Menembak Mimbar, Meluputkan Pelaku: Otopsi Nalar Pendek yang Menyalahkan Komunio Serentak

Menembak Mimbar, Meluputkan Pelaku: Otopsi Nalar Pendek yang Menyalahkan Komunio Serentak

Gambar: Istimewah

Negeripaus - 08/06/2026. Sangat disayangkan melihat fenomena di mana setiap kali kecelakaan lalu lintas terjadi pasca-perayaan Sambut Baru di Lembata, jari telunjuk publik dengan begitu cepat dan reaktif diarahkan kepada sistem perayaan serentak oleh Gereja. Menuduh agenda sakral Gereja sebagai biang keladi kecelakaan adalah sebuah kepicikan berpikir yang akut. Ini adalah bentuk sesat pikir post hoc ergo propter hoc—menganggap karena peristiwa B terjadi setelah peristiwa A, maka peristiwa A adalah penyebabnya.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa narasi menyalahkan Komunio serentak ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya bagi penegakan ketertiban sosial:

Kekeliruan Mengkambinghitamkan Sakramen atas Dosa Personal. 

Komunio Pertama adalah ritus iman yang suci, yang esensinya adalah spiritualitas dan katekese. Tidak ada satu pun ayat kitab suci, dokumen konsili, maupun khotbah pastor paroki yang mewajibkan umat untuk mabuk-mabukan, mengendarai motor tanpa helm, atau memacu kendaraan ugal-ugalan setelah keluar dari pintu gereja.

Ketika seorang oknum memilih untuk menegak moke secara berlebihan lalu nekat menghidupkan mesin motor, itu adalah pilihan bebas (free will) dan kelalaian personal. Menyalahkan jadwal serentak Gereja atas kecelakaan yang dialami orang mabuk sama konyolnya dengan menyalahkan produsen mobil atas kecelakaan yang disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk.

Memanjakan Pelaku dan Mengikis Tanggung Jawab Pribadi

Narasi yang menyalahkan sistem serentak ini secara tidak sadar sedang "memanjakan" para pelaku pelanggar hukum. Dengan menggeser kesalahan ke ranah institusi atau sistem keagamaan, pelaku pembawa maut di jalan raya seolah-olah mendapatkan pemakluman: "Ooh, wajar saja kecelakaan, kan suasananya lagi ramai dan serentak."

Ini adalah logika yang cacat. Mengkambinghitamkan keramaian serentak hanya akan mengikis rasa tanggung jawab individu atas keselamatan dirinya dan orang lain. Yang harus dibenahi adalah kedewasaan berpikir umat dalam memisahkan urusan iman dengan nafsu konsumsi alkohol, bukan mengusik kalender liturgi Gereja.

Kegagalan Fungsi Kontrol Sosial dan Penegakan Hukum

Jika volume kendaraan meningkat saat perayaan serentak, bukankah itu adalah konsekuensi logis dari sebuah wilayah yang sedang berpesta? Di sinilah fungsi kontrol sosial dan penegakan hukum negara diuji.

Mengapa yang digugat adalah jadwal subsidiaritas Gereja, dan bukan ketegasan aparat dalam merazia pengendara mabuk? 

Mengapa bukan budaya permisif keluarga yang membiarkan anak remaja membawa motor ugal-ugalan yang dikritik? 

Menyalahkan Gereja adalah jalan pintas yang malas bagi mereka yang enggan mengevaluasi lemahnya penegakan hukum lalu lintas dan rapuhnya kontrol sosial di tingkat komunitas/desa.


Berhentilah mendakwa altar Gereja atas darah yang tumpah di jalan raya. Kecelakaan terjadi bukan karena Komunio dilakukan serentak, melainkan karena hilangnya akal sehat di ujung botol miras dan di atas jok kendaraan. 

Jika kita ingin Lembata aman saat hari raya, dewasakan perilaku berkendara, batasi konsumsi alkohol secara ketat di level keluarga/adat, dan tegakkan hukum tanpa pandang bulu. Jangan biarkan kelalaian manusiawi kita ditutupi dengan menyalahkan kesucian sakramen.red


Post a Comment

0 Comments