Kisah Maro: Legenda Kampung Wae Rebo di Manggarai

Legenda Wae Rebo

wae rebo [negerpaus.blogspot.com]
Gambar Wae Rebo [negerpaus.blogspot.com]


Salam berjumpa kembali bersama blog Negeri paus. blogspot.com. Kali ini kita akan membahas mengenai legenda desa Wae Rebo. Di kalangan orang-orang Manggarai pasti legenda ini itu asing di telinga, namun bagi orang-orang di luar dari Manggarai iya ingin sekali mengetahui bagaimana cerita ini. 

Berikut akan kami sajikan legenda desa Wae Rebo.

Dahulu kala ada seorang pemuda yang sangat dikenal menyukai sebuah permainan taruhan yakin adu kerbau. Pemuda ini bernama Maro. Pada suatu kali ada pertarungan kerbau dan Maro ikut serta dalam pertandingan itu. 
Dan pada saat pertandingan adu kerbau itu kerbau milik Maro memenangi pertandingan itu.

Namun kemenangan itu tidak diterima oleh lawannya sehingga lawannya menuduh Maro bermain curang. Ia pun mendapatkan dukungan dari orang-orang kampung dia mengancam akan membunuh Maro.

Mario pun merasa sangat terdesak dan tertekan kemudian Ia memutuskan untuk merantau jauh. Dia pergi berlayar Demi keselamatannya karena diancam. 

Ia pun mulai berlayar ke arah bagian timur dan ia sempat menyinggahi Gowa, Sulawesi. Maro pun melanjutkan perjalanannya ke arah selatan dan menuju pulau yang bernama Flores. Kemudian ia singgah di Bajo kemudian Lagi singgah di Wara Loka, sebelum akhirnya ya memutuskan untuk berlayar ke selatan pulau. Dia sampai di suatu daerah bernama Nangapaang dekat Dintor. 

Dikisahkan pada suatu kali, Maromelihat asap dari arah gunung. Asap tersebut ternyata berasal dari kampung Todo. 

Maro pun melanjutkan perjalanan yang menuju ke arah asap itu. Maro pun beruntung masyarakat Todo menerimanya dengan senang hati. Tiga hari kemudian Maro berada di kampung Todo, diadakan pemilihan ketua suku, dan ia pun terpilih menjadi ketua suku. 

Namun karena merasa belum pantas ia menolak jabatan tersebut dan diangkatlah orang lain lagi yang lebih mudah darinya.
Peristiwa itu penduduk Todo dan Kampung Wae Rebo menjadi bersaudara.

Dodo pun dikenal sebagai adik dan Wa Rebo sebagai kakak. Jika dilihat dari kemiripan rumah, rumah di kedua kampung itu sangat mirip, adapun sebuah rumah namanya Mbaru Niang. 

Kisah pun berlanjut dimana Maro kemudian melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Kampung Poppo. Maro tinggal di kampung itu cukup lama. Pada suatu hari ada perselisihan yang timbul antara penduduk Kampung Poppo dan Kampung tetangganya. 

Perselisihan itu tidak lain tidak bukan adalah karena kehadiran Maro di kampung Poppo.
Hingga pada saat itu terdengar kabar bahwa kampung tetangga akan menyerang Kampung Poppo.

Dengar kabar bahwa Kampung tetangga ingin menyerang Kampung Popo, warga Kampung Popo malah mau melindungi Maro. 
Hal ini membuat marah Kampung Tetangga.

Dikisahkan bahwa Maro kabur dari kampung Poppo hingga ia ketemu dengan seekor luwak.
Luwak itu menuntun perjalanan Maro untuk pindah ke tempat yang lebih baik.
Lalu bagaimana dengan nasib Kampung Poppo?
Setelah kepergian Maro, kampung itu habis dibakar oleh Kampung tetangga yang berseteru tersebut.

Luwak pun menuntun Maro sampai di sebuah Kampung bernama Kampung Modo. Maru pun mulai menetap di sana. Setelah sekian lama menetap, Ia berkeinginan untuk menguasai penduduk Modo.
Penduduk kampung itu pun mengusir dirinya keluar dari kampung itu.

Maro kemudian berlari ke kampung Ndara. Di sana ia bertemu dengan 2 keluarga. Namun karena keinginannya untuk menguasai Kedua keluarga itu, 2 keluarga itu pun memilih untuk pergi dari kampungnya, Maro pun sendirian di kampung itu. 

Dikisahkan, Maro berpindah lagi menuju sebuah tempat yang bernama Golo Damu. Di sana ia menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bercocok tanam dan hasilnya pun sangat bagus. Akhirnya ia mendapatkan seorang istri yang berasal dari Lembor. Namun, di Golo Damu, Maro mendapat kutukan itu siapapun keluarga istrinya tinggal atau menginap di rumah mereka akan meninggal.

Karena kutukan itu, Maro pun kemudian bersama istrinya pindah ke Golo Pandu. Pada suatu malam ia mendapatkan sebuah mimpi, dan mimpi itu mengubah hidupnya selamanya.

Dalam mimpi itu, dia bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki tua itu berpesan kepadanya " Maro, tempat ini cukup besar untukmu.
Di bawah ada Tanah Datar yang kamu bisa gunakan untuk menetap. Kalau kamu menetap dan berkembang di tempat itu, kelak, namai tempat itu Wae Rebo"

Maro pun berpikir keras, lalu Dia pindah ke tempat itu dan tinggal di sana sesuau mimpinya itu. Di tempat itu dia mendapatkan hasil bumi yang berlimpah, makan yang banyak, dan ternak yang sehat. Sumber air di kampung itu pun sangat jernih. Sesuai apa yang ada di dalam mimpi. Dan Dia menamai tempat itu bernama Wae Rebo.

Sumber: 
Sunarti, S. A. PENDAHULUAN. Sastra Pariwisata, 46.

Esi, Y. C. (2021). POLA PERMUKIMAN TRADISIONAL DI KAMPUNG WAE REBO KABUPATEN MANGGARAI (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA).

Novena, J. (2021). Wae Rebo Warisan Dunia. TarFomedia, 2(1), 79-84.

Purwantiasning, A. W. (2022). Tradisi Lisan Dalam Arsitektur. NALARs, 21(2), 105-112.

Kisah Perang Penfui Dalam Upaya Menguasai Cendana

Perang di Penfui

Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa ada upaya VOC untuk masuk dan menguasai perdagangan cendana. Hal ini terus dilakukan selama kekuasaan Topas.
Gambar Pelabuhan Tedis Kupang Tempo Dulu
Gambar Pelabuhan Tedis Kupang Tempo Dulu


Serikat dagang Belanda atau VOC ini, menunggu saat yang tepat untuk meluaskan pengaruh dan kekuasaannya ke pedalaman Timor.
Dan tibalah pada tahun 1740-an ada situasi krisis yang merupakan kesempatan bagi VOC. 

Karena Topas sebelumnya berkuasa namun, perihal ketidakpuasan terhadap kekuasaan itu, maka kerajaan-kerajaan disekitar Kupang mulai merasakan dilema terutama menyangkut kontrol mereka atas perdagangan cendana. 

Maka tahun 1748, raja Amfoang, Dom Bernardo Da Costa, mulai merencanakan pembangkangan. 

Kerajaan yang selama ini menyatakan loyalitasnya terhadap Portugis (melalui kekuasaan Topas) tiba-tiba berbalik mendukung VOC. 

Ia mendekati VOC untuk meminta dukungan, namun tidak dijawab secara tegas oleh Daniel Van der Burgh selaku residen Kupang. Konteksnya, sejak tahun 1663, kerajaan Portugis dan Belanda telah menyepakati perdamaian. Namun jauh di belahan benua sini situasinya tidak dapat dikontrol dari Eropa. 

Ada versi sejarah yang menyebutkan dukungan Van der Burgh secara diam-diam kepada aksi raja Amfo’an.

Singkat cerita, Amfo’an menyerang salah satu pusat kekuasaan Topas di wilayahnya. Pemimpin Topas waktu itu, Gaspar da Costa, sangat marah sehingga bereaksi secara brutal.

Ia mengancam para bangsawan Timor untuk tidak mengikuti pemberontak tersebut. Tapi ancaman ini justeru dilawan dengan bergabungnya kerajaan Amanuban dalam pemberontakan. Da Costa kemudian menangkap seorang saudara raja Sonba’i (kerajaan Fatuleu) dan beberapa pejabat kerajaan lain untuk dijadikan sandera sembari membunuh sekitar 120 orang-orang Sonba’i. 

Tindakan ini justeru memicu pemberontakan yang lebih luas.

Raja Sonba’i, yang saat itu merupakan raja terkuat di Timor bagian barat, dievakuasi ke Kupang bersama isteri dan anak-anaknya. Mereka dikawal oleh sekitar 2,300 pasukan bersenjata beserta sanak famili yang bila ditotal mencapai 10,000 orang. Kedatangan pengungsi dari Sonba’i dan Amanuban ke Kupang disambut gembira oleh VOC.

Gaspar da Costa yang mengetahui hal ini segera menghimpun kekuatan tentara dari kerajaan-kerajaan yang masih loyal dalam jumlah sangat besar untuk menyerbu Kupang. Menurut arsip VOC, jumlah pasukannya berkisar 30,000 sampai 40,000 orang.

Pasukan ini kemudian membangun benteng dari tanah dan bebatuan di Penfui, wilayah yang sekarang menjadi bandar udara Kupang.

