![]() |
| Gambar: Gading Gajah |
Gading Gajah Belis Orang Lamaholot Zaman Dahulu
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Legenda Kampung Balaweling
![]() |
| Gambar Ini Hanya Pemanis |
Dahulu kala di atas puncak gunung Niu hiduplah seorang nenek bernama Wae Belek, nenek ini menggunakan kekuatan super naturalnya untuk memisahkan darat dan lautan dengan batasan-batasan yang jelas menggunakan tujuh genggam asam dan garam, agar dikemudian hari umat manusia dapat mendiaminya untuk melangsungkan hidup.
Segala jenis makhluk hidup mulai tumbuh dan bemunculan di permukaan bumi.
Selang beberapa waktu kemudian, hiduplah pula seorang perempuan lagi bernama Kakatua Ninidaya.
Setelah semua tumbuhan sudah memenuhi permukaan bumi, Nenek Kakatua Ninidaya meneruskan kehiduannya dengan bergantung pada kemurahan alam yang antara lain memetik buah-buahan dan sayur-sayuran dari hasil hutan.
Dalam perjalanannya mencari hasil hutan, Ia menemukan sebuah tumbuhan Belã yang masih muda.
Nenek Kakatua Ninidaya mengambil tumbuhan tersebut dan menanamnya di dekat kediamannya hingga menjadi besar.
Belã tersebut reta dan pecah, munculah sosok bayi yang kemudian diberi nama Subaraya Wolo Lolon-Keri Koda Male Angi (belã hepak pati tani, wogi toa beda doen, betok Subaraya Wolo Lolon Keri Koda Male Angi).
Nenek Kakatua Ninidaya pun mengasuhnya hingga dewasa.
Dengan munculnya Subaraya ini membuat nenek Kakatua Ninidaya berpikir keras untuk mengasuh dan melanjutkan kehidupannya.
Entah dengan cara apa lagi agar Subaraya dapat bertahan hidup.
Nenek Kakatua Ninidaya membaringkan Subaraya di dalam sebuah ubi yang ukurannya sangat besar yang sering disebut ue koe.
Lera Wula-Tana Eka melihat hal tersebut maka dengan kuasa-Nya menjadikan sebatang pohon lontar bisa menghasilkan tuak manis agar diminum oleh Subaraya (piku tuak koli kebo ile tuka’ tapa’ tuho Subaraya, pona bai’ marak layo lima holo wora Keri koda Male Angi ).
Ketika Subaraya menangis karena lapar, Lontar tersebutkan meneteskan niranya tepat di mulut Subaraya sampai ia kenyang dan nira tak menetes lagi.
Hal seperti ini terjadi terus menerus tatkala Subaraya lapar.
Tahun-tahun berlahu waktu pun berputar sesuka hatinya hingga Subaraya tumbuh menjadi sosok pria dewasa.
Pohon lontar tak lagi menetes, bagaimana Subaraya melanjutkan hidup? Sang Khalik pun tak menutup mata, maka dikirimi-Nya untuk Subaraya sebuah busur lengkap dengan anak panah, juga seekor anjing ajaib bernama wolo buto laga lema, yang bias berbicaralayaknya manusia.
Subaraya dan anjing itu pergi berburu, anjing itu menyuruh Subaraya untuk menunggu di tempat yang rata dan anjing pergi menggiring babi dari lempat tumbuhnya rotan (uajina wido ile).
Anjing tersebut sendiri berteriak memanggil namanya, juga sendiri menggonggong seperti seorang pemburu dan anjingnya, untuk menggiring babi menuju Subaraya.
Setibanya babi tepat di dekat Subaraya, ia langsung memanahnya. Kala itu belum ada api-apian, sehingga anjing wolo buto laga lema dan Subaraya memakan buruan mereka tanpa membakar atau memasak terlebih dahulu.
Dan babi pertama yang mereka dapat, ketika Subaraya menyembelihnya terdapat Anting kuno (belao), dan gigi taring babi tersebut juga disimpan.
Setiap harinya mereka hidup seperti ini.
Hari-hari terus berlalu dan setiap hari pula Subaraya dan anjing ajaibnya berburu.
Tibalah pada suatu hari, ketika mereka sedang berburu menuruni lembah dan menaikai perbukitan, mereka meliha seekor babi.
Keduanya mengejar babi tersebut namun tak juga dapat menangkapnya.
Mereka terus berusaha mengejar, hingga babi itu tertangkap di suatu tempat bernama hingi lama bole – lebe lama maya, tempat yang dihuni oleh sekelompok orang yang menyebut dirinya Jawa Malaka no tua Bateya, Bateya ara lolo.
Subaraya dan anjingnya memotong babi tersebut untuk makan dan menyisahkan bekal untuk besok harinya. Tampak hari sudah mulai gelap.
Mereka berdua hendak pulang namun jangan sampai kemalaman di dalam perjalanan, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat malam di tempat itu. Ketika Subaraya tidur, tanpa disadarinya anjing wolo buto laga lema meninggalkan dirinya.
Anjing itu pergi dan tidur bersama seorang gadis bernama Peni Gini Hara Geka Tepa Geka Suba Nina. Keesokan paginya, Subaraya bangun dan melihat anjing ajaibnya tak bersama dirinya. Ia memanggil anjing tersebut untuk pulang sambil mengangkat bekal yang telah disisikan tadi malam. Dalam perjalanan untuk pulang, anjing wolo buto laga lema tiba-tiba berlari kembali ke tempat Jawa Malaka no tua Bateya, Bateya ara lolo dan menemui Peni Gini Hara Geka Tepe Geka Subanina.Subaraya memanggil anjing ajaibnya pulang. Namun hal yang sama terulang kembali hingga tiga kali berturut-turut. Akhirnya atas restu dari kelompok Jawa Malaka no tua Bateya, Bateya ara lolo, maka Subaraya diijinkan untuk membawa Peni Gini Hara Geka Tepe Geka Subanina bersama mereka untuk kembali ke hunian Subaraya yakni Wuhu Wolo Matan-Tana Mapen Lera Gere. Kembalinya dari tempat tersebut, akhirnya Subaraya dan Peni Gini Hara Geka hidup bersama sebagai suami dan istri hingga dikaruniai oleh sang Khalik pada mereka tujuh orang putra dan saudarinya masing-masing.
Perkampungan yang dihuni oleh Subaraya tersebut Wuhu Wolo Matan-Tana Mapen Lera Gere, namun mereka masih mengkonsumsi makanan tanpa dimasak terlebih dahulu (reka tange), karena mereka belum mengenal yang namanya api.
Hingga datanglah seorang pengembara dari suku Kein dan mengajarkan pada Subaraya cara membuat api, yakni menggunakan bilah bambu yang masih mentah dan sabuk kelapa, dan digosok.
