Sejarah Desa Bungalima-Flores Timur

Pantai di Desa Bungalima
Pantai di Desa Bungalima



Mula-mula sejarah Desa Bugalima dimulai dari Desa Ongabaran. Desa Ongabaran ini terletak di wilayah perbukitan Ile Kelui. Masyarakat Onganbaran hidup dengan aman dan tenteram. Sehingga pada  pemukiman warga Ongabaran terlihat sangat tenang. Beberapa tempat yang disebut dengan Riang, yang membentuk satu kesatuan yang disebut Lewo (sebutan untuk mengganti nama desa pada waktu itu).

Menurut masyarakat setempat,  Riang-Riang itu dapat dibagi antara lain; Riang Belan, Ringa Eban Kalika, Riang Lamaloro, Riang Kaha, Riang Nubalikat dan Riang Kewa Dei. Riang Riang ini dikepalai oleh seorang Kepala Suku. 

Dalam perjalanannya, struktur yang dibangun oleh masyarakat ini mengalami perubahan seiring dengan kemerdekaan Indonesia. Namun perlu diketahui bahwa wilayah Riang dikepalai oleh seorang Kepala Suku. 

Untuk di wilayah Timur, Pulau Flores dikepalai oleh seorang raja yang wilayah kerajaannya meliputi Pulau Solor, Adonara, Lembata dan daratan Pulau Flores Bagian Timur, dengan kedudukan pusat kerajaan di Larantuka.

Raja Larantuka dalam kepemerintahannya membentuk riang riang menjadi Lewo dan mengangkat seorang kepala suku menjadi kepala dari Lewo tersebut.

Disinilah terbentuk Ongabaran menjadi sebuah Lewo dengan beberapa nama Kepala Suku yang pernah menjabat sebagai Kepala Lewo, antara lain :

Bapak Osama, Bapak Geroda Boleng, Bapak Pati Daton, Bapak Kasihan Pati, Bapak Suban Gading

Pada masa pemerintahan Bapak Suban Gading, terjadi perubahan status Lewo, sehingga Lewo Ongabaran bergabung dengan Desa Wureh sebagai sebuah dusun.

Berikut nama nama yang pernah menjabat sebagai Kepala Dusun :

Bapak Lamber Sakre tahun 1967-1978
Bapak Mikhael Mige Karwayu tahun 1978-1993
Bapak Fransiskus Wulan tahun 1993-1995
Bapak Theo Karwayu tahun 1995-1998, 1998-2003

Pada tahun 1998 terjadi pemekaran desa, sehingga Dusun Bugalima beralih status menjadi desa persiapan. Penjabat Kepala Desa saat itu adalah Bapak Fransiskus Beda Suban. Masa persiapan ini mencapai kurun waktu dua tahun.

Tanggal 6 Maret 2000 Bugalima dinyatakan secara defintif sebagai sebuah desa terlepas dari Desa Wureh. Sejak saat itu Bugalima menjadi Desa Definitid dengan beberapa kepala desa yang pernah menjabat yakni :

Bapak Nikolaus Suban tahun 2001-2007
Bapak Hubertus Poni tahun 2008-2013
Bapak Damianus Leven tahun 2014-2020
Bapak Gabirel Kopong Kenukan Penjabat Kepala Desa tahun 2020-2021

Perubahan nama Ongabaran menjadi Bugalima

Pada tahun 1976 tepatnya bulan Februari – Maret terjadi bencana alam tanah longsor di Ongabaran sehingga kebijakan pemerintah Kabupaten Flores Timur, membuka pemukiman baru bagi penduduka Ongabaran di pesisir Pantai Wai Rita.

Proses pembangunan rumah warga dan fasilitas umum lainnya, berlangsung sejak Bulan April sampai Mei. Tanggal 2 Mei 1976 pemkiman baru warga Ongabaran di pesisir pantai Wai Rita diresmikan oleh Bupati Flores Timur, Drs. Antonius Buga Langoday.

Sebagai bentuk penghargaan dan ungkapan terimakasih masyarakat Ongabaran terhadap jasa baik Bapak Bupati maka nama pemukiman baru tidak lagi menggunakan nama Ongabaran tetapi Bugalima, yang artinya Buga, diambil dari nama  Bapak Bupati dan Lima yang artinya melalui tangannya masyarakat Ongabaran mendapat tempat tinggal yang layak dan memadai.