Jumlah pasukan yang sangat besar ternyata tidak menjamin kemenangan. Sebagian besar pasukan dari kerajaan-kerajaan setempat tidak merasa berkepentingan dalam perang tersebut.

Tanggal 9 Desember 1759, sekitar 500 orang pasukan VOC bersenjata lengkap yang terdiri dari orang Belanda, Rote, Sabu dan Solor, berbaris menuju Penfui.


Dalam jarak tertentu di belakang mereka terdapat pasukan raja-raja Timor yang baru membelot ke VOC. Pasukan VOC membombardir posisi lawan dan mulai menyerbu.

Serangan tiba-tiba ini mengejutkan pasukan Gaspar Da Costa. Sebagian besar dari pasukannya melarikan diri, sementara ribuan prajurit yang masih tinggal habis dibunuh. Konon, Gaspar da Costa sendiri menemui ajal ditombak oleh seorang prajurit Timor.

Kekalahan Topas dalam pertempuran Penfui membawa dampak yang besar bagi peta politik di Timor selanjutnya. Pengaruh Topas dan Portugis mulai merosot, sementara pamor Belanda menanjak di mata raja-raja Timor. Ekspedisi militer Belanda yang sebelumnya hanya bisa keluar beberapa kilometer dari bentengnya mulai merangsek lebih dalam.

Di tahun 1756 sebuah kontrak perjanjian diadakan antara VOC dengan raja-raja Timor, Rote, Sabu, Sumba dan Solor. Sebanyak 48 orang menandatangani perjanjian tersebut yang dikenal dengan Paravicini Contract. Raja Wewiku-Wehali turut diantara mereka dengan mengatasnamakan 27 kerajaan lain yang berada di bawah pengaruhnya. Pada intinya, kontrak tersebut menyatakan pengakuan raja-raja Timor atas kekuasaan Belanda.

Bila memperhatikan ciri nama raja-raja yang turut menandatangani perjanjian tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar di antara mereka sebelumnya berada di barisan Topas. Contohnya: Don Bernardo (Keizer Amkono), Don Alfonso (raja Amarasi), Don Luis (raja Amanuban), Hyacintho Corea (raja besar Belu/Wewiku-Wehali), Don Louis Piniero (raja Bani-Bani) dan lain-lain.

Namun, berbaliknya situasi ini tidak berlangsung dalam waktu yang sangat singkat untuk kemenangan total Belanda. Pengakuan melalui kontrak di atas kertas pun tidak langsung diikuti dengan kenyataan di lapangan. Pemberontakan raja-raja Timor terhadap Belanda masih terus terjadi sampai ke awal abad 20, baik yang terjadi kecil-kecilan maupun dalam skala yang lebih besar. Dapat dikatakan bahwa kekalahan Topas dalam pertempuran Penfui memberikan pukulan lebih kuat pertama-tama terhadap kedudukan Portugis di Timor, lalu terhadap Topas sendiri, baru setelah itu terhadap raja-raja di Timor.

Sementara itu Topas, dengan pemimpin barunya, Antonio de Hornay yang adalah putera Jan de Hornay, masih sanggup menggalang dukungan dari sejumlah raja lokal untuk melawan Belanda. Di antara mereka yang berhasil dipengaruhi adalah raja Amarasi dan Sonba’i. Di tahun 1752 raja Amarasi bersama Sonba’i sempat merencanakan suatu pemberontakan, namun rencana ini bocor ke pihak Belanda. Raja Sonba’i, Dom Alfonso Salema, ditangkap dan dibuang ke Batavia. Di tahun 1769 Topas masih memiliki cukup kekuatan untuk memaksa gubernur Portugis di Lifau, Jendral Jose Telles de Menezes, beserta pasukannya mengungsi ke Dili dan menjadikannya ibukota pemerintahan yang baru.

Selain bahwa Topas masih cukup kuat, pihak VOC sendiri tidak sangat gencar melakukan serangan penghabisan terhadap Topas. Sebuah proposal residen Van der Burgh untuk melakukan serangan besar-besaran di Timor sebagai momentum kemenangan total VOC ditolak oleh penguasanya di Batavia.

**Terbelahnya Timor**

Di tahun 1799 VOC dinyatakan bangkrut dan resmi bubar per 1 Januari 1800. Seluruh kekuasaan VOC diambilalih oleh pemerintah kerajaan Belanda dan menamakan daerah koloninya sebagai Hindia Belanda. Memasuki abad ke 19 ini pemerintahan Hindia Belanda sempat mengalami interupsi oleh penguasa Inggris antara tahun 1811 hingga 1816.

Kekuasaan Portugis sendiri, dalam skala global, mulai melemah tetapi daerah koloninya masih cukup luas. Sejak memindahkan pusat pemerintahannya ke Dili, Portugis masih memiliki pijakan di sebagian besar daerah Timor bagian timur dan beberapa kantong di bagian barat, Flores, Bima, Alor dan Pantar.

Setelah Inggris mengembalikan kekuasaan Hindia ke tangan Belanda, terjadi beberapa kali usaha Belanda untuk menaklukkan raja-raja Timor. Pada tahun 1818 residen Timor, J. A. Hazaart menyerang kedudukan Portugis di pelabuhan penting Atapupu dan berhasil mendudukinya. Di tahun 1828 kerajaan Sonba’i kembali diserang Belanda, namun gagal. Peperangan antara kerajaan-kerajaan Timor, terutama Sonba’i dan sekutunya, melawan Belanda terus terjadi sepanjang abad ke 19. Raja Sobe Sonba’i tidak pernah tunduk kepada Belanda selama tiga generasi, dari Sobe Sonba’i I sampai Sobe Sonba’i III. Di paruh awal abad 19, pemerintahan residen Hazaart mendatangkan lebih banyak orang Rote dan Sabu, yang dinilai lebih loyal kepada Belanda, untuk mendiami pesisir utara Timor dengan tujuan membendung perlawanan Sobe Sonbai.

Sementara itu, pemerintahan Portugis di Dili semakin memandang Belanda sebagai ancaman yang akan terus melakukan ekspansi ke wilayah timur yang dikuasainya. Gubernur Lopes de Lima di Dili lantas menawarkan sebagian daerah yang (merasa) dikuasainya kepada Belanda. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Flores, Adonara, Solor, Lomblen, Pantar, Alor dan beberapa wilayah di Timor bagian barat. Sebagai kompensasinya ia meminta harga 200,000 Guilders kepada Belanda. Belanda menyambut tawaran ini dengan senang hati dengan segera membayar uang muka sebanyak 80,000 Guilders secara tunai. Rupanya tawaran ini dilakukan gubernur da Lima tanpa sepengatahuan pemerintah Portugis di Lisabon. Lopes de Lima dicopot dari jabatannya.

Namun keberatan dari Lisabon tidak dapat membatalkan kesepakatan tersebut. Kedua penguasa kolonial kemudian merundingkan pembagian wilayah Timor yang berujung pada Perjanjian Lisbon di tahun 1859. Pembagian wilayah ini pun menghadapi sejumlah perselisihan tapal batas yang kemudian diselesaikan lewat pengadilan arbitrase. Baru di tahun 1914 pengadilan arbitrase mengeluarkan keputusan mengenai batas-batas wilayah Timor Portugis dan Timor Belanda.

Tentu saja kesepakatan antara dua penguasa kolonial ini tanpa menanyakan persetujuan dari raja-raja apalagi rakyat Timor sendiri. Bila dilihat dari kacamata sekarang, sebagai bangsa merdeka, memang sesuatu yang menggelikan ketika penguasa kolonial merasa memiliki tanah dan pulau-pulau tersebut kemudian memperjualbelikannya di antara mereka. Tapi itulah yang terjadi dan telah menjadi catatan sejarah.


Referensi:

ADM Parera, Sejarah Pemerintahan Raja-Raja Timor, Suatu Kajian Atas Peta Politik Pemerintahan Kerajaan-Kerajaan di Timor sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia, Pustaka Sinar Harapan, 1994.
* Hans Hagerdal, Lord of The Land, Lord of The Sea: Conflict and Adaptation in Early colonial Timor 1600 – 1800, KITLV Press Leiden, 2012.
* Robert Harrison Barnes, Sea Hunter of Indonesia: Fisher and Weavers of Lamalera, Clarendon Press Oxford, 1996.
* Hans Hagerdal, Responding To The West, Essays on Colonial Dominations and Asian Agency, Amsterdam University Press, 2005.
* James J. Fox, Tracing the Path Recounting the Past, makalah dalam buku Out of Ashes: Deconstruction and Reconstruction of East Timor, Edited by James J. Fox and Dionisio Babo Soares, Crawford House Publishing, 2000.
* Didik Prajoko, Perebutan Pulau dan Laut: Portugis, Belanda dan Kekuatan Pribumi di Laut Sawu Abad XVII-XIX, Makalah, 2006.
* Wikipedia, History of East Timor, https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_East_Timor

Kilas Kisah Portugis Hitam (TOPAS) dan Raja-Raja Timor

Topas dan Raja-Raja Timor

Orang-orang Portugis yang berada di Larantuka tetap memandang Belanda sebagai musuhnya. Banyak di antara mereka yang menikahi wanita Flores ataupun Timor sehingga menghasilkan turunan campuran antara Portugis, Timor, Flores dan Belanda. 
Gambar Sejarah NTT
Gambar Ilustrasi


Terdapat juga pasukan Portugis pelarian dari Malaka yang berasal dari India maupun Afrika. Campuran dari keseluruhan mereka ini yang kemudian dijuluki Portugis Hitam oleh Belanda, atau juga dikenal dengan nama Topas. 

