatan dalam ungkapan bahasa Nobolekan sebagai seorang "Ola Perey". Istilah ini saya gunakan mewakili istilah adat yang lain yang lebih tepat.