Setelah mengenal api, akhirnya mereka dapat mengkonsumsi makanan yang sudah dibakar dan dimasak.
Sebagai ucapan terima kasih kepada pengembara tersebut, Subaraya memberinya seekor anjing betina beserta tujuh anaknya. Sepeninggalan Suku Kein, datang lagi orang dari Suku Baon, dari Sina Jawa, Lepan bata, dan juga yang lainnya. Dan menghuni di dekat perkampungan Subaraya.
Tujuh putra Subaraya ada yang membuka perkampungannya sendiri. Ada pula yang terus bersama Subaraya. Setela itu mereka pindah dan menghuni kampung Kleuan Lala Eban, Tana Bala Koran Gobak.
Namun pada saat tinggal di tempae tersebut, keturunan mereka tak juga bertambah, justru sebaliknya kematian dan penyakit yang selalu menimpa mereka. Karena itu mereka berpindah lagi ke Lewo Wao Lama Salan, Tana Pigan Lama Selun.
Setelah sekian lama menghuni kampong tersebut, mereka pindah lagi ke Ku’ Kayo Bala, Tana Pusu’ Laka Beak.
Di tempat inila mereka meletekan Nuba Bou Lakaro’, Adak Nara Medo Wato.
Kehidupan berjalan sebagaimana biasanya namun kejadian seperti bencana dan penyakit datang menimpah mereka sehingga mereka berpindah lagi ke Keru Geru Wolo Liwo Walan Belen Lolon.
Di kampung ini berdatangan banyak orang dari berbagai suku suku ile jadi woka dewa, suku Niron, Baun, Muda Yen. Rae lali warat haka pe ata suku sina jawa, Suku Keban, Hayon Lein, Niron Gein, Muda Tratunawa, Krowin, Sogen.
Rae teti timu hau pe rae ata tena mau ne suku keroko puken lepan bata, Suku Kein, suku hayon Lepan bata, Hayon Leki Seran Mau Wada / Hayon Lepe Lagaria, Kaha Kokiboki Wulan Gita, Moton, Tana Werang, Tukan, Kikon. Suku Sina Sawun.
Maka terbentuklah Suku Pulo-Wu Lema dan iki Koten soga Kelen, iki Hurit soga maran Maran, selama berlaku hingga sekarang yang disebut dengan dewan empat besar (Semata Pa).
Yang bertugas membantu Bapa Lewo-Ema Tana agar kampung selalu sejahtera dan damai.
Tugas dari Semata Pa jika dalam sebuah upacara adat, pada saat ritual menyembelih hewan korban yakni Koten adalah suku Keban Koten, bertugas memegang bagian kepala hewan (pehe tilu-haga tara’).
Kelen adalah suku Keban Kelen, bertugas memegang kaki dan ekor hewan (tubo iku’-lawe lei’).
Hurit adalah suku Niron Hurit, bertugas memegang parang untuk menyembelih (pehe suri kada).
Maran adalah suku Niron Mara, yang bertugas mengucapkan doa dan mantra (tutu koda).
Bertahun-tahun mereka menghuni perkampungan tersebut, akhirnya berpindah dan membentuk perkampungan baru yang diberi nama Lewo Pusu’ Bura, Tana Bura Kamba Lese, namun di kampong yang baru ini, mereka tidak lama menetap karena terjadi perang saudara yang mana mereka saling membunuh.
Hingga pada suatu hari, pagi-pagi buta Subaraya pergi menjalankan aktivitasnya sehari-hari di tapo eba untuk mengiris tuak, dan memanen daun tembakau.
Ketika siangharinya ia kembali, di tempat yang rata Ia bertemu dengan kekuatan Lewo tana Bapa timu ema wara ddalam rupa seekor buaya yang bernama kobu mogu moga gaya, yang berpengawal seekor burung bernama ketuok kebik.
Panjang buaya tersebut dengan ekornya yang melilit gunung dan kepalanya berada tepat di tempat yang rata tersebut. Melihat binatang ini,. Hari sudah semakin siang Subaraya sudah sangat lapar.
Namun niatnya untuk melanjutkan perjalanan pung diurungkan karena kobu mogu moga gaya telah menghalangi jalan. Subaraya sangat ketakutan. Subaraya meletakan semua barang bawaannya di tanah.
Burung ketuok kebik terbang mengelilingi bapa timu ema wara tersebut mulai dari ekornya, mengintari tubuh hingga di kepalanya.
Bapa timu ema wara menyuruh ketuok kebik untuk memanggil bapa ata maran untuk menghampirinya.
Ketika ketuok menyampaikan kepada Subaraya namun Subaraya tak mau karena dia takut dimangsa oleh kobu tersebut.
ketuok kebik terbang kembali dari ekor sampai ke bagian kepala dan menyampaikan kepada bapa timu ema wara.
Namun bapa timu ema wara menyuruh ketuok hingga tiga kali dan akhirnya Subaraya pun bersedia untuk mengampiri bapa timu ema wara. Ketika tiba di hadapan bapa timu ema wara, buaya tersebut berpesan pada Subaraya agar membuka perkampungan baru di tempat dimana kepalanya berada.
Karena kampung yang sekarang dihuni, merupakan tempat persinggahan segala macam penghuni bumi baik dari utara, selatan, timur maupun barat.
Kampong dibangun tersebut harus diberi nama Lewo gika uku’, tana lega lara’.
Dan jika melakukan ritual adat, maka Subaraya harus terlebih dahulu memberikan sesajian untuk Bapa timu ema wara, jika tidak dilaksanakan maka apapun yang dilakukan oleh Subaraya dan rakyatnya tidak akan pernah mendapatkan hasil yang baik karena tidak mendapat restu setelah berkata demikian, Kobu mogu moga gaya kembali ke tempatnya.
Dengan demikian, berdasarka amanat yang disampaikan oleh Bapa timu ema wara kepada Subaraya, maka Subaraya pun mengumumkan kepada semua penghuni kampung untuk membuat sebuah perkampngan baru.
Dalam proses pembabatan hutan, semua tanaman dan pepohonan sudah diratakan dengan tanah, namun ada sebuah pohon besar yang diyakini sebagai kekuatan lewo tana, tak bisa tumbang walau kapak dan parang sudah menembus ddibalik batang pohon tersebut.
Pohon itu bernama Loo. Kampong tersebut pun diberi nama sesuai yang dipesan oleh bapa timu ema wara yakni Lewo gika uku’, tana lega lara’ Beberapa hari kemudian situasi perkampungan semakin tidak nyaman.
Anjing terus menggonggong ayam pun terus berkokok ketika larut malam. Subaraya pun mencari tahu penyebab dari kejadian ini. Subaraya memanggil seorang dukun bernama Koki Kaha untuk mencari penyebabnya.