Istilah “Topas” sendiri kemungkinan berasal dari kata “topi”, karena kaum ini menamakan dirinya sebagai “Gente de Chapeo” (Orang-orang Bertopi).

Marga atau nama keluarga yang terkenal dan kemudian menjadi pemimpin kelompok ini adalah Da Costa dan De Hornay. Mateus da Costa adalah perwira Portugis yang menikahi seorang wanita Timor di Larantuka. Sedangkan Jan de Hornay adalah seorang desertir, bekas perwira Belanda komandan benteng Solor, yang kemudian menikahi puteri raja Amanuban di Timor. 

Kedua dinasti ini menjadi partner sekaligus saling bersaing untuk memimpin kaum Topas sampai lebih dari dua ratus tahun.

Ekspedisi di Larantuka dan Timor


Topas di Larantuka mulai tertarik dalam perdagangan kayu cendana yang mendatangkan keuntungan besar. Untuk itu sebuah ekspedisi dikirim ke Timor tahun 1640 dan mendarat di Lifau , daerah yang sekarang menjadi enclave Oekusi, bagian dari negara Timor Leste. 

Ekspedisi ini kemudian terus masuk hingga ke pedalaman Timor. Di tahun 1641 sejumlah misionaris Portugis berhasil mendirikan semacam benteng di Kupang. 

Di tahun 1642, seorang Topas bernama Francisco Fernandez memimpin pasukan untuk menyerang kerajaan yang sangat berpengaruh di pesisir selatan bernama Wewiku-Wehali. 

Kerajaan tersebut dibakar rata dengan tanah. Keberhasilan serangan ini membuat Topas leluasa mengambilalih kendali perdagangan cendana di Timor.

Keberadaan Topas lambat laun menjadi kekuatan politik yang menguasai sebagian besar daratan dan pesisir Timor bagian barat. Penguasaan para Topas atas persenjataan, kepiawaian berperang serta kemampuan berbahasa Portugis, Melayu sebagai lingua franca, dan bahasa daerah (Timor dan Flores), membuat mereka disegani oleh banyak raja-raja Timor. 

Di sini mereka memaksa raja-raja tersebut untuk menjadikan Topas sebagai satu-satunya pengepul cendana untuk diperdagangkan ke luar pulau. Topas lah yang menentukan harga cendana dan tidak mengijinkan siapapun (kecuali mereka sendiri) menjual cendana kepada orang asing.

Perlu sedikit diketengahkan mengenai struktur politik dan budaya di Timor. Pada zaman kedatangan Topas itu, pulau Timor terdiri dari sedikitnya puluhan kerajaan kecil. Pada umumnya, tiap kerajaan merupakan gabungan dari sejumlah suku atau klan dengan pembagian peran bagi masing-masing suku atau klan di dalamnya. Kedudukan masing-masing suku relatif setara, tetapi terdapat juga kelas sosial yang muncul karena pembagian peran tadi. 

Di dalam suku-suku tersebut diterapkan perkawinan cross-cousin (semacam pariban dalam tradisi Batak) dengan sistem eksogami atau tidak diijinkan perkawinan dalam satu suku/klan, baik patrilineal maupun matrilineal.

Tanah suku dimiliki secara komunal dengan pengaturannya oleh kepala suku. Setiap individu dipastikan terikat dengan salah satu suku, atau, bila sampai diusir/diasingkan karena melakukan kesalahan tertentu, terpaksa harus menawarkan diri ke dalam satu ikatan suku atau klan lain agar bisa bertahan hidup. 

Tidak ada individu yang dapat survive tanpa tergabung dalam satu suku. Resiko terburuk saat menawarkan diri demikian adalah ia dijadikan budak atau hamba oleh suku yang mengambil. Bila bernasib baik maka ia diangkat menjadi saudara.

Beberapa kerajaan di bagian Barat yang kiranya penting untuk disebutkan di sini antara lain; Helong (suku bangsa yang menguasai wilayah yang sekarang menjadi kota Kupang), Amarasi, Amabi, Amanuban, Amanatun, Amfo’an, Molo dan Fatuleu. Sementara di bagian tengah dan timur terdapat lebih banyak kerajaan. Beberapa catatan sejarah menyebutkan kerajaan yang paling berpengaruh di antara mereka yakni Wewiku-Wehali, Bauho, Suai-Kamanasa dan Insana. Wewiku-Wehali, dalam syair adat sejumlah kerajaan di Timor dan catatan sejarah, dinyatakan pernah menjadi pusat bagi sebagian besar (bila tidak seluruh) kerajaan di Timor. Mungkin ini menjadi alasan serangan Topas ke kerajaan tersebut di tahun 1642.

Di tahun 1653 VOC merebut benteng Portugis di Kupang dan kemudian menamainya benteng Concordia. Namun mereka hanya bisa eksis di sekitar kota Kupang sembari coba membangun aliansi dengan beberapa kerajaan kecil di sekitarnya. Selama beberapa tahun berikut VOC selalu gagal menjalankan ekspedisi untuk masuk ke pedalaman Timor. Tahun 1656 VOC mendatangkan Jenderal Arnold de Vlamingh van Oudtshoorn, dengan 800 pasukannya yang baru menaklukkan Kesultanan Ternate. Mereka berusaha merangsek masuk ke pedalaman Timor. Dua kali usaha itu dilakukan dan keduanya menuai kekalahan yang memalukan.

Sementara Portugis yang tersingkir dari Solor dan Kupang mulai mendirikan pusat pemerintahannya di Lifau. Di tahun 1702 perwakilan pemerintahan untuk seluruh Sunda Kecil ditunjuk secara resmi dengan mengangkat António Coelho Guerrei sebagai gubernurnya.

Topas secara samar maupun terang-terangan memusuhi Belanda. Mereka bisa bekerjasama namun juga berperang. Demikian halnya terhadap Portugis. Mereka tidak mengakui perwakilan Portugis, baik yang berkuasa di Timor ataupun perwakilannya yang lebih tinggi di Goa. Kedatangan perwakilan pemerintah Portugal di Lifau beserta pasukannya menghadapi pengepungan dan serangan bertubi-tubi dari Topas. Cita-cita politik mereka adalah menjadikan Timor sebagai negeri berdaulat dengan hubungan langsung dengan Monarki Portugal. Atau, dengan lain kata, merekalah yang harus ditunjuk oleh monarki Portugal sebagai penguasa setempat.

Bagaimanapun, dengan penguasaan lapangan yang demikian baik, kemudian ‘strategi’ kawin-mawin antara para pemimpin Topas dengan puteri-puteri bangsawan setempat, maka secara de facto Topas menjadi kekuatan yang paling berkuasa di Timor. Untuk waktu yang cukup lama Portugis hanya dapat bergerak di sekitar Lifau (kecuali para paderi yang diijinkan masuk sampai ke pedalaman), sama seperti Belanda yang hanya dapat bergerak di sekitar Kupang.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peta politik di pulau Timor sepanjang abad 17 hingga akhir abad 19 diwarnai oleh empat kekuatan politik utama, yaitu; Portugis, Belanda, Topas dan raja-raja Timor. Keempat kubu ini dapat saling bekerjasama di suatu waktu dan berperang di waktu yang lain. Di suatu waktu dapat bersekutu untuk memerangi kubu lain dan ketika kepentingannya telah tercapai dapat berbalik dan mengganti sekutu untuk memerangi sekutunya semula. Situasi baru relatif stabil ketika memasuki abad 20 ketika Belanda berhasil mendirikan pemerintahannya di seluruh Timor bagian Barat.

Sumber: FB Marcel Paga

Inspirasi dan Renungan 1 September 2022: Karena Tuhan Menyuruhnya

Karena Tuhan Menyuruhnya!

( 1Kor 3:18-23 dan Luk 5:1-11 )
Renunhan harian katolik
Gambar Ilustrasi


¤ Saat air laut surut, banyak orang mencari ikan di antara celah batu. Ikan kecil-kecil, kerang, kepiting, teripang dan lainnya diperoleh di situ. Ikan yang lebih besar ada di tempat yang dalam. Butuh peralatan dan teknik yang mumpuni untuk mendapatkannya. 

¤ Sebagai seorang nelayan handal, Petrus mengerti seperti apa keadaan laut, jaring dan perahunya. Dia tahu kapan dia harus melaut, dan kapan melabuhkan jala. Tapi hasilnya nihil. Makanya dia protes kepada Yesus, orang dari wilayah perbukitan, anak tukang kayu mau mengajari nelayan melaut. Tapi dalam hati kecilnya, Petrus sadar, bahwa perintah Yesus ini penuh kuasa. Maka dengan rendah hati dia berkata: "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jalaku juga." Hasilnya luar biasa. Dan juga seluruh hidup Petrus diubah, penjala ikan menjadi penjala manusia.

¤ Kita sering merasa gagal dan itu sungguh membuat kita kecewa. Tapi tak usah takut, masih ada Tuhan kita. Dia tak pernah gagal. Asalkan kita mau mendengar dan mengikuti perintah-Nya. Tuhan tahu apa yang dikerjakan dan hasil yang bakal dicapai. Karena itu, kegagalan yang kita alami jangan menjadi gambaran buruk. Masih ada Tuhan kita yang akan meneguhkan kita dengan janji dan penyertaan-Nya. Jika kita ikut perintah Tuhan, hasilnya akan berlimpah ruah.

