Melihat Lebih Dekat Proses Pemugaran Rumah Adat di Napaulun

Gambar Nathan Belen di Rumah Adat Suku Lagamaking, Napaulun
Gambar Nathan Belen di Rumah Adat Suku Lagamaking, Napaulun

NEGERIPAUS.BLOGSPOT.COM/18/10/22 - Lango Beruin merupakan sebutan untuk nama rumah adat dalam bahasa lokal masyarakat adat Napaulun yang ada di Kabupaten Lembata.

Lango Beruin sendiri, dahulu kala merupakan rumah tinggal oleh masyarakat adat Napaulun sebelum pindah ke dua wilayah. Dua wilayah itu adalah wilayah Napasabok dan Bungamuda, dimana masyarakat Napaulun menyebutnya dengan "Desa Gaya Baru". 

Gambar Rumah Adat Suku Lagamaking, Napaulun
Gambar Rumah Adat Suku Lagamaking, Napaulun


Sekedar membuka kembali masa lampau, dua desa gaya baru itu sebelumnya disebut "Mawa" untuk "Napasabok", dan "Rian Bunga" untuk "Bungamuda" namun berasal dari satu kampung adat seperti yang telah disebutkan di atas. 

Dalam kehidupan tradisional masyarakat adat, pemugaran Lango Beruin harus melewati beberapa ritual adat. Ritual adat itu tidak sama seperti kebiasaan masyarakat adat Atawolo, Lembata yang menyembelih hewan sebelum melakukan pemugaran. Jadi, dalam kebiasaan masyarakat adat Napaulun, hewan bisa disembelih apabila saat pemugaran banyak masyarakat yang hadir.

Apa ritual adat sebelum pembongkaran?

Ritual adat sebelum pembongkaran adalah "Bao Loloken". Bao Loloken sendiri dilakukan oleh seorang penghuni rumah adat itu, atau anggota suku dalam rumah adat, dimana tidak diharuskan dilakukan oleh kepala rumah adat.

Untuk ritual ini, seorang yang ditunjuk itu dengan tuak yang ada didalam "neak" (tempurung kelapa yang sudah dibuat menjadi alat minum) dipegang ditangannya kemudian mulai melantunkan syair adat yang mana tujuannya adalah memberi minum kepada leluhur, meminta restu dan berkat agar proses pembongkaran atau pemugaran berjalan tanpa ada halangan.

Yang unik dari kegiatan pemugaran ini adalah tidak sembarang orang bisa membongkar atap, atau apapun yang hendak diperbaiki ulang sebelum "winhay" membongkar. Kenapa?
Karena untuk awal pembongkaran sendiri, sudah ada petugas atau orang tertentu (winhay) yang telah ditentukan secara adat dan turun temurun.

Lalu jika tidak ada winhay?

Apabila tidak ada winhay memang tidaklah bisa kegiatan pemugaran dilakukan. Sebab winhay merupakan asisten dari beruin (kepala rumah adat) yang tugasnya sudah digariskan secara adat dan tidak bisa dilakukan oleh kepala rumah adat (beruin).
Gambar Pengatapan Rumah Adat Suku Lagamaking
Gambar Pengatapan Rumah Adat Suku Lagamaking


Setelah winhay membongkar salah satu bagian, barulah semua orang yang hadir dengan gotong royong mulai membongkar dan memperbaiki bagian-bagian yang sudah rusak. (*)

Golgota Di Rekas Kempo - Manggarai Barat

Gambar Gereja Tua Pusat Jalan Salib
Gambar Gereja Katolik


NEGREIPAUS.BLOGSPOT.COM/16/10/22 - Gereja tua yang menjadi titik spot Golgota saat upacara jalan salib ini terletak di Rekas, Kempo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi NTT. 

Di depan bangunan sejarah gereja Katolik ini berdiri sebuah gereja baru bergaya modern dan representatif model gereja pasca era zaman Belanda. 

Dari gereja tua inilah prosesi dan ibadat jalan salib tempo dulu berlangsung. Prosesi jalan salib ini dengan rute mulai dari samping gereja baru sekarang memutar ke area yang cukup luas.

Setiap stasi dihias dengan bok-bok kecil dari pucuk enau/aren muda warna kuning kalau di Bali terkenal dengan istilah "janur".

Stasi ke-12 terletak di titik sedikit mendaki di puncak. Di sana salib besar dari kayu balok berdiri kokoh menjulang tinggi dan umurnya bertahun-tahun.

Sisi kiri-kanannya batu-batu cadas yang biasa disusun seperti pagar kebun warga dan pepohonan membentuk setengah lingkaran. Titik inilah umat Katolik menyebutnya "GOLGOTA". Dan, nama GOLGOTA ini sangat terkenal dan menjadi ikon gereja Katolik Rekas selain gua Maria. 


Spot GOLGOTA ini berdekatan dengan asrama anak SR/SD Rekas (putra) yang putri di samping gereja tua arah timur kala itu termasuk siswa SMP Rekas generasi pertama. Semua ini atas insiatif Tuang Yoseph van Hoef SVD, seorang pastor yang sangat inspiratif, motivator, dan benar-benar berkarakter "orang Kempo".

Jika anda tertarik untuk berewisata  Rohani dan melihat tempat bersejarah ini maka silahkan datang ke Manggarai Barat. (*)





 

Surga Lain Ende: Kampung Adat Wologai

Jika berkunjung ke Kabupaten Ende, jangan lupa menyempatkan diri datang ke Kampung Adat Wologai.

Gambar Kmpung Adat Wologai
Gambar Kampung Adat Wologai


Kampung yg terletak di ketinggian sekitar 1.045 mdpl merupakan salah satu kampung adat tersisa yang masih ada di Flores berusia sudah sekitar 800 tahun.


Wologai terletak sekitar 37 kilometer arah timur kota Ende, di Kecamatan Detusoko yang dapat ditempuh dengan kendaraan umum maupun mobil sewaan dengan harga sekitar 300 ribu rupiah selama sehari.


Di bagian depan sebelah kanan pintu masuk kampung terdapat sebuah pohon beringin yang diyakini komunitas adat Wologai ditanam oleh leluhur mereka, yang sekaligus konon setara dengan waktu pendirian kampung adat ini.


Satu hal unik dari Wologai adalah arsitektur bangunannya yang berbentuk kerucut.


Rumah-rumah dibangun melingkar dan ada tiga tingkatan dimana setiap tingkatannya disusun bebatuan ceper di atas tanah yang sekelilingnya dibangun rumah-rumah.


Semakin ke atas, pelataran semakin sempit menyerupai kerucut.


Deretan rumah panggung di kampung ini dibangun melingkar mengitari Tubu Kanga, sebuah pelataran yang paling tinggi yang biasa dipakai sebagai tempat digelarnya ritual adat. Batu ceper yang terdapat di tengah digunakan serupa altar untuk meletakkan persembahan bagi leluhur dan sang pencipta.


Rumah panggung ini dibuat dari kayu yang diletakkan di atas 16 batu ceper yang disusun tegak untuk dijadikan tiang dasar penopang bangunan ini.


Bangunan dengan panjang sekitar 7 meter dengan lebar sekitar 5 meter ini memiliki atap berbentuk kerucut yg dibuat dari alang-alang atau ijuk. Tinggi bangunan rumah sekitar 4 meter sementara atapnya sekitar 3 meter.


Karena keunikannya, tak heran saat disambangi Mongabay Indonesia, akhir Maret lalu terdapat beberapa wisatawan asing sedang memotret tempat wisata ini.

