Uis Tamae dan Uis Manu; Tahun 1794 Dibalik Dendam Membara; Sejara Di Kampung Haumeni, Bikomi, Timor Tengah Utara
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Di Kampung Haumeni, Bikomi, Timor Tengah Utara Ada Suku Laek Molo dan Suku Laek Metan; Sejarah Tahun 1794-1800
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Singkat Tentang Kedatangan Islam di Nusa Tenggara Timur
![]() |
| Gambar Beberapa Wajah Pria Di Solor Selatan/ Gambar Ini Hanya Pemanis |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Awal Kain Tenun Dieksplor Oleh Raja Don Aleksius Ximenes Da Silva
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Nusa Tenggara Timur Dan Awal Mula Penyebaran Agama Katolik
NEGERIPAUS.BLOGSPOT.COM - Perang dan persaingan antar Belanda (Pihak VOC) dan Portugis di wilayah Kepulauan Solor (Adonara, Lembata, Larantuka, dan Solor) sejak berabad-abad lalu menandakan akan awal penyebaran agama Katolik di wilayah Kepulauan Solor.
![]() |
| Gambar Ini Hanya Pemanis, Gambar Salah Satu Pasar di Timor |
Sedangkan di Wilayah Nusa Tenggara Timur sendiri persaingan antar dua kekuasaan besar itu melalui perdagangan cendana, agama, dan politik.
Seperti halnya di Timor, wilayah Kepulauan Solor telah memiliki kepercayaan terhadap alam dan roh nenek moyang mereka sebelum agama Eropa datang.
Sebelum Eropa dengan misionaris dan berbagai macam ordonya, Wilayah Kepulauan Solor telah memiliki kepercayaan akan Tuhan yang tersirat dalam sebutan Lera Wulan Tanah Ekan, atau dalam bahasa-bahasa daerah setempat lainnya juga menunjukkan hal yang sama.
Beberapa catatan yang masih dapat kita ketahui adalah pada Agustus tahun 1515 di Oekusi jejak Portugis telah ada di sana. Hanya saja untuk penyebaran dan pengajaran tentang keagamaan berlangsung sekitar tahun 1556.
Kurang lebih 41 tahun lamanya sejak kedatangan Portugis ke Oekusi barulah penyebaran agaman itu bisa dikatakan berjalan cukup baik.
Kendala yang di hadapi Portugis pada saat itu yakni masyarakat setempat telah memiliki kepercayaan sendiri seperti pada beberapa pulau di Kepulauan Solor tersebut dan terbatasnya misionaris Dominikan.
Baca Juga: Sejarah Awal Kedatangan Agama Islam Di NTT
Sementara agama katolik dapat diketahui cara penyebarannya mengikuti wilayah perdagangan hingga wilayah-wilayah yang memang dikuasai penuh oleh Portugis.
Hal ini dilakukan sebagai politik penyebaran agama katholik di Solor sebagai Basis Portugis.
Selain perdagangan, strategi lain yang digunakan untuk menyebarkan agama Katolik oleh para misionaris yakni menggunakan pendekatan dengan para tokoh kunci seperti para raja, bangsawan dan keluarganya.
Pulau Flores raja ke 9 Larantuka, yaitu Raja Ola berhasil dipermandikan pada tahun 1645 dengan nama Don Konstantino. Sedangkan Raja Sikka pertama yang memeluk agama Katolik pada tahun 1607 yaitu Gustinyu da Gama.
Sampai abad ke-17 agama Katolik telah menyebar ke Pulau Flores bagian Tengah (Ende, Sikka) dan Flores Timur serta Pulau Timor.
Pada tahun 1646 pusat kegiatan misionaris dipindahkan dari Solor ke Larantuka sampai 1702, kemudian dipindahkan dari Larantuka ke Lifao sampai 1769.
Baca Juga: Pater Piet Noyen, Ada Apa di Lahurus?
Selain Ordo Dominikan, pada tahun 1665 terdapat ordo Jesuit, yakni Pater Antonio Fransisco dan Bruder Antonio de Torres yang pindah dari Makassar ke Larantuka(Widiyatmika, 2014).
Di Solor, Raja Solor di Permandikan oleh seorang saudagar yang bernama Juan Soares.
Jika dihitung, sekitar 17 pembesar dan Raja di pedalaman Pulau Timor dan keluarganya memeluk agama Katolik.
Permandian Raja Solor itu menandakan awal karya misionaris di Solor yang bukan hanya di sini saja melainkan berkembang hingga ke Adonara, Sikka, Ende, Tonggo, Lamakera, dan Timor.
Penyebaran Agama katolik ini bisa dibilang berhasil karena pada tahun 1556 Pater Antonio Taveira, OP, berhasil mempermandikan 5000 orang sedangkan 3 tahun kemudian seorang pedagang mempermandikan 200 orang di Pulau Flores.
Pada tahun 1561 misionaris pertama mulai menetap di Solor, yakni Pater Antonio da Cruz sebagai pembesar, bersama Pater Simao das Cagas dan Brudes Alexio.
