Mengenal Sekolah Keuchenius Yogyakarta Zaman Para Pastor Katolik

Gambar: Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur
Gambar: Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur

Baik pemerintah maupun misi (Katolik) memahami bahwa sekelompok besar pendidik Pribumi perlu dilatih untuk melaksanakan pendidikan dasar bagi anak-anak Pribumi dalam skala besar. Oleh karena itu, pertumbuhan jumlah 'sekolah pelatihan' harus mendahului pertumbuhan (luwih akeh) dari Sekolah Dasar.

Pemaloengan Tjalon Guero Kristen (Pelatihan untuk calon guru Kristen) Kata pertama adalah bahasa Jawa.Bahwa pendidikan 'Barat' juga menyiratkan pengetahuan dan apresiasi terhadap masa lalu sendiri, terlihat dari foto perjalanan sekolah dari perguruan tinggi pelatihan Protestan ini. 

Sekolah ini dinamai L.W.H. Keuchenius, Sekretaris Kolonial dari tahun 1888-1890. Dia mencabut larangan mensubsidi pendidikan pribumi atas dasar agama (P.Orchard, 2001).

Awalnya, sekolah yang dipimpin oleh guru misionaris Zuidema itu berlokasi di Poerworedjo. Karena alasan kesehatan, sekolah itu kini berada di Djokja (Surabaysch Handelsblad, 11 Januari 1904).

Murid-murid dari Sekolah Keuchenius di Yogyakarta, bersiap-siap untuk bertamasya ke Borobudur dengan kendaraan bus. Jogja. Sebelum 1943 NMVW_TM-1000805.


Sumber : FB Ryan D

Daftar Nama-Nama Suku dan Kepala Suku di Kampung Adat Napaulun

Suku Lagamaking
Gambar Rumah adat suku Lagamaking


Berikut disajikan nama-nama Suku di Kampung adat Napaulun, dimana beberapa diantaranya memang bukan beruin (kesulungan) namun hanya mewakili Suku itu. 

Telapak Kaki Manusia Raksasa di Amanatun Pulau Timor

Bekas Kaki Raksasa di Amanatun
Gambar: Bekas Kaki Raksasa di Amanatun


Lokasi bekas telapak kaki manusia raksasa ini terletak di daerah Amanatun kabupaten Timor Tengah Selatan NTT.

Telapak kaki kiri seperti dalam foto terletak di Desa Manufui sedangkan telapak kaki kanan dengan anjingnya di desa Sanbet, menghadap ke matahari terbenam di daerah Amanatun sekarang. Kwalitas massa batu diperkirakan sudah sejak kejadian penciptaan langit dan bumi seperti tertulis dalam kitab Kejadian. (Kitab Genesis)


Bekas telapak kaki diatas batu ini sebagai indikasi tentang ada nya pulau Timor di bumi ini , Jejak2 kaki manusia raksasa berukuran besar ini 

Perlunya kehadiran arkeolog untuk meneliti artefak ini dan mengukur nya sehingga bisa mengetahui berapa usia manusia raksasa yang perna ada di pulau Timor ini (masyarakat di Amanatun menyebutnya dengan sebuatan MOA HITU TSUTAI NENO). Adapun jarak lokasi kaki kiri (manufui) dengan kaki kanan (Sanbet) secara garis lurus lebih kurang 12, 40 km, sehingga diperkirakan tinggi manusia raksasa ini berkisar 31,63 km kalau Dibandingkan dengan ukuran manusia moderen sekarang jauh melebihi manusia megantropus yang perna ditemukan di jawa.

Era zaman manusia raksasa dibumi sesuai kitab suci pada Zaman Nuh dengan peristiwa air Bah nya yang menurut catatan para ahli diperkirakan 47000 - 60000 tahun lalu . 


Referensi sumber.

Alkitab LAI. Memorie van overgaven van den atreden resident van Timor. Sejarah raja2 Timor dan pulau2 nya, Bunga rampai sejarah budaya indonesia.