๐—ž๐—˜๐—•๐—œ๐—๐—”๐—ž๐—”๐—ก ๐—ฃ๐—”๐—ฆ๐—–๐—”-๐— ๐—œ๐—Ÿ๐—œ๐—ง๐—˜๐—ฅ: ๐—”๐—Ÿ๐—œ๐—› ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—˜๐—ง๐—”๐—›๐—จ๐—”๐—ก ๐—ž๐—˜ ๐—ฃ๐—”๐—ก๐—š๐—ž๐—จ๐—”๐—ก ๐—œ๐—ฆ๐—Ÿ๐—”๐— 

๐—ž๐—˜๐—•๐—œ๐—๐—”๐—ž๐—”๐—ก ๐—ฃ๐—”๐—ฆ๐—–๐—”-๐— ๐—œ๐—Ÿ๐—œ๐—ง๐—˜๐—ฅ:

๐—”๐—Ÿ๐—œ๐—› ๐—ฃ๐—˜๐—ก๐—š๐—˜๐—ง๐—”๐—›๐—จ๐—”๐—ก 

๐—ž๐—˜ ๐—ฃ๐—”๐—ก๐—š๐—ž๐—จ๐—”๐—ก ๐—œ๐—ฆ๐—Ÿ๐—”๐— 

(Buku Materi 3: "๐˜”๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ฌ ๐˜‘๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ-๐˜๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜”๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข: ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜—๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜š๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ช๐˜ด")


แด…ส€. ส™แด€แดส™แด€ษดษข ษดแดแดส€๊œฑแด‡ษดแด€

๐“˜๐“ท๐“ผ๐“ฝ๐“ฒ๐“ฝ๐“พ๐“ฝ๐“ฎ ๐“ฏ๐“ธ๐“ป ๐“ข๐”‚๐“ป๐“ฒ๐“ช๐“ฌ ๐“’๐“พ๐“ต๐“ฝ๐“พ๐“ป๐“ฎ ๐“ข๐“ฝ๐“พ๐“ญ๐“ฒ๐“ฎ๐“ผ (ISCS)


๐——๐—ฎ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต-๐—ฑ๐—ฎ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐—ต ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ฝ๐—ฒ๐—ฟ๐˜๐—ถ ๐—œ๐—ฟ๐—ฎ๐—พ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐˜†๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ, ๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฝ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐˜‚๐—ฑ๐—ฎ๐˜†๐—ฎ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐˜€๐—ถ ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐˜ ๐˜๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ถ. Pusat-pusat pengembangan pemikiran teologis falsafi telah dirintis sejak awal di daerah-daerah "Bulan Sabit Subur", al-Hilฤl al-Khashฤซb (ุงู„ู‡ู„ุงู„ ุงู„ุฎุตูŠุจ) ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ถ๐—ฐ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—”๐—ฟ๐—ฎ๐—บ (๐—ฆ๐˜‚๐—ฟ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ถ) ๐—ถ๐˜๐˜‚, ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ถ๐—น ๐—บ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฑ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐—ถ๐˜๐—ถ๐˜€ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜„๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ถ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฒ๐—ธ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น ๐—ฌ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ถ. 

Gambar negeri paus
Gambar ini hanya pemanis


Secara militer Islam memang mula-mula berhasil menaklukkan daerah-daerah tersebut, tetapi hal itu belum dibarengi dengan penguasaan pemikiran intelektual. Bahkan dalam tradisi pemikiran ilmiah, mula-mula Islam kelihatan sekali "gagap", bahkan "minder" menghadapi komunitas intelektual Kristen yang sudah mapan ratusan tahun. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama, gerakan intelektual dalam Islam segera digalakkan untuk mengejar ketertinggalan mereka dalam ilmu pengetahuan. Kesungguhan daulah-daulah Islam itu untuk merebut ilmu pengetahuan dari komunitas Kristen itu, antara lain ditunjukkan sejak zaman Khalifah Hฤrลซn Ar-Rasyฤซd (ู‡ุงุฑูˆู† ุงู„ุฑุดูŠุฏ), ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐—ธ-๐—ด๐—ฒ๐—ฟ๐—ผ๐—ฏ๐—ฎ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐˜‚๐˜€๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐—ฝ ๐—ฏ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—ฌ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—•๐˜†๐˜‡๐—ฎ๐—ป๐˜๐—ถ๐˜‚๐—บ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—ฑ๐—ถ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ฎ ๐—”๐—ฟ๐—ฎ๐—ฏ. [¹]


Dalam rangka itulah, ๐˜€๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐˜€๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ฎ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฝ๐—ฒ๐—ธ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ถ๐—น๐—บ๐˜‚๐˜„๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ต๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜‚-๐—ฏ๐˜‚๐—ธ๐˜‚ ๐—ถ๐˜๐˜‚. Gerakan intelektual ini berlangsung sampai abad ke-12 M, dan ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ฐ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜ ๐—ป๐—ฎ๐—บ๐—ฎ-๐—ป๐—ฎ๐—บ๐—ฎ ๐—ถ๐—น๐—บ๐˜‚๐˜„๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ, antara lain seperti: แธคunayn bin Isแธฅฤq (ุญู†ูŠู† ุจู† ุฅุณุญุงู‚) atau Abลซ Zayd แธคunayn ibn Isแธฅฤq al-สฟIbฤdฤซ (ุฃุจูˆ ุฒูŠุฏ ุญู†ูŠู† ุจู† ุฅุณุญุงู‚ ุงู„ุนุจุงุฏูŠ) (wafat 873 M), yang memiliki 90 pembantu penterjemah; Qustฤ bin Lลซqฤ (ู‚ุณุทุง ุจู† ู„ูˆู‚ุง) atau Qustฤ Ibn Lลซqฤ al-Baสฟalbakkฤซ (ู‚ุณุทุง ุจู† ู„ูˆู‚ุง ุงู„ุจุนู„ุจูƒูŠ) (wafat 912 M); Abลซ Bishr Mattฤ ibn Yลซnus (ุฃุจูˆ ุจุดุฑ ู…ุชู‰ ุจู† ูŠูˆู†ุณ) atau Abลซ Bishr Mattฤ ibn Yลซnus al-Qunnฤสพฤซ (ุฃุจูˆ ุจุดุฑ ู…ุชู‰ ุจู† ูŠูˆู†ุณ ุงู„ู‚ู†ุงุฆูŠ) (wafat 940 M), dan masih banyak lagi. ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ ๐—ฎ๐—ฑ๐—บ๐—ถ๐—ป๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ผ๐—ฟ ๐— ๐˜‚๐˜€๐—น๐—ถ๐—บ ๐˜๐—ฎ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ถ๐—ป๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐—ผ๐—ธ๐˜๐—ฒ๐—ฟ-๐—ฑ๐—ผ๐—ธ๐˜๐—ฒ๐—ฟ ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐˜ ๐—บ๐—ฒ๐—ฟ๐—ฒ๐—ธ๐—ฎ, sehingga khalifah-khalifah dinasti สฟAbbasiyah (ุงู„ุฎู„ุงูุฉ ุงู„ุนุจุงุณูŠุฉ | al-Khilฤfah al-สฟAbbฤsiyyah) memiliki dokter-dokter Kristen dari tahun 765 M sampai 870 M.