¤ Point penting yang juga mesti disadari tentang pentingnya networking, membangun jejaring dalam kebersamaan. Kerjasama penting untuk meraih hasil yang lebih baik dan berkualitas. Pukat atau jala bisa menangkap ikan selama tali-temali yang menghubungkan satu bagian dengan bagian yang lain masih utuh, atau belum koyak. Demikian juga kerjasama, membangun jejaring di antara para pekerja pastoral dan seluruh umat menjadi sesuatu yang niscaya. 

¤ Kuasa Tuhan itu penuh misteri. Dan Tuhan bisa mengubah hidup dan diri seseorang. Petrus diubah dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Kita semua juga dipanggil untuk menebarkan jaring kasih dan jala cinta di tengah dunia ini, agar semakin banyak orang percaya dan beriman kepada Kristus. Seperti Petrus kita boleh berkata: "Tuhan, karena Engkau menyuruhnya, maka aku menebarkan jala juga."

Selamat pagi. Salam dan doa berkat.

RD. Pey Hurint

HOMILI KITA

Rabu, 31 Agustus 2022
1Kor.3:1-9
Maz.33:12-15.20-21
Luk.4:38-44
Pekan Biasa XXII - St.Raymundus Nonnatus

JADILAH PEMBAWA KABAR BAIK


Dalam Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan ibu mertua Simon Petrus dan banyak orang sakit lainnya. Kehadiran Yesus benar-benar membawa kegembiraan. Orang-orang yang selama bertahun-tahun hidup menderita karena sakit yang tak kunjung sembuh, mengalami kesembuhan total dan mereka amat gembira. Yesus tidak hanya memberikan kegembiraan, tetapi Ia juga mengembalikan hidup dan masa depan mereka. Dengan badan yang kembali sehat mereka dapat bekerja dan melanjutkan hidup secara lebih baik. Orang-orang itu dengan senang pati menerima Yesus dan mereka juga menjadi percaya.

Kita yang hidup di zaman sekarang ini, hendaknya mau dan berani menjadi penerus karya Yesus, berani memberitakan Injil dalam situasi apapun yaitu kabar gembira keselamatan kepada semua orang. Dengan kasih Tuhan kita menyatakan dan mewujudkannya lewat tangan kita agar orang-orang bisa melihat wajah Kristus yang tampil dari wajah kita. Dengan demikian kita menyenangkan hati Tuhan dan membantu membawa misi Tuhan ke seluruh dunia. Supaya hukum menanam dan menuai itu membuahkan hasil yang baik. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. ( 1Kor 3:6)

Sebagai murid Kristus, kita juga diutus untuk mampu memberikan perubahan hidup ke arah ang lebih baik. Iman yang kita miliki tidak hanya untuk kehidupan dan keselamatan diri kita endiri, tetapi juga untuk orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari kita diutus untuk membuat rang yang sedang sedih menjadi gembira, orang yang sedang bingung mendapatkan pegangan, orang yang sedang galau mengalami ketenangan, yang sedang takut mempunyai keberanian, yang sedang berada di jalan yang salah bisa kembali hidup benar, dan masih banyak hal-hal baik lainnya yang harus kita kerjakan. Orang beriman siap hadir untuk menjadi berkat bagi orang lain yang dijumpai, bukan sebaliknya, yakni menjadi batu sandungan bagi sesama.

Doa:Ya Bapa Yang Mahabaik, semoga kami menjadi pribadi-pribadi yang berguna bagi semua orang.
Salam 🙏🏻 Kasih Kristus
Sumber: Ama Fernando Zai

Keturunan Arab Banyak di Bumi Nusantara: Kenapa?

Mengapa banyak keturunan Arab di Nusantara 

Orang-orang Arab datang ke nusantara, diketahui setidaknya sudah sejak masa Nabi Sulaiman. Ini terlihat dari banyaknya cerita rakyat yang berhubungan dengan Nabi Sulaiman yang memerintah di jazirah Arabia. Namun untuk kedatangan muslim Arab diketahui sudah datang pada masa awal Islam, yaitu ketika Khalifah ke-3, yaitu Khalif Utsman bin Affan (644-656 M) mengutus para sahabat untuk menyebarkan ajaran Islam di Nusantara, dengan mengabarkannya terlebih dahulu kepada Ratu Kalingga, yaitu Ratu Shima. 

Gambar Ilustrasi
Gambar Ilustrasi


Para sahabat kemudian datang ke nusantara, dan tercatat para sahabat memilih Barus sebagai tempat menetap pada generasi awal ini. Bahkan Khalifah ke-4, yaitu Khalif Ali bin Abi Thalib (599-661 M), tercatat sebagai penyebar agama Islam di Tano Mandailing dan Tanah Sunda. Terjalin nya hubungan baik ini diteruskan pada masa Bani Ummayyah (661-750), yang beribukota di Damaskus, yang juga banyak menyebabkan orang-orang tinggal di nusantara. 

Di generasi berikutnya pada abad ke-8, tercatat kedatangan kaum muslim keturunan Ali Abi Thalib dari Persia ke wilayah Aceh, Mandailing dan semenanjung Malaka, dan berbagai wilayah lainnya, mereka mulai mendirikan kesultanan. Waktu itu, kaum muslim di nusantara di bawah pengaruh Bani Abbasiyyah (750-1258 M), yang kemudian ditumbangkan oleh Mongol. Banyak cerita tentang kedatangan orang-orang Arab pada masa ini ke nusantara. 

Namun sejak berdirinya Bani Fathimiyyah (910-1171 M), pengaruh Islam di nusantara terbagi dua, sehingga seringkali terjadi peperangan antara Kesultanan yang bergolongan Syi:ah (di bawah pengaruh Bani Fathimiyyah) dengan Kesultanan yang bermazhab Sunni (di bawah pengaruh Bani Abbasiyyah). Bani Fathimiyyah sendiri tumbang karena dikalahkan oleh Jenderal Salahuddin Al Ayyubi, panglima perang dari Bani Seljuk/Turki (Bani Zanki atau Zengid) , yaitu Raja Zengid Nur ad-Din/ Al Malik Al Adil Nuruddin (1118-1174 M). 

Raja Zengid merupakan keturunan dari kabilah-kabilah Ghuz di Turkistan yang berhasil mengambil alih kekuasaan Bani Abbasiyyah, sebelum Bani Abbasiyyah ditakhlukkan oleh Mongol. Namun kemudian, Salahuddin al Ayyubi mendirikan kesultanan Bani Ayyubi yang bergolongan Sunni. 

Dari masa Bani Zengid, diteruskan lah kekuasaan umat Islam oleh Bani Utsmaniyyah (1299-1923 M), yang didirikan oleh Osman Bey/Osman Gazi (1299-1323) bersama suku-suku Turk/Mongol di barat laut Anatolia, yang merupakan pasukan Mongol yang berhasil menaklukkan Bani Abbasiyyah. Di kemudian hari, kerajaan ini berubah menjadi kesultanan. 

Pada masa Bani Utsmaniyyah (Ottoman) ini, pengaruh Islam di nusantara beralih ke penguasa Turki, yang di masa itu tercatat sebagai Kesultanan Rum, karena beribukota di wilayah Romawi (Timur), dengan Konstantinopel (Istanbul) sebagai ibukota nya. Osman Bey merupakan anak Adipati (Etrugul Khan dan putri Sultan Seljuk) di masa Bani Seljuk di Rum, dengan nama sebenarnya Atman atau Ataman, namun orang Arab dan Turki di kemudian hari, mengejanya sebagai Utsman. Sejarah Osman Bey memang tidak terlalu jelas, karena dalam cerita sejarah Islam, sebenarnya Hulagu Khan (keturunan Jenghiz Khan) lah yang menaklukkan Bani Abbasiyyah. Namun kemudian keturunan dari Jenghiz Khan ini lah yang masuk Islam. 

Secara bahasa, Mongol dan Turkistan masih satu rumpun bahasa, dan tidak sulit dalam berkomunikasi. Jadi kemungkinan besar, pada masa awal Bani Utsmaniyyah belum muslim. Namun, di kemudian hari, Bani Utsmaniyyah menjadi pemimpin dunia Islam yang terkemuka. Turki menjadi kesultanan pada masa Sultan Mehmed II pada tahun 1453 M. Selain orang-orang Arab, orang-orang Turki dan Persia, pada masa Bani Ottoman ini, banyak datang ke nusantara untuk menetap. 
 
Yang terakhir adalah pada masa Hindia Belanda (abad-18/20), di masa ini tercatat kedatangan orang-orang Yaman, khususnya Habib-habib dari Hadhramaut. Mereka kemudian berusaha berinteraksi dengan kesultanan-kesultanan nusantara, baik yang berasal dari keturunan Syarif (bangsawan keturunan Nabi Muhammad melalui Fathimah dan Ali bin Abi Thalib) dari keturunan Ratu Shima mau pun dari keturunan Persia pada masa-masa awal Islam. Namun tidak sedikit, orang-orang dari Hadhramaut diketahui berdusta tentang nasabah sebenarnya, supaya dihormati, sehingga terjadi keributan antara orang Arab. 

Selain keturunan Ali bin Abi Thalib (Khalifah ke-4), di nusantara juga banyak keturunan Abubakar ash-Shidiq (Khalifah ke-1), keturunan Umar bin Khattab (Khalifah ke-2) dan keturunannya Khalifah ketiga, yaitu Utsman ibnu Affan. Umumnya, mereka dikenal sebagai pribumi nusantara, karena sudah berabad-abad tinggal dan kawin mawin dengan masyarakat nusantara. Secara fisik, banyak yang sudah kehilangan khas Arab nya atau sudah berwajah Melayu.