Demikia perjalanan sejarah Ongabaran menjadi Desa Bugalima dan sampai saat ini nama desanya adalah Desa Bugalima.

Sumber: bungalimadesa.id

Menikmati Sunset di Bungamuda, Wisata Lembata

Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur
Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur


Laporan Pengembang NegeriPaus.Blogspot.com, Silverius

Negeripaus.Blogspot.com, BUNGAMUDA - Destinasi wisata Desa Bungamuda di Kabupaten Lembata, seharusnya masuk ke dalam salah satu program Destinasi Super Prioritas dari anda sekalian penikmat senja.

Desa Bungamuda berada di Kabupaten Lembata, atau di wilayah Indonesia Timur. Akhir-akhir ini menjadi favorit bagi orang-orang untuk berfoto.

Hal ini karena Letak Strategis desa Bungamuda yang menawarkan keindahan pemandangan gunung Boleng dan Nuha (pulau-pulau kecil) dan laut yang luas membentang. Para wisatawan dapat menikmati keindahan alam Bungamuda sambil menikmati ngopi.

Wisatawan juga dapat menikmati indahnya matahari terbenam atau Sunset di Bungamuda tanpa harus jauh-jauh ke Bali atau Labuan Bajo. Menikmati matahari terbenam tentu sangat menjadi momen yang ditunggu oleh banyak orang yang ingin melepaskan penat dan ada juga yang ingin mengurai kenangan.

Matahari terbenam saat sore hari sangat ditunggu saat beberapa wisatawan berkunjung di Bungamuda. Sebab menunggu matahari terbenam sambil menikmati laut dan juga pantai menjadi momen yang paling berkesan apalagi dengan orang terdekat anda.


Bungamuda sendiri dikenal dengan sebutan desa matahari terbenam, karena ada banyak tempat yang bisa dijadikan tempat berfoto terbaik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan langit senja spektakuler saat matahari tenggelam.

Salah satu spot atau tempat untuk menikmati matahari terbenam yaitu Namang, tempat ini merupakan tempat bermain oleh para anak-anak kecil dan sebagai tempat bagi orang-orang setempat berkumpul melakukan upacara. 

Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur
Sunset di Desa Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur



Untuk menikmati Sunset di Namang, harus menaiki jalan mendaki sekitar 1 menit, apabila ingin menikmati dari atas kejauhan anda perlu menaiki sampai 5 menit di daerah Ebaken. Di atas bukit Ebaken ini, kalian bisa melihat keindahan laut dan juga bukit-bukit sambil menunggu matahari terbenam.

Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur
Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur

Selain itu Bungamuda juga memiliki destinasi kuliner yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan. Beberapa destinasi kuliner tersebut seperti, putu, bose, Ikan panggang dan lainnya.

Lambang Daerah Kabupaten Malaka dan Artinya

Logo Kabupaten Malaka
Logo Kabupaten Malaka


1 . Bentuk Lambang Daerah adalah Perisai bersisi lima memiliki arti sebagai berikut:
  • Perisai dan alat artinya perlindungan rakyat
  • Sisi lima artinya sebagai dasar negara pancasila
  • Bintang, simbol kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha esa

2. Warna dan Isi Lambang adalah Tata warna lambang berwarna Merah, Kuning, Coklat, Hijau, Putih dan Hitam; divisi kain tenunan rakyat kabupaten Belu, yang memiliki arti :

  • Hijau : kemakmuran;

3 . Arti lambang
  • Simbol Rumah Adat Artinya penghargaan terhadap adat dan budaya
  • Padi dan kapasitansi - kemakmuran sandang pangan;
  • Padi 45 butir dan kapas 17 biji dengan pita 8 merupakan tahun, tanggal dan bulan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia
  • Pita Merah - ketegasan kekeluargaan masyarakat Malaka yang tidak bias dicerai-berai;
  • Semboyan pada pita merah yang berikut “ Neon Ida, Hader Ita Rai, Diak No Kmanek, yang berarti Sehati Membangun Kabupaten Malaka menuju Kesejahteraan masyarakat
  • Air masalah salah satu potensi sumber daya alam di Kabupaten Malaka yang perlu dikelola secara maksimal.