Penterjemahan karya-karya ilmiah ke dalam bahasa Arab dari bahasa Aram/ Suryani telah diawali sejak dinasti Ummayah (ุงู„ุฎู„ุงูุฉ ุงู„ุฃู…ูˆูŠุฉ | al-Khilฤfah al-Umawiyyah), dan ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ ๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ-๐—ธ๐—ฎ๐—ฟ๐˜†๐—ฎ ๐—ฌ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—บ๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ถ ๐—ฑ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฎ๐—ป๐—ณ๐—ฎ๐—ฎ๐˜๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฏ๐—ฒ๐˜€๐—ฎ๐—ฟ sejak Khalifah al-Maสพmลซn (ุงู„ู…ุฃู…ูˆู†) (813-833 M) mendirikan Bayt al-แธคikmah (ุจูŠุช ุงู„ุญูƒู…ุฉ), "Rumah Kebijaksanaan". [²] ๐—ฆ๐—ฒ๐—ท๐—ฎ๐—ธ ๐—œ๐˜€๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฒ๐—ป๐—ฎ๐—น ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฝ๐—ถ๐—ธ๐—ถ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป ๐—ฌ๐˜‚๐—ป๐—ฎ๐—ป๐—ถ ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—น๐—ฎ๐—ต, ๐—บ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ ๐—ด๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป-๐—ด๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐˜๐—ฎ๐—ณ๐—ถ๐˜€๐—ถ๐—ธ ๐—บ๐—ฎ๐˜€๐˜‚๐—ธ ๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—ฝ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ต๐—ฎ๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐˜๐—ฒ๐—ผ๐—น๐—ผ๐—ด๐—ถ๐˜€ ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ.


Justru dengan berangkat dari kenyataan ini, kita dapat menelusuri jejak-jejak awal perkembangan pandangan Islam mengenai Kekristenan dalam lensa bidikan yang tepat, dan "๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ-๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฎ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด-๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด." [³]


Dalam perjumpaan dengan komunitas Kristiani dengan tradisi intelektualnya yang sudah mapan tersebut, mula-mula Islam berbekal pandangan yang sangat praktis, ๐˜€๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ฎ๐—ถ ๐—ฟ๐—ฒ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐—ถ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐˜€ ๐—บ๐—ผ๐—ฑ๐—ฒ๐—น ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ๐—ป๐—ถ๐˜€๐—บ๐—ฒ ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ด (๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜†๐—ถ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐—ป๐—ด) ๐—ฑ๐—ถ ๐— ๐—ฒ๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ต, ๐—›๐—ถ๐—ท๐—ฎ๐˜‡ ๐—ฑ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ฒ๐—ธ๐—ถ๐˜๐—ฎ๐—ฟ๐—ป๐˜†๐—ฎ, atau komunitas Yahudi dan Kristen di sekitar Madinah yang -- ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ -- akan tetapi masih jauh lebih sederhana ketimbang Kekristenan di daerah-daerah taklukan baru tersebut.


Di daerah-daerah baru tersebut, dihasilkan oleh umat Kristen berbagai argumentasi teologis dalam rangka menghadapi kritik Islam, ๐—ฑ๐—ฒ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐˜‚๐—ป๐—ท๐˜‚๐—ธ๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—ธ๐—ฒ๐˜๐—ถ๐—ฑ๐—ฎ๐—ธ๐—ฎ๐—ธ๐˜‚๐—ฟ๐—ฎ๐˜๐—ฎ๐—ป ๐—ฏ๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ๐—ธ ๐˜๐˜‚๐—ฑ๐˜‚๐—ต๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐˜€๐—น๐—ฎ๐—บ ๐˜๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ฑ๐—ฎ๐—ฝ ๐—ฝ๐—ผ๐—ธ๐—ผ๐—ธ-๐—ฝ๐—ผ๐—ธ๐—ผ๐—ธ ๐—œ๐—บ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ฟ๐—ถ๐˜€๐˜๐—ฒ๐—ป ๐˜†๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐—ฑ๐—ถ๐—ธ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐—ถ๐—ธ๐—ป๐˜†๐—ฎ. Oleh karena itu, dalam posisi tersebut, persepsi umat Islam tentang kekristenan ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ด (menyimpang) di sekitar Mekkah yang amat sederhana itu, ketika harus dipublikasikan dalam situasi baru itu benar-benar tidak representatif. [⁴] Tetapi sebanyak argumentasi yang harus dijawabnya, Islam mulai pula mengelaborasi beberapa aspek persepsi dengan masing-masing caranya, yang diarahkan untuk melemahkan setiap argumentasi penolakan orang Kristen terhadap agama Islam, khususnya klaim kenabian Muhammad.


------------------

[¹] Harun Nasution, ๐˜๐˜ข๐˜ญ๐˜ด๐˜ข๐˜ง๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜”๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ฎ๐˜ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), hlm.10-13.

[²] W. Montgomery Watt, ๐˜’๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ: ๐˜’๐˜ข๐˜ซ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜›๐˜ฐ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฉ ๐˜–๐˜ณ๐˜ช๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ด. Alih Bahasa: Hartono Hadikusumo (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990), hlm. 139.

[³] ๐˜๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฅ, hlm. 136.

[⁴] W. Montgomery Watt, ๐˜›๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ ๐˜›๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜๐˜ด๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ-๐˜’๐˜ณ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ: ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ด๐˜ช. Alih Bahasa: Zaimuddin (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996), hlm. 41.

Penginjil Dayak Yang Lahir Dari Seminari Depok

Penginjil Dayak Yang Lahir Dari Seminari Depok

Misionaris Hennemann pada tahun 1872 memulai seminari Dayak kecilnya di Kuala Kapuas, Kalimantan. Seminari tersebut menghasilkan pemuda-pemuda Dayak untuk menjadi "Pandohop" pembantu tugas missionaris, ada 6 siswa yang ikut dalam pendidikan di Seminari Dayak ini.
Gambar Sejarah
Gambar Sejarah


Seminari ini berkiblat kepada Seminari yang ada di Barmen Jerman, baik kurikulum maupun gaya teologi. Tetapi Java-Comité (komite zending di Hindia Belanda) meminta Hennemann pindah ke Depok karena dia diangkat menjadi direktur untuk seminari Depok Batavia pada tahun 1878, ia juga membawa serta seminari Dayak kecil itu bersamanya.

Dari sanalah Misi Borneo memperoleh asistennya hampir secara eksklusif selama tiga dekade.  

Nama siswa lulusan Seminari Depok dari tahun 1887-1890 asal Borneo (Kalimantan)

1887: Mozes Rinan : Telang, Borneo.A

August Buhong : Pangkoh, Borneo

1889: Johannes Hingka : Mandomai, Borneo.

1890: Georg Ngoeron : Tamiang Layang, Borneo.  

Seminari Depok berhutang terima kasih untuk ini, namun tetap kritik dilontarkan. Salah satunya, jumlah pemuda Dayak yang dikirim ke Depok kuotanya sedikit, dan ada yang janggal dengan pendidikan mereka yaitu penggunaan bahasa Melayu, yang akan bertentangan dengan keadaan lapangan mereka yang menggunakan bahasa Dayak. 

Pada awal tahun 1894, muncul ide untuk kembali membuat seminari tersendiri, yang menjadi sekolah persiapan sebelum masuk seminari Depok, sebagian juga dimaksudkan sebagai lembaga pelatihan lanjutan bagi para asisten penolong pribumi. Tapi butuh satu dekade lagi sebelum ide itu bisa direalisasikan.

Pada tahun 1902 Zending Braches memulai kembali Seminari dalam skala kecil di Banjarmasin namun fokusnya adalah untuk profesi tenaga pendidik atau guru.

Pada tahun 1906 angkatan pertama selesai dengan jumlah 20 orang murid. Seminari di Banjarmasin, mendapat bantuan seorang tenaga pengajar utama dari pemerintah Belanda, Angkatan selanjutnya ada 44 murid, yang dididik di Seminari Banjarmasin.  