Kedatangan tiga misionaris ini karena atas dukungan dari Uskup yang ada di Malaka saat itu yakni Jorghe de Santa.
Barulah 60 tahun kemudian catatan sejarah katolik di Lembata dapat diketahui.
Saat itu pulau Solor dijadikan sebagai pusat kegiatan misionaris sampai tahun 1646.
Perkembangan itu dimulai dari pentingnya memberikan pendidikan terhadap para penduduk pribumi sehingga didirikan seminari rendah dengan 50 Orang siswa.
Jejak sejarah yang dapat diketahui adalah karya misi Pater Antonio Jacinto dalam pelayarannya ke Pulau Rote, Batuputih, hingga ke Amarasi sampai mempermandikan putra mahkota Raja Mena pada tahun 1641.
Kemudian melanjutkan pelayaran ke Lifao, Amanuban dan pada tahun 1642 mendirikan benteng di Kupang.
Jatuhnya bandar Malaka 1641 ke tangan VOC yang kemudian menyusul kekalahan Sultan Hasanuddin pada 1667 dari VOC, menyebabkan banyak para pengungsi ke Larantuka.
Tahun 1690-1770 di Pulau Timor adalah misionaris Fransiskan, oleh karena itu Gubernur Antonio Coelho de Guerreiro mengirimkan surat agar ordo lain diizinkan mengingat daerah Nusa Tenggara Timur kalau hanya dibebankan kepada ordo Dominikan sangat luas.
Baca Juga: Masa Pemerintahan Raja Baololonga Kaai di Alor
Pada 1914 masuk Ordo Serikat Sabda Allah (SVD) dan sejak itu merupakan masa misionaris SVD sampai sekarang (Widiyatmika, 2014). Kegiatan misionaris Katolik di Sumba diawali pada abad ke-16.
Menurut laporan Peter Mikhael Rangel antara 1561-1572 para misionaris Dominikan Portugis membuka stasi Katolik dekat Melolo, Sumba Timur.
Kegiatan misionaris baru muncul kembali setelah 300 tahun sejak 21 April 1889 ketika Peter Bern Sweitz bersama Brouder Busch datang dari Larantuka mendarat di Laura, Sumba Barat dan telah berhasil dipermandikan 610 anak di Laura.
Pada tahun 1898 para misionaris meninggalkan Sumba dan selama 1898-1921 Sumba tanpa adanya pelayanan rohani inilah kemudian melahirkan peradaban baru dalam struktur kehidupan masyarakat dari tradisional animisme dan dinamisme menuju pada masyarakat religius dan bermartabat.
Akan tetapi sangat disayangkan kekuatan Portugis di Nusa Tenggara Timur tidaklah kuat sehingga kalah saing dengan bangsa Eropa lain dan akhir abad 18 keluar dari Nusa Tenggara Timur.
Sumber: Samingan,dkk. 2021. KEDATANGAN BANGSA PORTUGIS: BERDAGANG DAN MENYEBARKAN AGAMA KATOLIK DI NUSA TENGGARA TIMUR. Jurnal Kajian, Penelitian & Pengembangan Pendidikan Sejarah. UNFLOR
Artikel Lainnya: Siapa Orang Ile Ape?
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Kilas Pembuatan Gereja Theresa Lengko Ajang
Pembuatan gereja Theresa Lengko Ajang
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Keadaan geografis desa Bungamuda
Keadaan geografis desa Bungamuda
a. Letak
Wilayah
Desa Bungamuda terletak pada bagian Timur Ibu Kota
kecamatan Ile Ape, ± 9,4 Km dari Waipukang, ± 24 Km dari ibu kota Kabupaten Lembata
(Lewoleba) dan ± 251 Km dari Ibukota Propinsi Nusa Tenggara Timur (Kota Kupang).
Desa Bungamuda dapat dituju dengan
menempuh jalan darat dari Ibu Kota Kabupaten dan Kecamatan baik menggunakan
kendaraan beroda dua maupun empat.
Secara
topografi wilayah Desa Bungamuda adalah dataran rendah dengan ketinggian
berkisar antara 0-100 m di atas permukaan air laut, dengan suhu udara antara 27℃-33℃ dengan kelembaban
udara berkisar antara 80-88% dan rata-rata hari hujan per tahun 100-180 hari.
Desa Bungamuda beriklim tropis, dengan musim kemarau hampir
sama dengan musim hujan yakni bulan April sampai Oktober, sementara musim
penghujan dari Bulan November sampai Maret, dengan curah hujan yang hampir
merata.
Selanjutnya untuk mengetahui batas wilayah desa Bungamuda
dapat dilihat pada peta administrasi Desa Bungamuda dapat dilihat pada gambar 2.1.