Lambang Daerah Kabupaten Wonogiri dan Artinya

Bentuk, Isi, Warna dan Arti Lambang Wonogiri

Logo Kabupaten Wonogiri
Logo Kabupaten Wonogiri


Berbentuk perisai berwarna kuning emas bertepi hitam, sebagai penonjolan sifat pengayoman dan kebesaran daerah. Lambang Daerah berisi lukisan segilima sama sisi berwarna merah di sebelah kanan dan putih disebelah kiri dengan tepi hitam, sebagai manifestasi daripada Pancasila, Sang Saka, kesetiaan terhadap UUD 1945 dan falsafat hidup bangsa Indonesia yang abadi.

Di dalam segilima terlukis ditengah dari atas ke bawah, sebagai berikut :
Bintang bersudut 5 berwarna kuning emas, sebagai lambang Ketuhanan Yang Maha Esa. Rantai berwarna kuning emas, berbentuk lingkaran, sebagai lambang kegotongroyongan yang didasari oleh perikemanusiaan.
Di dalam lingkaran rantai tersebut terlukis perwujudan kondisi daerah sebagai berikut :
Gunung Kapur / seribu berwarna putih dengan latar belakang langit berwarna hijau.
Hutan berwarna hijau
Tanah berwarna coklat
Air berwarna biru dengan gelombang putih, sebagai pernyataan bahwa Bengawan Solo, Waduk Serbaguna Wonogiri dan Pantai Selatan, penting artinya di sepanjang sejarah Wonogiri.
Gunungan wayang berwarna kuning emas, sebagai pernyataan bahwa rakyat Wonogiri menjunjung tinggi kebudayaan Nasional.
Keris lekuk 5 berwarna hitam dengan pamor kuning emas sebagai lambang semangat kepahlawanan yang dijiwai semangat Pancasila.
Ketela Pohon yang berisi 8 buah berwarna coklat sebagai hasil pertanian yang menonjol dan sekaligus sifat agraris dari daerah.

Di dalam segilima terlukis sebagai lambang keadilan dan kemakmuran yang dicita-citakan oleh rakyat Wonogiri, sebagai berikut :
Setangkai Kapas terdiri atas 17 kuntum berwarna putih perak dengan selingan daun berwarna hijau, sebelah kanan.
Setangkai Padi terdiri atas 45 butir berwarna kuning emas.

Bidang Lingkaran berwarna Hijau yang dibatasi oleh lukisan kapas dan padi tersebut berarti kesuburan.

Bilangan "Tujuh Belas" pada lukisan setangkai kapas, bilangan "Delapan" pada lukisan ketela Pohon dan bilangan "Empat Puluh Lima" pada lukisan padi mengandung pernyataan, bahwa rakyat Kabupaten Wonogiri berpegang teguh pada jiwa Proklamasi 17 Agustus 1945 tersebut.


Di bawah segilima terlukis selendang berwarna merah putih bertepi hitam dan tercantum tulisan sebagai berikut :
  • Pada bagian atas berwarna merah tercantum tulisan berbunyi " Wonogiri" dengan huruf balok putih.
  • Pada bagian bawah berwarna putih tercantum tulisan sebagai Surya Sengkala berbunyi "Sabda Sakti Nugrahaning Praja" dengan huruf balok hitam.
  • Suryasengkala tersebut mempunyai arti, Sabda = 7, Sakti = 6, Nugrahaning = 9, dan Praja = 1, sebagai peringatan di tetapkannya Lambang Daerah pada tahun 1967.

Lambang Daerah Kabupaten Rote Ndao dan Artinya

Arti dari Lambang Daerah Kabupaten Rote Ndao

Lambang Daerah Kabupaten Rote Ndao
Lambang Daerah Kabupaten Rote Ndao


Keputusan BUPATI ROTE NDAO Nomor : 49 Tahun 2003 tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Rote Ndao Nomor : 4 Tahun 2003 tentang Lambang Kabupaten Rote Ndao

  1. Lambang daerah berbentuk benteng
  2. Ukuran lalai
    • Lebar gambar pelindung = 17,5 cm
    • Tinggi garis tengah = 21
    • Jari-jari lekuk atas (kiri-kanan) = 4
    • Jari-jari garis lengkung bawah = 11,3
  3. Diameter gambar bintang = 3.3
  4. Diameter gambar padi dan kapas = 14.5
  5. Lebar gambar padi dan kapas = 1,8 dan 2
  6. Diameter rantai = 9
  7. Lebar tiap-tiap mata rantai = 0.8
  8. Lebar gambar Ti'I Langga = 4,5
  9. Tinggi gambar Ti'I Langga = 4,5
  10. Ukuran Pita Pengikat
    • Lebar pita = 1.2
    • Panjang Pita pengikat = 10.5
  11. Tinggi Huruf tulisan Rote Ndao = 0.5
  12. Tinggi angka 2002 = 0,7
  13. Diameter tulisan ITA ESA = 3.5
  14. Tinggi tulisan ITA ESA = 0.4