Sumber : Geïllustreerd zendingsblad voor het huisgezin; orgaan van het Java-Comité en van het Centraal-Comité voor de Oprichting en In Stand Houding van een Seminarie Nabij Batavia, 1891, no 8-9, 1891 hal.94



Foto : Siswa Seminari Depok Batavia 1874

Mengenal Nusa Tenggara Timur Lebih Dekat

Nusa Tenggara Timur


Nusa Tenggara Timur (disingkat NTT) adalah sebuah provinsi di Indonesia yang meliputi bagian timur Kepulauan Nusa Tenggara. Provinsi ini beribu kota di Kupang dan memiliki 22 Kabupaten/kota.
Gambar Gunung Ile Ape
Gambar Gunung Ile Ape


Profil;


Dasar hukum : UU 64/1958
Ibu kota : Kupang
Area - Total luas : 48.718,10 km2
Populasi - Total : 5.203.514 Jiwa (2016)
Kepadatan : 109 jiwa/km2


Pemerintahan

 - Gubernur : Viktor Laiskodat
 - Wakil Gubernur :Josef Nae Soi
 - Ketua DPRD : Anwar Pua Geno
 - Sekretaris Daerah :Benediktus Polo Maing
 - Kabupaten : 21
 - Kota : 1
 - Kecamatan : 186
 - Kelurahan : 2.650
APBD
 - DAU : Rp. 1.003.991.703.000.-

Demografi

 - Etnis
Atoni atau Dawan (21%)
Manggarai (15%)
Sumba (13%)
Lamaholot (5%)
Belu (6%)
Rote (5%)
Lio (4%)
Tionghoa (3%)
Gambar Tarian Cakalele
Gambar Tarian Cakalele


 - Agama
Katolik (55,39%)
Kristen Protestan (34.32%)
Islam (9.05%)
Marapu 1.05%[3]
Hindu (0.18%)
Buddha (0.01%)[4]

 - Bahasa : Indonesia (bahasa resmi)
Uab Meto, Manggarai, Rote, Tetun, Portugis
Lagu daerah :
Moree, Bolelebo, Aua Ia Mana Lolobanda, Anak Kambing Saya, O Nina Noi, Potong Bebek Angsa, Desaku, Lerang Wutun, Orere, Putar - Putar Kopi, Bale Nagi

Di awal kemerdekaan Indonesia, kepulauan ini merupakan wilayah Provinsi Sunda Kecil. yang beribu kota di kota Singaraja, kini terdiri atas 3 provinsi (berturut-turut dari barat): Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Setelah pemekaran, Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di bagian tenggara Indonesia. Provinsi ini terdiri dari beberapa pulau, antara lain Pulau Flores, Pulau Sumba, Pulau Timor, Pulau Alor, Pulau Lembata, Pulau Rote, Pulau Sabu, Pulau Adonara, Pulau Solor, Pulau Komodo dan Pulau Palue.

Provinsi ini terdiri dari kurang lebih 550 pulau, tiga pulau utama di Nusa Tenggara Timur adalah Pulau Flores, Pulau Sumba dan Pulau Timor Barat (biasa dipanggil Timor).

Provinsi ini menempati bagian barat pulau Timor. Sementara bagian timur pulau tersebut adalah bekas provinsi Indonesia yang ke-27, yaitu Timor Timur yang merdeka menjadi negara.

ARTI LAMBANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Gambar Lambang Provinsi Nusa Tenggara Timur


Arti lambang Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebagai berikut:

Berbentuk perisai dengan sudut lima dengan maksud, selain melambangkan makna perlindungan rakyat juga melambangkan Pancasila.

Dalam perisai terberkas: bintang, komodo, padi dan kapas, tombak dan pohon beringin.

Bintang melambangkan keagungan Tuhan yang Maha Esa, komodo satu-satunya reptil prasejarah yang hingga kini masih lestari. Binatang purba ini merupakan reptil raksasa yang oleh dunia dinyatakan dilindungi karena jenis hewan ini hanya terdapat di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di pulau Komodo. Banyak wisatawan dari seluruh dunia datang ke pulau ini hanya untuk melihat komodo.

Padi-kapas melambangkan kemakmuran.

Tombak melambangkan keagungan dan kejayaan.

Pohon beringin melambangkan persatuan dan kesatuan yang tetap terpelihara.

Hari terbentuknya provinsi Nusa Tenggara Timur dilukiskan melalui jumlah padi (14) dan tahun 1958 tertera langsung pada sudut bawah lambang.

Sumber.wikipedia

Kilas Balik Cerita Tentang Gunung Lakaan di Belu - Nusa Tenggara Timur

CERITA GUNUNG LAKAAN GUNUNG LAKAAN DI BELU


Menurut cerita orang tua-tua di Belu, pada jaman dahulu kala, seluruh
Pulau Timor masih digenangi air, kecuali puncak Gunung Lakaan, yang letaknya di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Indonesia sekarang.

Konon gunung ini adalah yang tertinggi di seluruh Kepulauan Timor. Ia berkibar seperti bintang yang kilang-kemilau. Maka karena posisinya yang menjadi puncak tertinggi satu-satunya di Timor, ia dijuluki: SA MANE KMESAK, BAUDINIK KMESAK, LAKA-AN, NAKSINAK-AN: SANG PUTRA TUNGGAL, SANG BINTANG SATU-SATUNYA, BERCAHAYA SENDIRI, BERSINAR SENDIRI. 

Ketika air masih menutupi seluruh permukaan bumi, puncak Gunung Lakaan sendirilah yang muncul pertama kalinya. Sampai ada sapaan adat Tetun yang mengatakan: Gunung Lakaan ibarat biji mata ayam, bagaikan belahan pinang, laksana segumpal nasi, seperti pusar uang perak. Atau dalam bahasa Tetunnya: FOIN NUU MANU MATAN, BUA KLAUT, FOIN NUU ETU KUMUN, FOIN NUU MURAK HUSAR. Dan sapaan itu dilanjutkan dengan: MAK NAHU, MAK NAMATA, RAI HUSAR, RAI BINAN: Dialah yang memulai, dialah yang awal, dialah tanah pusat, dialah tanah kaum kerabat, semua saudara-saudari. 

Dalam sejarahnya yang panjang, Gunung Lakaan dan keturunannya disapa dengan julukan: MANUAMAN LAKAAN (AYAM JANTAN LAKAAN) NO NIAN FUNAN KLAUT (DAN SEMUA KETURUNANNYA).

Walau kemudian nanti di suatu masa, terjadi patahan karena pergeseran dan evolusi bumi, yang dalam istilah adat Tetun: SABEBEN TI'A, SALULUN TI'A, JATUH MENYAMPING DAN TERGULUNG. Dan akibat patahan itulah, salah satu bagian puncak Gunung Lakaan kemudian beralih ke arah timur laut, dan menjadi sebuah anak gunung. 

Tentu patahan dasyat itu membuat orang bertanya-tanya: APA YANG TELAH JATUH? Dalam Bahasa Tetun disebut: SA NEE MONU? Dan disingkat: SANMONU. Kelak anak gunung itu dinamakan SA-MONU. Dan anak gunung dari Gunung Lakaan itu kini bisa dijumpai di wilayah Sanirin-Balibo, Timor Leste. 
Gambar Gunung Lakaan
Gambar Gunung Lakaan, Dok. Negeri Paus


Konon rute perjalanan patahan Gunung Lakaan itu berawal dari pusat Gunung Lakaan, melintasi Leimeri dan akhirnya "mendarat" di Samonu. Leimeri adalah wilayah perbukitan di perbatasan Indonesia-Timor Leste sekarang yang menghubungkan Lakaan dan Samonu. Maka ada julukan adat Tetun: SAE LAKAAN, LETEK LEIMERI, TUN SAMONU: MENGGAPAI PUNCAK LAKAAN, MELINTASI LEIMERI DAN TURUN BERDIAM DI SAMONU.