Dan ternyata di samping tempat yang rata tersebut ada sebatang pohon kepapa ada seekor naga berkepala tujuh.
Naga inilah yang menyebabkan suasana kampong menjadi tidak nyaman. Namun Koki Kaha, sendiri tak mampu menangkapnya, akhirnya dia memanggil dukun yang lain diantaranya Wayo’ Nogoama Keban, Suba Litoama Kaha, Lepe Lagaria hayon untuk membantunya. Koki menyuruh agar naga itu ditembak, namun naga itu berbalik melompat dan melilit Suba Letoama.
Melihat hal itu, Lepe Lagaria hayon dengan busur dan anak panah yang ujungnya tumpul berhasil memanah naga tersebut. Naga tersebut bernama Aru.
Setelah berhasil dipanah oleh Lepe Lagaria Hayon, masyarakat pun beramai-ramai memusnahkan binatang pengganggu tersebut dan bangkainya di buang di sisi sebuah tempat bernama Besa Wutu.
Setelah binatang pengganggu di bunuh, Subaraya dan rakyatnya membuat ritual di bawah pohon lo’o. tak lupa pula member sesajian pada bapa timu ema wara, mereka melilit kain ketipa dan sebatang gading (bala) di pohon lo’o tersebut berhasil ditumbangkan oleh Leyo Kaha.
Maka yang semula kampung itu diberi nama Lewo gika uku’, tana lega lara’ diganti menjadi Lewo pi bala nawa- tana pi kora’ goka. Setelah semuanya berhasil dilaksanakan, masyarakat pun hidup sebagaimana biasanya.
Namun pertikaian antara mereka terus menerus terjadi. Akhirnya dewan empat besar (semata pa) yang mencerminkan kepemimpinan partisipatif mengatur dan mengurus masyarakat yang bertikai hingga mereka semua hidup dalam suasana penuh kedamaian dan ketentraman.
Dengan kedamaian dan ketentraman ini, maka mereka mengubah nama kampong menjadi Lewo bala lama haru- tana haru’ lama dike, yang kemudian dikenal dengan Balawelin.
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Kampung Tambera Desa Doka Kaka Kecamatan Loli - Sumba
Terletak di desa Doka Kaka kecamatan Loli merupakan kampung Ina- Ama atau kampung adat utama suku loli sekaligus pusat pelaksanaan ritual Wulla Poddu, sebuah ritual suci penganut Marapu (kepercayaan tradisional penduduk asli Sumba Barat) yang dilaksanakan selama satu bulan penuh.
Rato di kampung adat tambera bernama Yewa L. Kodi. Saat ini kampung Tambera dihuni oleh 12 kabisu(sub-klan) yang mendiami 20 buah rumah adat dengan nama dan fungsi tersendiri.
Di dalam kampung adat Tambera terdapat beberapa benda-benda sakral yang kemudian di tetapkan sebagai benda cagar budaya. Berikut ini adalah benda cagar budaya yang berada di situs Tambera.
MACAM MACAM BENDA KERAMAT
1. Doddu/ ubbu ; Tambur suci yang hanya dibunyikan setahun sekali yaitu sepanjang pelaksanaan Wulla Poddu(Bulan Suci) yang berlangsung antara bulan Oktober sampe i dengan November
2. Lede Kodaka ; Gong suci yang terbuat dari serbuk besi. Gong ini hanya boleh dibunyikan pada bulan Wulla Poddu.
3. Paleti Lango-Pedenga Rasi ; sepasang gong suci yang dibunyikan saat perayaan ritual-ritual pemujaan yang berlangsung di dalam rumah.
4. Soro Bonnu- Karawang Jawa ; sepasang gong suci yang dibunyikan saat kemarau panjang dengan tujuan meminta datangnya hujan.
5. Kaleku Boru Podda/ kawuku; Simpul tali terbuat dari kulit pohon yang dibentuk menyerupai bola. Dipercaya sebagai symbol perkembangan manusia dan bahan pangan.
6. Kaweda; wadah kecil terbuat dari anyaman rotan atau pandan.
7. Dari dewa; untaian muti terbuat dari batuan alam sebagai pelengkap busana adat rato Rumata Tambera dan Rumata Geila Koko yang digunakan dengan cara dililitkan di sekeliling rahang.
8. Rewo/ kau; Sejumput rambut yang digunakan oleh rato rumata.
9. Nobbu Wara; Tombak besi yang terbuat dari serbuk besi.
10. Nobbu Tei; tombak suci yang digunakan sebagai kelengkapan busana penari laki-lak yang tampil saat Wulla Poddu.
11. Nobbu Tadaila Goro; Bahan Dasar tombak ini sama dengan nobbu Wara dan NOBBU Tei namun ujung-ujung nya. (*)
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Sejarah Pemerintahan dan Perkembangan Islam di Kedang-Lembata
![]() |
| Gambar: Desa Kalikur diambil dari atas |
A. Kondisi Awal Mula Kedang sebelum Masa Kolonial Belanda
Kedang berasal dari kata "Edang", adalah nama sebuah wilayah "Auq Edang" yang sekarang dikenal dengan "Tanah Kedang".....Auq = Tanah, Edang dari kata Edan = Lampau atau dahulu kala, jadiAuq Edang berarti Tanah Dahulu Kala atau Tanah Masa Lampau. Auq edang /Tanah Kedang adalah nama sebuah wilayah pemerintahan yang membawahi 44 buah Temukang atau kampung sekarang yang berada di sekeliling gunung kedang atau Uyelewun, Konkritnya. Pada masa dahulu sebelum pemerintahan kolonial belanda, pemerintahan Auq Edang/Tanah Kedang sudah ada dan asal mula manusia bermukim di puncak Uyelewun dari awal manusia Edang (Kedang) pertama secara turun temurun sampai pada seorang raja pertama bernama TAMIDA.
selanjutnya dari raja TAMIDA menurunkan anak secara turun temurun hingga
LIA→LOYO→BUYA
Kemudian BUYA bertemu dengan seorang perempuan yang belum dikenalnya, yang berasal dari Sina Pueng Matang Jawa ( Tanah jawa ) akhirnya menikahlah keduanya. Tempat pertemuan keduanya dibalikulik (balauring) sekarang menjadi ibukota kecamatan omesuri. Buya adalah orang jawa, sebutan Buya berarti Bapa danOme lidah orang kedang tapi, sebenarnya adalah Umi yang artinya Ibu. Jadi Buya dan Ome selalu ditambah Suri yang artinya Pengelana atau Pengembara, karena tidak diketahui asal muasal kedua orang tersebut. Dari perkawinan Buyasuri dan Omesuri menurunkan beberapa keturunan secara turun temurun hingga sampai pada ROMAN yang menurunkan anak RIBU dan RAHA. Kedua putera mahkota itu selanjutnya berkaitan dengan penyebaran Manusia dalam rangka memenuhi Temukung/Perkampungan di seputar Gunung Uyelewun dan sekitarnya, maka terjadilah pembagian wilayah Au Edang (Tanah Kedang) menjadi 2 bagian, Wilayah GOA OTEWELA BAJA (di pedalaman), RAJA OLE WATA (Raja di pesisir pantai.
