Uis Tamae dan Uis Manu; Tahun 1794 Dibalik Dendam Membara; Sejara Di Kampung Haumeni, Bikomi, Timor Tengah Utara

NEGERIPAUS.BLOGSPOT.COM - "Aku sang musafir dengan segerombol dendam yang menyala di dada, pelan-pelan aku datang menyusuri jeritan waktu untuk mengejar semua sisa-sisa cinta yang telah kau khianati sambil ku genggam segala kisah di antara getar alir darah yang penuh amarah" 

Sepenggal kalimat di atas mewakili perasaan dendam membara ketika tempo diputar menuju ruang waktu untuk melihat kembali sejarah Suf Sila dan Uis Manu. 

Gambar Ini Hanya Pemanis; Pastor C. Martens Di Timor Tengah Utara Saat Pendudukan Jepang Tahun 1945
Gambar Ini Hanya Pemanis; Pastor C. Martens Di Timor Tengah Utara Saat Pendudukan Jepang Tahun 1945


Penuturan sejarah oleh para tetua adat masih dapat kita ketahui sampai saat ini ketika pada tahun 1794 kedua bersaudara kakak beradik yang mewarisi dua suku di kampung Haumeni yakni Suku Laek Molo dan Suku Laek Metan bertikai.

Cerita dimulai dari sini, Uis Manu merupakan adik dari Suf Sila mempunyai seorang istri dan seorang anak. Kehidupan kedua pasangan ini begitu harmonis sampai selusin bulan berlalu. 

Pada suatu ketika kemarau panjang melanda wilayah itu dan terjadi musim kelaparan sehingga memaksa Uis Manu untuk mencarikan makanan ke wilayah-wilayah terdekat.

Anak dan Istri Uis Manu menunggu dengan penuh harap di rumah mereka. Namun, setelah begitu lama, suaminya tak kunjung datang hingga rasa lapar pun tidak bisa tertahankan lagi. Sang Istri pergi ke pergi ke rumahnya Uis Tamae kakak dari suaminya yakni Uis Manu agar bisa sekiranya memberikan ia makanan.

Namun karena rasa malu istri Uis Manu tidak mengatakan kalau ia ingin meminta makanan, begitu dilakukannya sampai dua kali ia mendatangi rumah Uis Tamae. Sampai kali ketiga ia memberanikan diri untuk meminta makan sehingga Uis Tamae pun berkata bahwa " kenapa tidak bilang dari tadi". 

Menurut beberapa sumber sejarah yang di himpun bahwa sebelum Uis Tamae memberikan makanan kepada istri Uis Manu, Uis Tamae mempunyai sesuatu permintaan yaitu istri Uis Manu harus melakukan hubungan. Dan ketika itu juga dilihat oleh anak dari Uis Manu. 

Tanpa disadari karena ia adalah anak kecil yang polos maka ketika ayahnya yakni Uis Manu pulang dari mencari makanan anaknya langsung berkata kepada bapaknya demikian; "usi lelo usi feka om au usi naek nok au aina nuasin nabaelin mbin hel’e tun" lalu kata usinya kepada anak "hus kako nane ka molkef", kira-kira seperti ini artinya sebelum Uis Manu pulang mencari makanan istrinya berhubugan dengan Uis Tamae diatas tempat tidur.

Kemudian Uis Manu agaknya kecewa dengan kelakuan kakaknya Uis Tamae, maka hari demi hari setelah selesai menyelesaikan pekerjaannya, Uis Manu mengasa pisau menjadi tajam. Ia berniat untuk menghabisi kakaknya yakni Uis Tamae karena kelakuannya kepada istrinya. 


Pada suatu hari ada pembagian Upeti kepada raja (tama maus) namun ada hal yang tidak biasa dilakukan oleh Uis Manu yakni ketika memberikan upeti, ia menunjuk dengan menggunakan tangan namun ketika giliran kepada Uis Tamae ia menunjuk dengan menggunakan kaki. Namun tidak semua orang yang hadir melihat apa yang dilakukan Uis Manu. 

Jadi, ketika itu ada seorang yang melihat kejadian itu yakni Uis Atonas kemudian ia memberitahukan kepada Uis Tamae "Usi naek lelo tamamaus au uis manu on biakini an lek neke nuku afun an te usi at an lek nekja haen". 

"Ketika  saat pemberian upeti tadi, yang lain tunjuk menggunakan tangan tapi ketika sampai di Usi Naek ia menunjuk menggunakan kaki."

Karena kecewa atas perbuatan kakaknya maka ia menggunakan kaki untuk menunjuk Uis Tamae. 

Dikisahkan bahwa Uis Manu membawanya sampai tama mau, ketika itu pisau sudah diasah sedemikian tajam. 
Sehingga suatu hari sang adik berkata kepada sang kakak bahwa ia bisa memotong kumis dan membersihkan wajah sang kakak disamping itu ada kesempatan, ia bisa memotong putus leher kakaknya.

"Usi naek om he eo anko konman te nane latu saanuis manu nakam tata muhelam neoman hen matan he es le i ketom te haef teon usi naek neone tuka nuban", setelah memotong putus leher uis tamae lalu uis manu membawanya ke bola faot one dan jenazahnya di buang ke situ."

Dengan kejadian inilah mereka berpisah dan membuat rumah adat sendiri-sendiri yang terkenal dengan sebutan laek metan suni oetpah dan laek molo lake ome, kemudian setelahnya Uis Manu dan Uis Buku di usir dari kampung.  