Sumber: FB Raden Nurdin

Mengenal Misionaris Perintis Gereja Katolik di Wilayah Manggarai Barat

MISIONARIS PERINTIS GEREJA KATOLIK DI WILAYAH MANGGARAI BARAT

P. Frans Eichman SVD, misionaris dari Jerman, merupakan Pastor pertama yang menetap di Rekas. Sebelumnya Rekas dilayani P. Jansen SVD yang kemudian merintis misi di wilayah Manggarai Timur dan menetap di Lengko Ajang.

Misionaris Manggarai Barat
Gambar Salah Satu Misionaris


Wilayah Paroki Rekas saat itu, meliputi seluruh Wilayah Manggarai Barat (Kevikepan Labuan Bajo) bahkan sampai di Lelak dan Todo. 

Benih iman di wilayah Manggarai Barat juga bertumbuh di Labuan Bajo berkat jasa P. Engbers SJ dengan kunjungannya pada tahun 1911 dan kemudian P. Back SVD dengan pembaptisan pertama pada tahun 1917 di SR Laboean Badjo (SDN 1 Labuan Bajo sekarang ini.

P. Eichman SVD kemudian mendirikan Gereja Rekas (sekarang Gereja Tua Rekas) yg diberkati pada tahun 1925. Gereja ini dibangun di atas tanah pekuburan orang kampung Rekas (batu Mbaru Comong, leluhur orang kampung Nuri sekarang). 

Salah satu orang yang dikuburkan di situ bernama Makur, yang menurut cerita Bapak Guru Alo Mongko alm, kuburnya terletak di bawah Altar Gereja Tua Rekas.

Di altar Gereja Tua Rekas itu sekarang dikuburkan relikwi P. Eichman SVD (sepotong tulang). Dia meninggal di Mataloko, saat hendak ke Ledalero untuk menghadiri pertemuan. Beberapa tahun lalu, kuburnya di Mataloko dibongkar dan dipindahkan ke samping Gereja Katedral Ruteng sebagai salah satu bentuk penghormatan atas jasa misionaris perintis ini. Saat itulah sepotong tulangnya diambil dan dibawa ke Rekas.

Daya tarik Gereja Tua Rekas semakin kuat, selain dengan adanya relikwi P. Eichman, SVD juga dengan adanya Arca Bunda Maria dari Fatima yang akan diarak dengan meriah dari Kampung Compang ke Gereja Rekas sebelum tanggal 24 September yad.


Hanya kondisi Gereja Tua Rekas sekarang ini sangat memprihatinkan. Pernah ada rencana renovasi dari Pempus, tapi dibatalkan padahal master plan sudah ada dan disosialisasikan.

Jika Keuskupan Labuan Bajo terbentuk, janganlah melupakan jasa P. Eichman SVD. Maka perlu, kubur P. Eichman SVD dipindahkan ke samping Katedral Labuan Bajo. 

Sumber: FB Yosep Min Plem

DEBAT LEIPZIG : JOHANN ECK (KATOLIK) VS MARTIN LUTHER (PROTESTAN)

DEBAT LEIPZIG : JOHANN ECK (KATOLIK) VS MARTIN LUTHER (PROTESTAN)
Gambar Ikustrasi Debat Luther
Gambar Ilustrasi


Johann Eck lahir 13 November 1486. ia belajar di universitas Heidelberg, Tübingen, Cologne, dan Freiburg im Breisgau. Dia ditahbiskan menjadi IMAM pada 1508 dan menjadi doktor teologi pada 1510. Pada tahun itu dia memulai karier sebagai PROFESOR TEOLOGI di Universitas Ingolstadt dan pendebat terbaik di Jerman.
Luther lahir tahun 1483, dan di usia 19 tahun menjadi sarjana filosofi, dan di usia ke 22 meraih gelar Master (1505), ditahbiskan menjadi imam tahun 1507. Dua tahun berikutnya menjadi Baccalaureus Biblicus dalam Teologi. Di usia 30 tahun ia menjadi Doktor, dan dosen tentang Kitab Suci, dan kemudian dua tahun kemudian menjadi wakil vicar-general di Saxon

Johann Eck dan Martin Luther awalnya adalah bersahabat. Sampai suatu saat Luther mempublikasikan 95 thesesnya.

Eck diberi tugas oleh USKUP VON EYB untuk memeriksa theses yang dibuat Luther, dan Eck menyebutkan bahwa 18 butir di antaranya mengandung AJARAN SESAT/ heresi (seperti ajaran Jan Huss), melanggar kasih Kristiani, merendahkan order hirarki Gereja dan menghasilkan pemberontakan. 

Hal ini disebutkan dalam suatu manuskrip yang disebut “Obelisci”, yang disampaikan kepada Bapa Uskup, dan beredar di kalangan sendiri, tidak dipublikasikan. 

Namun manuskrip ini sampai ke tangan Luther, dan Luther menjadi sangat marah. Lalu Eck menulis kepada Luther untuk menjelaskan duduk perkaranya, dan agar Luther tidak marah dan tidak membawa hal ini menjadi pertentangan publik, entah melalui kuliah atau melalui tulisan. 

Namun Luther malah mengeluarkan tulisan “Asterici” (10 Augustus, 1518) yang menyebabkan pertentangan publik di Leipzig.

Debat Leipzig terjadi pada bulan Juni dan Juli 1519 di Istana Pleissenburg, Leipzig, Jerman. Pada tanggal 27 Juni 1519, Eck menantang diskusi terbuka Andreas Karlstadt, seorang teolog Protestan tentang ajaran Luther mengenai rahmat Tuhan dan kehendak bebas (grace and freewill).Tentang topik grace and freewill, ECK tampil sebagai PEMENANG DEBAT. 

Kemudian dalam beberapa minggu setelahnya, Luther diundang untuk bergabung dalam diskusi. Tanggal 17 Julii 1519, Luther ikut diskusi yang akhirnya diskusi melebar pada topik API PENYUCIAN, PENJUALAN INDULGENSI, BAGAIMANA PENEBUSAN DOSA HARUS DIBAYAR, DAN OTORITAS PAUS.

Tentang supremasi Paus yang ditentang oleh Luther, Eck mengacu kepada bagaimana pandangan serupa oleh Wiclif dan Hus pernah dikecam oleh Konsili di Constance. Pernyataan ini membuat LUTHER akhirnya menyatakan bahwa KONSILI DAPAT SALAH. 

Terhadap hal ini Eck berkomentar singkat, “KALAU ENGKAU PERCAYA BAHWA KONSILI YANG SAH DAPAT SALAH DAN TELAH SALAH, MAKA BAGI SAYA, KAMU ADALAH SEORANG PAGAN DAN PUBLIKAN” (Köstlin-Kawerau, op. cit., I, 243-50).

Luther pulang dalam keadaan TERPUKUL atas turnamen yang mengecewakannya ini.

Kalau Luther mengatakan bahwa konsili bisa salah, maka berarti pendapat Martin Luther lebih lagi dapat salah. Kalau konsili yang menetapkan buku-buku untuk menjadi bagian dari Kitab Suci dapat salah, maka kita tidak mempunyai dasar untuk mempercayai kebenaran yang diberikan oleh konsili. Dengan demikian, kita tidak mempunyai dasar yang pasti, apakah Kitab Suci yang kita kenal adalah benar-benar merupakan Sabda Allah, yang tidak mungkin salah..Lutherr mengabaikan ajaran Bapa Gereja yang dipelihara dengan setia oleh magisterium dalam Konsili. Luther lebih menekankan "hanya Kitab Suci Saja" (SOLA SCRIPTURA) dan tidak berminat tentang sejarah serta tulisan Bapa Gereja. 

Dengan demikian, ucapan CARDINAL JOHN HENRY NEWMAN, tetap berlaku: “To be versed in history is to cease to be Protestant.” Sebab jika seseorang mau mempelajari sejarah Gereja, berikut dengan tulisan- tulisan para Bapa Gereja (Tradisi Suci) sejak abad awal sampai sekarang, maka ia akan semakin dapat melihat kepenuhan kebenaran di dalam Gereja Katolik, sehingga ia dapat memutuskan untuk berhenti menjadi seorang Protestan.NP*

Kisah Bunda Maria Menyelamatkan Kampung Rekas-Manggarai Barat NTT

GEREJA TUA REKAS dan ST. MARIA FATIMA.


Inilah Arca Bunda Maria Fatima yang dibawa oleh Pater Yosef Van Hoef SVD, pastor Paroki Rekas dulu dari Fatima dan saat penyambutan, diarak dengan berjalan kaki oleh umat Paroki Rekas dari Wae Longge hingga Gereja Rekas.
Gambar Arca Maria
Hambar Arca Bunda Maria di Rekas (sumber: FB Yosep Min Palem)


Pasca peristiwa G 30 S PKI, satu pasukan tentara dari Ende tiba di Rekas guna penertiban orang-orang yang menjadi anggota PKI. 

Banyak dari mereka karena ketakutan lalu bersembunyi di hutan dan ada yg tidak mengaku sbg anggota partai tersebut apalagi karena banyak yg terdaftar hanya ikut -ikutan, tergiur dengan janji-janji manis.

Karena itu Kapten Toni (Komandan Pasukan) mengancam akan membumihanguskan kampung Rekas. 

Dan ancaman ini rupanya tidak main-main mulai disiapkan strateginya utk dieksekusi. 

Malam sebelum pelaksanaan, Kapten Toni bermimpi didatangi seorang perempuan cantik. 

Dengan wajah sedih dan suara memelas, si perempuan minta supaya Kapten Toni jangan melaksanakan rencananya. 