Sumber: NTT DALAM SEJARAH

Selanyang Pandang Atau Sejarah Singkat Desa Senggigi

Gambar: Pemandangan Desa Senggigi
Gambar: Pemandangan Desa Senggigi



Sejarah telah mencatat bahwa Pulau Lombok pernah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Karang Asem Bali yang berkedudukan di Cakranegara dengan seorang raja bernama Anak Agung Gde Jelantik. Berakhirnya kekuasaan Kerajaan Karang Asem Bali di Pulau Lombok setelah datangnya Belanda pada Tahun 1891, dimana Belanda pada waktu itu ingin menguasai Pulau Lombok dengan dalih pura-pura membantu rakyat Lombok yang dianggap tertindas oleh Pemerintahan Raja Lombok yaitu Anak Agung Gede Jelantik.

Pada masa kekuasaan Raja Lombok yaitu Anak Agung Gde Jelantik, wilayah Desa Senggigi ( Dusun Mangsit, Kerandangan, Senggigi dan Dusun Loco) masih bergabung dengan Desa Senteluk yang sekarang menjadi Desa Meninting . Sedangkan pada tahun 1962 Desa Senteluk pecah menjadi 2 (Dua) desa yaitu Desa Meninting dan Desa Batulayar dan Dusun Mangsit,Kerandangan,Senggigi dan Dusun Loco bergabung ke Desa Batulayar. 

Pemberian nama Desa Batulayar pada waktu itu yang lazim disebut dengan Pemusungan/Kepala Dea Batulayar berdasarkan hasil musyawarah nama Batulayar diambil dari nama tempat yang amat terkenal yaitu Makam Batulayar yang sampai saat ini banyak dikunjungi oleh masyarakat Pulau Lombok pada khususnya dan Masyarakat Nusa Tenggara Barat pada umumnya.

Pada tahun 2001 Desa Batulayar dimekarkan menjadi 2 (dua) yaitu Desa Batulayar (sebagai Desa Induk) dan Desa Senggigi (sebagai Desa Persiapan) dengan SK.Bupati No : 30 Tahun 2001 tanggal 17 Mei 2001, yang pada waktu itu yang menjadi pejabat Kepala Desa Senggigi ialah H. ARIF RAHMAN, S.IP., dengan jumlah dusun sebanyak 3 dusun, yaitu :

1. Dusun Senggigi

2. Dusun Kerandangan

3. Dusun Mangsit

Selanjutnya pada tanggal 30 Juli 2003 Pejabat Kepala Desa Senggigi dari H. ARIF RAHMAN, S.IP diganti oleh Saudara ARIFIN dengan SK. Bupati Lombok Barat No : 409/66/pem/2003. Berhubung Desa Senggigi masih bersifat Desa Persiapan, maka berdasarkan hasil musyawarah desa, tertanggal 15 Desember 2003, maka pada tanggal 22 Desember 2003 Desa Senggigi mengadakan Pemilihan Kepala Desa devinitif yang pertama kali dipimpin oleh HAJI JUNAIDI terpilih dengan SK. Bupati Lombok Barat No :01/01/Pem/2004 tertanggal 2 Januari 2004 sampai pada tahun 2008. 

Selanjutnya pada tahun 2008, Desa Senggigi mengadakan pemilihan Kepala Desa Senggigi yang kedua dan dimenangkan oleh Bapak H. MUTAKIR AHMAD dengan SK. Bupati Lombok Barat No :1320/48/Pem./2008 tertanggal 23 Desember 2008, Periode 2008-2014. Kemudian Kepala desa terpilih Periode 2015 s/d 2021 adalah MUHAMMAD ILHAM dengan SK. Bupati Lombok Barat No : 160/04/BPMPD/15 tanggal 27 Januari 2015 kini baru menjabat 2 (dua) bulan.

Demikian selanyang pandang atau sejarah singkat Desa Senggigi yang dapat kami sampaikan kepada para pegiat Medsos, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih.

Tirai Sejarah Pendeta-Pendeta Mesir

Gambar Patung Lektor Pendeta Kaaper-Mesir
Gambar Patung Lektor Pendeta Kaaper-Mesir

PENDETA-PENDETA MESIR

Gambar di atas adalah Patung Lektor Pendeta Kaaper. Berasal dari Mesir, dan berusia 4500 tahun. "Lector" adalah alih-bahasa Inggris untuk istilah Mesir yang berarti "Imam Kepala", jadi dia ini adalah seorang Imam Kepala kuil.