Dan Suku Laek Metan membawa batu pemali (faot leu) dari bnoko Haumen ke kuam mnasi sedangkan laek molo menetap di Bnoko Haumeni.Yang masih ada sampai saat ini. 

Panasnya suasana saat itu dapat diketahui dalam bahasa setempat berikut:

"Maut nuakit at batsok naikat manhinen maut au peo faen on kuam mnasi a homubala kuan Haumen, me oelfe natuin an te oe apot oelfe nakam tata maut au faen ubala Haumen tunan, oel apot nane oe fam neo usi lake nok suni oetpah."


Keberadaan suku Laek Molo dan suku Laek Metan masih ada hingga saat ini, menumbuh kembang dan masih mempertahankan budaya dan tradisi yang lama dari masing-masing suku agar tidak punah atau hilang dari kehidupan.

Sumber Rujukan: Taneo M., dkk. 2019. Sejarah Suku Laek Molo Dan Suku Laek Metan Di Kampung Haumeni Wilayah Bikomi Timor Tengah Utara Tahun 1794-1800. Undana

Di Kampung Haumeni, Bikomi, Timor Tengah Utara Ada Suku Laek Molo dan Suku Laek Metan; Sejarah Tahun 1794-1800

Ada dua suku besar yang sangat berpengaruh di kampung Haumeni yakni Suku Laek Molo dan Laek Metan.

Dikisahkan pada zaman dahulu nenek moyang Suku Laek Molo dan Suku Laek Metan datang ke wilayah Haumeni, mereka berasal dari Ume Nij Faon Pinis Malai Mutin Lopo Nij Faon Pilis Malai Mutin, Lospalos Timor Leste. Namun cerita ini ada dua versi.
Gambar Radja van Soefa (Timor); Gambar Hanya Pemanis
Gambar Radja van Soefa (Timor); Gambar Hanya Pemanis


Versi I

Kedatangan mereka semata-mata untuk berdiam diwilayah Haumeni sebagai masyarakat biasa namun menurut penuturan sejarah, kedatangan kedua suku ini karena melihat nyala bara api pada malam hari (paok pinaf sobat). 

Namun ada hal yang sangat penting yakni kedatangan mereka membawa Genggang (suni). Selain itu, Suku Laek Molo dan Suku Laek Metan ini mempunyai kelebihan atau keahlian tertentu. 


Beberapa sumber mengatakan bahwa yang pertama datang yakni Laek Molo Uis Manu dan Laek Metan Suf Sila dengan menyinggahi Oenun bian-bian, Baihale bian-bian, Lobos, Liabat, Kakniu ben nahe, Pineon faot bena, Maurius nunamaunu, Teke noksanaunu, Taupi nok sanak, Obam tamnau lasi, Naije tapenpah, Naen fatumnan, Usaep leu ta lot, Telen kefamenanu, Panfin pen’o, Pubina ban toaf, Muabam neubabu, Onet natas, Fufleu ma nakleu, Puti sainon, Nekem’mnanu kuam mnasi, Bonjem talile, Kaem oel apot, Poen ma’oe haumen ai saf.

Dikutip dari Jurnal Sejarah Suku Laek Molo Dan Suku Laek Metan "Benediktus Molo" (70: Tokoh Adat) menerangkan bahwa "Mereka menemui Benia Kaijabas atau Nule dan Kolo di Bijalis untuk pertama kali dan melanjutkan perjalanan ke Haumen dan disinilah mereka menemui Sasi Tpoy. Yang datang pertama hanya laki-laki saja, datang dan pulang yang ke tujuh kali baru membawa istri datang juga ke tempat tujuan, datang yang pertama kali sampai ke enam itu kedatangan mereka ingin mensurvei jalan agar bisa tiba ditempat yang dimaksud".


Jadi, di Kampung Haumeni inilah leluhur Bikomi ini memutuskan untuk menetap. Bnoko Haumen terletak 50 m dari pemukiman Desa Haumeni, bnoko Haumen merupakan pusat purbakala zaman mengalitik dan tempat pelaksanaan upacara adat penobatan seseorang menjadi raja dan syukur atas panen. Ketika sudah tiba di Kampung Haumen
sempat bertemu dengan penguasa tanah yang dikenal dengan sobat Taek Sasi Tpoy, setelah ketemu yang pertama kali yang dilakukan oleh Sasi Tpoy terhadap pendatang adalah istilah kaos pilu (Taneo, dkk., 2019).

Jadi setelah melaksanakan kaos pilu, para tuan tanah memberikan tanah kepada nenek moyang itu untuk kemudian menjadi tempat tinggal dan kemudian mereka mulai membangun rumah adat. 

Sedangkan suku Sasi bergeser ke Faot Belan dan Lake tetap di Bnoko Haumen yang sekarang dikenal sebagai Faot Leu atau tempat pemujaan para leluhur.


Versi II


Di kutip dari Sumber "Jurnal Sejarah Suku Laek Molo Dan Suku Laek Metan" menurut salah satu penutur (Anggelinus Taek (75 thn selaku Tua adat) menyatakan bahwa asal usul kedatangan suku Laek Molo dan suku Laek Metan Timor Leste dan Belu atau arah matahari terbit (manse saen) yang datang pertama dari suku Laek Molo yaitu Uis Manu dan suku Laek Metan yaitu Suf Sila maksud dan tujuan mereka datang yakni ingin mencari bara api yang ada di Wilayah Bikomi ketika mereka datang hanya membawa makanan menta dan makan juga makanan menta karena waktu itu belum ada api, setelah sampai di paok pinaf sobat taek baru bisa dapat memasak dan makan makanan masak karena sudah ada api, datang dan pulang yang ketujuh kali mereka membawa istri ikut ke tempat yang dimaksud. Pertama kali yang mereka temui adalah Sasi, Kolo dan Nule tetapi penguasa tanah waktu itu sobat Taek.