Tata Warna Lambang Daerah :

  • Dasar : Biru
  • Tepi Perisai : Hitam
  • Bintang Segi Lima : Kuning emas
  • Padi : Jeruk
  • Bunga Kapas : Putih
  • Kelopak dan Batang Kapas : Hijau
  • Pita Pengikat Padi dan Kapas : Merah / Putih
  • Tulisan Rote Ndao : Hitam
  • Rantai : Hitam
  • Warna Dasar Rantai : Coklat
  • Lukisan Ti'I Langga : Kuning
  • Tulisan 2002 : Hitam
  • Tulisan ITA ESA : Putih

Makna Tulisan :

  • Perisai : Melambangkan Pertahanan rakyat dalam membela kepentingan daerah, bangsa dan Negara.
  • Bintang Sudut Lima : Melambangkan Kabupaten Rote Ndao tetap berlandaskan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia
  • Padi dan Kapas : Melambangkan bahwa Kabupaten Rote Ndao bertekat mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat.
  • Padi 10 butir dan kapas 4 buah : Melambangkan tanggal 10 bulan 4 ( april ) terbentuknya Kabupaten Rote Ndao sebagai daerah Otonomi
  • Pita Warna Merah Pengikatan tangkai padi dan kapasa yang " Rote Ndao " : Melambangkan bahwa dalam mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Rote Ndao berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  • Rantai yang ditemukan 19 : Melambangkan persatuan dan kesatuan yang kokoh dari 19 nusak dalam membangun Kabupaten Rote Ndao.
  • Lukisan Ti'I Langga sebagai alat dan nilai budaya : Melambangkan Pemimpin dan kepemimpinan yang berfungsi sebagai pamong atau pelindung bagi masyarakat Rote Ndao menuju masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan keimaman dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • ITA ESA Tulisan “ ITA ESA “ atau Kita satu : Melambangkan masyarakat Rote Ndao satu dalam keragaman dan selalu dijiwai dengan tekad dan semangat mendukung persaudaraan, persatuan dan kesatuan.

Makna Warna Melambangkan sifat-sifat :

  • Warna Kuning : Keagungan , Kebenaran, Kebesaran Jiwa dan semangat juang yang tinggi
  • Warna Coklat : Kesederhanaan genangan daratan yang potensial
  • Warna Hijau : Kedamaian, kesuburan dan kesegaran
  • Warna Merah : Keberanian
  • Warna Putih : Kesucian yang bersih tanpa pamrih Warna Hitam : Keteguhan, kekekalan
  • Warna Orange : Keadilan,
  • Warna Biru : kekuatan, kendalikan lautan yang potensial

Pulau Rote
Pulau Rote

Lambang Daerah Kabupaten Lembata dan Artinya

Arti dari Lambang Daerah Kabupaten Lembata.

Lambang Daerah Kabupaten Lembata
Lambang Daerah Kabupaten Lembata

Pembuatan Lambang Daerah Lembata ini terinspirasi dari keseluruhan nilai dasar, visi dan misi, potensi serta kearifan lokal Kabupaten Lembata sehingga Lambang Daerah ini merupakan wujud pancaran jiwa dan semangat serta menjadi simbol jati diri rakyat Lembata.

Berikut adalah lambang daerah Kabupaten Lembata ASLI hasil sayembara:

LOGO KABUPATEN LEMBATA
Gambar Logo Kabupaten Lembata




1. Bintang Emas

Lambang Bintang bersegi lima dengan warna keemasan merupakan pancaran dari Dasar Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila.

2. Perisai Segi Lima

Perisai (Dopi Hikun Lema) merupakan simbol alat/sarana “Ribu Pulo, Ratu Lema” rakyat Lembata untuk “Liku Lewo Lapak Tana” guna mempertahankan diri dari segala bentuk ancaman. Lis Hitam yang melingkari perisai melambangkan keabadian dan ketenangan.