LAKA LORA KMESAK, PUTRI PERTAMA DI PUNCAK GUNUNG LAKAAN
Pada suatu hari turunlah seorang putri dewata di puncak Gunung Lakaan dan tinggallah ia di sana. Putri dewata itu bernama LAKA LORA KMESAK (atau kadang disebut LAKA LORO KMESAK) yang dalam bahasa Tetun berarti Putri Tunggal yang tidak berasal usul. 

LAKA LORO KMESAK adalah seorang putri cantik jelita dan luar biasa kesaktiaannya. Karena kesaktiannya yang luar biasa itu, maka LAKA LORO KMESAK dapat melahirkan anak dengan suami yang tidak pernah dikenal orang. Itulah sebabnya Laka Loro Kmesak dijuluki dengan nama NAIN BILAK-AN, yang artinya berbuat sendiri dan menjelma sendiri.

PUTRA-PUTRI LAKA LORO KMESAK


Beberapa tahun kemudian Putri LAKA LORO KMESAK berturut-turut melahirkan dua orang putra dan dua orang putri. Kedua putranya diberi nama masing-masing, ATOK LAKAAN DAN TAEK LAKAAN. Sedangkan kedua putrinya masing-masing diberi nama : ELOK LUA LOROK dan BALOK LUA LOROK.

Setelah keempat putra-putri ini dewasa mereka dikawinkan oleh ibunya karena di Puncak Gunung Lakaan tidak ada keluarga lain. Julukan adat Tetunnya adalah: KARAS TAKA MUTU, BELAN RAI LIBUR, artinya Dada dirapatkan, Samping disatukan.

Atok Lakaan kawin dengan Elok Lua Lorok dan Taek Lakaan Kawin dengan Balok Lua Lorok.

Atok Lakaan dan Elok Lua Lorok, sesudah perkawinan mereka, pindah menetap di tempat yang lebih rendah, karena surutnya air laut. Mereka memilih menetap di Bukit Nanaet Dubesi, sebelah barat daya Gunung Lakaan.

Dari perkawinan Atok dan Elok, lahirlah lima orang anak, empat laki-laki dan seorang perempuan.
1) Deu Mauk
2) Timu Mauk
3) Lida Mauk
4) Dilu Mauk

Deu Mauk menetap dan berkuasa di Mandeu (Raimanuk sekarang), Timu Mauk menetap dan berkuasa di Naetimu (Halilulik sekarang), Lida Mauk menetap dan berkuasa di Lidak (Kota Atambua sekarang) dan Dilu Mauk menetap dan berkuasa di Dualilu (Atapupu sekarang). Sedangkan seorang saudari mereka, pergi dan menetap di Selaoan (Silawan sekarang).

Sedangkan Taek Lakaan dan istrinya Balok Lua Lorok, kawin dan terus menetap di sekitar kawasan puncak Gunung Lakaan. Lahirlah empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan dari perkawinan Taek dan Balok, masing-masing:

1) DASI BAU MAUK LOROK (laki-laki)
2) DABA LOROK (perempuan)
3) LAKA LOROK (laki-laki)
4) ALUK LOROK (perempuan).

Dasi Bau Mauk Lorok mengawini saudarinya Daba Lorok sedangkan Laka Lorok mengawini saudarinya Aluk Lorok.

Sayang sekali bahwa kelak tidak diketahui secara pasti ke mana perginya pasangan Laka Lorok dan Aluk Lorok beserta keturunannya, karena sesudah perkawinan Laka dan Aluk, keduanya langsung hijrah ke tempat baru yang juga mulai surut airnya. Kemungkinan mereka memenuhi kawasan timur Gunung Lakaan, dan sebagian anak-cucu mereka kelak menyeberang ke Sabu dan Rote (Sabu Mau, Ti Mau).

Dasi Bau Mauk Lorok dan Daba Lorok sebagaimana orangtuanya, mereka pun tetap menetap di sekitar Puncak Gunung Lakaan.

Bau Mauk dan Daba inilah yang kelak mendirikan Kerajaan Besar di Belu yakni Fehalaran. Bau Mauk dan Daba Lorok dikaruniai banyak anak.
Anak-anak pasangan ini antara lain:
  1. TETI BAUK (hijrah ke Lubarlau-Ramelau, lalu menetap di Likusaen dengan gelar: Mali Bere Likusaen)
  2. BERE BAUK (hijrah ke Lubarlau-Ramelau, lalu ke arah selatan dan menetap dan berkuasa di Wehali (dengan gelar Bereliku Wehali).
  3. LULUN BAUK (yang kelak dikenal dengan julukan LULUN SAMARA), yang terus melanjutkan misi kerajaan dari ayahnya Bau Mauk Lorok dan mengembangkan Fehalaran sebagai kerajaan paling berpengaruh di Timor dan sekitarnya, antara lain karena kepahlawanan LULUN-SAMARA berkiprah menolong Wehali memenangkan perang Wehali-Likusaen (FUNU NO LEDO LIKUSAEN-WEHALI).
  4. Dasi Tuka Mauk berlayar ke Pulau Flores lalu kawin, menetap dan berkuasa di sana. Dialah yang mendirikan Kerajaan Larantuka Bauboin.
  5. Dasi Boki Mauk menetap di Biboki
  6. Dasi San Mauk menetap di Insana
  7. Dasi Leku Mauk menetap di Lakekun.
  8. Teni Mauk menetap di dataran rendah Fehalaran (Natarmeli Bauho); kelak mengadakan ekspansi dan perluasan kekuasaan Tetun Fehalaran hingga ke Torilai-Balibo-Diruati-Mauubu-Bobiknuan-Maubara-Atabae-Leimea.
  9. Bere Mauk menetap di Fulur Lamaknen dan mendirikan Suku Hak Por.

MATRILINEAL

Dari rangkaian kisah sejarah di atas: berawal dari sang tokoh leluhur tunggal seorang putri bernama, LAKA LORO KMESAK, maka kelak muncullah di TANAH BELU, TIMOR, kebudayaan MATRILINEAL, di mana peran kaum Ibu sangat dijunjung tinggi, dan kalau seandainya, sebuah perkawinan dilangsungkan, maka secara otomat, anak-anak akan masuk ke dalam klan atau rumah suku (UMA MANARAN) Ibu.
Sejarah Gunung Lakaan
Gambar: Gunung Lakaan


Matrilinealitas masyarakat Tetun, Timor ini pula, telah mempermudah Gereja Katolik berakar di seluruh Belu dan devosi kepada Bunda Maria, sebagai Bunda Allah, dengan mudah dan mendalam, berkembang di tengah umat Katolik Timor.

1. Lekat inur-kabitak warak be warak / Nake lian tan ami warak be warak Make-an tan ami warak be warak / Make warak nafati inur-kabitak! Alangkah banyak katak berhidung pesek / Banyak berteriak melawan kami, Biar pun Anda meneriaki kami / Anda tetaplah berhidung pesek.
Artinya: Kita harus punya prinsip: Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Sesekali prinsip itu harus dipakai dalam menghadapi orang yang sebenarnya tidak tahu banyak tetapi selalu berlagak di depan kita tahu segalanya. Dalam adat Tetun di Pulau Timor, orang demikian diibaratkan dengan katak berhidung pesek yang cerewetnya minta ampun.