Ketika mereka sudah masuk sampai wilayah Bikomi Kampung Haumen waktu itu namanya paok pinaf sobat (artinya api dipuncak) paok pinaf sobat dikenal sebagai penghasil api pertama di Pulau Timor, yang tentunya dibutuhkan oleh banyak orang di Timor sehingga kedudukannya diperhitungkan oleh  kerajaan-kerajaan di Timor.

Kondisi ini menyebabkan paok pinaf sobat sangat rentan dikuasai bangsa lain, maka kemudiaan kerajaan lain datang ke wilayah paok pinaf sobat. 

Ada pula kerajaan-kerajaan yang datang mendahului raja Lake yaitu: Benu, Afoan, Liurai dan Sonbai akan tetapi tidak dapat menembus ke Kampung Haumen(Paok pinaf sobat). 

Ketika waktu itu kekuatan prajurit paok pinaf sobat sangat disegani, ada salah satu prajurit yang bernama Kita Matam Mtasa Obe Sijao.

Salah satu kekuatan yang muncul lagi adalah Lake dari ufuk Timur mereka merupakan raja yang disegani oleh kerajaan lain, kehadiran Lake di Kampung Haumen dibarengi dengan peristiwa kekuasaan yang pada saat itu dipimpin oleh Raja Taek Sasi Tpoy.

Karena raja Lake sangat kejam ia dapat menghabiskan prajurit dan rakyat paok pinaf sobat , sehingga kekuasaan wilayah di serahkan ke suku Lake atau Raja Lake dan dari Raja Lake inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan Bikomi.

Kerajaan yang didirikan oleh Usi Lake ini cukup disegani pada masa itu, dan pendiri Kerajaan Bikomi yakni Usi Lake. Setelah kaos pilu dan mereka di nobatkan sebagai raja maka dari situ mereka mulai membangun Rumah Adat. 

Dan suku Sasi berpindah ke Faot Belan dan Lake ke Bnoko Haumen, yang tempat itu masih ada sampai saat ini yang sekarang dibuat sebagai tempat pemujaan parah leluhur nenek moyang yang disimbolkan dengan batu pemali (faot leu).


Sumber: Taneo., M., 2019. Sejarah Suku Laek Molo Dan Suku Laek Metan Di Kampung Haumeni Wilayah Bikomi Timor Tengah Utara Tahun 1794-1800. Program Studi Pendidikan Sejarah. FKIP. Undana

Singkat Tentang Kedatangan Islam di Nusa Tenggara Timur

NEGERIPAUS.BLOGSPOT.COM 22/06/22- Agama Islam menurut beberapa literatur menyebutkan pertama kali masuk ke wilayah Nusa Tenggara Timur terhitung sejak tahun 1500-an di bawah oleh pedagang dan Ulama.

Dapat diketahui bahwa untuk pertama kalinya pedagang dan ulama itu singgah di pulau Solor yang sekarang masuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Flores Timur. 


Ulama yang kemudian menjadi Sultan Menanga itu adalah Syahbudin bin Salman Al Faris.

Kerajaan Islam NTT
Gambar Beberapa Wajah Pria Di Solor Selatan/ Gambar Ini Hanya Pemanis

Perkembangan Islam semakin baik dan telah merambah ke wilayah lainnya yakni Ende, Alor, Seluruh pulau Flores, Timor, dan Sumba. 

Seperti halnya Misionaris Dominikan, Sultan Menanga Syahbudin bin Salman Al Faris menggunakan pendekatan penyebaran agama Islam dengan memegang tokoh-tokoh kunci atau para pembesar pribumi di wilayah itu.

Para Sarjana pada abad ini telah melakukan penelitian tentang sejarah masuknya Islam di Nusa Tenggara Timur seperti Abdul Kadir G. Goro yang menyatakan bahwa masuknya agama Islam di Kupang erat hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Indonesia. 


Dari Ternate, Islam meluas meliputi pulau-pulau di saluruh Maluku, dan daerah pantai Timur Sulawesi.

Selain itu Munandjar Widiyatmika di Kupang, mengatakan bahwa, “Dari sumber-sumber sejarah yang berhasil saya himpun, agama Islam masuk pertama kali di pulau Solor di Menanga pada abad ke-15 kemudian ke Ende dan Alor,” katanya dalam suatu wawancara terkait masuknya agama Islam pertama di Nusa Tenggara Timur.

Munandjar juga berpendapat bahwa Solor menjadi daerah pertama penyebaran agama Islam di Nusa Tenggara Timur karena letaknya strategis dengan bandar-bandar penting di Pamakayo, Lohayong, Menanga dan Labala, sangat penting bagi kapal yang menunggu angin untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Timor dan Maluku, demikian pula Ende dan Alor.

“Masuknya agama Islam dibawa oleh pedagang sehingga wajar kalau penyebarannya dilakukan mulai disekitar bandar-bandar strategis yang banyak dikunjungi para pedagang Islam dari luar, dan Solor adalah daerah peristirahatan sebelum ke pusat penghasilan cendana di pulau Timur,” katanya. 