3. Perisai Segi Lima Merah Putih

Warna Dasar perisai merah putih melambangkan keberanian, kejuangan, patriotisme, kesucian dan ketulusan. Secara keseluruhan warna ini menunjukkan bahwa Kabupaten Lembata merupakan bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4. Lingkaran Biru

Warna Biru dalam lingkaran melambangkan persahabatan dan kesetiakawanan
Garis lingkaran berwarna hitam melambangkan keabadian dan ketenangan untuk tetap mempertahankan persahabatan dan kesetiakawanan.

5. Siput

Salah satu potensi andalan Lembata yang mempunyai nilai ekonomis tinggi
Sarana komunikasi dengan alam (pelayaran) dan pemersatu “Ribu Pulo Ratu Lema
Enam bidang atau gerigi melambangkan 6 (enam) Hamente yang sepakat bersatu, sehati, sepikir untuk memperjuangkan keadilan dan kemakmuran.

6. Lidah Api

Tujuh buah lidah api berwarna merah melambangkan tanggal 7 sebagai hari lahirnya statement 7 Maret 1954 dan lambang semangat yang berkobar dalam sanubari setiap warga masyarakat Lembata dimanapun berada untuk senantiasa berjuang memajukan tanah Lembata. Tujuh buah lidah api juga melambangkan rakyat Lembata untuk melepaskan diri dari 7 (tujuh) ketergantungan, yaitu : kemiskinan, kemelaratan, kebodohan, kemalasan, keterisolasian, kesewenangan dan keterbelakangan.

7.  Tugu

Warna putih pada puncak tugu melambangkan kesucian, kemurnian, ketulusan dan keikhlasan. Tiga tungku pada puncak tugu melambangkan sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya buatan. Tugu dengan warna coklat muda melambangkan kebersamaan dan kematangan serta kebijaksanaan.

8. Ikan Paus;

Sebagai simbol yang mewakili potensi kelautan sekaligus merupakan binatang buruan khas masyarakat dari Desa Lamalera yang merupakan representasi dari masyarakat Lembata
Lambang keberanian dan semangat kejuangan dalam mengisi otonomi daerah
Atraksi perburuan ikan paus merupakan salah satu obyek wisata yang sudah mendunia
Tatapan mata ikan paus yang tenang ke depan dan bersahabat memberikan dorongan kepada masyarakat Lembata untuk hidup bersahabat, memiliki wawasan yang luas dalam membangun Lembata semi mencapai masyarakat yang adil dan makmur.

9. Puncak Gelombang; 

Lima puncak gelombang atas dan 4 (empat) puncak gelombang bawah dengan warna putih melambangkan tahun 1954 (sebagai tahun dicetuskannya Statement 7 Maret 1954).

10. Wua Wayak / Ekot (Tempaty Siri Pinang)

Melambangkan demokrasi dan perdamaian, rekonsiliasi persahabatan / kekerabatan serta persatuan dan persaudaraan sebagai tradisi budaya Lamaholot. Secara filosofi melambangkan Lembata sebagai “Pulo Ribu”, maka hanya dalam suasana tenang, aman, tenteram dan penuh kedamaian dapat mengantar Lembata menuju cita-cita terwujudnya masyarakat Lembata yang sejahtera, bermoral, bersatu, nyaman, dinamis, beretos kerja yang tinggi, mandiri, berkesadaran hukum dan menjalin sikap gotong royong yang dijiwai semangat persaudaraan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

11. Angka 1999;

Tercetusnya Memorandum 7 Maret 1999 yang intinya memperjuangkan Lembata menjadi sebuah Kabupaten Otonom. Tahun resmi terbentuknya Kabupaten Lembata.

12. Padi dan Kapas;

12 (dua belas) butir padi melambangkan tanggal 12 (dua belas), 10 (sepuluh) kuntuk kapas melambangkan bulan 10 (sepuluh Oktober). Warna Putih pada 10 kuntum kapas adalah simbol kesucian, ketulusan dan kesejahteraan.

13. Pita dan Tulisan “Taan Tou”

Dasar pita dengan warna kuning melambangkan kemenangan yang hanya dapat dicapai berkat persatuan. Tulisan “Taan Tou” dengan warna hitam melambangkan persatuan abadi.

******

Kabupaten Lembata dengan Ibu Kota Lewoleba yang merupakan daerah otonom pemekaran dari Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan Undang – Undang Nomor: 52 Tahun 1999 yang terletak di ujung Flores. Secara astronomis Kabupaten Lembata terletak antara 8,04 - 8,400LS dan 123,57 - 122,380BT (BPS Kabupaten Lembata, 2019).