GOA OTE WELA (Raja di pedalaman) di perintahhi oleh RIBU ROMAN dan RAJA OLE WATA (Raja pesisir) diperintahi oleh RAHA ROMAN. Oleh karena pembagian kekuasaan raja auq Edang/Tanah Kedang pada dua saudara kakak beradik dan pada akhirnya terjadilah pembaiatan adik Raja ole wata, RAHA ROMAN menjadi RAJA EDANG, Raja Tanah Kedang karena Raja RAHA ROMAN punya Sumber Daya yang lebih baik/Tinggi........................................................................................................
Sebagai tanda untuk mengekalkan PEMBAIATAN tersebut dilakukan secara seremonial adat dengan memadukan darah kakak beradik yang penuh dengan nilai kesakhralannya dan kesaktiannya.......................................................................................
ISI BAIAT :
1. RIBU RATU (sebutan asli kedang)
WITING LUBA DEI SOBA’ ARABAU DUKI DEI
Rakyat mngikuti perintah satu orang nimong/Penggembala dalam hal ini adalah RAJA
2. Semboyan persatuan dan kesatuan dari pedalaman dan pesisir/pantai adalah SATU dengan semboyan kedang
“WITING PULU WADE” UDE’, MATENG PULUH WOU’ UDE”
Artinya : Sepuluh ekor kambing diikat dengan satu Tali
Mayat sepuluh Dikubur dalam satu liang lahat
3. “WELA BIRANG WATA LOGE, WATA OWANG WELA PARO”
Artinya : Pakaiannya Pedalaman Robek,, Pesisir berikan,
Pedalaman Lapar pesisir Berikan Makanan.
Tiga butir baiat ini merupakan kalimat “NUKUNG” (Tamsil). Ketiga Baiat sumpah serapah ini sangat terbukti bila terjadi pelanggaran dan hal ini kontan dan sangat dihormati hingga saat ini, Orang boleh percaya atau tidak tapi FAKTA telah membuktikan, kemudian penulis hanya meneruskan sejarah bagi turunan dari Raja RAHA ROMAN dan sejarah GOA OTE WELA sekarang berada di Aliuroba ( Desa benihading ) tersendiri dengan sejarahnya. RAJA RAHA ROMAN kemudian menurunkan anak – anaknya secara turun temurun hingga pada ERUNG LAWE. Dari Lawe selanjutnya menurunkan lima orang anak yaitu :
DATO LAWE
SARABITI LAWE
SARUANG LAWE (X ) Mati muda
TAPING LAWE
ERUNG LAWE
Yang sekarang mendiami LEU ALIUR (Kalikur) pada masa dahulu hingga sekarang dengan suku LEU TUANG hingga saat ini.........................................................
Di Leu Aliur ( Desa Kalikur ) terdapat 6 suku yang pada masa lampau menjadi 6 temukung(kampung) yang masing – masing kepala kampung dijabat oleh Ketua – ketua suku.
Kampung/Temukung di kalikur terdiri dari :
Kampung / Suku Leutuang
Kampung / Suku Leuwerung
Kampung / Suku Dapubeang
Kampung / Suku Honiero
Kampung / Suku Marisa
Kampung / Suku Leuto’ang
Dari kelima anak dari RAJA LAWE ERUNG. Anak kedua yakni SARABITI LAWE menjadi RAJA AUQ EDANG( tanah kedang) karena sumber dayanya agak lebih baik dari kakak beradik tersebut diatas.Beliau SARABITI LAWE Lebih cakap dan belajar ilamu agama islam Tempat belajarnya adalah Ujung Pandang (Sekarang Makassar) dan Buton, Bau-bau.-
Pada masa masuknya pemerintahan Kolonial belanda pada tahun 1596, Belanda masuk ke indonesia, di Pelabuhan BANTEN (Tanah jawa) pemerintah pada saat itu di LEU/AU EDANG(Tanah Air Kedang) dengan LEU ALIUR sebagai pusat ibukota dibawah pemerintahan RAJA SARABITI LAWE.
Selanjutnya Pada tahun 1602 Belanda dengan VOC Melancarkan ekspansinya dengan politik “ DEVIDE ET IMPERA ” atau politik memecah belah dan menguasai.
Dengan dilancarkan politik Devide et Impera maka terjadilah fitnah yang dilancarkan oleh VOC kepada RAJA ADONARA bahwa di Au Edang atau tanah Kedang hidup seorang Raja yang bernama SARABITI LAWE yang meliputi 44 Temukang/Kampung. Yang berdiri sendiri dengan tidak memihak kepada Timur ataupun Barat. Dengan segala strategi yang licik dari VOC maka Raja ADONARA mulai melakukan perluasan wilayah kekuasaan dengan segala strateginya dengan mengundang RAJA SARABITI LAWE ke Adonara lalu mempersuntingkan saudari perempuannya untuk di kawinkan kepada raja SARABITI LAWE yang bernama “ MEME BOTA “ dengan demikian maka RAJA KEDANG di bawah Raja SARABITI LAWE secara otoomatis menjadi bagian dari pemerintahan RAJA ADONARA dengan sebutan KAPITAN( RIANG BARA ) sebagai bukti pengakuan Auq edang menjadi bagian dari Raja ADONARA maka lahirlah kalimat sakti perpaduan dua wilayah antar kalikur dan Adonara yang ditandai dengan memadukan darah dan diminum bersama.
Kalimat sakti tersebut adalah : “LEU ALIUR AUQ ADONARA”
Kesaktian kalimat tersebut telah terbukti dimana-mana oleh orang kedang. Kalimat ini boleh dipercaya atau tidak tetapi fakta telah membuktikan. LEU ALIUR AUQ ADONARA dengan “NUBA NARA” nya adalah kalimat yang penuh dengan kesaktiannya adalah kalimat yang merupakan simbol INDUK,Yang dalam istilah kedang “NETE” atau HULU( GAGANG) sedangkan isinya, Sebagai penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena tidak bisa mencantumkan isi dari pada istilah di atas, karena diharuskan untuk memenuhi kriteria khusus yang harus di penuhi bagi yang mau mempelajarinya...................................................................................................................