Bahkan ketika Portugis sendiri membangun benteng di Pulau Solor karena Solor merupakan daerah yang paling penting untuk beristirahat sambil melanjutkan perjalanan ke pulau Timor.

Dikisahkan bahwa Sultan Menanga menikah dengan seorang puteri Raja Sangaji Dasi dan menjadi orang pertama di Wilayah Nusa Tenggara Timur yang memeluk agama Islam lalu anggota keluarganya pun ikut memeluk Islam. 

Dengan masuknya Sangaji Dasi menjadi Islam maka pengikutnya pun banyak yang menjadi Islam.

Demi membalas dendam pada Portugis dan kepentingan penyebaran agama Islam di Pulau Solor, maka Sultan Menanga kemudian ditempatkan di perbatasan antara kerajaan Lamakera dan Lahayong dan berhasil membangun kampong muslim pertama di Menanga. 

Dari situlah agama Islam kemudian tersebar ke daerah lain seperti Alor, seluruh Flores, Timor, dan Sumba.

Setelah masuknya agama Islam di Wilayah Nusa Tenggara Timur dan memegang beberapa tokoh penting pribumi namun Islam belum membentuk Lembaga Sosial dan Lembaga Pendidikan terhitung sejak masuk Abad ke 16. 

Sedangkan di Kupang sendiri Kristen Protestan dan Katholik telah bergerak dalam Lembaga Pendidikan dan Lembaga Sosial.*NP 

Awal Kain Tenun Dieksplor Oleh Raja Don Aleksius Ximenes Da Silva

NEGERIPAUS.BLOGSPOT.COM - Salah satu suku besar di Nusa Tenggara Timur adalah suku bangsa Sikka yang merupakan etnis Mukang.

Suku bangsa Sikka dengan Etnis Mukang ini terdiri dari beberapa suku yaitu Suku Sikka, Suku Krowe, Suku Mukang, dan Suku Muhang.

Suku-suku besar ini mempunyai budaya menenun dengan beraneka motif.

Motif Tenun Sikka
Motif Tenun Sikka

Suku Krowe misalnya mempunyai tenun ikat dengan beraneka motif yang sangat mahal jika satu sarung dihargakan.

Memakai kain sarung merupakan kebiasaan masyarakat Sikka dalam keseharian dan setiap acara adat, dan atau agama baik laki-laki maupun perempuan.

Untuk lak-laki Sikka kain sarung biasa disebut Lipa Sikka atau Ragi Sikka dan untuk perempuan disebut U'tang Sikka.


Menurut penuturan sejarah kain tenun di Sikka mulai di eksplorasi secara hebat sekitar tahun 1600-an oleh Raja Don Aleksius Ximenes Da Silva.

Raja Aleksius ini akrab disapa “Mo’ang Lesu” di tengarai sebagai perintis eksplorasi tenun-menenum di kampung Sikka sejak tahun 1607.

Hal ini terbukti dengan salah satu ungkapan rasa terima kasih masyarakat atas jasanya dimana hingga kini kaum ibu selalu “mengabadikan” motif Rempe Sikka Tope pada salah satu jenis tenunan mereka karena motif tersebut merupakan salah satu motif kesukaan Mo’ang Lesu. 

Pada Zaman dahulu, apabila ada wanita yang pandai menenun dianggap lebih tinggi derajatnya dari yang lain, sehingga umumnya gadis yang pandai menenun selalu menjadi incaran para pemuda.

Selain dari itu kain tenun ikat juga merupakan suatu sugesti yang memberikan kekuatan terhadap suatu tindakan, misalnya pemberian kain/sarung/selimut oleh seorang ibu kepada anaknya yang pergi merantau atau yang akan kawin.

Material ini dianggap sebagai suatu media yang memberi kekuatan kepada si anak di rantau atau di kehidupan yang baru.

Kain tenun juga merupakan suatu hal yang dapat dijadikan kebanggaan bagi seseorang/sebuah keluarga. Hal ini tampak bila seorang/keluarga yang didatangi tamu untuk bermalam, maka suatu kewajiban yang merupakan kebanggaan bagi tuan rumah ialah menyediakan selimut atau hasil kerajinan tenunannya agar dipergunakan untuk berselubung.

Jenis sarung tenun ikat itu tidak dapat diberikan artinya. Hanya maksudnya diketahui yakni jenis ikat beragam hias geometris, dimana disembunyikan motif benda hidup manusia, binatang, tumbuhan.

Selain itu ada juga jenis tenunan Utang Atabiang. Jenis sarung ikat dengan selang-seling motif skematis manusia laki-laki dan perempuan sebagai lambang suami istri dan lambang kesuburan.


Motif laki-laki kelihatan langsing untuk lambang suami dan motif perempuan kelihatan gendut untuk lambang istri hamil.

Kehamilan itu suatu situasi yang hidup penting karena dapat memungkinkan hidup baru.

Lukisan motif lak-laki kelihatan berbangga mendampingi istri yang ia hamilkan karena kerja sama seksual mereka diperoleh keturunan dengan kelahiran anak penerus hidup.

Utang moko mempunyai warna dominan hitam nila, ditatai terutama dengan beberapa jenis ragam hias geometris.

Sarung moko krowe sika yang asli ditata selain dengan berbagai ragam hias geometris, penataan ragam hias blok-blok adalah dominan, olehnya yang disebut tuga du’a nalu atau ina nalu pare, nama untuk ibu padi.