Sesuai Gambar tersebut dapat diketahui batas wilayah Desa
Bungamuda pada bagian Utara dengan Laut Flores, bagian Selatan dengan Gunung
Ile Ape, bagian Timur dengan Desa Napasabok, dan bagian Barat dengan Desa
Lamawara.
b. Luas
Wilayah
Luas wilayah Desa Bungamuda
seluas 1,335 Km2 (1335 Ha), terdiri dari 4 Dusun dengan Rukun
Tetangga Sebanyak 16 RT. Perincian mengenai jenis dan kegunaan
dan manfaatnya dapat dibagi sesuai dengan.
|
NO |
PENGGUNAAN LAHAN |
LUASAN (Ha) |
|
1 |
Pemukiman |
162,4 |
|
2 |
Perkebunan dan Pertanian |
187 |
|
3 |
Pekuburan Umum |
0,3 |
|
4 |
Pekarangan |
120 |
|
5 |
Perkantoran |
0,12 |
|
6 |
Prasarana Pendidikan |
50 |
|
7 |
Prasarana Olahraga |
1 |
|
8 |
Lahan Tidur |
500 |
|
9 |
Lain-lain |
314,18 |
|
|
Total |
1335 |
c. Orbitasi
Orbitasi
atau jarak Desa Bungamuda dari pusat-pusat pemerintahan dapat diketahui sebagai
berikut:
·
Jarak dari Pusat Pemerintahan Kecamatan : 9,7 km
·
Jarak dari Pusat Pemerintahan Kabupaten : 24 km
·
Jarak dari Pusat Pemerintahan Propinsi : 251 km
·
Jarak dari Pusat Pemerintahan Pusat : 2.595 km
2.2.2 Sumber Daya Alam
Desa Bungamuda merupakan salah
satu kawasan peDesaan yang bersifat agraris, dengan mata pencaharian dari sebagian besar penduduknya adalah bercocok tanam
terutama sector pertanian dan perkebunan dan juga peternakan. Sedangkan
pencaharian lainnya adalah sektor wiraswasta dan beberapa sektor lainnya
seperti dalam di bidang kerajinan (tenun ikat) dan pemanfaatan hasil olahan
pertanian dan perkebunan. Banyak juga yang sudah bisa memanfaatkan potensi
sumber daya alam Desa Bungamuda.
Sumber daya alam yang ada di Desa Bungamuda terdiri dari pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan lahan yang belum diolah.
- Pertanian
Jumlah keluarga yang memiliki lahan pertanian sebanyak 133
Kepala Keluarga (KK) dapat diketahui dengan rinci yakni tidak memiliki lahan
sebanyak 17 Kepala Keluarga, Memiliki lahan kurang dari 1 Ha sebanyak 116 Kepala
Keluarga, Memiliki lebih dari 1-5 Ha.
Sedangkan untuk luasan lahan yang diolah berdasarkan
komoditas pada tahun 2021 yakni jagung seluas 110,5 Ha dengan hasil 20 ton, ubi
kayu seluas 100 Ha dengan hasil sebanyak 10 ton, kacang tanah seluas 10 Ha
dengan hasil sebanyak 5 ton, kacang merah seluas 3 Ha dengan hasil 1 ton. Dapat
diketahui bahwa penduduk desa Bungamuda sebanyak 60% bermata pencaharian
sebagai petani.
- · Peternakan
Jumlah keluarga yang memiliki ternak dan jenis ternak
dapat diketahui yakni ayam kampung sebanyak 490 ekor dengan banyaknya pemilik
sebanyak 98 orang, kambing sebanyak 141 ekor dengan banyaknya pemilik sebanyak 47
orang, untuk tahun 2021 ternak babi milik masyarakat Bungamuda banyak yang mati
karena infeksi virus sehingga hampir tidak ada lagi ternak babi di Desa Bungamuda.
- ·
Perkebunan
Umumnya
penduduk Desa Bungamuda memiliki beberapa komoditas perkebunan seperti bambu,
jati, mahoni, kelapa, pisang, dan jambu mente.
- ·
Perikanan
Jumlah Penduduk Desa Bungamuda
yang bermata perncaharian sebagai nelayan sebanyak 20% dengan 20% lagi sebagai
nelayan sambilan.
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Sejarah Desa Bungalima-Flores Timur
| Pantai di Desa Bungalima |
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com
Menikmati Sunset di Bungamuda, Wisata Lembata
Perkenalkan nama saya Yohanes Karolus Silverius. Saya lulus dari Politeknik Pertanian Negeri Kota Kupang, Program Studi Teknologi Industri Hortikultura pada tahun 2020 dengan gelar Sarjana Terapan Pertanian (S.Tr.P). Kemudian mulai bekerja di Instansi Pemerintahan Pada tahun 2021. Pada Instansi Pemerintahan saya pernah bekerja sebagai Operator, saya bertugas di kantor Instansi pemerintahan selama 2 tahun, dan telah menangani beberapa program pemerintahan dan mengelola website desa dan menjual produk template blog ke berbagai mitra dan perusahaan besar.
Silahkan hubungi saya pada blog: https:negeripaus.blogspot.com