Beginilah penampilan pendeta-pendeta di kuil-kuil Mesir. Kepala mereka dicukur bersih dan tidak menggunakan pakaian atasan, kemudian, wajah mereka menggunakan riasan yang tidak tebal, kecuali riasan mata. Artinya, ayah mertua Yusuf bin Yakub juga berpenampilan demikian.


Kejadian 41:45
Lalu Firaun menamai Yusuf: Zafnat-Paaneah, serta memberikan Asnat, anak Potifera, imam di On, kepadanya menjadi isterinya. Demikianlah Yusuf muncul sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

__________________________________________
Oleh Devy Ransun
Sumber gambar dan narasi: Mario Antonio Maloccu

Legenda Sepak Bola Indonesia Yang Diakui FIFA Dan Masuk Dalam FIFA Legend Andi Ramang

Gambar Legenda Sepak Bola Indonesia, Sumber: FIFA

Berikut ini pernyataan FIFA tentang Andi Ramang.


FIFA: "Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sudah ada sejak 1950-an, bernama Andi Ramang, berasal dari Indonesia yang pernah membuat kiper terbaik sepanjang masa (Lev) Yashin jatuh bangun menangkap bola,"
.
FIFA: "(Ramang) tingginya hanya 156 cm tapi bagi para pemain (lawan) yang berbadan jauh lebih tinggi, besar, dan kekar, Ramang adalah Si Kurcaci Pembunuh,"
.
FIFA: "Ialah pemain yang pernah mengejutkan dunia, dengan kelebihan tendangan yang keras, skill dan dribling luar biasa, serta heading mematikan itulah hal istimewa yang dimiliki oleh legenda besar sepakbola Tim Nasional Indonesia, Ramang,"
.
FIFA: "Kakinya (Ramang) sangat kuat, seakan sulit untuk di cederai, Yashin adalah saksi bagaimana pemain ini menunjukkan kemampuan luar biasa, kalau saja bukan karena ketangkasan dirinya (Lev Yashin) mungkin Uni Soviet sudah dipermalukan oleh Indonesia melalui Ramang,"
.
FIFA: "Saat memperkuat Timnas Indonesia, Andi Ramang yang identik dengan kaos nomor punggung 11 pernah mencetak 19 gol hanya dalam 5 pertandingan, itu terjadi pada 1953 ketika Indonesia tampil di suatu turnamen di Asia,"
.
FIFA: "Tidak hanya Uni Soviet dan Lev Yashin yang kewalahan menghadapi Indonesia dengan Ramang-nya, tapi Jerman Timur juga pernah merasakan ketangguhan Si Macan Asia (Indonesia) bahkan mereka (Jerman Timur) hampir saja kalah,"
.
FIFA: "Jika ia muncul di era sepakbola masa kini bukan tidak mungkin ia akan diperebutkan banyak klub-klub besar dan mungkin penghargaan Ballon d'Or akan ia dapatkan,"
.
FIFA: "Kami mengakuinya (Ramang) sebagai pesepakbola hebat yang pernah ada yang berasal dari Makassar, Indonesia. Mungkin suatu saat akan muncul Ramang yg lain...

Source: FIFA

Kisah Replika Menara Eiffel di Tasikmalaya Pada Tahun 1898

Replika Menara Eiffel dari Bambu di Tasikmalaya Setinggi 30 meterReplika Menara Eiffel dari Bambu di Tasikmalaya Setinggi 30 meter
Replika Menara Eiffel dari Bambu di Tasikmalaya Setinggi 30 meter


NEGERIPAUS - Menara Eiffel pada gambar di atas merupakan replika yang terbuat dari Bambu di Tasikmalaya.

Sudah barang tentu kita tau menara Eiffel di Perancis yang dibuat Gustave Eiffel tahun 1889 yang konstruksinya menggunakan besi dengan tingginya 320 meter.