B. Auq Edang atau Tanah Kedang pada Masa Pemerintah Kolonial Belanda
Raja SARABITI LAWE ( Penguasa Auq Edang dan Tanah kedang) yang sering dipanggil(RIANG BARA) kawin 2 (dua) orang istri dengan menurunkan beberapa orang anak diantaranya yang menjadi putra mahkota adalah :
MUSA SARABITI, dan BAPA LAWE SARABITI
Dengan dua putera mahkota ini pemerintah kolonial Belanda mulai memainkan peran fitnah kepada RAJA ADONARA bahwa Auq Edang (TANAH KEDANG) terr jadi perebutan tahta oleh dua saudara yaitu :
BAPA LAWE SARABITI dengan MUSA SARABITI, dan akhirnya BAPA LAWE SARABITI di asingkan ke KUPANG(timor). Dan pada akhirnya SARABITI LAWE sering dipanggil dengan nama BAPA KUPANG.Kedua saudara tersebut yakni Musa Sarabiti dan Bapa Lawe sarabiti belajar sekolah di Makassar, Buton, dan Bau – Bau. Setelah Bapa Lawe Sarabiti kembali dari Kupang terjadilah perdamaian antara kedua saudara kakak beradik untuk saling akui mengakui Saudara MUSA SARABITI menjadi “RIANG BARA”. Sebagai bukti bahwa adanya pengakuan tersebut dilakukan pertukaran Bineng(Saudara Perempuan) yakni saudari perempuan dari MUSA SARABITI yaitu : SITI MUSA dan BANG MUSA menjadi saudari perempuan BAPA LAWE SARAABITI yakni EMA BESE’ dan EMA PAO menajdi saudari MUSA SARABITI hingga saat ini.
Selanjutnya RIANG BARA MUSA SARABITI menurunkan beberapa orang anak yang menggantikan RIANG SARABITI adalah PUTERA MAHKOTA yang bernama “SARABITI MUSA” menjadii Riang Bara Auq Edang/tanah Kedang, beliau sering di panggil dengan sapaan “BAPA RIANG” yang tempat pemakamannya di abadikan diatas batu besar di BOTE LOLOQ yang sering dissebut masyarakat dengan SAGU WOWO artinya MULUT SAGU atau pelabuhan ADONARA. Yang hingga saat ini menjadi monumen peninggalan masa lampau.
C. Auq edang atau Tanah Kedang pada Masa Kemerdekaan indonesia
Pada tahun 1945 Auq Edang atau Tanah Kedang diperintahi oleh “RIANG BARA” yang membawahi 44 Temukang/kampung yang berada di seputar uyelewun atau gunung kedang. Termasuk 6 buah kampung di kalikur. Setelah RIANG BARA MUSA SARABITI meniggalakan roda pemerintahan, Pemerintahan beralih pada 2(Dua) orang putera mahkota yaitu :
MUSA atau M. MUSA atau dipanggil dengan sapaan BAPA MUSA, selanjutnya menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah, dan kemudian dipanggil dengan sapaan H.MUSA.
BAPA DIAH yang kemuadian berkawin dengan dengan keturunan RAJA ADONARA dan bermukim di SAGU hingga saat ini.
Setelah itu yang menjadi RIANG BARA wilayah Kedang dibawah Pemerintahan “RIANG MUSA”. Setelah Kemerdekaan wilayah RAJA ADONARA dibentuk dengan sistem Pemerintah baru dengan sebutan “SWAPRAJA ADONARA” yang membawahi beberapa KAPITAN yang diperintahi oleh seorang Kepala HAMENTE yang khususnya di wilayah kedang menjadi HAMENTE KEDANG.
Pada tahun 1960 terjadilah perubahan sisitem pemerintahan menurut Undang – Undang atau peraturan kepala HAMENTE diubah menjadi KOORDINATOR DESA – DESA. Setelah RIANG BARA MUSA BIN BAPA RIANG, Pemerintah beralih apada Dinasti berikutnya yaitu Putra Mahkotanya yakni : MAS ABDUL SALAM SARABITI sebagai kepala HAMENTE Kedang, juga sebagai koordinator Desa-desa Kedang yang berkedudukan di BALAURING Ibukota kecamatan Omesuri sekarang............................
Pada tahun 1961, Kemudian struktur pemerintah Koordes dirubah menjadi Pemerintah Kecamatan , sehingga Kampung – Kampung pun diubah menjadi “Pembentukan desa gaya Baru”. Maka terjadilah Pembentukan Kecamatan Lomblen Timur dengan Ibukotanya BALAURING. Selanjutnya khususnya Kalikur yang terdiri dari enam Kepala Kampung yang digabung menjadi : “DESA GAYA BARU KALIKUR” . Dan Pada saat itu terjadilah Penggabungan Desa - Desa Seputar Gunung Uyelewun yang Dulunya terdiri dari kepala – kepala Kampung..................................................................
Pada tahun 1967 Pemerintah Lomblem Timur dimekarkan menjadi dua Kecamatan yaitu :
Kecamatan Buyasuri
Kecamatan omesuri
Yang dahulunya adalah wilayah Administrasi RAJA SARABITI LAWE
Kecamatan Buyasuri Ibukotanya Weiriang
Kecamatan omesuri ibukotanya Balauring
Hingga saat ini.........
D. SEJARAH PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI FLOTIM, ALOR DAN DI KEDANG KALIKUR
Agama islam masuk di wilayah flores timurdan alor lebih khusus di Auq edang/Tanah Kedang melalui 2 jalur yaitu :
EXPEDISI DARI TIMUR
EXPEDISI DARI BARAT
Pada tahun 1500 Agama Islam masuk di indonesia yang dibawa oleh pedagang dari Arab, Gujarat, dan Persia melalui bandar – bandar niaga yang Ramai. Pada umumnya Ekspedisi penyebarannya melalui perdagangan dan kawin mawin. Tahun 1700, khusus di Tanah Kedang (Auq Edang) yang diperintahi oleh Raja Sarabiti Lawe dengan pusat pemerintahan di LEU ALIUR(KALIKUR) sudah memeluk agama Islam, primitif awal mula masuknya agama islam di LEU ALIUR(Kalikur) berasal dari kerajaan/kesultanan Banten. Para da’i penyiar agama islam datang berniaga/berdagang dan singgah di pelabuhan/bandar Leu Aliur. Bandar/Pelabuhan Leu Aliur(Kalikur) pada masa lampau sangat terkenal karena merupakan bandar/pelabuhan transito bagi Expedisi penyebaran dari timur ke barat ataupun dari barat ke timur. Karena itu pelabuhan kalikur diberi nama dengan PUITIS KEDANG :
“LEU LIKUR LAMA KOMA TANAH WAHENG LAMA BERA”
Artinya :
NEGERI YANG AMAN DAMAI TEMPAT BERTEDUH BAGI PELAYAR YANG HENDAK KE TIMUR atau KE BARAT
Sekaligus tempat persiapan pembekalan (Logistik) dalam pelayaran dan penyebrangan.
