Surat Terbuka untuk Para Pengamat Got Lewoleba: Maafkan Pemerintah yang Kurang Sakti

Surat Terbuka untuk Para Pengamat Got Lewoleba: Maafkan Pemerintah yang Kurang Sakti

 

Nwgeri Paus
Gambar : Istimewah

Lembata 30/04/26 - Mari kita semua bersepakat: banjir di sepanjang jalan Lamahora hingga Toko Lima Satu murni karena pemerintah tidak punya tongkat sihir. Sungguh keterlaluan mereka tidak bisa menyulap air agar bisa melompati gundukan sampah yang kita titipkan dengan penuh kasih sayang di dalam got.

​Padahal, jika kita bicara soal Cinta Tanah Air dan Pancasila, bukankah manifestasi paling sederhana adalah tidak menganiaya lingkungan sendiri? Namun, sepertinya kita punya penafsiran yang berbeda.

​Berikut adalah beberapa alasan mengapa kita harus tetap menyalahkan mereka, meskipun kenyataan di lapangan sedikit "mengganggu" narasi kita:

​1. Got sebagai "Tempat Sampah Premium"

​Kita harus protes mengapa pemerintah tidak membangun sistem got yang dilengkapi dengan mesin penghancur otomatis. Bagaimana mungkin sampah plastik yang kita buang ke drainase bisa menyumbat aliran? Bukankah "menjaga kebersihan" itu tugas malaikat dan pemerintah saja? Kita sebagai warga yang katanya "cinta tanah air" tentu merasa cukup dengan hanya mencintai tanahnya, tapi sampahnya silakan dinikmati orang lain.

​2. Seni "Mencekik" Drainase dengan Beton

​Kita berhak membangun cor beton menuju rumah dengan ketebalan luar biasa, bahkan jika itu harus memakan separuh ruang got di bawahnya. Jika lubang got menyempit dan air meluap, itu salah pemerintah karena tidak memperlebar bumi Lewoleba. Menjaga fasilitas umum tetap berfungsi adalah urusan nomor sekian, yang penting akses kendaraan pribadi mulus tanpa hambatan.

​3. Air yang "Lupa Diri"

​Sangat tidak adil menyalahkan air yang mengalir deras dari halaman rumah warga. Seharusnya, pemerintah menyediakan asisten pribadi untuk setiap tetesan air hujan yang jatuh di atap rumah kita agar mereka langsung berbaris rapi menuju laut. Membiarkan air limbah rumah tangga langsung ke jalan raya adalah bentuk "kebebasan" yang harusnya dimaklumi, bukan?

​4. Mengecilkan Kali demi Perluasan Istana

​Membangun rumah hingga menjorok ke pinggir kali adalah bukti kreativitas kita dalam memanfaatkan lahan. Jika kali menyempit dan airnya protes dengan cara masuk ke pemukiman, itu jelas salah pemerintah. Kita hanya warga yang ingin memperluas "tanah air" milik pribadi dengan cara mencaplok badan kali yang merupakan milik bersama.

​Kesimpulan:

Katanya kita menjunjung tinggi nilai Pancasila, tapi membuang sampah pada tempatnya saja terasa seperti tugas berat dari negara tetangga. Jika benar kita Cinta Tanah Air, seharusnya kita malu melihat drainase kota tersumbat oleh ego kita sendiri.red

Post a Comment

0 Comments