2. Naha Timor nian atu tula ba se? / Tula ba se atu natiu bodik
Bele-bele ita hirak tula ba malu / Naha Timor nian atu hatiu lisuk.
Beban Tanah Timor hendak dipikulkan kepada siapa? / Siapa hendak memikulnya?

Terpaksa kita sendirilah yang harus bersama-sama/ Menanggung dan memikul beban Negeri Timor.

Syair di atas merupakan ajakan bagi semua anak negeri untuk bahu-membahu menyumbangkan waktu, pikiran, tenaga dan segenap kekuatan untuk membangun negeri tercinta, sehingga ringanlah penderitaan rakyat dan kemajuan dapat dicapai bersama.
Gambar Gunung Lakaan
Gambar Gununga Lakaan


3. Kukur botu tarutu eman rai ba / Rai neon no laran rai ba se?
Dok ina dok ama keta neon kiki / Rai neon no laran ba Maromak.
Guntur bergemuruh saat merantau jauh di negeri orang / Mau curhat kepada siapa?
Walau jauh ayah-bunda janganlah gentar / Curhatlah kepada Tuhan Penghiburmu.
Hidup di perantauan tidak selamanya berjalan mulus, dan sering membuat hati kita rindu kampung halaman dan nyaris putus asa. Nah, di saat seperti itu, kita perlu lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

4. Kiak ema raiklaran kiak be kiak / Funu tadu narahun kiak be kiak
Kiak ita sarani kiak liu dei / Soe hela Maromak kiak liu dei.
Sangatlah miskin dan susah hidup di dunia ini / Musuh datang berperang menghancurkan segala harta-benda kita /
Namun lebihlah miskin kita umat beriman / Seandainya kita sampai melupakan Tuhan.
Tentu ini pesan moral untuk selalu tunduk dan berserah diri kepada kekuasaan Tuhan melampaui segalanya di dunia ini.

5. Dalan hirak ne’e no’i diak e lale? / Ami ata haka’as-an atu liu tone
Dalan wa’in be wa’in ida dei di’ak / Inuk Tuan Lale’an di’ak be di’ak.
Semua jalan ini baik atau tidak? Hamba hendak berusaha menembus ke sana
Banyaklah jalan di dunia ini / Hanya jalan surgawi sungguhlah baik.
Ini merupakan inspirasi untuk kita selalu menomorsatukan jalan Tuhan sebagai jalan terbaik bagi hidup kita di dunia fana ini.

6. Rukut ne’an tan ami manoin lai / Ami ata at liu derak be derak
Totar kelun tan ami manoin netik / Ita tetuk no nesan M(a)romak oan bele!

7. Rai Fehalaran rai diak a nian / Ina-ama tur fatin diak a nian
Rai Fehalaran naran todan a nian / Manu Aman Laka-an leok lema rai.

8. Sa Mane Mesak a Baudinis Mesak / Oa Belu Rai Timur Turu-monu Fatin
Manu Aman Laka-an Foho As Basuk / Laka Naroma Rai Loron no Kalan.

9. Mo matas sia tur mamon-an oda / Ina-ama lia sai o moe lerek
Nakbasak-an ba mai na’i dana-danak / Atu tama la di’ak sai la bele.

10. SILOLE TALIN
Pantun ini menggambarkan Timor dengan segala daya tariknya yang mana mengundang pelbagai bangsa asing datang untuk berkuasa; Toh akhirnya, kendali kuda, tetaplah di tangan Anak-anak Timor)

JING TIU atau JINGI TIU (Salah Satu agama Nusantara Tempoe Doeloe)

Jing Tiu: Salah Satu Agama Nusantara Tempoe Doeloe



Merupakan aliran kepercayaan dari Suku Sabu, kampung Namata, kab Sabu Raijua, pulau Sabu, NTT.
Gambar Perempuan Sabu
Gambar; Beberapa Perempuan Sabu Sedang Duduk Diatas Batu


Deo Ama yg artinya Dewa Bapak adalah penggambaran sebagai Sang Maha Kuasa. Tokoh tertinggi, penuh misteri, dihormati sekaligus ditakuti.

Sama seperti Kaharingan agama Orang Dayak Kalimantan Selatan, JINGTIU adalah sebutan yg disematkan oleh misionaris dr Portugis pada masa penginjilan tahun 1625.

Genios adalah nama yg diberikan, artinya adalah kafir/ tidak bertuhan. Nama yg tidak sesuai karena aliran ini memiliki Deo Ama sebagai Tuhannya. Jingtiu merupakan pelafalan oleh orang2 Suku Subu sendiri.

Pada awalnya, para Bone Ama/ Pemuka Agama tidak memahami arti harfiah dr Genios yg mereka ucapkan menjadi Jingtiu.

Orang Sabu dan para Mone Ama atau pemuka agama awalnya ingin mengubah nama tersebut namun sudah terlambat.

Alasannya karena nama Jingi Tiu sudah terlanjur melekat sebagai identitas kepercayaan mereka dan orang-orang sudah terbiasa dengan nama Jingi Tiu sehingga para orang Sabu dan para Mone Ama sepakat menyandang Jingi Tiu sebagai nama ajaran mereka sampai sekarang.

Bagi orang Suku Sabu, Jingi Tiu adalah penerapan keprcayaan terhadap kehidupan sehari-hari dibawah aturan Uku yang artinya Aturan Adat agar terjadi keseimbangan antara manusia dan alam. Penyimpangan dari Uku tersebut dapat mengganggu keseimbangan lingkungan dan kehidupan.

Menimbulkan krisis dalam kehidupan mereka seperti terjadi kematian yang tidak wajar maupun bencana2 yg lainnya.

Suku Sabu juga percaya adanya berbagai makhluk halus yang tingkatannya lebih rendah dari Deo Ama. Makhluk halus tersebut terdiri dari 3 (tiga) jenis yaitu:

1. Rai Balla yang menjaga bumi.
2. Dahi Balla yang menjaga laut.
3. Liru Balla yang menjaga langit.

Ketiganya mengatur berbagai aspek kehidupan manusia. Seperti mengatur musim hujan, mengatur nira, mengatur musim kemarau, melindungi dan mengembangbiakkan berbagai hewan ternak, menjaga keseuburan tanah, serta menumbuhkan tanaman dll.

Selain 3 mahluk halus Diatas, suku Subu juga mempercaya beberapa mahluk lain yg bertugas untuk melindungi kampung penduduk Suku Sabu.

  1. Uli Rae berjaga disebelah kanan gerbang timur kampung
  2. Maki Rae berjaga disebelah kiri gerbang timur kampung.
  3. Tiba Rae yang artinya Penangkis Kampung.
  4. Aji Rae yang artinya Penahan Kampung. 
Mereka semua berjaga agar menjadi Ngita Nano Ngita Adu yang artinya Agar Dapat Diandalkan Dapat Keras serta Ngita Kemaki Ri Ngallu Apa yang artinya Tahan Terhadap Serangan Angin Buruk.

Hubungan dan kesatuan antara alam dengan Suku Sabu diterapkan dalam berbagai upacara adat tradisional seperti perlunya mengadakan upacara adat dan sesajen terhadap Rai Balla setelah menggarap usaha tani guna memulihkan tanah yang luka serta agar Rai Balla tidak murka, bukan untuk persembahan kepada Deo Ama.

Upacara adat tersebut juga berfungsi sebagai pemelihara keseimbangan antara Suku Sabu sebagai manusia, alam, serta dengan kekuatan gaib dari ketiga makhluk halus tersebut yang mereka percayai.