Keesokann paginya Kapten Toni ke Pastoran Rekas n bertemu P. Erwin SVD yang saat itu membantu di Rekas. Setelah minum kopi, mereka jalan-jalan di kompl Gereja n melewati Gua Maria. 

Saat di depan Gua Maria, beliau menoleh ke arah Gua, Kapten Toni berteriak : 'Aeh Pater... perempuan ini yang datang dalam mimpi saya se-malam. 

Siapakah dia?"

"Ini Bunda Maria Fatima Pendoa n Penolong umat Katolik".

Lalu Kapten Toni menceritakan mimpinya. Setelah mendapat penjelasan dari P. Erwin SVD, Kapten Toni membatalkan rencananya dan masyarakat yg terdaftar sebagai anggota partai yang dilarang itu luput dari hukuman berat.

Saat renovasi Gua Maria, arca Bunda Maria Fatima ini diangkat dan disimpan di Pastoran kemudian ditahtakan di Gua Maria Kampung Compang. 

Pada akhir September, sebelum perayaan Hari Pariwisata Internasional Tingkat Keuskupan Ruteng di Rekas ( 25 Sept.2022) arca Maria Fatima ini akan diarak dengan meriah dikembalikan ke Gereja Tua Rekas.


Dengan demikian, diharapkan akan menjadi "magnet" untuk orang-orang berziarah ke Gereja Tua Rekas yang telah ditetapkan oleh Uskup Ruteng dan Bupati Manggarai Barat periode lalu sebagai Situs Wisata Religi.

Bacaan dan renungan hari Senin tanggal 29 Agustus 2022:Tabah Menghadapi dan Tidak Kecewa

 Bacaan dan renungan hari Senin tanggal 29 Agustus 2022 terambil dari :

Gambar Kitab Suci
Gambar Ilustrasi


Yohanes 16:1-3 (TB)

   "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku.

Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.

Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku.


Setiap orang tua selalu mengingatkan kepada anak cucunya untuk menghadapi segala pencobaan terutama hinaan, ejekan dan berbagai fitnahan serta penganiayaan yang dihadapi hendaklah bertekun dalam doa dan permohonan kepada Allah agar semuanya dapat diterima dengan penuh kesabaran.


Dalam Yohanes 16 : 1-3 Tuhan mengajar kita untuk bertekun dalam menghadapi segala cobaan dan hambatan dengan cara Tuhan yang diajarkan kepada kita.


Tabah menghadapi dan tidak kecewa.

TuhanbYesus mengajar kita untuk tidak putusasa dalam menghadapi segala kebencian yang kita terima dan kita perlu lebih dekat dengan Allah, bertekun dalam doa dalam nama Yesus sehingga kita kuat menghadapi segala macam badai yang kita perlu kita kalahkan.


Janganlah terpikat dengan kemunafikan.

Banyak orang yang suka mengatasnamakan petunjuk Allah untuk berbuat kebencian dengan dalih membela kebenaran serta memuliakan Allah, akan tetapi semua itu hanya untuk menutupi segala kekurangan atau kelemahan dari diri kita sendiri.


Perlu mengenal Allah dengan baik.

Kebiasaan ini sangatlah merugikan dan menghancurkan kehidupan Rohani kita sendiri karena belum mengenal Allah secara benar dan tidak cuma membela segala kekurangan yang kita miliki tetapi kita perlu pertobatan, sehingga dapat mengenal Yesus s cara benar dan mengenal Allah yang menciptakan langi dan bumi dan manusia.


Ketiga perkara diatas salah satu merupakan praktek yang pali sulit dilakukan oleh setiap orang percaya tetapi mudah dikatakan bagi kita.

Ketekunan dalam IMAN merupakan kunci keberhasilan mereka didalam menghadapi kebencian mereka kepada Tuhan Yesus hingga para murid dan hamba - Nya.


Marilah kita awali dari diri kita sendiri dan barulah kepada orang lain untuk belajar bertekun menghadapi segala kebencian dunia kepada kita orang percaya.


Berbahagialah yang Membaca, Mendengar dan yang Merenungkan terlebih bagi orang yang Melakukan Firman Allah.

Kasih Karunia Allah Menyertai kita.

Selamat bahagia, Selamat beraktifitas.



INSPIRASI HARI INI


Senin, 29 Agustus 2022

PW Wafatnya St. Yohanes Pembaptis, Martir


Menyuarakan dan Menghidupi Kebenaran (Yer 1:17-19 dan Mrk 6:17-29)


Ada beberapa point yang boleh kita renungkan pada hari ini:


  • Banyak orang hidup dalam situasi batin yang sedang marah dan menyimpan dendam. Rasa dendam menutup seluruh hati batin, tidak mau menerima dan memaafkan sesama. Akhirnya rasa dendam itu bukan hanya melukai orang lain, tapi juga diri sendiri. Herodes dan Herodias menyimpan marah kepada Yohanes Pembaptis yang memberi teguran keras kepada mereka. Hasil dari amarah dan dendam adalah Herodias meminta kepala Yohanes Pembaptis dan Herodes menyuruh orangm membunuhYohanes Pembaptis.K
  • Kadangkita juga hidup dalam suasana batin seperti yang dialami Herodes dan Herodias. Hanya maaf dan pengampunan yang dapat menyembuhkan dan membebaskan kita dari belenggu amarah dan keinginan balas dendam.
  • Mencontohi teladan hidup Yohanee Pembaptis. Yohanes Pembaptis adalah sosok yang bersahaja. Dia tidak mau "neko-neko" atau berkompromi dengan situasi yang tidak benar. Bagi Yohanes Pembaptis, yang salah harus dikatakan salah dan apa yang benar harus dikatakan benar. Keberanian Yohanes untuk menegur Herodes dan Herodias, karena perkawinan mereka tidak sah, membawa akibat yang sungguh berat. Yohanes Pembaptis akhirnya dipenjarakan dan kemudian dibunuh. Para murid Yesus harus siap dan berani memerima resiko dihina, ditolak dan bahkan dibunuh. Murid Yesus tidak hanya menyeruhkan kebenaran, melainkan wajib menghidupi kebenaran. Keadilan, kebenaran dan cinta kasih harus menjadi bagian dari diri dan hidup setiap murid Yesus.
  • Menyerukan dan Menghidupi Kebenara. Kebenaran hakiki itu mahal harganya, dan harus siap dan rela kehilangan segalanya termaauk nyawa jadi taruhan demi kebenaran. Sebulan terakhir, dunia sejagat dihebohkan oleh kasus Brigadir Jhosua versus Ferdy Sambo. Drama ini memperlihatkan dua kelompok manusia, yang satu mencintai dan menghidupi kebenaran dan yang lain memanipulasi fakta dan kebenaran hakiki. Nurani menjadi tertutup, budi menjadi gelap karena harta dan uang. Tugas para murid Yesus sekali lagi menyerukan dan menghidupi kebenaran. Kebenaran harus menjadi bagian dari hidup setiap murid Yesus. Hidup murid Yesus mesti memperlihatkan nilai kebenaran dan kasih di dalamnya. Dan dengan itu, para murid memuliakan Allah. St. Irenius mengatakan bahwa memuliakan Allah sepadan dengan menyelamatkan manusia. "Gloria Dei, homo vivens" (= Allah dimuliakan kalau kehidupan manusia dilestarikan).
  • Bagaimana dengan kita, para murid zaman ini? Kadang nurani kita dimatikan karena selembar uang, batin kita terkunci karena harta kekayaan. Seringkali manusia bisa dibeli demi segepok uang. Kebenaran sering dimengerti salah, seolah-olah hanya milik kita senditi dan orang lain salah. Mari kita belajar meneladani St. Yohanes Pembaptis untuk berusaha mewartakan Kristus dengan menyuarakan dan menghidupi kebenaran sebagai sebuah kebajikan Kristiani. Dengan itu kita boleh berkata seperti Yohanes Pembaptis: "Aku harus menjadi yang terkecil dan Dia (Kristus) harus menjadi besar."

Selamat pagi. Salam dan doa berkatku. RD. Pey Hurint

Sejarah Asal Mula Nama So’E; Timor Tengah Selatan

Saat ini siapa yang tidak mengenal Kota So'E?
Bagi orang-orang di Pulau Timor So'E dikenal sebagai salah satu kota yang dingin. Kota ini merupakan penghasil jeruk Keprok yang sangat terkenal itu. 
Gambar Raja Molo
Gambar Raja Molo 


Dari informasi inilah kami pun berangkat menjuju So'E dengan menggunakan  bus antar kabupaten setelah tiba di Kota Kupang.

Pemandangan yang disajikan alam Timor sungguh sangat luar biasa. 
Sepanjang jalan, anda akan melihat padang penggembalaan dan diselingi sawah dan hutan dengan pohon yang tinggi.
Sungguh perjalanan yang menyenangkan.

Sesampainya di So'E kami menyempatkan diri berkeliling koa So'E dan sehabis itu, kami beristirahat sambil memanjakan telinga dengan cerita sejarah asal mula nama So'E.
Cerita pun dimulai dari sini.

Versi 1
Kata "So'E' merupakan bahasa Timor, jika diartikan dalam Bahasa Indonesia yakni "menimba".
Setidaknya ada beberapa versi penuturan dan ini merupakan salah satu penuturan asal mula nama So'E.
Salah satu karya tulis yang patut dijadikan referensi yakni seorang antropolog Belanda bernama Piter Middelkopmisionaris yang mana ia tinggal dan meneliti kurang lebih 30 tahun di wilayah Timor Tengah Selatan.
Dalam karya tulisnya itu dapat diketahui bahwa pada zaman dahulu ada seorang Usif (Bangsawan) yang bernama Nai San Metan. Nai San Metan sering di panggil SAN ASBANU. 
Beberapa penuturan menyebutkan bahwa Nai San Metan diketahui dari marga ASBANU.