Baca Juga: Kerajaan Terong

Jadi alat puan to’a dan ibu padi dianggap identik semua sarung moko itu termasuk kategori sarung hujan gerimis.

Di Krowe Sika dibedakan dua jenis sarung moko yaitu moko iwang pada orang Krowe dan moko sika pada orang sika.

Fungsi sarung moko dihubungkan dengan lagi dengan upacara ritual, sarung ini dijadikan pakaian kegemaran kaum tua.

Tetapi bila dihubungkan lagi dengan upacara ritual, sarung ini dijadikan pakaian untuk alat upacara moko atau puan to’a dalam upacara berladang.

Moko itu adalah alat dongson yaitu alat perunggu, yang oleh keyakinan vulgar dianggap sumber kelimpahan panen.

Karena itu alat moko atau puan to’a dianggap prinsip perempuan sebagai ibu kelimpahan panen.
  
Sumber: Syaputra.2019.SARUNG DEKO (TENUN IKAT) DI MAUMERE NUSA TENGGARA TIMUR (KAJIAN SENI RUPA). SKRIPSI.UNMUH. Makasar

Nusa Tenggara Timur Dan Awal Mula Penyebaran Agama Katolik

NEGERIPAUS.BLOGSPOT.COM - Perang dan persaingan antar Belanda (Pihak VOC) dan Portugis di wilayah Kepulauan Solor (Adonara, Lembata, Larantuka, dan Solor) sejak berabad-abad lalu menandakan akan awal penyebaran agama Katolik di wilayah Kepulauan Solor.

Sejarah Katholik NTT
Gambar Ini Hanya Pemanis, Gambar Salah Satu Pasar di Timor 

Sedangkan di Wilayah Nusa Tenggara Timur sendiri persaingan antar dua kekuasaan besar itu melalui perdagangan cendana, agama, dan politik.

Seperti halnya di Timor, wilayah Kepulauan Solor telah memiliki kepercayaan terhadap alam dan roh nenek moyang mereka sebelum agama Eropa datang.

Sebelum Eropa dengan misionaris dan berbagai macam ordonya, Wilayah Kepulauan Solor telah memiliki kepercayaan akan Tuhan yang tersirat dalam sebutan Lera Wulan Tanah Ekan, atau dalam bahasa-bahasa daerah setempat lainnya juga menunjukkan hal yang sama.

Beberapa catatan yang masih dapat kita ketahui adalah pada Agustus tahun 1515 di Oekusi jejak Portugis telah ada di sana. Hanya saja untuk penyebaran dan pengajaran tentang keagamaan berlangsung sekitar tahun 1556. 

Kurang lebih 41 tahun lamanya sejak kedatangan Portugis ke Oekusi barulah penyebaran agaman itu bisa dikatakan berjalan cukup baik. 

Kendala yang di hadapi Portugis pada saat itu yakni masyarakat setempat telah memiliki kepercayaan sendiri seperti pada beberapa pulau di Kepulauan Solor tersebut dan terbatasnya misionaris Dominikan.

Baca Juga: Sejarah Awal Kedatangan Agama Islam Di NTT

Sementara agama katolik dapat diketahui cara penyebarannya mengikuti wilayah perdagangan hingga wilayah-wilayah yang memang dikuasai penuh oleh Portugis. 

Hal ini dilakukan sebagai politik penyebaran agama katholik di Solor sebagai Basis Portugis. 

Selain perdagangan, strategi lain yang digunakan untuk menyebarkan agama Katolik oleh para misionaris yakni menggunakan pendekatan dengan para tokoh kunci seperti para raja, bangsawan dan keluarganya.

Pulau Flores raja ke 9 Larantuka, yaitu Raja Ola berhasil dipermandikan pada tahun 1645 dengan nama Don Konstantino. Sedangkan Raja Sikka pertama yang memeluk agama Katolik pada tahun 1607 yaitu Gustinyu da Gama.

Sampai abad ke-17 agama Katolik telah menyebar ke Pulau  Flores bagian Tengah (Ende, Sikka) dan Flores Timur serta  Pulau Timor.

Pada tahun 1646  pusat kegiatan misionaris dipindahkan dari Solor ke Larantuka sampai 1702, kemudian dipindahkan dari Larantuka ke Lifao sampai 1769.

Baca Juga: Pater Piet Noyen, Ada Apa di Lahurus?

Selain Ordo Dominikan, pada tahun 1665 terdapat ordo Jesuit, yakni Pater Antonio Fransisco dan Bruder Antonio de Torres yang pindah dari Makassar ke Larantuka(Widiyatmika, 2014).

Di Solor, Raja Solor di Permandikan oleh seorang saudagar yang bernama Juan Soares. 

Jika dihitung, sekitar 17 pembesar dan Raja di pedalaman Pulau Timor dan keluarganya memeluk agama Katolik.

Permandian Raja Solor itu menandakan awal karya misionaris di Solor yang bukan hanya di sini saja melainkan berkembang hingga ke Adonara, Sikka, Ende, Tonggo, Lamakera, dan Timor.

Penyebaran Agama katolik ini bisa dibilang berhasil karena pada tahun 1556 Pater Antonio Taveira, OP, berhasil mempermandikan 5000 orang sedangkan 3 tahun kemudian seorang pedagang mempermandikan 200 orang di Pulau Flores. 