Menara yang dinamai sesuai nama perancangnya Gustave Eiffel itu  adalah bangunan tertinggi di Paris dan salah satu struktur terkenal di dunia.

Data yang diperoleh Tim NEGERIPAUS, lebih dari 200.000.000 orang telah mengunjungi menara ini sejak pembangunannya tahun 1889, termasuk 6.719.200 orang tahun 2006.

Hal ini menjadikannya monumen berbayar yang paling banyak dikunjungi di dunia. 

Struktur besi Menara Eiffel berbobot 7.300 ton sementara keseluruhan struktur termasuk komponen non-besi berbobot 10.000 ton.

Kembali ke replika Menara Eiffel, menurut informasi yang berhasil dihimpun bahwa replika Menara Eiffel ini dibuat untuk menghormati penobatan Ratu Wilhelmina pada tahun 1898.  Replika Menara Eiffel ini dirancang dan dilaksanakan oleh pengawas Air AH van Bebbe.

Untuk letak pembangunannya tidak diketahui, beberpa orang mengira-ngira mungkin di alun-alun depan pendopo.

Replika menara Eiffel bambu Tasikmalaya jauh lebih tinggi dari replika menara Eiffel bambu yg dibuat di Erasmusburg Rotterdam Negeri Belanda April 2008 yang tingginya hanya 15 meter. 

Selain itu replika ini juga pernah dibuat di Tianducheng Shanghai Cina tingginya 108 meter.

Namun, Tasikmalaya mungkin merupakan kota pertama di dunia yang membuat replika-nya dari bahan non-metal kira-kira 2 tahun setelah berdirinya menara Eiffel asli.

Dari foto tersebut dan melihat perbandingan tinggi manusia dan menara, kemungkinan tingginya sekitar 40-50 meter. Meskipun ada data yang mengatakan tingginya 30 meter.


Sumber: Dari Berbagai Sumber

Ceritra Rakyat - Asal Mula Danau Toba

 

Gambar Pemandangan di Danau Toba, Samosir
Gambar Pemandangan di Danau Toba, Samosir


Di wilayah Sumatera hiduplah seorang petani yang sangat rajin bekerja. Ia hidup sendiri sebatang kara. Setiap hari ia bekerja menggarap lading dan mencari ikan dengan tidak mengenal lelah. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Pada suatu hari petani tersebut pergi ke sungai di dekat tempat tinggalnya, ia bermaksud mencari ikan untuk lauknya hari ini. Dengan hanya berbekal sebuah kail, umpan dan tempat ikan, ia pun langsung menuju ke sungai. Setelah sesampainya di sungai, petani tersebut langsung melemparkan kailnya. Sambil menunggu kailnya dimakan ikan, petani tersebut berdoa,“Ya Alloh, semoga aku dapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah berdoa, kail yang dilemparkannya tadi nampak bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani tersebut sangat senang sekali, karena ikan yang didapatkannya sangat besar dan cantik sekali.

Setelah beberapa saat memandangi ikan hasil tangkapannya, petani itu sangat terkejut. Ternyata ikan yang ditangkapnya itu bisa berbicara. “Tolong aku jangan dimakan Pak!! Biarkan aku hidup”, teriak ikan itu. Tanpa banyak Tanya, ikan tangkapannya itu langsung dikembalikan ke dalam air lagi. Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik.

“Jangan takut Pak, aku tidak akan menyakiti kamu”, kata si ikan. “Siapakah kamu ini? Bukankah kamu seekor ikan?, Tanya petani itu. “Aku adalah seorang putri yang dikutuk, karena melanggar aturan kerajaan”, jawab wanita itu. “Terimakasih engkau sudah membebaskan aku dari kutukan itu, dan sebagai imbalannya aku bersedia kau jadikan istri”, kata wanita itu. Petani itupun setuju. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.

Setelah beberapa lama mereka menikah, akhirnya kebahagiaan Petani dan istrinya bertambah, karena istri Petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Anak mereka tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan kuat, tetapi ada kebiasaan yang membuat heran semua orang. Anak tersebut selalu merasa lapar, dan tidak pernah merasa kenyang. Semua jatah makanan dilahapnya tanpa sisa.