Bandar/Pelabuhan Kalikur sekarang masih ada yang sering disebut oleh orang kedang dengan sebutan “WATA RIANG” dengan rincian arti (Wata : Pantai,Riang : Besar). Artinya Pantai Besar dan tempat itu menjadi tempat yang sakral dan terus dipergunakan oleh pemerintah dan masyarakat kalikur dalam Urusan Pelepasan Ekspedisi kalikur ke luar Daerah termasuk pelepasan dan pemberangkatan jemaah haji pada masa lampau.............!!!
Pada Tahun 1800, datang lagi para penyebar dan penyiar agama islam dari kesultanan Banten yang bernama“SYEKH IBU ABUYA” sebagai pimpinann ekspedisi masuk di Kalikur dan tinggal serta menetap bersama Bapa Lawe Sarabiti melalui bandar/pelabuhan Kalikur sambil berdagang atau berniaga sekaligus penyiaran dan penyebaran agama islam di kalikur. Dan Syekh Ibu Abuya berasal dari Keturunan kesultanan Banten dan juga penyiar agama islam di wilayah kedang khususnya di kalikur, oleh karena tugas sebagai seorang penyiar agama islam maka beliau tinggal dan menetap di kalikur untuk waktu yang cukup lama sampai bertahun. Sebagai bukti bahwa beliau pernah tinggal di Kalikur, maka rumah yang dianiaya orang kalikur dan orang kedang pada umumnya menyebutnya dengan sebutan Huna Banten karena lidah orang kedang menyebutnya dengan sebutan Huna banten : Huna = Rumah, Banten=bantal. Rumah tersebut ditempati oleh orang Banten, dan hingga saat ini rumah tersebut masih bernama Huna bantal dan keberadaanya kini masih ada di desa kalikur. Karena itulah perlu digaris bawahi bahwa datangnya/tibanya Syekh Ibu Abuya, Raja Kedang Musa sarabiti, dan bapak Lawe sarabiti sudah memeluk agama islam dari bapaknya (Mendiang Sarabiti Lawe). Sebagaimana telah penulis katakan bahwa penyebaran dan penyiaran agama islam baik Timur maupun Barat, melalui bandar-bandar niaga yang ramai dan termasykur.
Ekspedisi Jalur Timur dan Barat
Ekspedisi jalur barat tersebut melalui Kerajaan Islam di tanah jawa dan juga Sulawesi. Sedangkan Ekspedisi jalur Timur melalui Kesultanan Ternate, Tidore, saparua, Bacaa dan Obi. Ekspedisi barat dalam penyebaran dan penyiarannya melalui 5 bandar-bandar yang ramai pada masa itu yakni :
Wilayah Flores Timur terdiri dari :
LOHAYONG → Ola Lau Hayong
LAMAKERA → Dato Lau Kera
LAMAHALA → Kia Rae Salang
TERONG → Dato Watampao
LEBALA → Bala Lama Rongan
5(lima) bandar besar itulah kemudian dikenal dengan SOLOR WATANG LEMA artinya Solor 5 Pantai. Solor adalah nama Daerah yang masuknya agama islam di wilayah Flores Timur. Watang adalah bandar, pantai atau pelabuhan. Jadi Solor watang lema berarti 5 (lima) pantai.................................................................................................
Expedisi Timur
Melalui jalur Bandar – bandar Niaga yang ramai Khususnya di kepulauwan Alor melalui 5 Bandar besar yaitu :
PANDAI→Liu rai Bolitonda
BARANUSA
BLAGAR→Salasang baku laha
ALOR BESAR
KUI MORU→Gamaley Ata Malay
5 (lima) bandar tersebut kemudian terkenal dengan nama / sebutan GALI AU WATANG LEMA BerartiALOR LIMA PANTAI . Kalau begitu Kedang / Kalikur termasuk yang mana ? apa Solor Watang Lemaatau Gali Au Watang Lema ? jawabannya : Kedang / Kalikur Tersendiri karena Bandar Kalikur sebagai mana penulis sudah utarakan bahwa kalikur sebagai tempat Transit untuk jalur penyebrangan baik dari Timur maupun Barat yang sering di beri nama dengan “ LEULIKUR LAMA KOMA TANAH WAHENG LAMA BERA” Sebagai bukti peninggalan tempat singga pada masa Lampau di Kalikur masih ada sering di sebut “Wata Riang”, Jadi Kalikur Agama Islam masuk Tersendiri Baik melalui jalur Timur maupun barat.
Untuk memperdalam ilmu Agama Islam Baik di timur maupun di Barat Orang Kalikur Meengirimkan BENARASI untuk belajar Ilmu Agama Islam sebagai berikut:
GENERASI I (pertama)
Musa Sarabiti belajar di Makassar dan Buton Bau – bau
Bapa Lawe Sarabiti juga di Makassar dan Buton Bau – bau
Jawa (Imam Jawa) belajar di Batipu, Padang Sumatra Barat dan di Tanah Jawa(sehingga sering disebut (Imam Jawa)
GENERASI II (kedua)
Jaudin Laba belajar di Seram saparua
H. Musa belajar di Makassar Buton bau – bau
Bapa Diyah Belajar di tanah Jawa juga Buton bau – bau.
Butu (Jou) belajar di Tarnate Seram, Saparua.
Raha Dato belajar di seram saparua (yang semboyan kebesarannya sering beliau nyatakan dalam orasinya “SERANG GORANG YO”).
Ana Koda Haba belajar di Buton bau-bau karena jadi juragan maka dijuluki ANAKODA HABA.
Raja Mamboli dari Dapubeang juga belajar di serang Saparua.
M. Abd Wahid belajar di Buton, Bau-bau dan makassar.
Kemudian datang para ustadz dari Padang Sumatera barat mengajarkan ilmu agama islam di kalikur/Kedang sampai beberapa saat baru kembali, tepatnya di Batipu dan padang pariaman Sumatera Barat. Catatan yang diperoleh penulis dari para leluhur bahwa agama islam masuk di Kedang/kalikur pada tahun 1700-an.
Kemudian menyusuli SYEKH IBU ABUYA dari keturunannya datanglah H.MUSLIM BIN ABD SYEKH ALWAN masuk di Kalikur melalui Bonerate tinggal di Kalikur tepatnya di Huna banten kemudian mengawini Hj. St. Aisyah anak dari H. Misbah cucu dari Bapa lawe sarabiti juga Mengajarkan ilmu agama islam dan menetap di kalikur dengan menurunkan beberapa anak kemudian kembali ke Mekkah hingga meninggal di Mekkah. Hingga saat ini anaknya H. St. Fatimah masih menetap di Mekkah...