Gambar Peta Pulau Lembata
Gambar Peta Pulau Lembata


Sejarah Masuknya Islam di Lerabaing Alor

Masjid At-Taqwa Lerabaing sebelum renovasi: Sumber: Dokumen Susanne Rodemeier, 1989
Masjid At-Taqwa Lerabaing sebelum renovasi: Sumber: Dokumen Susanne Rodemeier, 1989


NegeriPaus - Lerabaing merupakan salah satu dari beberapa perkampungan di Alor dan merupakan yang tertua. Perkampungan Lerabaing terletak di wilayah pantai selatan Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

Kampung Lerabaing sudah lama dikenal bahkan sejak masa pendudukan Portugis di wilayah Nusantara khususnya di Nusa Tenggara Timur. Wilayah ini kemudian pernah difungsikan sebagai Ibukota Kerajaan Kui karena letaknya yang amat strategis. Di Lerabaing juga difungsikan sebagai benteng pertahanan apabila terjadi perang antar kerajaan di Alor. 

Dalam beberapa literatur yang ditemukan, memang tidak banyak menyebutkan Alor sebagai wilayah misi misionaris Katholik oleh karena itu sangat sedikit jika harus menggambarkan Alor sebagai wilayah Misi Katholik.

Sebaliknya jika kita berbicara mengenai awal masuknya Islam sebelum Kristen (Protestan), banyak literatur dan penutur dapat kita temukan di Alor.

Wilayah Lerabaing sendiri terdapat sebuah bangunan masjid yang sangat tua. Masjin ini menunjukan betapa sudah sejak lama penyebaran agama Islam telah dilakukan. 


Beberapa penutur memberitahu kepada kita bahwa pada pertengahan abad ke-17, wilayah Lerabaing sendiri telah masuk agama Islam. Masuknya Islam, disertai dengan kedatangan Sultan Kimales Gogo bersama Kalu dan Paju (keduanya pengawal Sultan) menggunakan perahu dari Ternate dan perahu itu bernama Arabaih (Arabiah). Rombongan Sultan itu mendarat tepat di sebelah Barat Lerabaing yakni di pantai Utan Ga pada tahun 1619 M atau 1028 H dan kemudian menendang batu besar di tepi pantai itu hingga terlempar ke bukit. Kini batu tersebut dikenal dengan nama Kimales Wor. Selain itu, gua Barin Lei juga merupakan saksi perjalanan Sultan Gogo.

Selain itu, para penutur juga menegaskan bahwa bukti masuk dan diterimanya dengan baik Islam di Lerabaing dapat di lihat dari suku Malangkabat yang menerima dan memeluk agama Islam pertama kali sejak saat itu. Namun bukan hanya itu, Raja Kui yang bernama Kinanggi Atamalai pun masuk dan memeluk Islam dan diikuti oleh tokoh masyarakat di wilayah itu.

Namun sebelum mereka semua memeluk Islam, ada beberapa peristiwa mengenai kedatangan sultan yang harus di ceritakan.
Sultan Gogo yang tengah beristirahat di Gua Barin Lei itu kemudian diserang oleh suku Ler, suku Koilelan dan suku Kletuwas, yang merupakan perintah dari Raja Kinanggi Atamalai karena menurut laporan warga yang melihat Sultan merupakan orang jahat.


Akan tetapi, penyerangan oleh tiga suku itu tidak membuahkan hasil sehingga diutuslah suku Malangkabat. Kemudian suku Malangkabat melakukan diplomasi dan pendekatan dengan cara baik-baik sehingga Sultan diarahkan ke Kampung Lerabaing. Sebelum memasuki kampung Lerabaing, Sultan sempat mengangkat atau menegakkan beberapa buah batu besar di pinggiran pantai Lerabaing yang hingga kini batu tersebut masih berdiri kokoh.

Setelah sanpai Sultan tidak langsung masuk ke Kampung Lerabaing hal itu dikarenakan kondisi kampung tersebut masih kotor sehingga Sultan meminta agar Raja Kui (Raja Kinanggi Atamalai) untuk memerintahkan orang mengambil air di Sungai Lerabaing. Air tersebut diberikan kepada Sultan Gogo dan selanjutnya air tersebut didoakan dan disiram di Kampung Lerabaing.