Hingga suatu hari anak petani tersebut mendapat tugas dari ibunya untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi tugasnya tidak dipenuhinya. Semua makanan yang seharusnya untuk ayahnya dilahap habis, dan setelah itu dia tertidur di sebuah gubug. Pak tani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Karena tidak tahan menahan lapar, maka ia langsung pulang ke rumah. Di tengah perjalanan pulang, pak tani melihat anaknya sedang tidur di gubug. Petani tersebut langsung membangunkannya. “Hey, bangun!, teriak petani itu.

Setelah anaknya terbangun, petani itu langsung menanyakan makanannya. “Mana makanan buat ayah?”, Tanya petani. “Sudah habis kumakan”, jawab si anak. Dengan nada tinggi petani itu langsung memarahi anaknya. “Anak tidak tau diuntung ! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!,” umpat si Petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan dari istrinya.

Setelah petani mengucapkan kata-kata tersebut, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau Toba.

2 Suku Yang Hilang Dan Tinggal Cerita Dari Komunitas Adat Napaulun

Gambar: Molan Lewhon Sedang Membacakan Syair Adat Pemanggilan Roh Untuk Menyantap Sesajian
Gambar: Molan Lewhon Sedang Membacakan Syair Adat Pemanggilan Roh Untuk Menyantap Sesajian


Negeripaus.blogspot.com - ULUN LELA KOLI, WERAN NARA WAYONG adalah julukan dari nama sebuah kampung adat di Ile Ape Kabupaten Lembata.

Kampung adat itu bernama Napaulun dimana mempunyai penduduk yang bisa dibilang cukup banyak.

Di kampung adat Napaulun ini dapat kita temui berbagai ritual adat yang masih dilakukan namun tidak rutin setiap tahun.

Beberapa ritual adat yang dikenal banyak orang adalah utan onen atau Pesta Kacang, tula uran wai atau tula uran apun, sare mela, tapan holoy, puli lapur, sawar orong, dan lainnya.

Dalam upacara utan onen mislanya biasa dilakukan pada bulan Agustus setelah para pemangku kepentingan (belen raya) melakukan perhitungan jadwal berdasarkan ekliptika bulan.

Jadi, ketika perhitungannya selesai maka akan ditetapkan jadwal pesta kacang. Pesta kacang akan melibatkan seluruh suku yang ada di Kampung Adat Napaulun.

Tahukan anda bahwa ada beberapa suku yang ada di Kampung Adat Napaulun kini hanya sebatas diceritakan atau hilang dari komunitas adat ini.

Suku yang mendiami Kampung Adat Napaulun dapat disebut sebagai berikut:

  1. Wahon : Suku Wahon memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat adat Napaulun. Kehidupan masyarakat adat Napaulun selalu mempunyai keterkaitan dengan ritual adat yang wariskan turun temurun. Wahon dalam posisi komunitas adat Napaulun merupakan Raja (Raya) yang mana ada mempunyai Asisten yang akan melaksanakan tugas sebagaimana yang telah ditetapkan.
  2. Lemanuk Suku Lemanuk atau sering disebut  Manuk merupakan tangan kanan dari Raya (Raja) dan mereka disebut Belen.
  3. Hurekmaking
  4. Lagamaking
  5. Nihamaking
  6. Ladopurap
  7. Balawala
  8. Paokuma
  9. Lamarongan
  10. Kolimaking
  11. Lapermaking: Lapermaking dalam komunitas adat Napaulun merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan sebab, selain Raja dan Belen, Lapermaking merupakan Lewo Puken Tanah Alawen.
  12. Belaonmaking
  13. Nimanuho
  14. Lopotmaking. Dll


Menurut perhitungan kami setidaknya ada 14 Suku yang kini menghuni kampung adat Napaulun.

Namun, karena berbagai alasan ada memang beberapa suku yang memang hilang sampai sekarang.

Menurut wawancara dengan Bapak Bernardus Boli Paokuma, suku yang hilang itu ada 2 suku.

"Jadi, suku yang wetinga pe Suku Lolokuma nong Lamakenotan. Suku rua nepe memang ega nong ra langhuna beruin pe mungkin dahe titen suku paokuma yang teti lolon."   Kata Bernardus Boli. 