Melihat dari nama Usif ini, Nai San Metan adalah nama yang erat kaitannya dengan ciri-cirinya yaitu warna kulitnya yang hitam.
Tidak heran, Orang Timor sering menyapa sesamanya dengan sebutan itu.
Sangat jarang kami temui seseorang Timor disapa dengan nama dirinya. Kenapa? 
Mereka menganggap itu tidaklah sopan. Oleh karena itu seperti Usif Nai San Metan, seseorang disapa dengan memperhatikan apa yang menjadi ciri tertentu padanya.

Misalnya seseorang yang giginya dibalut dengan emas disapa NISNONI atau San Asbanu disapa Nai San Metan.
 
Dikisahkan Raja San Metan menikahi Bi Kae Nope yang mana ia adalah Putri Raja Kerajaan Banam (Amanuban) Tubani Bill Nope. 
Mereka tinggal bersama rakyatnya di Fautbena – Nanjalu, kampung tempat tinggal keluarga Mone dan rumah keluarga Ataupah dan keluarga Fallo di So‟E. 

Suatu hari tepatnya di Neke, Pusat Kerajaan Raja Tubani Bill Nope, Raja Tunbani Bill Nope dan mertua laki-laki dari Raja San Metan, mengadakan sebuah pesta besar.
Semua Usif, Amaf, Meo dan seluruh rakyat Kerajaan Banam diundang pada pesta itu. 
Raja Tubani Bill Nope sangat kecewa karena Raja San Metan dan Bi Kae Nope tidak memenuhi undangan untuk datang ke pesta itu tanpa pemberitahuan.
 
Meskipun begitu sebagai raja yang bijaksana sebagaimana digariskan dalam tata krama atau etiket masyarakat di situ Tubani Bill Nope memerintahkan para pelayan istana agar bagian hidangan buat Raja San Metan dan Bi Kae Nope tetap disiapkan dengan menempatkannya di dalam bakul dan harus di simpan di atas para-para (Tetu Nai San Metan Bi Kae Nope, Pana Nai San Metan Bi Kae Nope).

Maksudnya, kalau nanti Nai San Metan datang ia dapat menikmati sukacita dalam bentuk makanan bersama. Namun sampai acara pesta berakhir, Nai San Metan  dan Bi Kae Nope juga tidak kunjung datang ke Istana Raja Tubani Nope. 

Tubani Bill Nope marah besar karena merasa tidak dihargai oleh Raja San Metan. 


Tubani Bill Nope merencanakan untuk membunuh Raja San Metan dan Bi Kae Nope yang merupakan putri kandungnya sendiri. 

Raja Tubani Bill Nope meminta bantuan Raja Mollo TO OEmatan yang biasa disebut TO Asupah untuk mengeksekusi pembunuhan itu.

Alfred Kase menyebut dalam bukunya bahwa yang diminta Raja Tubani Bill Nope untuk membunuh San Metan adalah meo Kobo Bano’Et (KAse, 2004:43-52). 

Mereka menyusun strategi dan  membuat ritual memohon restu Uis neno (penguasa langit), Uispah (penguasa bumi), dan para leluhur untuk menyertai pelaku dalam penyerangan. 

Setelah upacara selesai pasukan dari Kerajaan Mollo berangkat dengan menunggang kuda masing-masing menuju Istana Raja San Metan di Fautbena – Nanjalu.
Peperangan akhirnya terjadi dan Kobo Bano"Et dari Kerajaan Mollo berhasil membunuh Raja San Metan.
 
Kobo Bano‟Et tidak segera memancung kepala tetapi memeriksa harta peninggalan raja di dalam istana. 
Tidak ditemukan emas dan perak yang ditinggalkan oleh Raja San Metan. Hanya ada beberapa utas Muti Salak tergantung di tiang berhala Raja. 

Kobo Bano‟Et segera meraihnya dan dikalungkan di lehernya. 
Di situ ada juga sebuah guci besar berisi butiran muti salak. 

Sementara di atas para-para (pana) ada sekarung padi.


Dituangkan isinya di atas para-para lalu mengambil sebuah mangkok di atas para-para dan mencedok/menimba (So‟E) butiran salak dari 
dalam guci dan dimasukkan ke dalam karung sampai penuh.


Berawal dari kata So‟E Muti Salak inilah, maka nama So‟E dikenal sampai saat ini.*NP

Versi 2

Suatu ketika Tlili Fa‟ot membawa beberapa amaf dari Tetaf ke arah matahari terbenam (neonates) untuk mengumpulkan upeti (pah sufan) kepada raja. Dalam perjalanan pulang mereka mencari tempat mengaso. Orang Timor biasanya memilih tempat yang ada sumber airnya untuk mengaso, karena pada kesempatan itu mereka membuka bekal untuk makan. Ditemukan di situ sebuah tempat yang ditumbuhi bamboo betung (banbu yang batangnya besar dan tinggi). 

Setelah diselidiki ternyata di sela-sela bamboo itu ada mata air. Letaknya memang agak tersembunyi. Belum ada orang yang melihat mata air itu. Fa‟ot adalah penemunya. Tempat itu mereka namakan O’Naek, yang artinya bamboo besar. Mereka lalu makan dan minum di situ. 

Fa‟ot mengambil benda keramat miliknya, sebuah mangkuk yang disalut perak. Nama mangkuk itu dalam bahasa daerah adalah oe so’e = penimba air. Dengan oe so’e itu ia mencedok air dari sumbernya. Mereka makan dan minum sampai puas kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah agak jauh berjalan barulah Fa‟ot ingat bahwa oe so’e miliknya tertinggal. Mereka memutuskan untuk pulang ke mata air tadi. Syukurlah, oe so’e itu ditemukan.

 Ini dijadikan pertanda bagi Fa‟ot bahwa dewa penunggu mata air dan tempat itu bersahabat dengan mereka meskipun tadinya mereka minum dari mata air itu tanpa meminta ijin terlebih dahulu dari roh yang menjaga tempat itu. 

Karena itu Fa‟ot memutuskan untuk menjadikan lokasi tadi (O’Naek) menjadi kebun keluarga. Mereka membangun pondok dan mengolah tanah di situ untuk memperoleh makanan. 
Beberapa lama kemudian, di suatu pagi salah seorang putrid Fa‟ot menuju ke mata air itu untuk mengambil air. 

Sementara ia menimba datang beberapa oran asing, yakni tentara Belanda. 

Merekaa rupanya lelah dan haus karena itu mencari air untuk melepas dahaga. Melihat seorang anak gadis membungkuk di cela-cela bamboo yang sempit, seperti mencari atau mengambil sesuatu, salah seorang tentara bertanya: “Apa yang kau buat di situ?” 
Gadis kecil itu menjawab: “Soe’ oe!” sambil memperlihatkan air yang ada dalam alat 
penimba yang ada di tangannya. Soe’ oe dalam bahasa Indonesia artinya: menimba air. 

Tentara itu lalu minta minum. Mereka lalu pulang mendapatkan pasukan dan bercerita tentang seorang gadis kecil di Soe’ oe yang memberi mereka minum. 

Teman-temannya juga pergi ke mata air itu, yang sekarang mereka sebut So’E karena tidak bisa mengucapkan secara lengkap soe’ oe. 

Demikianlah isi versi kisah marga Fa‟ot tentang asal usul nama So‟E. So‟E artinya menimba.

Secara lebih jelas menimba air untuk minum, mata air yang dimaksud adalah Oebesi  yang berada beberapa meter di selatan gedung kebaktian GMIT Maranatha So‟E.

Dulunya di mata air itu tumbuh banyak bambu betung. Itu sebabnya dalam tuturan adat mengenai nama So‟E selalu disandingkan dengan kata O’Naek. Padanan lengkapnya berbunyi: So’E-O’naenu - Hu’e mnanu-fafinisin.

Versi manakan yang lebih dekat dengan sejarah asal mula nama So'E?
Mari kaji bersama. Sekian.

Sumber: 
Ebenhaizer I Nuban Timo.,   Kota So'E: Sejarah dan kenangannya. Academiedu.

Ebenhaizer I Nuban Timo. Kitab Itu Selalu Terbuka. Pendalaman Alkitab Untuk Kaum Bapak. Salatiga: Alfa design. 2010. 

Kumpulan Sastra Adat Bahasa Lamaholot

LEWO ULUN LELA KOLI, TANAH WERAN NARA WAYONG

Pilar di Kampung Lama (Lewo Nolungen) Napaulun, Sumber: Negeri Paus
Pilar di Kampung Lama (Lewo Nolungen) Napaulun, Sumber: Negeri Paus

Koda Pulo Kiring Lema, Ini di Kutip dari berbagai sumber dengan harapan agar dapat dipelajari oleh kaum muda Lamaholot.