Salah satu keseimbangan yang lain adalah keseimbangan peran gender antara laki-laki dan perempuan dalam melaksanan tugas dan kewajibannya masing-masing dalam suatu rumah tangga. Keseimbangan lainnya adalah mendatangkan Meringgi dan Menggeru serta dijauhi dari Pana.

Meringgi yang artinya Dingin memiliki maksud keadaan damai dan sentosa. Menggeru yang artinya Hijau atau Subur memiliki maksud kesuburan pada hasil pertanian dan peternakan.

Pana yang artinya Panas memiliki maksud malapetaka atau bencana yang datang.
Dewan Mone Ama merupakan dewan adat Suku Sabu yang memimpin jalannya sebagian besar upacara adat serta menetapkan Uku atau peraturan adat yang berlaku di Suku Sabu.

Berikut adalah anggota dari Dewan Mone Ama:
  1. Deo Rai merupakan kepala adat dan memegang peranan tertinggi di Mone Ama. Deo Rai bertanggung jawab untuk memimpin seluruh upacara adat. Selain itu Deo Rai secara gaib juga bertanggung jawab dalam kegiatan pada musim hujan.
  2. Mau Kia merupakan panglima perang yang bertanggung jawab mengenai kegiatan perang dalam adat Suku Sabu.
  3. Pulodo Wadu merupakan pemelihara adat yang bertanggung jawab dalam menjaga Uku atau peraturan adat Suku Sabu.[5] Selain itu, Pulodo Wadu secara gaib juga bertanggung jawab dalam kegiatan pada musim kemarau serta memelihara kesuburan tanah pertanian.
  4. Do Heleo merupakan pengawas kampung yang bertanggung jawab dalam mengawasi segala sesuatu di kampung Suku Sabu.
  5. Rue merupakan tokoh yang bertanggung jawab untuk menyucikan atau membersihkan kembali setelah terjadinya penyimpangan dalam kehidupan Suku Sabu.
Adapun bentuk bangunan rumah ibadah berbentuk persegi panjang dengan bagian samping melebar yang berbentuk setengah lingkaran membentuk elips. Bagian atap rumah ibadah ini sendiri berbentu perahu terbalik dan dilapisi dengan dedaunan lebat yang mereka sebut sebagai Roukoko yang artinya bulu leher. Ukuran Roukoko sendiri mengikuti panjang balok bubungan yang disebut Bangngu.

UPACARA-UPACARA SUKU SUBU
  1. Upacara Dabba Ana merupakan upacara pemandian bayi setelah dilahirkan.
  2. Upacara Tali Manu Dabba merupakan upacara adat berupa Sabung ayam yang dilakukan selama 2 (dua) hari dalam setahun kalender adat Suku Sabu di sebuah arena yang disebut Dara Nada. Adanya upacara Tali Manu Dabbamerupakan respon dari Suku Sabu atas pentingnya Hak Asasi Manusi karena punahnya generasi penerus jika peperangan antar suku terus dilanjutkan. Oleh karena itu para leluhur mengganti peperangan antar manusia menjadi peperangan antar hewan yaitu ayam.
  3. Upacara Heko Nyale Dabba atau Hibu Nyale Dabba merupakan upacara adat dalam menangkap Nyale atau biasa disebut sebagai cacinng laut yang hidup di lubang-lubang karang yang terletak dibawah permukaan laut. Menurut legenda Suku Sabu, Nyale tersebut merupakaan jelmaan dari seorang putri yang terkena penyakit kulit dan berubah menjadi cacing laut ketika mencari ikan bersama ibunya di laut. Ketika berubah menjadi Nyale putri tersebut berkata pada ibunya akan muncul pada waktu tertentu dan tidak akan menampakkan diri jika terdapat perempuan hamil, perempuan menyusui, perempuan yang tegah datang bulan, serta orang tua yang anaknya belum dimandikan dalam upacara Dabba Ana.
  4. Upacara Pemau Do Made merupakan upacara penyucian arwah orang yang sudah meninggal sebelum berangkat menuju nirwana atau surga. Upacara adat Pemau Do Made dilaksanakan selama 3 (tiga) hari secara berturut-turut. Pada hari pertama keluarga dari orang yang telah meninggal saling berkumpul. Dari pihak laki-laki bertugas membawa hewan ternak seperti kamping atau babi beserta pangan lain seperti Padi, Kacang hijau, dan Sorgum sementara pihak perempuan mengumpulkan bahan-bahan tersebut. Pada hari kedua keluarga tersebut akan berpakaian berwarna putih kemudian keluar berkeliling kampung sembari menyanyi nyanyian adat diiringi tangisan ratapan menuju tempat pembuangan. Setelah sampai di tempat pembuangan tersebut, mereka semua nantinya disucikan kembali menggunakan asap dupa dan air. Pada hari ketiga dimulailah penyembelihan seluruh hewan ternak yang telah disediakan di hari pertama. Seluruh hewan ternak tersebut disembelih sebagai persembahan disebuah tempat yang disebut Pai. Nantinya sisa dari hewan ternak yang belum disembelih akan disembelih untuk dibagikan ke seluruh masyarakat Suku Sabu.
  5. Upacara Bui Ihi Hole merupakan upacara yang dilaksanakan dalam rangka mengungkapkan rasa syukur terhadap hasil panen yang telah diperoleh.

Sumber: Tania Gelui

Kisah Sang Penyebar Berita Kemerdekaan Indonesia ke Penjuru Dunia

Kisah Sang Penyebar Berita Kemerdekaan Indonesia ke Penjuru Dunia


Negeripaus.bligspot.com- Kala itu adalah tahun 2008, publik Indonesia dihebohkan dengan berita duka meninggalnya mantan presiden Indonesia ke–2, Soeharto. Sepuluh jam kemudian, Indonesia kehilangan sosok pentingnya, ia adalah pria yang berjasa menyebarluaskan kabar kemerdekaan Indonesia ke dunia luar.

Ia tak lain adalah Mohammad Yusuf Ronodipuro, seseorang yang telah berjasa bagi Indonesia karena telah menyebarkan kabar merdekanya Indonesia tak lama setelah teks proklamasi dibacakan oleh Sukarno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945.

Yusuf lahir di Salatiga pada 30 September 1919 kala negeri kita tengah dijajah pemerintah kolonial Belanda.

Memasuki masa penjajahan Jepang, Yusuf yang memiliki minat dalam bidang jurnalistik memutusukan pada tahun 1943 untuk bekerja sebagai seorang wartawan Hoso Kyoku, sebuah radio militer milik pemerintah kolonial Jepang di Jakarta.

Pada 9 Agustus 1945 Kekaisaran Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada sekutu, setelah tiga hari sebelumnya kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom milik sekutu, negeri “Matahari Terbit” itu memutuskan untuk mengaku kalah dalam perang dunia kedua.

Sayangnya berita kekalahan Jepang belum terdengar hingga khayalak umum Indonesia, sebab pada masa itu pendengar radio di Indonesia belumlah banyak.

Beruntunglah Yusuf termasuk orang Indonesia yang mengetahui kabar gembira ini, dari rekanya yang bernama Mochtar Lubis, ia kemudian menyebarkan kabar ini kepada para pejuang di markas mereka yang dikenal dengan nama Menteng 31.

Terdengarnya kabar menyerahnya Jepang kepada Sekutu, membangkitkan semangat para pejuang untuk menyegerakan kemerdekaan Indonesia, terutama mereka–mereka yang berasal dari golongan pemuda.

Momen yang ditunggu itupun tiba, pada 17 Agustus 1945, Republik Indonesia menyatakan kemerdekaanya. Dengan dibacanya teks proklamasi oleh Sukarno dan Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaanya.