Arti dalam bahasa Indonesia:

"Jadi, suku yang hilang itu adalah Lolokuma dan Lamakenotan. Dua suku itu memang ada dan kemungkinan mempunyai rumah adat paling atas di dekat rumah adatnya suku Paokuma."

Kenapa suku-suku itu tidak ada lagi?

Orang-orang dari suku-suku itu pada zaman dahulu mungkin keluar untuk merantau dan tidak pernah pulang lagi sampai saat ini sehingga jejaknya pun hilang.(*)


Sejarah Akhir Kebesaran dari Kesultanan Ternate

Gambar Profil Laki-laki Penduduk Asli Ternate, Tanpa Tahun, Sumber: ANRI, KIT 451/6
Gambar Profil Laki-laki Penduduk Asli Ternate, Tanpa Tahun, Sumber: ANRI, KIT 451/6


Akhir Kebesaran dari Kesultanan Ternate


Citra Ternate Dalam Arsip (Anri)

Keberhasilan Sultan Baabullah tidak terlepas dari kecakapan sejumlah panglima dan komandan tentaranya, seperti Kapita Laut Kapalaya dan Rubohongi. 

Kapalaya adalah penakluk pantai timur Sulawesi, khususnya Buton dan Rubohongi adalah penakluk Maluku Tengah. 

Enam tahun setelah bertakhta, Baabullah telah menguasai pulau-pulau di Ambon, Hoamoal di pulau Seram, Buru, Manipa, Ambalau, Kelang dan Buano. Empat tahun setelah itu, Sultan terbesar Ternate ini juga telah menguasai desa-desa sepanjang pantai timur Sulawesi, Banggai, Tobungku, Buton, Tiboro dan Pangasani. 

Setelah itu, giliran Makassar dan Selayar datang ke Ternate. Tahun kedatangannya merupakan awal dari monopoli rempah-rempah Kompeni di Ternate.

Matelief De Jong bukanlah orang Belanda yang pertama kali datang di Ternate. Menurut catatan de Clerq, orang Belanda pertama yang tiba di Ternate adalah Wijbrand van Warwijk. Pada 2 Juni 1599, van Warwijk merapat di pelabuhan Talangame dengan kapal Amsterdam dan Utrecht. Setelah itu, datanglah secara berturut-turut van Neck pada 1601 dan Wolphert Harmenzoon pada 1602. 

Kedatangan Matelief de Jong pada 1607 sebenarnya berdasarkan permintaan Ternate. Sebelumnya, atas perintah Dewan Mangkubumi Kesultanan Ternate pimpinan Jogugu Hidayat, Kaicil Ali dan Kimalaha Aja diutus ke Banten untuk meminta pertolongan Belanda. 

Pasalnya, orang-orang Spanyol di bawah pimpinan Don Pedro da Cunha menyerbu benteng Gamlamo dan menangkap Sultan Saidi beserta keluarganya, kemenakannya Kaicil Hamzah, serta sejumlah pejabat tinggi kesultanan, termasuk Sangaji Makian, Sahu dan Gamkonora. Kesemua tawanan ini diasingkan ke Manila pada 1606. 

Kaicil Ali yang ketika itu berusia 21 tahun dan Jogugu Hidayat berhasil meloloskan diri dalam peristiwa itu. Setelah tiba di Ternate dan melakukan observasi seperlunya tentang kekuatan Spanyol, de Jong akhirnya setuju membantu Ternate dengan syarat, antara lain, Ternate memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah kepada Kompeni dan membolehkannya mendirikan benteng. Benteng  yang didirikan itu kini dikenal sebagai Benteng Oranje terletak di pusat kota Ternate.