Yang menarik dan istimewa Pemerintah Negeri Kedang/Kalikur pada masa lampau sering disebut dengan “RAJA AGAMA” artinya : Raja yang mengatur Ritual Agama islam, dengan fungsi :
Mengatur Ritual Agama terutama mengenai shalat Jum’atan dan juga shalat sunnat 2 Hari Raya Besar.
Penetapan awal puasa ramadhan dan penetapan Hari Raya idhul Fitri(1 Syawal)
Uniknya adalah kegiatan ritual Agama pada butir pertama diatas baru akan dimulai apabila telah hadirnya “RAJA AGAMA”
E. PENYEBARAN DAN PENYIARAN AGAMA ISLAM DI WILAYAH KEDANG DI SEPUTAR GUNUNG UYELEWUN
Pada masa awala mula masuknya agama islam di Leu Aliur maka agama islam mulai mengembangkan supaya ke wilayah perkampungan di seputar gunung Kedang/Uyelewun mulailah dilakukan penyiaran dan pengajaran Ilmu Agama Islam oleh para jou-jou ngaji sekaligus mendirikan mesjid dan langgar/Surau din seputar gunung Uyelewun melalui perkampungan dengan melalui proses kawin mawin di wilayah perkampungan sekaligus menjadi imam untuk mengajarkan Ilmu Agama islam. Dengan demikian dalam waktu sekejap islam masuk dan diterima menjadi agama yang dipeluknya hingga saat ini. tidaklah berkelebihan penulis menyebutkan nama-nama penyebar agama islam diseputar gunung uyelewun sebagai berikut :
Jou Imam Raha, Jou H. Abd. Wahid, Jou Imam Abd. Jamil, H. Abd. Wahid, Jou Asmolu, Jou Imam Hasan, Songko Lodo, dan Jou Soge, Jou Syuaib Soge, Untuk penyebaran Wilayah Omesuri Sekarang, Sedangkan untuk wilayah buyasuri adalah Jou Butu, Jou Imam kalu, Jou Moi H. Abd Jamil, Jou H. Muh. Arsyad, Jou Mado Dore, Jou Imam Pala, Jou luma Jawa, Jou imam Abd. Latif(Imang La Ila), Jou Imam bapa Tua taba.
F. KESIMPULAN
1.Masuknya Agama islam di wilayah kedang diperkirakan pada tahun 1700-an
2.Islam masuk di Auq Edang(Tanah Kedang) secara langsung, tidak melalui Ekspedisi Timur maupun Ekspedisi barat karena BANDAR KALIKUR merupakan Bandar Transito yang hingga saat ini masih dikenal sebagai bukti sejarah “WATA RIANG”. Wata : Pantai/Pelabuhan, Riang : Besar jadi Wata riang : Pantai/Pelabuhan besar.
3.Bukti peniggalan masa lampau, masih ada dan tetap dilestarikan hingga saat ini.
G. PENUTUP
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas segalah petunjuk dan hidayahnya sehingga sempat penulis melakukan pembukuan Sejarah Asal Mula “ PEMERINTAHAN AUQ EDANG (TANAH KEDANG) DAN SEJARAH MASUKNYA AGAMA ISLAM DI AUQ EDANG (TANAH KEDANG).
Reverensi dalam upaya penyusunan ini saya peroleh dari para pendahulu/pemimpin Kedang(Kalikur) yang berasal dari LELUHUR KETUA_KETUA SUKU dalam Desa kalikur/Leu Aliur teristimewa :
Alm. Mado Kiri (Leu Tuang)
Burong Pitang (Leu Werung)
Tulung Sika (Honiero)
H. Ali Buka (Marisa)
Kopa Toang (Dapubeang)
Mado Dore (Leu Toang)
Terus pada generasi berikut :
Abdullah Samina (Leu Tuang)
H. Agusalim Mado (Leu tuang)
Abd. Latif mado (Leu Toang)
Muh. Amin Mamboli (Dapubeang)
Hasan Rahmat (Leu Tuang)
Marjuki Beang (Dapu beang)
Terakhir dari pemerintahan Desa Kalikur yang digabung dari 6 (enam) Kepala kampung menjadi DESA GAYA BARU KALIKUR dengan kepala Desa perdananya adalah : Bapa Tuang Adonara. Kepada Alm. Mendiang Pendahulu tersebut diatas telah memberikan informasi dan inspirasi kepada penulis untuk dijadikan bahan “RUJUKAN” dalam penyusunannya terhadap buku ini.
Semoga semuanya menjadi “AMALIYAH INFORMATIKA” yang sangat berharga bagi generasi Penerus sehingga jangan sampai hanya indah khabar dari rupa yang tidak terkesan apa-apa.
*** Tidak lupa saran dan kritikan serta masukan dari teman dan rekan dalam upaya penyempurnaan terhadap sejarah ini, penulis mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya.
*** Penulis Menyadari Karya penulisan ini memang sungguh jauh dari harapan yang idealnya.
*** Jika tulisan ini benar adalah sebuah kebenaran yang datangnya dari Allah SWT. Jika salah atau khilaf dan keliru datangnya hanya dari penulis semata sebagai manusia biasa.
AMIIIEN YAA RABBAL ALAMIIEN
Muhammad Arrasy El Kasim
(Sumber : Dato,Damra.2011.Selayang Pandang Sejarah, Pemerintahan Awal Mula dan Perkembangan Islam di Kedang.Kedang:Arras Press).
Sumber: Website; kalikurdesa.id
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
KERAJAAN BIMA | KERAJAAN ISLAM DI SUMBAWA |
Setelah Kerajaan Bima terus menerus melakukan perlawanan terhadap masuknya politik dan monopoli perdagangan VOC akhirnya juga tunduk di bawah kekuasaannya. Ketika VOC mau memperbaharui perjanjiannya dengan Bima pada 1668 ditolak oleh Raja Bima, Tureli Nggampo; ketika Tambora merampas kapal VOC pada 1675 maka RajaTambora, Kalongkong dan para pembesarnya diharuskan menyerahkan keris-keris pusakanya kepada Holsteijn.
Pada 1691, ketika permaisuri Kerajaan Dompu terbunuh, Raja Kerajaan Bimadi tangkap dan diasingkan ke Makassar sampai meninggal dunia di dalam penjara. Di antara kerajaan-kerajaan di Lombok, Sumbawa, Bima, dan kerajaan-kerajaan lainnya sepanjang abadke-18 masih menunjukkan pemberontakan dan peperangan, karena pihak VOC senantiasa memaksakan kehendaknya dan mencampuri pemerintahan kerajaan-kerajaan, bahkan menangkapi dan mengasingkan raja-raja yang melawan.