Dikarenakan Sultan dianggap orang jahat, maka beliau dan pengawalnya disuruh menempati sebuah tempat angker (menurut kepercayaan penduduk) yang berada di wilayah pemukiman suku Malangkabat.


Namun Sultan berhasil menanamkan nilai Islam karena kerja sama dan kerja kerasnya di wilayah ini dan kini dapat kita jumpai disalah satu wilayah di Alor. (Cah)

Sumber: Fahrudin, 2020. MASJID LERABAING: KEARIFAN LOKAL DAN SEJARAH PENYEBARAN ISLAM DI NUSA TENGGARA TIMUR. Junral Lektur Keagamaan.

Para Pastor Yesuit di Lembata pada 1886-1917

Serikat Yesuit
Serikat Yesuit


NegeriPaus 04/02/22 - - Perjalanan sejarah yang panjang tentang penyebaran agama Katolik di wilayah Nusantara oleh para Pastor telah memberikan gambaran semangat merasul kaum awam yang merupakan buah misionaris.

Di Lembata sendiri, para pater dari Serikat Yesus telah berkarya mulai tahun 1886 hingga akhirnya ditarik kembali 1917. 

Kiprah Serikat Yesus di Indonesia bermula pada abad ke- 16, yang ditandai dengan tibanya Fransiskus Xaverius, seorang Yesuit yang kini diberi gelar Orang Kudus/ Santo oleh Gereja Katolik, di Maluku pada tahun 1546. 

Sempat terhenti ketika VOC berkuasa di Indonesia, Serikat Yesus kembali membuka lahan karyanya di Indonesia pada tahun 1859 dan lambat laun berkembang menjadi salah satu ujung tombak penyebaran agama Katolik di Indonesia sampai sekarang.

Berikut kami sajikan daftar nama para Pater Serikat Yesus:

  1. P. A. ten Brink, Serikat Yesuit (SY)....................................1886
  2. P. Y. de Vries, Serikat Yesuit (SY).......................................1886
  3. P. van Santen, Serikat Yesuit (SY)......................................1890
  4. P. Leemker, Serikat Yesuit (SY)...........................................1891
  5. P. Asselbergs, Serikat Yesuit (SY).......................................1891
  6. P. Wintjes, Serikat Yesuit (SY).............................................1892
  7. P. van Rijkevorsel, Serikat Yesuit (SY)................................1893
  8. P. Heslinga, Serikat Yesuit (SY)............................................1895
  9. P. Frencken, Serikat Yesuit (SY)...........................................1899
  10. P. van der Velden, Serikat Yesuit (SY).................................1902
  11. P. Hoeberechts, Serikat Yesuit (SY).....................................1904-1917
  12. P. P.E. Engbers, Serikat Yesuit (SY), Visitor.........................1904
  13. P. Kremer, Serikat Yesuit (SY)................................................1904
  14. P. Aerensbergen, Serikat Yesuit (SY)...................................1909
  15. P. de Nateris, Serikat Yesuit (SY)...........................................1910
  16. Bruder van Hoek, Serikat Yesuit (SY)
  17. Bruder Zinken, Serikat Yesuit (SY)

Demikian nama-nama para pater Yesuit yang pernah bekerja di Lembata (Cah).

Gambaran Umum Kabupaten Lembata

Kabupaten Lembata

a)      Letak geografis

Kabupaten Lembata dengan Ibu Kota Lewoleba yang merupakan daerah otonom pemekaran dari Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur berdasarkan Undang – Undang Nomor: 52 Tahun 1999 yang terletak di ujung Flores. Secara astronomis Kabupaten Lembata terletak antara 8,04 - 8,400LS dan 123,57 - 122,380BT (BPS Kabupaten Lembata, 2019).

b)      Luas wilayah

Wilayah Kabupaten Lembata terdiri atas wilayah daratan dan wilayah laut. Luas wilayah daratan Kabupaten Lembata seluas 126.639 ha dan luas wilayah lautan seluas 3.353.995 ha. Luas Wilayah Kecamatan Ile Ape yakni  9.775 ha, Kecamatan Atadei: 14.299 ha, dan Kecamatan Ile Ape Timur: 3.826 ha (BPS Kabupaten Lembata, 2018). Peta administrasi Kabupaten Lembata dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Peta Administrasi Kabupaten Lembata
Peta Administrasi Kabupaten Lembata