Tidak mudah bagi Ternate untuk melepaskan diri dari campur tangan kekuasaan asing Eropa. Ketika Portugis berkuasa di kesultanan ini, selain memperoleh hak monopoli dalam tata niaga rempah-rempah dan izin mendirikan benteng Gamlamo, ia juga ingin mencampuri urusan pemerintahan Ternate. Bahkan, sejak 1532, Portugis mulai berpartisipasi dalam proses pengangkatan sultan-sultan Ternate: mulai dari Boheyat, menyusul Tabariji, Khairun dan terakhir Baabullah. Keadaan ini baru berakhir setelah Portugis terusir. Tetapi, setelah Kompeni Belanda datang, campur tangan dalam pengangkatan Sultan Ternate juga menjadi salah satu kebijakannya. Mulai dari Mandarsyah, setiap pergantian Sultan Ternate harus dengan persetujuan Kompeni.

Mulai 1652, Ternate mengalami masa-masa sulit baik di bidang politik maupun militer. Sultan Mandarsyah ditekan secara halus untuk menandatangani perjanjian dengan Gubernur Jenderal VOC, Reinier, di Batavia. Perjanjian itu menentukan bahwa Kesultanan Ternate tidak boleh lagi mengangkat salahakan baru untuk kawasan seberang lautannya di Maluku Tengah, yakni di Hoamoal, dan daerah ini menjadi wilayah yang langsung berada di bawah pemerintahan Kompeni di Ambon. Ternate juga harus melaksanakan hongi (penebangan pohon-pohon cengkih) di daerah-daerah tersebut.

Latar belakang penandatanganan perjanjian di atas adalah ketidaksenangan Kompeni terhadap pejabat yang ditugaskan Kesultanan Ternate di sana. Kaicil Majira, yang diangkat Sultan Hamzah pada 1641 sebagai salahakan di Hoamoal atas desakan Kompeni Ambon untuk menggantikan Salahakan Luhu yang tidak disenangi, yang pada tahun 1651 melakukan pemberontakan bersenjata.

Sultan Mandarsyah dinilai Kompeni tidak melakukan tindakan serius terhadap Majira untuk mengakhiri pemberontakannya. Di samping itu, sejak 1652, Kerajaan Buton mulai memusingkan Mandarsyah.

Tentara Kerajaan Makassar melakukan infiltrasi dan menduduki beberapa pulau di sekitar Buton, yang diperburuk lagi oleh pengkhianatan sejumlah besar bobato Buton dengan memihak Makassar. 

Kapita Laut Kaicil Ali, beserta pasukannya yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Sanana dan Alifuru Jailolo, dengan susah payah mempertahankan pulau-pulau itu dari serangan Raja Makassar.


Usulan Kaicil Ali agar Mandarsyah meminta bantuan Kompeni ditolak, karena Mandarsyah yang permaisurinya seorang puteri Buton yakin bahwa ia masih memiliki pengaruh cukup kuat. Tetapi, realitasnya tidak demikian. Pengaruh Sultan Ternate ini telah merosot jauh di mata rakyat Buton.

Serangan Makassar yang semakin gencar terhadap Buton membuat hari-hari kejatuhan kawasan ini tinggal dihitung dengan jari. Dengan susah payah Kaicil Ali mencoba menghalau serangan itu, tetapi dalam suatu pertempuran mempertahankan ibukota Buton, Ali gugur di medan laga. Dengan gugurnya Ali, semakin kecil peluang Mandarsyah untuk mempertahankan pulau itu. la mengutus Kapita Laut Saidi untuk membangun kembali pertahanan Buton, dan dalam keadaan putus asa ia menghubungi Kompeni untuk meminta bantuan. Mandarsyah berhasil meyakinkan de Vlaming, Gubernur Kompeni Ambon, mengenai perlunya bantuan Kompeni guna menyelamatkan Buton yang tengah sekarat.

Pada September 1654, dengan menumpang kapal Zas van Gent, de Vlaming dan Mandarsyah menuju Buton. Yang mereka temukan di sana adalah sebuah kenyataan pahit: Raja Buton telah menjalin persekutuan dengan Makassar, dan baik rakyat maupun para bobato andalan Mandarsyah sebagian besar tidak lagi setia kepada Ternate. De Vlaming sendiri, setelah melihat kenyataan tersebut, meneruskan pelayarannya ke Makassar dan meninggalkan Mandarsyah di Buton.