Sebenarnya jika kita membicarakan sejarah Kerajaan Bima abad ke-19 dapat diperkaya oleh gambaran rinci dalam Syair Kerajaan Bima yang menurut telaah filologi Cambert Loir diperkirakan sangat mungkin syair tersebut dikarang sebelum 1833 M, sebelum Raja Bicara Abdul Nabi meletakkan jabatannya dan diganti oleh putranya.
Pendek kata syair itu dikarang oleh Khatib Lukman barangkali pada 1830 M. Syair itu ditulis dalam huruf Jawi dengan bahasa Melayu. Dalam syair itu diceritakan empat peristiwa yang terjadi di Bima pada pertengahan abadke-19, yaitu, letusan Gunung Tambora, wafat dan pemakaman Sultan Abdul Hamid pada Mei1819, serangan bajak laut, penobatan Sultan Ismail pada 26 November 1819, Sultan Abdul Hamiddan Wazir Abdul Nabi, pelayaran Sultan Abdul Hamid ke Makassar pada 1792, kontrak Bima pada 26 Mei 1792, pelantikan Raja Bicara Abdul Nabi, serta kedatangan Sultan Ismail, Reinwardt, dan H. Zollinger yang mengunjungi Sumbawa dan menemui Sultan.
Letak Kerajaan Bima
Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari Kota Bima). Secara geografis Kabupaten Bima berada pada posisi 117°40” -119°10” Bujur Timur dan 70°30” Lintang Selatan.
Sejarah Singkat Bima merupakan pusat pemerintahan atau kerajaan Islam yang menonjol di Nusa Tenggara dengan nama rajanya yang pertama masuk Islam ialah Ruma Ta Ma Bata Wada yang bergelar Sultan Bima I atau Sultan Abdul Kahir. Sejak itu pula terjalin hubungan erat antara Kerajaan Bima dengan Kerajaan Gowa, lebih-lebih sejak perjuangan Sultan Hasanuddin kandas akibat perjanjian Bongaya.
![]() |
| Gambar RAJA BIMA Bertemu dengan Presiden Ir. Soekarno |
Setelah Kerajaan Bima terus menerus melakukan perlawanan terhadap masuknya politik dan monopoli perdagangan VOC akhirnya juga tunduk di bawah kekuasaannya. Ketika VOC mau memperbaharui perjanjiannya dengan Bima pada 1668 ditolak oleh Raja Bima, Tureli Nggampo;ketika Tambora merampas kapal VOC pada 1675 maka Raja Tambora, Kalongkong dan para pembesarnya diharuskan menyerahkan keris-keris pusakanya kepada Holsteijn.
Silsilah Raja
1. ± 1620—1640 Abdul Kahir
2. 1640 — 1682 I Ambela Abi’l Khair Sirajuddin
3. 1682 — 1687 Nuruddin Abu Bakar All Syah
4. 1687 — 1696 Jamaluddin Ali Syah
5. 1696 — 1731 Hasanuddin Muhammad Syah
6. 1731 — 1748 Alauddin Muhammad Syah
7. 1748 — 1751 Kamalat Syah,
8. 1751 — 1773 Abdul Kadim Muhammad Syah,
9. 1773 — 1817 Abdul Hamid Muhammad Syah
10. 1817 — 1854 Ismail Muhammad Syah,
11. 1854 — 1868 Abdullah,
12. 1868 — 1881 Abdul Aziz,
13. 1881 — 1915 Ibrahim,
14. 1915 — 1951 Muhamad Salahuddin
Kehidupan Budaya
- Beragam tradisi dan budaya terlahir dan masih dipertahankan rakyatnya. Salah satu yang hingga kini masih kekal bahkan terwarisi adalah budaya rimpu, sebuah identitas kemusliman yang hingga kini nyaris kehilangan makna. Rimpu merupakan busana adat harian tradisional yang berkembang pada masa kesultanan, sebagai identitas bagi wanita muslim di Bima.Rimpu mulai populer sejak berdirinya Negara Islam di Bima pada 15 Rabiul awal 1050 H bertepatan dengan 5 Juli 1640.
- Masuknya rimpu ke Bima amat kental dengan masuknya Islam ke Kabupaten bermotokan Maja Labo Dahu ini. Pedagang Islam yang datang ke Bima terutama wanita Arab menjadi ispirasi kuat bagi wanita Bima untuk mengidentikkan pakaian mereka dengan menggunakan rimpu.
- Sebuah masjid tertua di Bima hingga kini masih bediri di Kelurahan Melayu Kecamatan Asakota, Kota Bima. Hanya saja, kondisi cagar budaya itu tak terurus dan hanya berfungsi sebagai Tempat Pendidikan Qur’an (TPQ) oleh warga setempat. Bahkan sejumlah benda bernilai sejarah tinggi raib. Pantauan Suara NTB, mesjid yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu dan beratap seng itu masih berdiri kokoh diantara rumah penduduk. Konon masjid itu dibangun dua utusan Sultan Goa Sulawesi Selatan untuk mensyi’arkan Agama Islam di Bima.
Kehidupan Sosial
- Masyarakat Bima merupakan campuran dari berbagai suku bangsa. Suku asli yang mendiami Bima adalah orang Donggo. Mereka mendiami daerah dataran tinggi. Kepercayaan asli orang Donggo adalah animisme, yang mereka sebut dengan marafuyu. Dalam perkembangannya, kepercayaan ini terdesak oleh agama kristen dan islam.
- Orang Donggo yang menjadi suku asli Bima ini hidup dari bercocok tanam dengan sistem peladangan yang berpindah-pindah. Oleh karena itu rumah mereka juga berpindah-pindah (tidak tetap).
- Suku lain yang mendiami Bima adalah orang Dou Mbojo (migran dari daerah Makasar).Kehidupan Ekonomi..
- Pada saat itu kerajaan Bima sangat berkembnag pesat disegi pertanian maupun perternakandan perikanan.Dibidang perternakan Kerajaan Biima tidak mau kalah dengan kerajaanlain, Raja Indra Zamrud juga mengembangkan bidang perternakan yaitu kuda, kerbau dan sapi.Dalam kitab Negarakertagama, Kerajaan Bima disebut sudah memiliki pelabuhan besar pada 1356.
Faktor Kemunduran
Kesultanan Bima berakhir ketika Indonesia berhasil meraih Kemerdekaan pada tahun 1945. Saat itu, Sultan Muhammad Salahuddin, raja terakhir Bima, lebih memilih untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Indonesia. Siti Maryam, salah seorang Putri Sultan, menyerahkan Bangunan Kerajaan kepada pemerintahan dan kini di jadikan Museum. Di antara peninggalan yang masih bisa di lihat adalah Mahkota, Pedang dan Furnitur. (*)
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Situs Sejarah Benteng Fort Overburg
![]() |
| Gambar Benteng Fort Overburg |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com