Gambar 2. 1. Peta Administrasi Kabupaten Lembata

 

Secara administratif, Kabupaten Lembata terdiri dari 9 Kecamatan dan 144 Desa/7 Kelurahan. Kecamatan Omesuri memiliki desa terbanyak (21 desa) dan Kecamatan Nubatukan dengan 7 Kelurahan (BPS Kabupaten Lembata, 2019).

 
c)      Batas wilayah

Wilayah bagian Utara berbatasan dengan Laut Flores, bagian Selatan berbatasan dengan Laut Sawu, bagian Timur berbatasan dengan Selat Merica (Kab. Alor) dan bagian Barat berbatasan dengan Selat Boleng dan Selat Lamakera (Kab. Flores Timur) (BPS Kabupaten Lembata, 2018).

d)     Iklim dan curah hujan

Hujan Kabupaten Lembata beriklim tropis, dengan musim kemarau hampir sama dengan musim hujan yakni dari bulan April sampai Oktober, sementara musim penghujan dari Bulan November sampai Bulan Maret, dengan curah hujan yang hampir merata, rata-rata hari hujan pertahun 100–180 hari. Rata-rata curah hujan per tahun di wilayah Kabupaten Lembata sebesar 669-1.503 mm/tahun. Suhu udara rata-rata 25,970C – 28,560C sedangkan kelembaban udara berkisar antara 72%-84% dengan kecepatan angin rata-rata 8,0-8,4 knot/jam (BPS Kabupaten Lembata, 2018).

e)      Keadaan wilayah

Sebagian besar wilayah Kabupaten Lembata terdiri dari tanah pegunungan/bukit dan sedikit dataran, yang tersebar di sembilan (9) wilayah kecamatan, dengan rincian: 55,6% daerah pantai, 37,6% daerah pegunungan/bukit, 1,7% daerah lembah dan 5,1 % daerah dataran. Terdapat beberapa gunung berapi di wilayah Kabupaten Lembata yaitu Ile Batutara, Ile Ape, Ile Hobal dan Ile Werung. Selain itu ada juga gunung tidak berapi yaitu  Ile Uyaleun, Ile Mingar, Labalekang, Ile Lamahinga dan Ile Adowajo, sehingga 65 (enam puluh lima) desa berada di dataran tinggi dan  86 (delapan puluh enam) desa/kelurahan merupakan desa pesisir (BPS Kabupaten Lembata, 2018).

Sebaran ketinggian wilayah Kabupaten Lembata dari permukaan laut sebagai berikut 0-50 mdpl (25,248 ha/19,94%), 50-100 mdpl (17.664 ha/13,95%), 100-500 mdpl (53,325 ha/42,04%), 500-1.000 mdpl (28.833 ha/22,77%), serta ketinggian lebih dari 1.000 mdpl (1.659 ha/1,31%). Sebaran Kelas lereng wilayah Kabupaten Lembata sebagai berikut: 0-2% (16,044 ha /12,67%), 2-8% (6.883 ha /5,44%), 8-15% (9.310 ha/7,35%), 15-20% (4.690 ha/3,70%),20-25% (5.201 ha/4,11%), 25-30% (16.187 ha/12.78%), 30-40% (12.342 ha/9,75%), dan lebih dari 40% (55.992 ha/44.21%) (RPI2-JM, Bidang Cipta Karya, Kabupaten Lembata, 2017).

f)       Klasifikasi Tanah dan Jenis Tanah

Klasifikasi kemampuan tanah di Kabupaten Lembata membentuk 5 (lima) satuan peta tanah (SPT) yang merupakan asosiasi atau kompleks dari 6 grup yaitu haplustepts, ustarthents, haplustolls, ustipsamments, haplustands dan haplustalfs. Klasifikasi tanah di Kabupaten Lembata didominasi oleh SPT 168 (haplustepts dan haplustalfs) yaitu seluas 53,68% wilayah berbahan induk vulkanik pada sub landform perbukitan volkan dengan relief bergunung. Haplustepts adalah tanah yang tergolong masih muda, dengan pH sangat masam sampai netral dengan penampang tanah dangkal dan berbatu terutama di pegunungan atau perbukitan berlereng curah (Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lembata, 2017).

Tekstur tanah pada umumnya sedang hingga agak kasar dengan kedalaman efektif sangat dangkal (30-50 cm) dan dangkal (50-60 cm) berbatu dengan erosi ringan.