Namun merdekanya Indonesia ini belum diketahui oleh dunia luar, sehingga pengakuan atas kemerdekaan Indonesia oleh bangsa lain belum didapatkan.

Yusuf kala itu belum mendengar kabar akan merdekanya Indonesia, ia dan rekan–rekan lainya di Hoso Kyoku terjebak dari gedung kerja mereka karena tidak diperijinkan untuk keluar oleh Kempetai.

Namun tiba–tiba datanglah utusan Adam Malik bernama Syahrudin untuk menemui Yusuf, ia berhasil menembus penjagaan pihak Jepang di Hoso Kyoku, lalu diberikanlah selembar surat pendek berisi teks proklamasi ini kepada Yusuf.

Atas perintah Adam Malik, Yusuf ditugaskan untuk menyebarluaskan pernyataan merdekanya bangsa Indonesia kepada dunia luar melalui radio, namun dalam prosesnya Yusuf menghadapi kendala, pasalnya studio siaran di Hoso Kyoku tidak terhubung lagi dengan pemancarnya.

Beruntunglah ada seorang teknisi yang dapat mengutak–atik pemancarnya sehingga dapat terhubung kembali.

Setelah segalanya telah dipersiapkan, pada pukul 19.00, Yusuf mulai menyebarluaskan kabar kemerdekaan ini melalui radio.

Selain menggunakan bahasa Indonesia, Yusuf juga menggunakan bahasa Inggris agar pesan yang ia sampaikan dapat dipahami oleh dunia Internasional.
https://negeripaus.blogspot.com/2022/09/negeri-paus-tane-selendang-menenun.html?m=1
Gambar: M. Yusuf R.


Radio–radio internasional di Inggris, Amerika, dan Singapura berhasil mendengar siaran radio Yusuf. Kabar merdekanya Indonesia pun disebarkan lagi oleh radio–radio internasional ini.

Upaya Yusuf dalam menyebarluaskan kabar ini bukanlah tanpa konsekuensi. Yusuf dan rekan–rekanya yang membantu dalam penyebarluasan kabar ini kemudian ketahuan oleh pihak Jepang dan diberikan hukuman fisik.

Yusuf merupakan salah satu yang menerima hukuman paling berat, ia disiksa habis–habisan, seorang perwira Jepang telah mengeluarkan katana miliknya untuk memenggal kepala Yusuf.

Beruntunglah datang Letkol Tomo Bachi, pimpinan Hako Kyoku kala itu, ia kemudian memerintahkan untuk membebaskan Yusuf.

Kesukaan antar Yusuf dengan Letkol Tomo Bachi dalam hal opera dan musik klasiklah yang menyelamatkan Yusuf dari akhir hidupnya.

Kesukaan yang sama ini membuat Yusuf memiliki hubungan yang baik dengan Letkol Tomo Bachi sehingga Yusuf kemudian diperbolehkan pulang walaupun ia dalam kondisi baju robek, gigi copot dan pincang.

Meski nyawanya hampir hilang, keinginan Yusuf untuk berbakti pada negaranya tak berakhir. Pada 23 Agustus 1945, bersama beberapa orang lainya, Yusuf mendirikan radio Suara Merdeka Indonesia. Melalui radio ini, kabar akan Indonesia merdeka dalam bahasa Inggris dikumandangan ke seluruh dunia.

Melalui radio ini pula, Sukarno pada 25 Agustus 1945 mengumandangkan pidato pertamanya di radio kepada khayalak banyak.

Didirikanya Suara Merdeka Indonesia ini, menyebabkan stasiun radio kecil milik Jepang di berbagai daerah dipergunakan untuk menyebarluaskan kabar kemerdekaan Indonesia bagi masyarakat di sekitar daerah tersebut.


RRI sendiri didirikan dengan tujuan yang berorientasi demi kepentingan masyarakat Indonesia. Sloganya yang terkenal, yaitu “Sekali di Udara, Tetap di Udara”, juga merupakan buatan Yusuf.

Penyebaran kabar kemerdekaan Indonesia melalui radio ini kemudian menuai hasil, pada 1946, Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara resmi, lalu Palestina ikut serta mengakui, negara Timur Tengah lainya pun mengikuti, lalu India kemudian juga mengakui kemerdekaan Indonesia.

Setelah jasanya terhadap Indonesia, pada 1950, Yusuf ditugaskan menjabat sebagai Kepala Stasiun RRI. Dimasa kepemimpinan jabatanya, ia berhasil membujuk Presiden Soekarno untuk merekam beliau membacakan teks proklamasi. Hal ini menjadikan RRI sebagai satu–satunya yang memiliki rekaman deklarasi kemerdekaan yang Soekarno bacakan.

Setelah dipercaya memimpin RRI, Yusuf dipercaya menjadi Sekjen Departemen Penerangan di Departemen Luar Negeri RI. Ia ditugaskan di daerah–daerah penting seperti London dan markas besar PBB di New York. 

Selama masa kepemimpinan Indonesia dibawah Soeharto, Yusuf kemudian dipercaya sebagai Duta Besar RI bagi Argentina di Buenos Aires.

Ia bersama tokoh bangsa lainya juga kemudian mendirikan lembaga non pemerintah dan otonom bernama L3PES (Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial).

Yusuf kemudian memutuskan pensiun dari pekerjaan terakhirnya sebagai Duta Besar pada 31 Mei 1976.

Ia kemudian menikmati masa tuanya hingga meninggal pada 28 Januari 2008 akibat penyakit kanker paru–paru dan stroke yang ia derita, ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.

Pria yang begitu berjasa bagi bangsa Indonesia ini, sehari – harinya dikenal sebagai pria ramah yang suka tersenyum dan bergurau dengan orang disekitarnya. Ia meninggalkan istrinya bernama Siti Fatma Rassat, tiga anak, dan tujuh cucu.

Pada tahun 2012, ia diberikan Anugerah Lifetime Achievement oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas jasanya bagi Indonesia terutama dalam bidang penyiaran di tanah air.  

#NationalGeographicIndonesia

Perjalanan Hidup Soeharto 8 Juni 1921 - 27 Januari 2008

Perjalanan Hidup Soeharto 8 Juni 1921 - 27 Januari 2008

Presiden Soeharto
Gambar Ilustrasi


Berikut kami sajikan perjalanan Hidup Soeharto;
  1. 8 Juni 1921: Lahir di Kemusuk, Sedayu, Bantul, Yogyakarta. 
  2. 1 Juni 1940: Diterima sebagai siswa di sekolah militer kolonial Belanda, kemudian menjadi anggota KNIL. 
  3. 26 Desember 1947: Menikah dengan Raden Ayu Siti Hartinah. 
  4. 1 Maret 1949: Ikut serta dalam serangan umum di Yogyakarta. 
  5. 17 Oktober 1959: Tersangkut kasus penyelewengan, dipecat dari militer, kemudian diperbolehkan aktif kembali. 
  6. 16 Oktober 1965: Dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat setelah G-30S. 
  7. 11 Maret 1966: Menerima Supersemar dari Presiden Sukarno. 
  8. 7 Maret 1967: Ditunjuk sebagai pejabat presiden sampai terpilihnya presiden oleh MPR hasil pemilu. 
  9. 27 Maret 1968: Menjadi Presiden Republik Indonesia dan merangkap Menteri Pertahanan/Keamanan. 
  10. 21 Mei 1998: Mundur dari Jabatan presiden setelah ribuan mahasiswa berdemonstrasi dan menduduki Gedung MPR/DPR-RI. 
  11. 27 Januari 2008: Wafat dalam usia 87 tahun.
Repost dari akun Fb : Arief Sejarah

https://www.facebook.com/arief.miharso.75