Pada tahun 1561 misionaris pertama mulai menetap di Solor, yakni Pater Antonio da Cruz sebagai pembesar, bersama Pater Simao das Cagas dan Brudes Alexio.

Kedatangan tiga misionaris ini karena atas dukungan dari Uskup yang ada di Malaka saat itu yakni Jorghe de Santa. 

Barulah 60 tahun kemudian catatan sejarah katolik di Lembata dapat diketahui.  

Saat itu pulau Solor dijadikan sebagai pusat kegiatan misionaris sampai tahun 1646.

Perkembangan itu dimulai dari pentingnya memberikan pendidikan terhadap para penduduk pribumi sehingga didirikan seminari rendah dengan 50 Orang siswa.

Jejak sejarah yang dapat diketahui adalah karya misi Pater Antonio Jacinto dalam pelayarannya ke Pulau Rote, Batuputih, hingga ke Amarasi sampai mempermandikan putra mahkota Raja Mena pada tahun 1641. 

Kemudian melanjutkan pelayaran ke Lifao, Amanuban dan pada tahun 1642 mendirikan benteng di Kupang. 

Jatuhnya bandar Malaka 1641 ke tangan VOC yang kemudian menyusul kekalahan Sultan Hasanuddin pada 1667 dari VOC, menyebabkan banyak para pengungsi ke Larantuka.

Tahun 1690-1770 di Pulau Timor adalah misionaris Fransiskan, oleh karena itu Gubernur Antonio Coelho de Guerreiro mengirimkan surat agar ordo lain diizinkan mengingat daerah Nusa Tenggara Timur kalau hanya dibebankan kepada ordo Dominikan sangat luas.

Baca Juga: Masa Pemerintahan Raja Baololonga Kaai di Alor

Pada 1914 masuk Ordo Serikat Sabda Allah (SVD) dan sejak itu merupakan masa misionaris SVD sampai sekarang (Widiyatmika, 2014). Kegiatan misionaris Katolik di Sumba diawali pada abad ke-16. 

Menurut laporan Peter Mikhael Rangel antara 1561-1572 para misionaris Dominikan Portugis membuka stasi Katolik dekat Melolo, Sumba Timur. 

Kegiatan misionaris baru muncul kembali setelah 300 tahun sejak  21 April 1889 ketika Peter Bern Sweitz bersama Brouder Busch datang dari Larantuka mendarat di Laura, Sumba Barat dan telah berhasil dipermandikan 610 anak di Laura.

Pada tahun 1898 para misionaris meninggalkan Sumba dan selama 1898-1921 Sumba tanpa adanya pelayanan rohani inilah kemudian melahirkan peradaban baru dalam struktur kehidupan masyarakat dari tradisional animisme dan dinamisme menuju pada masyarakat religius dan bermartabat.

Akan tetapi sangat disayangkan kekuatan Portugis di Nusa Tenggara Timur tidaklah kuat sehingga kalah saing dengan bangsa Eropa lain dan akhir abad 18 keluar dari Nusa Tenggara Timur. 

Sumber: Samingan,dkk. 2021. KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS:  BERDAGANG DAN MENYEBARKAN AGAMA KATOLIK DI NUSA TENGGARA TIMUR.  Jurnal Kajian, Penelitian & Pengembangan Pendidikan Sejarah. UNFLOR

Artikel Lainnya: Siapa Orang Ile Ape?

Kilas Pembuatan Gereja Theresa Lengko Ajang

Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang


Proses pengangkutan bahan serta pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang serta proses pembangunan yang di lakukan pada tahun 1935-1937. 
Proses pembangunan yang dilakukan secara tradisional dan swadaya oleh masyarakat setempat.

Pada saat itu pengangkutan bahan material, warga menggunakan kuda dan juga dipikul oleh manusia.

Saat ini gereja Theresa Lengko Ajang berada di Kabupaten Manggarai Timur.


Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang
Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang

Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang
Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang

Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang
Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang

Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang
Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang


Keadaan geografis desa Bungamuda

 Keadaan geografis desa Bungamuda

a.    Letak Wilayah

Desa  Bungamuda terletak pada bagian Timur Ibu Kota kecamatan Ile Ape, ± 9,4 Km dari Waipukang, ± 24 Km dari ibu kota Kabupaten Lembata (Lewoleba) dan ± 251 Km dari Ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur (Kota Kupang). Desa  Bungamuda dapat dituju dengan menempuh jalan darat dari Ibu Kota Kabupaten dan Kecamatan baik menggunakan kendaraan beroda dua maupun empat.

Secara topografi wilayah Desa Bungamuda adalah dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0-100 m di atas permukaan air laut, dengan suhu udara antara 27℃-33℃ dengan kelembaban udara berkisar antara 80-88% dan rata-rata hari hujan per tahun 100-180 hari.

Desa Bungamuda beriklim tropis, dengan musim kemarau hampir sama dengan musim hujan yakni bulan April sampai Oktober, sementara musim penghujan dari Bulan November sampai Maret, dengan curah hujan yang hampir merata.

Selanjutnya untuk mengetahui batas wilayah desa Bungamuda dapat dilihat pada peta administrasi Desa Bungamuda dapat dilihat pada gambar 2.1.