Walaupun Raja Buton telah berkhianat, Mandarsyah mencoba mempertahankan Buton dengan mengumpulkan sisa-sisa bobato antara lain Hukum Lau serta Kaicil Lasinuru dan rakyatnya yang masih setia dalam suatu pertemuan. la meminta mereka mendobrak kepungan tentara Makassar dan mengusirnya keluar wilayah Buton. Tetapi, upaya terakhir 

Mandarsyah ini tidak membawa hasil. Dengan perasaan kecewa, Mandarsyah kembali ke Ternate dan tidak pernah lagi mengunjungi Buton hingga akhir hayatnya.

Beberapa saat setelah kepergian Mandarsyah, Kapita Laut Saidi tidak mampu lagi menahan lajunya serbuan Makassar dan jatuhlah Buton ke tangan Raja Makassar pada 1655. Dengan demikian, berakhirlah kekuasaan Ternate atas pulau itu selama hampir satu abad (1580-1655). Saidi dan pasukannya mundur ke Tobungku, dan dari kejauhan Kapitan Laut ini menatap pulau yang ditinggalkannya itu dengan sedih.(*)

Lorenzo II Dias Vieira Godinho, Raja Larantuka

Gambar: Lorenzo II Dias Vieira Godinho, Sumber: KITLV Leiden


NEGERIPAUS.BLOGSPOT.COM/23/10/22 - Potret Lorenzo II Dias Vieira Godinho, Raja Larantuka, Flores bersama para pengawal-pengawalnya, Sekitar tahun 1890.

Dom Lorenzo II dari Larantuka hidup sekitar tahun 1859–1904. Raja Dom ini mempunyai nama lahir Lorenzo Diaz Vieria Godinho. 

Dom adalah Raja Kerajaan Larantuka yang terakhir dan memerintah selama 17 tahun dari 14 September 1887 sampai 1 Juli 1904. 

Dalam kesehariannya Raja Dom dididik oleh para imam Yesuit. 

Perkembangan selanjutnya pada 8 September 1886 Masehi, Raja Don Lorenzo II menyerahkan tongkat kerajaan Larantuka kepada Patung Bunda Maria Reinha Rosari.

Penyerahan tongkat kerajaan tersebut menandakan bahwa Bunda Maria dinobatkan sebagai ratu yang memerintah Kerajaan Larantuka.

Peristiwa itu dipandang sebagai klimaks tonggak perintis umat Katolik di Kerajaan Larantuka.

Ia juga menggunakan bahasa Portugis dalam kesehariannya.

Adapun latar belakang penyerahan tongkat yang dilakukan oleh Don Lorenzo II tersebut adalah karena gereja katolik mengalami masa suram akibat terjadi kekosongan misionaris selama 100 tahun yaitu dari tahun 1754 sampai 1853 Masehi. Selama masa itu di Kerajaan Larantuka sudah berganti sebanyak 7 raja.

Baru pada masa kepemimpinan Raja Larantuka ke 19 ( Don Lorenzo II yang memerintah tahun 1887 - 1904 ) dilakukan penyerahan ulang tongkat kerajaan Larantuka kepada Patung Bunda Maria Reinha Rosari dengan didampingi oleh Uskup Batavia Mgr. Classens (Media Indonesia, Tongkat Terakhir dari Permaisuri, 2010; 23).

Dalam perkembangan berikutnya , karena raja Don Lorenzo II ini tidak loyal terhadap Pemerintahan Belanda , maka ia ditangkap oleh Pemerintah Belanda dan diasingkan ke Yogyakarta dan meninggal di Yogyakarta pada tahun 1910. Kemudian kepemimpinan Kerajaan Larantuka dilanjutkan oleh wakil raja bernama Luis Blanterang de Rosary yang memerintah dari tahun 1905 sampai 1906. Setelah itu digantikan lagi oleh tiga orang yang memerintah secara bersama (Triumvirat) dari mulai tahun 1906 sampai tahun 1912 Masehi. Ketiga orang raja tersebut adalah:

  • Payong Balanteran de Rosary.
  • Emanuel Monteiro, dan
  • Yohannes Balanteran de Rosary.


Raja Dom meninggal pada usia 50/51 tahun, tepatnya tahun 1910.