  1.  " Arik, Ipem gike tebuk sinhan, limam peheng nong meran yawan"
  2. "KODA PULO AMA TUTU, KIRING LEMA KAKA MARING, GUTE TAO TETI HIKUN LIMAN WANAN, GERE GADAK DI KEWANAN NORENG WAKO... TI NUBA NANG TUTU NUBA... NARA NETE NANG MARIN NARA..
  3. Ake guit ata kelek, ake toban ata hukan
  4. TAAN ONEKET PETEN-PETEN,,, HAKA YONEKET SAME SUDI.. BEKE AKE TANG HOLAT,,, TEPO AKE TANG BOLAK... 
  5. KODA KERU, KIRING BAKI... TALA TUKAN LALI TAI.. LOLON TEDE HAKA TAI.. LEDANG DOPI, HEGIT GALA, GAWAK LABI....... TITE NANG NONG BINE,,, TITE KAKAN ARIN... PAI TALA LANGO GERE...
  6. NUBA NUBUN, NARA BARAN. PUIN TAAN UIN EH'AN, GAHAN TAAN KAHAN TOU.
  7. "bel'en lewo meheneng suku,uku dike heket sara... Belu au' naran bala mete sipa duli lali... Mio awi sabok lela lusi gere lela,,, pali lolon... Maan tugu dei',,, blela gere,,,, weti naan tobo lola nai .... 
  8. Alang doang hange lela.... Kebe denge... Tiro hala kede sosok... Weti ra sosok neking,, go sosok wanang... Koda puken koi hala...kiring wutukeng go lile kurang,,,weti alot nalang kede awot.... Kiring neking kede holo.... Weti koda ata tapan hala,,, kirin ata holo kurang....
  9. Bineng lau pap'an ... Weti bera dike,,, dela sare... Sare sape nawa naen...
  10. Inak nawaken sedo ue na uku getan teke na,,, wahek anoneng barek uka neheket natan teke pa... Koda kede paken beke tuen,,hola balik,,, haka mala lango gere... Puken mio ata naan bineng,,, gening mio nana tali wae..
  11. Ama mio pulo kae..kaka ata lema kae maan oneke dike dike mai ete ribun lein lau mai ara ratun weran rae weti ake raan tupa raan taga ti ina ata waebelek bine ata tukan tua rai hope sia apu lali wule rara ue di ake sema soot ro keregit... ama e puken tite ata kakan arin tite ata edo reu.
  12. "ribhun pulo lein lau,,, rathun lema werang rae... ra puken kede weli noan,,, ra gening noak,rae wakon... Mio bel'en bera eta egan,, ra mehen dela ete ara,,, weti duli lau aken taga,,, regon rae ake glagit... Weti lewo ake raan tupa,,, tana ake raan laga... Beke tuen hola balik... Sare sape nuansa tutu...... Taan edo noon reu....
  13. Koda aku tepelate,,, kiring neach tegelara ,,, weti mo huban bolak seme buton ile aleng,,, mo soka goka wato atu tolo... Mata mai turu tana... Lolak mai loni ekang... Mo pana pekken di kenehin mo gawe lupan dibedela.
  14. Lewuk tanak Doan Ile Liko,hiko lewa belen agara ile woka ....
  15. Matak nabe Koino hala,naku tilu mete denge saren moe ......
  16. Anam kame ribun ratun atan kayake mete sason soga tula nulu naranem ma'an saren tali ...
  17. Rera wulan tana ekan di me'te tede denge koda Maen.....Oh Lewuk Tanak LAMAHOLOT
  18. Here hodang,,teti lodo,,, ola doka lali gere.... 
  19. Taan gelekat lewo taan gewayan tana
  20. Suku pulo hone tobo, luwo lema wanin pae. Tobo taan lewo lein lau nai doan, pae taan tana weran rae nai lela. Tite ata kaka arin opu alap. Kakan keru arin baki. Beke ake tai tula taan nuho tou tawan, holat ake tai luga taan katan rua gere. Ti lewo ake ne data laga, tana ake ne sidak peak! Damailah saudara ku, damailah Adonara ku.(NSP)
  21. Opu keru bine baki, kakan pulo arin lema. Rae motin tobi puken, weli maun bao langun. Tobo uku tiban maan mela-mela, pae gahin bage maan sare-sare. Maan puken ta'a lolon mege. Ake puken ake petedek, ake pewuno ake genin. Nuku puken uku maan té bewihi helon wai muko puken. Dawa nawan gahin maan té weleok sama apun tana lolon. Maan mela pai tibun tawan sape nuba gere tutu nuba. Maan sare haka lain gere siga nara gere marin nara.(NSP)
  22. Wia ere rua'i kae. Koda gesuta taa noon keni'iten, kiri pé'ata taa noo kenalanen. Leta dike beke ake pate onem, ampo sare hola ake helu yonem. Tula tuen luga balik. Taan onet mela2 helon wai makok tukan. Taan yonet sare2 sama sélan buli yonén. Salam kompak selalu...(NSP)
  23. Amak ata orantua, kaka ata leke gayon, nuba murin, nara bara, peten ake tepelate sama sili lia gike, sudi ake tegelara helon ape lera late, koda tudak lewo tukan, kirin taga tanah matan, tobo gatu ti tutu taan koda nulun keru baki, pae lalan ti marin taan kirin walen wai noon selan, ake taan sama demo liku lewu ti witi nai dekun dopi toban, ake taan sama paji lapak tanah ti wawe bogo gala batan, peten taan dike-dike tite ata kaka arin, sudi taan sare-sare tite ata arin noon reun...
  24. Pulo golek tobo tika kiwan rae, lema bue pae bage watan lau, ata ina to'u mehin, ata lake to'u woraken, peten heket taan mela-mela, sudi hukut taan sare-sare, koda tudak lewo tukan, kirin taga tanah matan, tutu marin taan koda nulun keru baki, mipin holo taan kirin walen wai selan, ake taan hama demon liku lewun ti witi dekun toban, ake taan helo paji lapak tanah ti wawe bogo gala batan, tite kakan noon arin, tite arin noon reun.... Damailah nimunek Tadon Adonara.....(MLW)
  25. Suri murine lewo tanah, Gala wuung Suku ekan..
  26. Pana pai gawe haka. Tobo gatu taan batu atu.
  27. Pana pai gawe gere, Uli di tudak hala, nathan di lere hala..
  28. Lera dai gniku uli tite tedo dore lngo one haka tai gere tobo tepe roin ore mio gelek tua di... 
  29. Ata hae ore mio susa teke he....go nimok maran pata nimun mio wahnka..
  30. Pulo haka ta'an pulo pupuro perutu ti sama wua lali wayak....lema haka ta'an lema boito menoi helon mallu weli sepen...
  31. Ekan ne'ek lera gere, manuk gogok seni tawan, lodo tai ola duli gere tai here pali, peten ta'a pau nuba sudi ta'an boe nara(AKL)

Pupu onek haka ega iuket ake ta'an hlon muko holek huyo nai tiwan lilit...ti kuma kae tepo naan doan-doan....

ake sama tapo dukip keli nai tiwan namun ti tua kae laga lali nai lela.....(Amc)



Lewotana soron lodo tai bua doan dori ole balik taan tula tuen lewotana ke susa tasik tukan hire teti doan,tana ekan nein pana tai dayon tedok wura tuen taan luga balik tana ekan ke paya lewa lolon pedena lali lela

lewo nolo tite dore, ke tena elene lute sama keli tepeliki di puan lodo nai dani wato hala,laya puan sama kekak tegelenan di puan bolak nai sipa wera kuran(KBw)



Tobo tika doan duli sina,pae bage lela pali jawa

Nimun doan rae lewo,Naman lela weli tana

Peten tudak tawen taga matak pia helon kowa lolon botun,

botun dike naan nian nuane pai getan,

goka lodo tebelurut sama gudi wuan goka

Nimun senaren..............

kame pia tobo doan moon susa pulo,

tobo tani mio doan matake moi hala

mio rae pae lela moon paya lema,

pae utan lela yonekem mai lile kuran.

Nimun senaren Kame petene (KBw)


Tite hena....nukuro puken tou hena, tika tukan tai tobo golek-golek. dawaro nimun rua hena, bage lolon tai pae gawak-gawak.(KBw)





Tiwan leik lodo pana kai ola here kae na.lewotana molo go dore nein saren kaan pana laran.



 Turun susa pulo go pana peken lewuk tanak Adonara. Turun paya lema go gawe kai lupano di bedela o...Adonara. Soga leik lodo pana pekeno o...Adonara. Ikit limak walen gawe, gawe kai lupano o...Adonara. Naku nuan tena lali tuen, go tuen kai koino, hiin layar teti balik go kai heruno.






Soron limam hau, hode kala weran gere rae kai, 

edo sok leim lodo, adan ADONARA

Leran liko rae lango yonem raga grihan rae nawe matan taan dike-dike taan sare-sare

Sare koi, adonara..... 

Tadon modi dore tanah sina lali tai, nadon modi tedon jawa haka tai, nadon toon ADONARA

Lela lomi lapan matan, di go penudan onek hala, seba kaan kewan bilike teratu....

Sudi lewo Adonara...

(SBT) 



Kiden rae lango tani, seme sulin sinha alan....nukak weli keban utan, helun nuren jawa golo...

Susah inam dore tani....ake tani mure....

Paya wahem tedo utan...meliko dikire....

Hapa utune di take, wai raine di kuran...

(SST)





doan tasik nabe liko,mo liko adano ake doan bain

lela laya nai lapak,ke lapak agano ake lela bain

rae lewo tanah ratan pole ban'net...

TEDE PETEN ONET



"lewo soron lodo pana

tanah tapin balik"

peten nere mio....ake taan kwetin

(ZE) 


Koda geleten muko puken..... 

kirin bewihi wai matan.saren sampe nawa naen



pulo haka ta'an pulo pupuro perutu ti sama wua lali wayak....

lema haka ta'an lema boito menoi helon mallu weli sepen...


behiro..