Peta Desa Bungamuda
Peta Desa Bungamuda
            

Sesuai Gambar tersebut dapat diketahui batas wilayah Desa Bungamuda pada bagian Utara dengan Laut Flores, bagian Selatan dengan Gunung Ile Ape, bagian Timur dengan Desa Napasabok, dan bagian Barat dengan Desa Lamawara.

b.   Luas Wilayah

Luas wilayah Desa  Bungamuda seluas 1,335 Km2 (1335 Ha), terdiri dari 4 Dusun dengan Rukun Tetangga Sebanyak 16 RT. Perincian mengenai jenis dan kegunaan dan manfaatnya dapat dibagi sesuai dengan.

NO

PENGGUNAAN LAHAN

LUASAN (Ha)

1

Pemukiman

162,4

2

Perkebunan dan Pertanian

187

3

Pekuburan Umum

0,3

4

Pekarangan

120

5

Perkantoran

0,12

6

Prasarana Pendidikan

50

7

Prasarana Olahraga

1

8

Lahan Tidur

500

9

Lain-lain

314,18

 

Total

1335

c.    Orbitasi

Orbitasi atau jarak Desa Bungamuda dari pusat-pusat pemerintahan dapat diketahui sebagai berikut:

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan         : 9,7 km

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Kabupaten          : 24 km

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Propinsi               : 251 km

·         Jarak dari Pusat Pemerintahan Pusat                  : 2.595 km

 

2.2.2 Sumber Daya Alam

Desa Bungamuda merupakan salah satu kawasan peDesaan yang bersifat agraris, dengan mata pencaharian dari sebagian besar penduduknya adalah bercocok tanam terutama sector pertanian dan perkebunan dan juga peternakan. Sedangkan pencaharian lainnya adalah sektor wiraswasta dan beberapa sektor lainnya seperti dalam di bidang kerajinan (tenun ikat) dan pemanfaatan hasil olahan pertanian dan perkebunan. Banyak juga yang sudah bisa memanfaatkan potensi sumber daya alam Desa Bungamuda.

Sumber daya alam yang ada di Desa Bungamuda terdiri dari pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan lahan yang belum diolah.

  • Pertanian

Jumlah keluarga yang memiliki lahan pertanian sebanyak 133 Kepala Keluarga (KK) dapat diketahui dengan rinci yakni tidak memiliki lahan sebanyak 17 Kepala Keluarga, Memiliki lahan kurang dari 1 Ha sebanyak 116 Kepala Keluarga, Memiliki lebih dari 1-5 Ha.

Sedangkan untuk luasan lahan yang diolah berdasarkan komoditas pada tahun 2021 yakni jagung seluas 110,5 Ha dengan hasil 20 ton, ubi kayu seluas 100 Ha dengan hasil sebanyak 10 ton, kacang tanah seluas 10 Ha dengan hasil sebanyak 5 ton, kacang merah seluas 3 Ha dengan hasil 1 ton. Dapat diketahui bahwa penduduk desa Bungamuda sebanyak 60% bermata pencaharian sebagai petani.

  • ·         Peternakan

Jumlah keluarga yang memiliki ternak dan jenis ternak dapat diketahui yakni ayam kampung sebanyak 490 ekor dengan banyaknya pemilik sebanyak 98 orang, kambing sebanyak 141 ekor dengan banyaknya pemilik sebanyak 47 orang, untuk tahun 2021 ternak babi milik masyarakat Bungamuda banyak yang mati karena infeksi virus sehingga hampir tidak ada lagi ternak babi di Desa Bungamuda.

  • ·         Perkebunan

Umumnya penduduk Desa Bungamuda memiliki beberapa komoditas perkebunan seperti bambu, jati, mahoni, kelapa, pisang, dan jambu mente.

  • ·         Perikanan

Jumlah Penduduk Desa Bungamuda yang bermata perncaharian sebagai nelayan sebanyak 20% dengan 20% lagi sebagai nelayan sambilan.

Sejarah Desa Bungalima-Flores Timur

Pantai di Desa Bungalima
Pantai di Desa Bungalima



Mula-mula sejarah Desa Bugalima dimulai dari Desa Ongabaran. Desa Ongabaran ini terletak di wilayah perbukitan Ile Kelui. Masyarakat Onganbaran hidup dengan aman dan tenteram. Sehingga pada  pemukiman warga Ongabaran terlihat sangat tenang. Beberapa tempat yang disebut dengan Riang, yang membentuk satu kesatuan yang disebut Lewo (sebutan untuk mengganti nama desa pada waktu itu).

Menurut masyarakat setempat,  Riang-Riang itu dapat dibagi antara lain; Riang Belan, Ringa Eban Kalika, Riang Lamaloro, Riang Kaha, Riang Nubalikat dan Riang Kewa Dei. Riang Riang ini dikepalai oleh seorang Kepala Suku. 

Dalam perjalanannya, struktur yang dibangun oleh masyarakat ini mengalami perubahan seiring dengan kemerdekaan Indonesia. Namun perlu diketahui bahwa wilayah Riang dikepalai oleh seorang Kepala Suku. 

Untuk di wilayah Timur, Pulau Flores dikepalai oleh seorang raja yang wilayah kerajaannya meliputi Pulau Solor, Adonara, Lembata dan daratan Pulau Flores Bagian Timur, dengan kedudukan pusat kerajaan di Larantuka.

Raja Larantuka dalam kepemerintahannya membentuk riang riang menjadi Lewo dan mengangkat seorang kepala suku menjadi kepala dari Lewo tersebut.

Disinilah terbentuk Ongabaran menjadi sebuah Lewo dengan beberapa nama Kepala Suku yang pernah menjabat sebagai Kepala Lewo, antara lain :

Bapak Osama, Bapak Geroda Boleng, Bapak Pati Daton, Bapak Kasihan Pati, Bapak Suban Gading

Pada masa pemerintahan Bapak Suban Gading, terjadi perubahan status Lewo, sehingga Lewo Ongabaran bergabung dengan Desa Wureh sebagai sebuah dusun.

Berikut nama nama yang pernah menjabat sebagai Kepala Dusun :

Bapak Lamber Sakre tahun 1967-1978
Bapak Mikhael Mige Karwayu tahun 1978-1993
Bapak Fransiskus Wulan tahun 1993-1995
Bapak Theo Karwayu tahun 1995-1998, 1998-2003

Pada tahun 1998 terjadi pemekaran desa, sehingga Dusun Bugalima beralih status menjadi desa persiapan. Penjabat Kepala Desa saat itu adalah Bapak Fransiskus Beda Suban. Masa persiapan ini mencapai kurun waktu dua tahun.

Tanggal 6 Maret 2000 Bugalima dinyatakan secara defintif sebagai sebuah desa terlepas dari Desa Wureh. Sejak saat itu Bugalima menjadi Desa Definitid dengan beberapa kepala desa yang pernah menjabat yakni :

Bapak Nikolaus Suban tahun 2001-2007
Bapak Hubertus Poni tahun 2008-2013
Bapak Damianus Leven tahun 2014-2020
Bapak Gabirel Kopong Kenukan Penjabat Kepala Desa tahun 2020-2021

Perubahan nama Ongabaran menjadi Bugalima

Pada tahun 1976 tepatnya bulan Februari – Maret terjadi bencana alam tanah longsor di Ongabaran sehingga kebijakan pemerintah Kabupaten Flores Timur, membuka pemukiman baru bagi penduduka Ongabaran di pesisir Pantai Wai Rita.

Proses pembangunan rumah warga dan fasilitas umum lainnya, berlangsung sejak Bulan April sampai Mei. Tanggal 2 Mei 1976 pemkiman baru warga Ongabaran di pesisir pantai Wai Rita diresmikan oleh Bupati Flores Timur, Drs. Antonius Buga Langoday.

Sebagai bentuk penghargaan dan ungkapan terimakasih masyarakat Ongabaran terhadap jasa baik Bapak Bupati maka nama pemukiman baru tidak lagi menggunakan nama Ongabaran tetapi Bugalima, yang artinya Buga, diambil dari nama  Bapak Bupati dan Lima yang artinya melalui tangannya masyarakat Ongabaran mendapat tempat tinggal yang layak dan memadai.

Demikia perjalanan sejarah Ongabaran menjadi Desa Bugalima dan sampai saat ini nama desanya adalah Desa Bugalima.

Sumber: bungalimadesa.id

Menikmati Sunset di Bungamuda, Wisata Lembata

Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur
Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur


Laporan Pengembang NegeriPaus.Blogspot.com, Silverius

Negeripaus.Blogspot.com, BUNGAMUDA - Destinasi wisata Desa Bungamuda di Kabupaten Lembata, seharusnya masuk ke dalam salah satu program Destinasi Super Prioritas dari anda sekalian penikmat senja.

Desa Bungamuda berada di Kabupaten Lembata, atau di wilayah Indonesia Timur. Akhir-akhir ini menjadi favorit bagi orang-orang untuk berfoto.

Hal ini karena Letak Strategis desa Bungamuda yang menawarkan keindahan pemandangan gunung Boleng dan Nuha (pulau-pulau kecil) dan laut yang luas membentang. Para wisatawan dapat menikmati keindahan alam Bungamuda sambil menikmati ngopi.

Wisatawan juga dapat menikmati indahnya matahari terbenam atau Sunset di Bungamuda tanpa harus jauh-jauh ke Bali atau Labuan Bajo. Menikmati matahari terbenam tentu sangat menjadi momen yang ditunggu oleh banyak orang yang ingin melepaskan penat dan ada juga yang ingin mengurai kenangan.

Matahari terbenam saat sore hari sangat ditunggu saat beberapa wisatawan berkunjung di Bungamuda. Sebab menunggu matahari terbenam sambil menikmati laut dan juga pantai menjadi momen yang paling berkesan apalagi dengan orang terdekat anda.


Bungamuda sendiri dikenal dengan sebutan desa matahari terbenam, karena ada banyak tempat yang bisa dijadikan tempat berfoto terbaik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan langit senja spektakuler saat matahari tenggelam.

Salah satu spot atau tempat untuk menikmati matahari terbenam yaitu Namang, tempat ini merupakan tempat bermain oleh para anak-anak kecil dan sebagai tempat bagi orang-orang setempat berkumpul melakukan upacara. 

Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur
Sunset di Desa Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur



Untuk menikmati Sunset di Namang, harus menaiki jalan mendaki sekitar 1 menit, apabila ingin menikmati dari atas kejauhan anda perlu menaiki sampai 5 menit di daerah Ebaken. Di atas bukit Ebaken ini, kalian bisa melihat keindahan laut dan juga bukit-bukit sambil menunggu matahari terbenam.

Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur
Sunset di Bungamuda, Lembata, Nusa Tenggara Timur

Selain itu Bungamuda juga memiliki destinasi kuliner yang dapat dikunjungi oleh para wisatawan. Beberapa destinasi kuliner tersebut seperti, putu, bose, Ikan panggang dan lainnya.